Vinicius Jr sedang panas-panasnya di Real Madrid. Ia tajam di mulut gawang dan gemar memberikan assist kepada rekan satu tim. Pemain yang kini berusia 21 tahun sedang menemukan keseimbangan dalam dirinya.
Ia baru saja mencatatkan hattrick sensasional ke gawang Levante saat Madrid menang besar 6-0 di Santiago Bernabeu. Vini bermain lepas tak seperti musim-musim sebelumnya. Bahkan, usai mencetak gol ketiganya, pemain berusia 21 tahun itu langsung merayakannya dengan selebrasi “Siu” khas Cristiano Ronaldo.
Tentu semua pencapaian Vini musim ini tak didapat secara instan. Ia telah menghabiskan seluruh hidupnya di Madrid untuk berlatih dan meningkatkan skill olah bolanya sehingga mencapai level yang ia inginkan.
Daftar Isi
From Zero
Vini memulai petualangannya di Real Madrid dengan cukup berat. Banyak batu sandungan yang menghambat performa Vini. Bahkan di tiga musim pertamanya, jumlah golnya mentok di angka tiga.
Tampaknya jersey kebanggaan Madrid cukup berat bagi Vini yang baru menginjakkan kaki di Eropa. Hari-harinya di Madrid dipenuhi ekspektasi setinggi langit. Ia dipaksa menjadi sosok luar biasa meski usianya belum genap 20 tahun.
Keraguan akan kualitas Vinicius membesar manakala Benzema tertangkap kamera sedang berbicara kepada Ferland Mendy soal ketidaksukaannya terhadap Vinicius di Lorong Stadion Borussia Park.
“Dia cuma melakukan apa yang dia inginkan. Jangan bermain dengannya. Dia bermain melawan kita”. Kata Benzema kepada Mendy. Tentu percakapan yang sempat viral tersebut semakin menegaskan bahwa Vini memang tak sebagus apa yang diharapkan. Wong rekan satu timnya saja tak percaya padanya.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Meski berkalungkan kritik dan keraguan, Vini menunjukkan bahwa mental pesepakbola Brazil tak selembek kerupuk yang disiram kuah soto.
Pada musim 2020-2021, Eden Hazard yang didatangkan untuk mengisi pos sayap kiri justru berkutat dengan cedera. Vini pun mengisi kekosongan dan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik pada Real Madrid.
2021-2022 dan Ancelotti
Tak bisa dipungkiri tolak ukur sebagai pemain depan bagus atau tidak itu dilihat dari jumlah golnya, dan Vini masih bermasalah dengan hal tersebut. Ia hanya mencetak 3 gol dari 35 pertandingan liga yang ia mainkan musim lalu.
Pergantian kursi kepelatihan dari Zidane menuju Carlo Ancelotti pada awal musim 2021-2022, dimanfaatkan Vini untuk menyusun strategi peningkatan performa di lapangan.
Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Vini mengubah bagaimana cara ia bermain. Layaknya pemain muda lainnya, ia merupakan pemain yang meledak-ledak. Terlebih dengan kecepatan yang ia miliki, Vini selalu berusaha memegang bola lebih lama dari pemain lain. Namun, Ancelotti sadar, ada yang salah dengan caranya menggiring bola.
Ancelotti mengatakan pada Vini untuk mencoba menggiring bola dengan lebih efisien. Bukan sekadar menggiring dan melewati pemain lawan. Tapi ia juga harus memiliki visi bermain yang bagus. Maka dari itu, Vini yang menyadari ia hanya memiliki kecepatan berusaha memperbaiki sentuhannya terhadap bola.
Dengan sabar, Ancelotti menuntun Vini dalam latihan skuad Madrid. Ia memberikan instruksi apa yang harus dilakukan di dalam dan di luar lapangan. Nasehat Ancelotti membuat Vini lebih percaya diri. Ia bermain lebih tenang sehingga ia bisa meningkatkan kemampuan pengambilan keputusannya.
Evolusi Vini
Bersama tim kepelatihan, Vini menemukan porsi latihan yang tepat untuk meningkatkan sentuhannya terhadap bola. Semua itu dilakukan agar dribble cepatnya tetap efisien dalam menciptakan peluang di kotak penalti lawan.
Perlahan, tusukan-tusukan yang Vini lancarkan saat pertandingan semakin membaik. Ia tak lagi membuang peluang dengan terlalu lama menggiring bola atau sekadar melakukan dribble yang tidak perlu.
Kerja keras Vini terbukti di laga penyisihan grup Liga Champions kontra Shakhtar Donetsk. Golnya menunjukan peningkatan kemampuan Vini dalam mengolah si kulit bundar di ruang yang cukup sempit. Ia membawa bola lebih tenang dengan sentuhan ringan sehingga bola tak bergulir jauh dari kakinya.
Setelah itu, Vini menunjukan permainan yang tak bisa diukur hanya dari jumlah gol dan assist saja. Beroperasi di sisi kiri, Vini memainkan peran sebagai pembobol pintu pertahanan lawan dengan dribble cepat yang merepotkan.
Menurut The Analyst, musim ini Vini tercatat melakukan 7,3 percobaan dribble per laga. Meski menurut Fbref, persentase keberhasilannya hanya di angka 45%. Namun, angka itu bukan berarti Vini adalah penggiring bola yang tidak efisien.
Vini telah meningkatkan dribbling suksesnya menjadi 101 kali, itu hampir dua kali lipat dari musim lalu. Ia juga cukup pintar untuk mempertahankan dribbling-nya tetap stabil selama 90 menit. Jadi, siapa pun yang menghadapi Vini di atas menit ke 70, sudah pasti akan kewalahan.
Hal itu dibuktikan dengan Vini yang tetap bermain dengan intensitas tinggi meski memasuki menit-menit akhir. Tak heran apabila ia kerap menciptakan peluang-peluang emas dengan memanfaatkan pemain bertahan lawan yang sudah kelelahan.
Dari laga ke laga, permainan Vini mulai memiliki warna. Ancelotti selaku sang juru taktik juga tak lagi pusing memikirkan Eden Hazard dan Gareth Bale yang cedera mulu. Vinicius memudahkan segalanya.
Selain itu, Vini yang tadinya pemain egois telah berevolusi sebagai pemain yang lebih dewasa dan bermain sebagai kesatuan tim. Kemitraannya dengan Benzema pun melunturkan stigma buruk tersebut.
Didukung dengan performa Benzema yang sedang gacor-gacornya, umpan model apa saja yang dikirimkan Vini selalu bisa dimaksimalkan oleh wak haji. Kombinasi mereka telah melahirkan 10 gol di Liga. Dengan pencapaian tersebut, mereka jadi salah satu duo paling berbahaya di Eropa.
To Hero
Peningkatan performa Vinicius memberikan dampak yang sangat besar bagi Real Madrid musim ini. Berkat evolusinya itu, ia juga berhasil mengunci satu tempat di posisi penyerang sayap kiri di skuad Real Madrid.
Real Madrid are La Liga Champions for the 35th time. No other Spanish team has won the competition more times 🤩✨
Kings of Spain 👑🇪🇸pic.twitter.com/tfjZizi7bw
— CrossAndNod (@crossandnodFT) April 30, 2022
Musim ini Vini telah memainkan 51 pertandingan di semua kompetisi. ia berhasil mencatatkan 21 gol serta 20 assist. Performanya itu berhasil membantu El Real untuk kembali merebut dominasi La Liga dari rival sekota, Atletico Madrid.
Setelah mengamankan gelar liga, Vinicius juga berkontribusi penuh dalam menggulingkan raksasa-raksasa Eropa seperti PSG, Chelsea bahkan Manchester City di ajang Liga Champions. Sehingga Real Madrid kembali mencapai partai puncak untuk kesekian kalinya.
Musim ini, Vini jadi salah satu pemain paling berkembang di Eropa. Setelah Vini menemukan bentuk permainan terbaiknya, ia dapat disejajarkan dengan seniornya di Timnas Brazil, Neymar.
https://youtu.be/LncDt9Mv5n4
Sumber: The Analyst, The Real Champ, ManagingMadrid, Sport Detik


