Degradasi! Runtuhnya Raksasa Liga Prancis, Girondins de Bordeaux

spot_img

Sebelum didominasi PSG seperti sekarang ini, Ligue 1 Prancis pernah begitu didominasi oleh Lyon. Tujuh musim beruntun Lyon menjadi juara dari musim 2001/2002 hingga 2007/2008. Hingga akhirnya dominasi tersebut berhasil dipatahkan oleh Bordeaux.

Di musim 2008/2009, Bordeaux tak hanya keluar sebagai juara Ligue 1. Saat itu, Bordeaux yang dilatih oleh Laurent Blanc juga menjadi juara Coupe de la Ligue dan Trophée des Champions. Beberapa nama beken yang dulu menghuni skuad juara saat itu antara lain, Yoan Gouffran, Yoann Gourcuff, Ulrich Ramé, Diego Placente, Alou Diarra, dan Marouane Chamakh. Skuad tersebut bahkan mengantar Bordeaux ke perempat final Liga Champions 2010.

Sayangnya, satu dekade kemudian, kondisi Bordeaux tak lagi sama. Di akhir musim 2021/2022, juara 6 kali Liga Prancis itu terdegradasi dari Ligue 1. Meski meraih kemenangan 4-2 atas Brest di pekan terakhir, tetapi tambahan 3 poin tak mampu mengangkat posisi Bordeaux.

“Les Girondins” hanya sanggup mengumpulkan 31 poin dalam 38 pertandingan. Ironisnya, mereka harus turun kasta dengan status juru kunci Ligue 1 musim ini.

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi dengan Bordeaux?

Performa Menyedihkan Bordeaux di Musim 2021/2022

Jika kita mundur ke awal musim 2021/2022, tak akan ada pihak yang menyangka bahwa Bordeaux bisa berakhir semenyedihkan ini. Pasalnya, di musim panas lalu, Bordeaux mendapat tambahan amunisi yang sangat meyakinkan. Les Girondins berhasil mengontrak mantan pelatih timnas Swiss, Vladimir Petković.

Seperti yang kita tahu, sebelumnya, Petković berhasil membawa timnas Swiss mencetak sejarah dengan lolos ke perempat final Euro 2020 usai secara mengejutkan mengalahkan Prancis di babak 16 besar.

Pergantian pelatih tersebut tentu memunculkan harapan besar. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Proyek Bordeaux dengan Vladimir Petković berubah menjadi bencana.

Petković hanya mampu membawa anak asuhnya meraih 4 kemenangan dan menelan 11 kekalahan dalam 23 pertandingan. Bersama Petković, Bordeaux mencatat kekalahan terbesar di Ligue 1 sejak 1968 ketika mereka dibantai Rennes 6-0 di pekan ke-21.

Mantan pelatih Lazio itu kemudian dipecat pada 7 Februari kemarin setelah timnya kalah telak 5-0 dari Reims. Kekalahan tersebut membuat Bordeaux terjun ke peringkat 19 klasemen Liga Prancis.

Akan tetapi, menyalahkan Vladimir Petković atas apa yang terjadi dengan Bordeaux hari ini tidaklah adil. Pasalnya, penunjukan Petković tidak dibarengi dengan penguatan di sektor pemain. Krisis finansial yang mendera klub membuatnya tak bisa membeli pemain sesuai kebutuhan.

Menurut catatan transfermarkt, dalam 2 jendela transfer, Bordeaux menghabiskan dana 9,8 juta euro untuk berbelanja 14 pemain baru. Kebanyakan dari mereka datang dengan skema pinjaman atau free transfer.

Masalahnya, pemain-pemain yang datang itu tidak cukup mumpuni. Beberapa dari mereka belum teruji kualitasnya. Ada pula yang periode keemasannya sudah habis dan beberapa dari mereka bahkan bisa dibilang sebagai “masalah”.

Seperti Marcelo misalnya. Bek 34 tahun itu direkrut pada bulan Januari kemarin setelah dirinya dipecat dengan cara tidak hormat dari Lyon. Ada pula M’Baye Niang yang datang secara gratis dari Rennes. Sejatinya, Petković tidak menginginkan kehadirannya dalam skuad. Oleh karena itu, selama Petković menjabat, Niang bukanlah pilihan utama.

Pada akhirnya, Petković benar. Jelang laga melawan Lorient di pekan ke-37, Niang dikeluarkan dari skuad karena masalah indisipliner. Ia terlibat pertengkaran dengan direktur olahraga, Admar Lopes. Niang juga salah satu pemain yang terlihat bermain futsal di hari libur usai timnya kalah 4-1 dari Angers. Ulahnya tersebut menciptakan ketegangan di ruang ganti pemain.

Ini adalah sebagian kecil dari kekacauan internal di Bordeaux. Sebelumnya, pada bulan Januari, mereka membuang Laurent Koscielny yang dianggap bergaji terlalu mahal. Lalu, pada bulan Maret, kiper senior Benoît Costil terlibat bentrok dengan ultras Bordeaux di pinggir lapangan.

Maka ketika David Guion ditunjuk sebagai juru selamat, ia juga tak bisa berbuat banyak. Di bawah asuhannya, Les Girondins hanya mampu memetik dua kemenangan dalam 14 pertandingan. Alhasil, Bordeaux yang cuma mampu mengumpulkan 31 poin harus terdegradasi dari Ligue 1 dengan status juru kunci.

Selain jadi tim juru kunci, mereka juga jadi lumbung gol. Dalam 38 pertandingan, gawang Bordeaux kebobolan 91 gol atau 2,4 gol per laga. Menurut catatan Opta, jumlah tersebut jadi yang terburuk bagi sebuah tim dalam semusim selama 40 tahun terakhir.

Rekor buruk tersebut membuat catatan gol Bordeaux musim ini tak ada artinya. Dalam 38 pertandingan, mereka sebenarnya mampu mencetak 52 gol atau 1,4 gol per laga. Namun, percuma mencetak banyak gol bila pada akhirnya menelan kebobolan lebih banyak..

Salah Urus! Bordeaux Alami Krisis Finansial Akut

Degradasinya Bordeaux dari Ligue 1 musim ini hanyalah puncak dari krisis yang tengah mereka alami. Penyebab mereka tak bisa berbelanja dan memperkuat skuadnya dengan pemain potensial seperti dulu adalah buah pahit dari krisis finansial yang mendera klub.

Masalah keuangan yang dialami Bordeaux dimulai sejak mereka menghuni stadion baru. Tadinya, Les Girondins bermarkas di Stade Chaban-Delmas yang kapasitasnya sekitar 34 ribuan tempat duduk.

Namun, pada tahun 2015, mereka pindah ke Matmut Atlantique yang statusnya dimiliki oleh Pemerintah Kota Bordeuax. Masalahnya, stadion yang menjadi salah satu tuan rumah Euro 2016 itu punya kapasitas 42.115 tempat duduk, terlalu besar dan terlalu mahal biaya sewanya untuk tim sekelas Bordeaux yang rata-rata kehadiran suporternya cuma berkisar di angka 20 ribuan saja. Alhasil, stadion megah tersebut tak pernah terisi penuh.

Kondisi tersebut jelas membebani finansial klub yang terlanjur diwajibkan membayar pajak sewa selama 30 tahun. Walikota Bordeaux sendiri mengakui bahwa kesepakatan tersebut sangat buruk bagi tiap pihak yang terlibat.

Maka tidak mengherankan jika akhirnya prestasi Bordeaux terus menurun. Sejak mereka pindah ke stadion Matmut Atlantique, Bordeaux tercatat hanya 2 kali finish di peringkat 6, sisanya mereka selalu terlempar di luar 10 besar.

Namun, periode penting yang menjadikan Bordeaux menjadi seperti sekarang ini adalah saat mereka berganti kepemilikan. Pada November 2018, General American Capital Partners milik Joseph DaGrosa Junior membeli Bordeaux senilai 70 juta euro dari Groupe M6, sebuah perusahaan induk media asal Prancis yang sudah berkuasa selama 19 tahun.

Joseph DaGrosa langsung sesumbar dengan menjanjikan 80 juta euro selama 3 tahun untuk mengembalikan Bordeaux ke UCL. Namun, yang terjadi setelahnya, ia cuma menggelontorkan 9 juta euro di musim panas 2019.

Para pendukung jelas marah dan melayangkan protes keras. Untungnya, usia General American Capital Partners hanya seumur jagung. Kepemilikan Bordeaux kembali berpindah usai saham perusahaan tersebut dibeli oleh sesama investor asal Amerika, King Street pada Desember 2019. Dari situlah kehancuran di sektor finansial makin menjadi-jadi.

Saat awal Covid-19 melanda, Bordeaux jadi salah satu tim yang paling merugi. Mereka tak mendapat pemasukan yang cukup akibat dari Ligue 1 yang saat itu dihentikan. Bordeaux merugi bahkan terancam bangkrut.

Kondisi tersebut diperparah dengan bangkrutnya Mediapro. Agensi media asal Spanyol yang memenangkan hak siar Ligue 1 selama periode 2020-2024 itu gagal membayar uang hak siar sesuai dengan kesepakatan.

Menurut laporan Badan Pengawas Keuangan Sepak Bola Prancis atau DNCG, musim lalu Bordeaux mencatat kerugian total hingga 645 juta euro. Bordeaux juga mencatat defisit sebesar 67 juta euro, terbesar keempat di Ligue 1 musim lalu.

Puncaknya, pada 23 April 2021, Bordeaux ditempatkan di bawah perlindungan Pengadilan Niaga Bordeaux setelah sang pemilik, King Street tak lagi sanggup mendukung finansial klub. Alhasil, di akhir musim lalu, Bordeaux dijatuhi hukuman turun kasta ke divisi 2 oleh DNCG. DNCG menilai ada penyimpangan keuangan yang terjadi.

Beruntungnya, Gerard Lopez, mantan pemilik Lille mengakuisisi Bordeaux yang sekarat di waktu yang tepat. Banding mereka diterima, sehingga Les Girondins tak jadi terdegradasi musim lalu.

Namun, Lopez juga figur yang bermasalah. Royal Excel Mouscron, klub lain yang dimiliki Lopez mengeluhkan gaji yang belum dibayar lunas. Ia juga racun alias toxic dalam skuad Bordeaux. Setelah kekalahan atas Rennes, Lopez dilaporkan berteriak pada tim di ruang ganti.

Pada akhirnya, Bordeaux tetap terdegradasi di akhir musim 2022. Kondisi finansial mereka juga belum sepenuhnya pulih. Pertengahan bulan Juni ini mereka akan kembali menghadapi sidang dengan DNCG dan Bordeaux membutuhkan 20 juta euro untuk menghindari potensi degradasi lebih lanjut. Belum lagi, defisit senilai 40 juta euro harus segera mereka tutup di akhir bulan depan.

Kondisi ini diperparah dengan tuntutan Vladimir Petkovic dan asistennya, Antonio Manicone yang menuntut Bordeaux membayar biaya kompensasi pemecatan mereka masing-masing senilai 10 juta euro. Pasalnya, Petkovic dan Manicone baru bekerja selama 7 bulan. Padahal, mereka punya kontrak hingga 2024.

Menjual beberapa pemainnya adalah cara paling instan untuk mendapat uang. Namun, mencari sponsor atau investor baru adalah salah satu upaya paling bijak untuk menyelamatkan klub dari salah urus manajemen yang membuat Bordeaux kehilangan identitas, ideologi, dan kehormatannya.

Bisa dibilang bahwa kini, kedigdayaan Girondins de Bordeaux telah runtuh. Runtuhnya salah satu rakasasa Liga Prancis itu tentu menjadi kabar yang sangat memprihatinkan. Pasalnya, sejak berdiri pada 1 Oktober 1881, Bordeaux tercatat 6 kali menjuarai Ligue 1, 4 kali jadi kampiun Coupe de France, 3 kali memenangi Coupe de la Ligue, dan 3 kali menjadi juara Trophée des Champions.

Semoga, dalam beberapa waktu kedepan, ada kabar baik dari Bordeaux.

https://youtu.be/_ki1aqeAlR8
***
Referensi: GNFF, Get Football News France, Transfermarkt, France24, ESPN, CBSSports, GNFF, Get Football News France, The Guardian.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru