Di EURO, Kroasia Selalu Sial

spot_img

Hampir seluruh media menyebut Kroasia sebagai kuda hitam di EURO 2024. Namun, julukan itu justru dianggap penghinaan oleh pelatih Timnas Kroasia, Zlatko Dalic. Tepat sebelum laga vs Albania, Dalic menyampaikan ketersinggungannya atas julukan tersebut.

Menurutnya, Kroasia tidak layak untuk direndahkan seperti itu. Mereka adalah tim kuat yang pantas untuk diunggulkan karena memiliki prestasi yang sangat baik di Piala Dunia kemarin. Namun, kepercayaan diri yang sudah dibangun seketika rontok pasca laga melawan Albania.

Zlatko Dalic yang jumawa langsung dibungkam oleh kenyataan pahit lantaran hanya bermain imbang melawan tim non-unggulan. Jika melihat performa mereka di Piala Dunia 2022, hasil ini sangat memalukan. Tapi mengapa hal ini bisa terjadi? 

Sebelum kita mencari jawabannya, kalian bisa subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven Story.

Kroasia Terlunta-lunta

Di EURO kali ini Kroasia tergabung dalam Grup B bersama Spanyol, Italia, dan Albania. Jelas, berada di grup yang sama dengan dua mantan juara EURO adalah pertanda bahwa Kroasia akan menemui kesulitan. Hilalnya mulai terlihat saat pasukan Zlatko Dalic menantang Spanyol di pertandingan pembuka.

Tampil dengan skuad terbaiknya, Vatreni malah dihajar sampai babak belur oleh skuad La Roja yang berisikan bocah-bocah kemarin sore. Pemain-pemain kawakan seperti Luka Modric, Marcelo Brozovic, hingga Ivan Perisic dipaksa bertekuk lutut di hadapan pemain-pemain muda minim pengalaman internasional macam Lamine Yamal, Nico Williams, dan Pedri.

Kroasia benar-benar tak ada harga dirinya saat Dominik Livakovic harus memungut bola dari jala gawangnya sendiri sebanyak tiga kali. Mirisnya lagi, Kroasia tak diberikan kesempatan untuk menjebol gawang Unai Simon. Bahkan untuk sebatas mencetak gol hiburan di menit akhir pun tak diizinkan oleh Spanyol.

Menelan hasil mengecewakan di laga pembuka, Zlatko Dalic menuntut anak asuhnya bangkit. Toh “cuma” Albania lawan mereka di matchday kedua Grup B. Namun, alih-alih bangkit untuk mengamankan tiga poin pertama, Kroasia justru dibuat kerepotan oleh tim asuhan legenda Arsenal, Sylvinho.

Kroasia memang menguasai bola sepanjang pertandingan. Namun, sepakbola bukan soal siapa yang lebih banyak memegang bola. Saat lagi enak-enaknya menguasai bola, Kroasia justru tertinggal lebih dulu melalui tandukan Qazim Laci menit 11. 

Setelah itu, jual-beli serangan sempat terjadi. Kroasia sempat berbalik unggul di babak kedua melalui gol Andrej Kramaric dan gol bunuh diri Klaus Gjasula. Namun, saat laga tinggal beberapa detik lagi, Gjasula mendapat momen penebusan dosa. Ia mencetak gol penyeimbang di menit 90+5 untuk menggagalkan Kroasia meraih tiga poin pertamanya.

Materi Skuad Hampir Sama

Dua hasil buruk itu mengantarkan Kroasia ke dasar klasemen Grup B. Mereka bahkan kalah selisih gol dari Albania yang hanya kalah 2-1 saat menantang sang juara bertahan Italia di laga pembuka penyisihan grup. Ini jadi awal kompetisi yang mengecewakan bagi Vatreni. Padahal materi pemainnya bisa dibilang sama dengan dua tahun lalu.

Zlatko Dalic membawa hampir semua alumnus Piala Dunia 2022 ke EURO 2024. Dari penjaga gawang, ada Dominik Livakovic, lalu di lini bertahan ada Josko Gvardiol, Ivan Perisic, dan pemain yang baru saja menjuarai Bundesliga bersama Bayer Leverkusen, Josip Stanisic.

Di lini tengah sudah pasti dikomandoi trio Luka Modric, Mateo Kovacic, dan Marcelo Brozovic. Sementara di lini depan, ada Ante Budimir dan Bruno Petkovic. Dengan skuad yang sama, Kroasia bisa menjadi juara ketiga di Piala Dunia 2022. Tapi, mengapa di EURO malah terlunta-lunta?

Ternyata Sering Kesulitan

Sebetulnya, pertanyaan itu tidak perlu muncul karena hal semacam ini sudah menjadi tabiat Kroasia. Setelah ditelusuri, Kroasia ternyata cukup kesulitan jika berkiprah di kompetisi antar negara terbesar di Benua Biru itu. Sejak berpisah dari Yugoslavia, prestasi terbaik Kroasia di EURO cuma mencapai perempat final.

Pencapaian yang tak seberapa itu diraih Kroasia saat mentas di EURO edisi 1996 dan 2008. Tapi jangan berbangga diri dulu wahai fans Kroasia, karena di dua edisi itu pesertanya sedikit. Makanya nggak ada babak 16 besar. Pas Kroasia lolos penyisihan grup ya langsung masuk ke babak perempat final.

Selebihnya, ketika pesertanya lebih banyak, Kroasia paling cuma nyampe babak 16 besar. Intinya sih sama ya, Kroasia nggak sanggup memainkan lebih dari satu pertandingan di fase gugur. Setelah lolos dari fase grup, langsung keok. Di EURO, cuma jadi tim penggembira aja. 

Sedangkan pencapaian terburuk Kroasia terukir di EURO 2004 dan 2012 di mana perjalanan mereka berakhir di penyisihan grup. Harusnya Zlatko Dalic nggak boleh sebel kalau media menyebut timnya kuda hitam. Wong nyampe semifinal aja belum pernah. Dalic harusnya ngaca kalau EURO bukan kompetisi yang sama seperti Piala Dunia.

Beda Jauh Sama Di Piala Dunia

Memangnya gimana performa Kroasia jika mentas di ajang Piala Dunia? Yaaa, bisa dibilang jauh lebih baik ketimbang di EURO. Seperti yang sudah disampaikan di awal, Kroasia datang ke EURO 2024 dengan status juara ketiga Piala Dunia 2022. Mereka bahkan mengalahkan tim kuat, Brazil untuk mencapai tahap itu.

Tahun 2022 bukan kali pertama Kroasia menjadi juara ketiga di pesta sepakbola terbesar di dunia itu. Sebelumnya, Vatreni juga sempat mencapai level yang sama kala tampil di Piala Dunia 1998 yang kala itu diselenggarakan di Prancis. Masih diperkuat oleh Zvonimir Boban dan Davor Suker, Kroasia tampil luar biasa.

Setelah lolos ke fase gugur sebagai runner-up grup di bawah Argentina, Kroasia mendapat lawan yang cukup sulit. Di babak 16 besar, mereka susah payah mengalahkan Rumania. Lalu, di babak perempat final Zvonimir Boban cs dipertemukan dengan Jerman. Menariknya, Kroasia justru menang tiga gol tanpa balas atas Die Mannschaft

Sayangnya, Kroasia gugur di semifinal setelah kalah 2-1 dari tim tuan rumah. Meski begitu mereka berhasil menang atas Belanda di perebutan tempat ketiga. Mengesankan bukan? Tapi pencapaian terbaik Kroasia bukan itu, melainkan jadi runner-up di Piala Dunia 2018. Kala itu, Kroasia memang dianugerahi jalan yang mulus menuju final. 

Tercatat, mereka hanya menghadapi tim-tim semenjana macam Denmark dan Rusia di fase gugur. Paling, cobaan terberat didapat Kroasia saat menghadapi Inggris di babak semifinal. Berkat pencapaian itu, Luka Modric bahkan sampai meraih Ballon d’Or pertamanya. Tetapi, masa-masa indah itu sudah berlalu. Kini, generasi emas Kroasia layaknya berada di sequence terakhir sebuah film.

Peluang Kroasia di EURO 2024

Dari jomplangnya performa Kroasia di dua ajang besar tersebut, apakah pernyataan Kylian Mbappe tentang kejuaraan EURO yang lebih rumit dan sulit untuk dimenangkan ketimbang Piala Dunia itu benar adanya? Masih bisa diperdebatkan. Kita akan membahas itu di lain waktu. Sekarang pertanyaannya, apakah Kroasia masih punya peluang untuk lolos ke fase berikutnya di EURO 2024?

Jawabannya tentu masih. Tapi kecil. Jika ingin lolos, Kroasia wajib menang atas juara bertahan, Italia di laga pamungkas. Tambahan tiga poin bakal membuat Josko Gvardiol cs mengumpulkan empat poin. Dengan begitu, Kroasia mungkin masih bisa lolos ke babak gugur. Seandainya tidak menjadi peringkat satu atau dua, minimal bisa menjadi salah satu peringkat tiga terbaik. 

Tenang, Kroasia sebelumnya sudah pernah kok lolos ke fase gugur dengan hanya mengantongi satu kemenangan saja. Itu terjadi di EURO edisi lalu. Yakali Modric mau kalah sama Toni Kroos, rekan satu tim di Real Madrid yang sudah berhasil mengantarkan Jerman lolos ke fase berikutnya?

Sumber: The Athletic, Sport Optus, Reuters, Kompas

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru