Kedatangan seorang mantan pemain sebuah klub pastilah sangat membahagiakan, apalagi buat para penggemar. Setidaknya, mereka akan berpikir bahwa si pemain akan mengabdi ke klub lamanya. Entah menjadi pemain atau menjadi pelatih. Sebuah niat yang adiluhung sekali.
Namun hal itu tentu saja nggak berlaku sama sekali untuk Ole Gunnar Solskjaer yang justru lebih sering dimaki daripada disambut dengan cara yang happy. Berbeda dengan seorang Xavi Hernandez, yang kini sudah kembali menyapa publik Camp Nou. Iya, Xavi benar-benar kembali ke FC Barcelona. Dan ia disambut dengan penuh kebahagiaan.
Akun Twitter Resmi Blaugrana, yang entah bagaimana tanggalnya sama dengan nomor punggung Xavi di Barca, 6 November 2021 lalu sudah mengumumkan kedatangan Xavi sebagai entrenador anyar skuad Catalan. Xavi masuk ke Barca menggantikan Ronald Koeman yang dianggap tidak becus dalam melatih. Di tangan Koeman, Barca hanya seperti bahan ledekan yang tak pernah usai.
𝑀𝑖𝑠𝑡𝑒𝑟 X6VI pic.twitter.com/r7Z4Y4fB0L
— FC Barcelona (@FCBarcelona) November 6, 2021
Meskipun gaji yang akan diterima Xavi belum diumumkan secara resmi, tapi dilansir Express, sebuah situs di Inggris, Barcelona kabarnya membayar 4,2 juta poundsterling atau Rp 80,1 miliar ke Al-Sadd, klub lama Xavi. Namun begitu, Xavi juga kemungkinan bakal digaji lebih sedikit dibandingkan saat di Al-Sadd.
Hal itu karena Blaugrana juga mesti mengatrol keuangannya agar tidak melanggar aturan La Liga. Kita tahu sendiri kan bagaimana keuangan Barcelona sekarang? Well, apa pun itu seorang pemain bekas klub, tentu akan mengorbankan apa pun demi mantan klub yang membesarkannya itu.
Daftar Isi
Prestasi Xavi di Barcelona
Selama menjadi pemain FC Barcelona, Xavi mencatatkan 767 penampilan. Meskipun jumlah tersebut masih kalah dari Lionel Messi yang memiliki catatan kans sebanyak 778. Xavi juga menyumbangkan 25 gelar untuk Blaugrana.
Delapan di antaranya adalah gelar Liga Spanyol. 3 Copa Del Rey, 4 Liga Champions, 6 Piala Super Spanyol, dan 2 Piala Dunia Antarklub. Sebagai seorang pemain gelandang, Xavi adalah pengumpan jitu, dan pengontrol permainan yang sangat baik.
Tandemnya bersama Andres Iniesta di lini tengah adalah perpaduan yang membuat FC Barcelona seperti tembok besar yang sulit dirobohkan. Berkatnya pula, Barca menjadi tim yang memiliki lini tengah yang kuat lagi presisi.
Apa yang Ditawarkan Xavi?
Tentu bukan tanpa alasan Juan Laporta menunjuk Xavi untuk menjadi juru taktik baru Blaugrana. Laporta tidak mau blunder lagi dengan mendatangkan pelatih kelas tarkam untuk melatih tim besar seperti Barcelona. Mungkin mendatangkan Ronald Koeman ibarat mimpi buruk yang menjadi kenyataan sebentar dan tidak perlu diingat lagi.
Walaupun pelatih berpaspor Belanda itu menyumbang satu trofi Copa Del Rey. Tapi ia bisa dibilang gagal untuk membangun skuad yang siap untuk bertanding. Sementara penunjukkan Xavi bagaimanapun membawa secercah harapan buat para cules yang mungkin sebelum-sebelumnya nonton Barca saja males.
Yup, Xavi memang mempunyai daya tawar yang kuat. Sebagai mantan pemain Barcelona, ia mewarisi filosofi bermain khas La Masia, khas Blaugrana. Dan filosofi itu ia terapkan saat menangani Al-Sadd.
TIKI-TAKA PURO 🔴🔵😍
Así jugaba el Al-Sadd SC de Xavi Hernández.
¿Volverá el estilo, el ADN Barça y ese fútbol de toque al Camp Nou?pic.twitter.com/wLqLEeH1KD
— EnCancha MX (@EnCanchamx) November 5, 2021
Di bawah kendali Xavi Hernandez, Al-Sadd bak Barcelona yang dipindah ke Qatar. Dengan gaya permainan tiki-taka, Xavi sukses bikin Al-Sadd menjadi klub yang susah ditumbangkan. Buktinya dari 89 laga, Al-Sadd hanya mampu dikalahkan sebanyak 16 kali. Rata-rata poin per game Xavi di Al-Sadd juga bagus banget, yaitu 2,19.
Belum lagi gelar yang sudah ditoreh Xavi selama melatih Al-Sadd juga bukan gelar picisan. Bersama Al-Sadd, Xavi sukses menggondol Juara Qatar Stars League, 2 kali Qatar Cup, Qatar Super Cup, 2 kali Emir of Qatar Cup, dan Qatar Stars Cup. Dari situ membuktikan bahwa dirinya sangat pantas untuk melatih Barcelona.
Bagaimana dengan Barcelona Sendiri?
Sekarang, pertanyaannya bagaimana dengan Barcelona itu sendiri? Memang, filosofi tiki-taka berasal dari tanah Catalan. Namun Barca sudah berubah beberapa tahun belakangan. Semenjak tidak lagi dilatih pelatih yang punya DNA La Masia, pola permainan Barca sudah berubah.
Para pemain Barca sekarang tentu harus adaptasi terlebih dahulu dengan pola tiki-taka, yang kemungkinan akan diterapkan oleh Xavi Hernandez. Tak bisa ditampik bahwa Koeman, pelatih Barca sebelumnya telah dianggap berperan mengubah gaya main yang sudah dibangun sejak Pep Guardiola.
Koeman lebih sering melakukan serangan melalui umpan panjang ke area sepertiga lawan, padahal Barcelona lekat dengan gaya juego de posicion. Di tangan Koeman, pemain Barca juga lebih banyak menguasai bola di lini pertahanannya sendiri, alih-alih di dalam kotak penalti lawan.
Ronald Koeman is one of the candidates to take over as the head coach of Scottish Club Rangers following the departure of Steven Gerrard to Aston Villa.
John Terry is another possible option.
[@mundodeportivo / Football Insider via @Barca_Buzz] pic.twitter.com/MYWTZICHTA
— VBET News (@VBETnews) November 12, 2021
Nah, dari sinilah Xavi harus berusaha keras membongkar apa yang sudah dirusak Koeman. Xavi harus mencoba mengenalkan kembali filosofi tiki-taka khas Blaugrana pada para pemain. Mungkin mudah di satu sisi, tapi di sisi lain bisa jadi justru menimbulkan prahara di ruang ganti. Apa pun itu, Xavi harus mencobanya.
Belum lagi, Xavi juga harus siap dipusingkan dengan masalah keuangan. Ya, begitulah, sejak kasus Barcagate yang menyeret presiden laknat, Bartomeu, Barca memang sedang terjerat masalah keuangan. Beberapa waktu belakangan saja, Barca sangat menghemat dalam belanja pemain. Bahkan gaji Xavi sendiri pun belum jelas, karena keuangan Barca masih terus dipantau Presiden La Liga, Javier Tebas agar tak melebihi margin yang sudah ditentukan.
Penerus Pep?
Kedatangan Xavi untuk menjadi pelatih Barca digadang-gadang sebagai penerus kejayaan Pep Guardiola. Banyak orang yakin, tentu juga para cules, kalau Xavi akan menjadi sang penerus dari legasi yang coba diciptakan Pep Guardiola.
It’s time…Xavi Hernandez💙❤️ pic.twitter.com/uPqMiefSey
— Stiles 💫 (@eugene_hiens) November 5, 2021
Namun, Pep Guardiola sendiri justru membantah. Xavi, kata Pep, tidak perlu menjadi pewarisnya di Barcelona. Xavi bisa menjadi pelatih karena memang banyak yang pro terhadap dia dan sedikit yang menyatakan kontra.
“Saya bukan pewaris siapa pun dan Xavi tidak harus menjadi pewaris saya,” kata Guardiola dilansir Marca yang juga dikutip Kickoff.
Ya benar, Xavi memang tidak perlu mewarisi siapa pun. Ia adalah sosok pelatih yang mantan pemain dan punya kisahnya sendiri. Xavi bagaimanapun bakal mengukir sejarah sendiri, meski Xavi memikul beban berat. Beban seluruh fans dan para socios ada di pundak Xavi.
Apa pun kondisinya ia harus mengangkat performa Barcelona kembali ke persaingan papan atas. Sebab Blaugrana hingga pekan ke-13 masih bertengger di posisi 9 klasemen sementara La Liga.
Sumber referensi: as.com, kickoff.com, skysports.com, bola.net, express.co.uk, theflanker.id


