Timnas Australia dijadwalkan akan berkunjung ke Jakarta pada awal September 2024. Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh AFC, Australia akan menantang Timnas Indonesia dalam lanjutan ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Laga tersebut akan diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 10 September 2024.
Laga tersebut awalnya diisukan akan digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Namun, sepertinya besar kemungkinan laga tersebut bakal digelar di Jakarta ketimbang Surabaya. “Sementara ini kami masih akan tetap bermain di Jakarta, tepatnya di SUGBK. Nanti Pak Ketua Umum PSSI (Erick Thohir) yang akan bicara,” ucap Sekjen PSSI, Yunus Nusi via Detik.
Dilansir dari CNN, Menurut Exco PSSI, Arya Sinulingga, pemilihan SUGBK lebih ke urusan penonton. PSSI ingin memberikan kesempatan kepada lebih banyak penonton untuk datang dan mendukung Timnas secara langsung. Oleh karena itu, SUGBK jadi prioritas karena kapasitasnya yang lebih besar dari GBT.
Lantas, bagaimana sebenarnya kekuatan Australia dalam memperjuangkan satu tiket menuju Piala Dunia 2026?
Langganan Kompetisi Internasional
Australia adalah salah satu anggota AFC yang cukup rutin tampil di Piala Dunia. Tercatat, Socceroos sudah 6 kali tampil di ajang sepak bola tertinggi sejagad tersebut. Pada 5 edisi Piala Dunia terakhir, Socceroos selalu menjadi pesertanya.
Socceroos pertama kali tampil di Piala Dunia pada edisi 1974 di Jerman Barat. Kala itu, Australia tergabung dalam Grup 1 bersama tuan rumah, Jerman Barat, Jerman Timur, dan Chile. Pada edisi tersebut, Australia hanya menjadi bulan-bulanan duo Jerman.
Di laga perdana, mereka dilumat sang juara grup, Jerman Timur dengan skor 2-0. Lalu, giliran sang tuan rumah ikut menghajar Australia tiga gol tanpa balas. Untungnya, di laga terakhir Chile tak mampu menjebol gawang Socceroos sehingga laga berakhir dengan skor kacamata.
Sejak saat itu, Australia tak pernah lolos Piala Dunia lagi. Butuh waktu selama 32 tahun, agar mereka bisa menetas kembali di Piala Dunia, waktu yang kurang lebih sama dengan periode Orde Baru di Indonesia. Munculnya generasi emas Socceroos pada awal dekade 2000-an berhasil mereformasi jalan sepak bola Australia di ajang Internasional. Mungkin, untuk selamanya.
Musim panas 2006, Socceroos kembali ke Jerman. Kala itu, mereka tampil lebih pede dengan skuad yang lebih oke. Di bawah asuhan Guus Hiddink, nama-nama seperti Mark Schwarzer, Harry Kewell, Mark Viduka, dan Tim Cahill menghiasi daftar pemain Socceroos. Hasilnya? Sangat oke untuk level Australia.
His Germany 2006 goal sent Australia into the #WorldCup knockout stage for the first time, it’s a happy birthday to @HarryKewell 🎂🇦🇺🦘@Socceroos | #HBD pic.twitter.com/bOrsbEtHjG
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) September 22, 2020
Pada laga pertama, Jepang yang kala itu cukup hype karena Piala Dunia 2002 dan para pemainnya di Eropa, langsung dibuat seperti tim amatiran. Mereka dihajar 3-1. Ketiga gol Australia dicetak semuanya pada 10 menit terakhir waktu normal. Etos kerja Jepang hanyalah mitos, karena faktanya itu milik Australia.
Di laga kedua, tim unggulan Brazil memberi Australia pelajaran. Tim Samba menjebol gawang Mark Schwarzer dua kali. Pada laga terakhir, etos kerja Australia kembali diperlihatkan dengan gol penyama kedudukan Harry Kewell yang membuat mereka tak kalah dari Kroasia dan berhak lolos ke 16 besar.
Pada babak 16 besar, mereka bertemu kelas berat, yang kelak menjadi jawara kompetisi, Italia. Socceroos kalah menyakitkan oleh gol dari titik putih di injury time. Adalah Kaisar Ke-8 Imperium Romawi, Francesco Totti, bertindak sebagai algojo yang memutus harapan Australia untuk melangkah lebih jauh. Akhirnya, Australia harus pulang lagi dari Jerman, namun kini dengan kepala yang tegak.
Sejak saat itu, Australia selalu tampil di edisi-edisi Piala Dunia selanjutnya. Meskipun tak pernah lagi lolos ke babak 16 besar. Kecuali pada edisi 2022 lalu. Socceroos akhirnya kembali lolos dari fase grup. Sialnya, mereka malah kembali bertemu sang jawara kompetisi. Kali ini, Argentina. Socceroos harus pulang dari Qatar setelah takluk 2-1 atas Tim Tango.
Seperti yang sudah diketahui, lolosnya Socceroos ke ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 sama dengan lolosnya mereka ke Piala Asia 2027. Australia juga memiliki catatan yang cukup lumayan di kompetisi kontinental.
Bermodal semangat “old soccer, new football” Australia bergabung ke AFC pada 1 Januari 2006 dan sejak saat itu juga mereka menjadi langganan peserta Piala Asia. Mereka tampil dua kali di final selama 5 Piala Asia yang diikutinya. Pada final pertamanya di Qatar tahun 2011, mereka harus kalah tipis 1-0 dari Jepang setelah berhasil menahan mereka selama 90 menit.
Pada final keduanya, mereka bermain sebagai tuan rumah pada edisi 2015. Mereka kembali menunjukkan etos kerja tinggi khas Socceroos setelah berhasil membuat Korea Selatan menangis keras di akhir babak tambahan waktu. Tim Ange Postecoglou berhasil membuat gol penyama Son Heung-min di akhir waktu normal sia-sia. Australia menang 2-1 dan berhak mencium trofi Piala Asia.
How good is this 🙌 Former Socceroos managers Guus Hiddink and Ange Postecoglou dropped into camp ahead of Australia’s clash with England! 🇦🇺
📰 Socceroos v England Guide: https://t.co/uMKCfpyv6E
Football Australia / Socceroos pic.twitter.com/q4Y8Cujr8x
— KEEPUP (@keepupau) October 12, 2023
Ancaman yang Nyata untuk Tim Garuda
Berdasarkan catatan 11v11, laga di awal Indonesia menjamu Australia kali ini akan menjadi pertemuan ke-20. Indonesia memiliki rekor yang sangat buruk ketika berhadapan dengan sang tetangga. Tim Garuda hanya mampu terhindar dari kekalahan sebanyak 4 kali dengan rincian 3 kali imbang dan sekali menang. Sisanya hancur lebur.
Satu-satunya kemenangan diraih pada tahun 1981 dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 1982. Dikutip dari CNN, laga tersebut digelar di Stadion 10 Nopember, Surabaya. Kala itu, Timnas Indonesia masih dihiasi oleh nama-nama seperti Rully Nere dan Herry Kiswanto. Socceroos kalah tipis akibat gol semata wayang Herry Rusdianto di akhir waktu normal.
Pada laga nanti, Tim Garuda harus betul-betul waspada dengan kekuatan Socceroos. Bagaimana tidak? Selain gacor pada ronde kedua Piala Dunia 2026 lalu, Australia juga belum pernah terbobol sekali pun. Lebih-lebih, catatan gol mereka di ronde sebelumnya adalah 22 gol. Hampir 3 kali lipat dengan Timnas Indonesia yang hanya bisa mencetak 8 gol.
Jelas, ini adalah alarm keras bagi Tim Garuda. Australia harus diakui sangat dominan di atas kertas dari Tim Garuda. Secara kualitas pemain pun, pemain-pemain Socceroos bisa dibilang memiliki level di atas pemain Indonesia secara rata-rata. Nama-nama seperti Jackson Irvine, Connor Metcalfe, Cameron Burgess, dan Ajdin Hrustic, merupakan pilar-pilar penting timnya masing-masing.
Ini adalah ujian berat bagi Jay Idzes dan kawan-kawan. Berkaca dari performanya di ronde kedua Piala Dunia 2026, Australia adalah tim yang bagus secara penyerangan dan pertahanan. Timnas Indonesia harus benar-benar memutar otak dan bekerja sangat keras agar bisa meraih hasil yang tidak mengecewakan saat menjamu Socceroos.
Tidak mengecewakan di sini bukan berarti harus menang. Tak kalah dari Australia saja sepertinya sudah sangat bagus. Andai kata harus kalah, jika Tim Garuda bisa memberikan perlawanan dan membuat Socceroos kesulitan, itu pun harusnya sudah masuk ke dalam kategori tidak mengecewakan.
Jackson Irvine & Connor Metcalfe are off to the Bundesliga! 👞 🇦🇺 https://t.co/lpMZwp7T2u
— Tyson Scott (@Tys0nScott) May 13, 2024
https://youtu.be/KbrLaJtjeyg
