Dalang Dibalik Wajah Baru Operasi Transfer Arsenal

spot_img

The Gunners musim ini benar-benar tancap gas. Performa mereka berkembang secara signifikan baik di pra musim maupun di laga pembuka Liga Inggris. Hal itu sangat terpengaruh berkat operasi transfer yang dilakukannya.

Bicara masalah transfer, Arsenal di bawah pemiliknya KSE (Kroenke Sports & Entertainment) memang dulu terkenal pelit. Bahkan sampai-sampai di demo beberapa fans karena sikapnya itu. Namun, kenapa beberapa musim terakhir sikap mereka mulai berubah?

Kroenke Datang dan Kepemilikan Penuh

Pemilik Arsenal, Stan Kroenke awalnya menginjakkan kaki di Highbury pada tahun 2007 silam. Pertentangan pun muncul ketika para fans The Gunners menganggap pengusaha Amerika itu datang hanya akan mengacak-acak Arsenal. Pasalnya, ia dicurigai hanya akan menjadikan Arsenal “waralaba” kepentingan bisnis mereka.

Stan Kroenke lewat Kroenke Sports & Entertainment berusaha merebut seluruh saham mayoritas Arsenal pada musim 2018/19. Era itu adalah era Arsenal pasca ditinggalkan Arsene Wenger. Kroenke berupaya merebutnya dari Alisher Usmanov, taipan Rusia yang memiliki saham sekitar 30% di Arsenal. Kroenke dengan saham 70 persennya dirasa belum cukup untuk berpengaruh besar sebagai penguasa tunggal Arsenal.

Pembelian saham mayoritas Arsenal senilai 550 juta pounds itu juga dicurigai dengan cara berutang. Para pendukung Arsenal pun khawatir dan takut. Pasalnya, besar kemungkinan utang-utang perusahaan dari para petingginya itu akan dilimpahkan kepada klub, dan klub otomatis terkena imbasnya. Kepemilikan tunggal itu sekaligus dikhawatirkan juga membuka pintu yang luas soal pengelolaan keuangan yang tidak transparan.

Kecurigaan itu membuncah dan masuk akal, sebab Kroenke terkenal pelit dalam berinvestasi membangun Arsenal. Apalagi untuk soal transfer. Lihat saja, di ujung era Wenger, sang pelatih dituntut untuk membeli pemain muda, murah, dan berbakat. Tetapi bisa dijual dengan harga yang mahal.

Faktor Putra Mahkota Josh Kroenke

Kepemilikan penuh yang dipegang KSE terjadi mulai musim 2019/20. Ketika itu Arsenal tiba-tiba berubah. Namun bukanlah Stan Kroenke sendiri yang bertindak. Dalang di balik perubahan sikap Arsenal dalam bursa transfer itu adalah putra mahkota Kroenke, yakni Josh Kroenke. Ia menjabat sebagai wakil ketua KSE sekaligus ditunjuk sebagai ketua harian yang mengurusi langsung Arsenal.

Berawal dari mengikuti jejak ayahnya, Josh diajak bekerjasama di Arsenal sejak 2013. Josh mulai memperhatikan cara kerja Arsenal di balik layar. Barulah pada 2018, ketika Gazidis hijrah dan Wenger cabut, ia ditunjuk untuk membuat lembaran baru di Arsenal. Ia tentu tak kuat berpikir sendiri. Tentu saja minimal ia butuh sosok seperti Gazidis untuk bekerjasama.

Selama memantau Arsenal dari 2013, ia melihat beberapa keluhan dan protes fans terhadap ayahnya yang pelit dalam transfer. Akhirnya, ia pun bertekad memperbaharui cara kerja Arsenal. Ia membentuk tim yang berisikan Vinai Venkatesham sebagai direktur pelaksana, Raul Sanllehi sebagai kepala eksekutif, dan menunjuk direktur teknis yang baru yakni Edu.

Fans Arsenal pun terkejut dengan apa yang dilakukan manajemen baru tersebut. Publik Arsenal adalah yang paling sumringah ketika kocek 100 juta pounds lebih dikeluarkan KSE untuk merekrut beberapa pemain pada musim 2019/20. Pasalnya, hal ini jarang dilakukan ketika era sebelumnya.

Kebijakan baru itu dianggap sebagian publik terjadi karena desakan fans. Tapi hal itu dibantah oleh Josh. Ia mengatakan bahwa ini bukan semata-mata manajemen melakukan tindakan reaktif.

Justru manajemen kini akan terus bertindak proaktif dan agresif dalam bursa transfer bahkan sampai beberapa musim mendatang. Ya, benar saja, kenyataannya hingga kini Arsenal tak seperti dulu dalam operasi transfernya. Mereka kini tak segan merogoh koceknya dalam-dalam guna berinvestasi.

Kebijakan Melepas Dan Mendatangkan Banyak Pemain

Nah, dalam gerak transfernya, Arsenal bersama Josh tidak hanya membeli pemain mahal-mahal dan tanpa pemasukan. Oleh sebab itu, ia menunjuk Edu yang disuruh bekerja mengelola uang transfer supaya efisien.

Dalam kebijakannya, Arsenal kini pandai melepas beberapa pemainnya yang tak dibutuhkan dan bergaji mahal. Hal itu murni dilakukan manajemen supaya pembukuan keuangan mereka tak membengkak.

Contohnya dari musim 2019/20 ketika mereka banyak mendatangkan pemain macam Saliba, Tierney, Pepe, David Luiz, maupun Martinelli. Di saat yang sama, mereka juga melepas banyak pemain dengan opsi pinjaman, putus kontrak, maupun permanen macam Iwobi, Ospina, Koscielny, Monreal, Ramsey, maupun Lichtsteiner. Artinya Josh dan manajemen berupaya keras supaya neraca keuangan tak terlalu jomplang.

Begitupun yang terjadi di musim 2020/21. Ketika Thomas Partey, Pablo Mari, Willian, Cedric maupun Gabriel Magelhaes datang. Mereka juga melepas banyak pemain seperti Ozil, Mkhitaryan, Mustafi, dan masih banyak lagi. Di musim lalu Arsenal juga berani melepas bintang mereka Aubameyang, setelah sebelumnya kedatangan banyak pemain mahal macam Ben White, Odegaard, Tomiyasu, dan Ramsdale.

Nah, musim ini mereka juga melakukan hal serupa. Josh Kroenke tampaknya tak menghianati janjinya. Josh bahkan terlihat makin suka terhadap Sports Project yang dibangun oleh Arteta dan Edu. Ia kini sepenuhnya percaya dan berani bertaruh untuk mendukung segala rencana mereka di masa depan. Maka, tak heran jika ratusan juta lebih Josh gelontorkan lagi musim ini.

Fabio Vieira, Gabriel Jesus, Zinchenko, Marquinhos dan Matt Turner adalah beberapa pemain yang sudah didatangkan. Bukan tidak mungkin, ketika Arteta dan Edu masih butuh beberapa pemain lagi, Josh kembali akan rela keluar kocek. Akan tetapi, Josh juga menanti dulu beberapa penjualan guna keseimbangan keuangan.

Bernd Leno, Torreira, Tavares, Lacazette, dan Guendouzi adalah deretan pemain korban Arteta dan Edu musim ini. Tentu saja bukan tidak mungkin akan ada lagi yang menyusul. Beberapa pembuangan pemain ini tentu sudah melewati proses evaluasi Arteta. Tujuannya memang jelas, yakni menghindari uang mati yang hanya untuk menggaji buta para pemainnya yang dianggap sudah tak perform dan tidak masuk rencana Arteta.

Kini Josh Kroenke berharap jajaran manajemen yang dipercaya macam Sanllehi, Vinay, Edu, maupun Arteta harus bertanggung jawab atas segala dukungan penuh yang diberikan manajemen KSE.

Josh tentu tahu, seberapa besar keuntungan yang didapat dari segi bisnis. Namun, dia tentu paham klubnya ada kemajuan atau tidak dengan kebijakannya ini. Apabila sudah melakukan kebijakan yang jor-joran ini dan masih tak ada kemajuan, apakah mungkin Josh akan tetap melakukannya di musim-musim mendatang?

Sumber Referensi : theathletic, theathletic, footballlondon, footballlondon

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru