Vincenzo Montella dan Selebrasi Pesawatnya yang Ikonik

spot_img

Orang-orang berusia 30 tahun ke atas kalau berkumpul dan ngomongin sepak bola, pasti akan terselip pembahasan tentang Liga Italia. Sangat mungkin di antara mereka adalah penggemar salah satu klub Italia. Entah itu Juventus, AC Milan, Parma, Inter, bahkan AS Roma.

Seklasik itu Liga Italia. Pada eranya, Liga Italia komoditi yang paling laris. Ia tidak hanya menghasilkan momen-momen indah dan menyebalkan seperti kasus yang itu. Tapi juga melahirkan talenta-talenta luar biasa di atas lapangan hijau.

Francesco Totti, Alessandro Del Piero, Pippo Inzaghi, Daniele De Rossi, Andrea Pirlo, Gianluigi Buffon, Gennaro Gattuso, dan masih banyak lagi. Di antara pemain-pemain tadi, ada satu nama yang tak kalah ikonik di eranya. Orang itu adalah Vincenzo Montella, si pesawat kecil dari Roma.

Selebrasi Vincenzo Montella

Penikmat sepak bola Italia pasti tidak akan asing dengan sosok yang satu ini. Montella punya selebrasi yang sangat unik. Ketika mencetak gol, Montella akan berlari dengan merentangkan tangannya, seolah-olah ia pilot yang menerbangkan pesawatnya sendiri.

Jika pesepakbola lain menganggap pertandingan adalah permainan tim, Montella menjadikannya sebagai landasan pacu untuk menerbangkan pesawatnya sendiri. Demikian yang ditulis Marini Anggitya di situs Kumparan Bola. Maka dari itu, Montella dijuluki Aeroplanino atau The Little Airplane.

Selebrasi Montella ini kemudian ditiru oleh banyak pesepakbola, tidak terkecuali pesepakbola yang berhenti bermain ketika adzan Maghrib. Selebrasi pesawat menjadi gambaran sosok Montella yang ringan, cepat, dan dinamis. “Saya suka terbang, karena itu menawarkan rasa kebebasan,” demikian kata Montella tentang selebrasinya itu.

Siapa Montella?

Selebrasi yang ikonik akan datang dan terkenang ketika si penggunanya sering mencetak gol. Begitulah Vincenzo Montella. Pemain kelahiran Naples, 18 Juni 1974 menghabiskan seluruh kariernya di Italia. Saat berusia 12 tahun, Montella bergabung dengan Empoli yang masih bermain di Serie C tahun 1990.

Lalu, Montella pindah ke Genoa lima tahun berselang. Dari sinilah kemampuan Montella dalam mencetak gol mulai tersemai. Bermain bersama Genoa yang masih berlaga di Serie B, Montella mengemas setidaknya 21 gol dalam 34 pertandingan selama musim 1995/96.

Karier Montella di Genoa kelihatan menyenangkan. Tapi pencapaiannya bersama tim Serie B itu tidak hadir dalam semalam. Sebelum moncer bersama Genoa, Montella harus berjuang keras dulu di Empoli. Lewat seleksi yang berat dan masalah cedera yang dialaminya.

Saat berseragam Empoli, akhir musim 1993/94, tulang fibula Montella patah.Ia juga terinfeksi virus. Usia Montella waktu itu masih 20 tahun. Kariernya nyaris tamat saat itu. Namun, Montella akhirnya bisa sembuh dan bangkit dari keterpurukan. Salah satu bukti kebangkitannya adalah saat berseragam Genoa.

Sampdoria, Tim Serie A Pertamanya

Montella benar-benar berjuang dari bawah. Setelah diberi kesempatan debut saat usianya 17 tahun di Empoli oleh Luciano Spalletti, bermain di Serie B bersama Genoa, Montella menyeberang ke rival Genoa, Sampdoria untuk bermain di kasta tertinggi.

Sampdoria menjadi tim Serie A pertamanya. Montella bergabung dengan Blucerchiati tahun 1996. Saat itu, Sampdoria mesti mengeluarkan 25 juta euro atau sekitar Rp426 miliar untuk memboyongnya. Nilai transfer yang pada saat itu terbilang tinggi. Tapi apa yang dikeluarkan La Samp lebih dari sepadan.

Montella yang kala itu usianya masih 22 tahun secepat mungkin membuktikan kelayakannya dibayar mahal oleh Sampdoria. Montella kian produktif dalam menjebol gawang lawan. Total ia bermain bersama Sampdoria dalam 83 laga dan mencetak 54 gol. Dari Sampdoria inilah Montella memulai selebrasi pesawatnya itu.

Berseragam AS Roma

Nama Montella kian melambung di Italia. Zdenek Zeman, pelatih AS Roma antara tahun 1997-1999 tertarik pada Montella. Zeman memaksa manajemen AS Roma untuk merekrut bomber mungil itu. Jika di era hari ini Luciano Spalletti adalah kebalikan dari gaya sepak bola Italia, maka waktu itu Zeman sosok pelatih yang mengkhianati mazhab sepak bola Italia.

Waktu itu, catenaccio adalah dewa di sepak bola Italia. Tapi Zeman adalah orang yang berteriak lantang akan kematian catenaccio. Zeman tak peduli pertahanan grendel. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya menumpuk pemain di pertahanan lawan.

Semakin banyak pemain di sana, peluang untuk menciptakan gol kian terbuka. Dengan formasi 4-3-3, Zeman menyulap Roma jadi tim yang sangat ofensif. Waktu itu Giallorossi sudah punya pemain-pemain berbahaya di lini serang. Francesco Totti dan Marco Delvecchio dua di antaranya.

Tapi Zeman yang oportunis merasa tidak cukup. Ia butuh penyerang egois di timnya. Penyerang yang tidak peduli-peduli amat pada sistem permainan. Singkatnya, penyerang yang bisa meneruskan umpan menjadi gol. Titik. Sosok Montella masuk kriteria Zeman. Tahun 1999, Vincenzo Montella pun diumumkan sebagai punggawa baru AS Roma.

Hubungan Rumit dengan Fabio Capello

Walaupun orang yang ngotot mendatangkannya adalah Zeman, tapi justru Fabio Capello yang melatih Montella di musim pertamanya di AS Roma. Bermain di tangan Capello itu artinya, ide-ide sepak bola menyerang AS Roma sebagaimana yang dilakukan Zeman harus sirna.

Meskipun tidak meraih trofi, AS Roma di tangan Zeman terbiasa bermain agresif dan mengejar gol. Tak ayal kalau Roma di era Zeman banyak mengoleksi gol, tapi juga banyak mengoleksi kekalahan dan hasil imbang. Sementara Capello adalah tipikal pelatih yang sangat Italia sekali.

Pragmatis adalah nama tengahnya. Bagi Capello, menang 1-0 sudah cukup. Itu ia lakukan saat menukangi AC Milan. Gelar Liga Champions jadi bukti. Dengan idealismenya itu, Capello kesal ketika ditunjuk menukangi Giallorossi yang sudah terlanjur bermain menyerang.

Itu artinya Capello mesti mengubah sudut pandang para pemain Roma. Hal inilah yang bikin Montella geram. Ia tak suka pada Capello. Montella sering kali tak terima atas perlakuan Capello karena sering dicadangkan. Padahal Montella tahu bahwa mencetak gol adalah rutinitasnya.

Scudetto dan Gol-Gol Krusial

Capello memandang Montella adalah sosok penyerang yang egois. Di mata Capello, Montella tidak bisa berbaur. Saat turun di lapangan, Montella acap kali membuat AS Roma adalah dirinya bukan dirinya adalah bagian dari AS Roma. Maka dari itu, Capello sering mencadangkannya.

Montella pun hanya menjadi bayang-bayang pemain lain seperti Totti dan Delvecchio. Alih-alih memakai Montella, Capello justru mendatangkan Gabriel Batistuta. Sang pemain malah jadi hantu bagi Montella. Karena setelah menjadi bayang-bayang Totti dan Delvecchio, ia juga mesti berada di balik bayang-bayang Batigol.

Namun, bukannya Montella tidak dipakai sama sekali oleh Capello. Justru di titik inilah Capello menerapkan kejeniusannya dalam taktik dan kemampuannya dalam mengelola manusia. Capello mengerti, apabila Montella diturunkan, tidak ada kepastian selain mencetak gol.

Montella pun akan bermain ketika Giallorossi membutuhkan gol penting. Capello memahami kalau Montella seorang poacher yang hebat, yang pernah muncul di sepak bola Italia. Istilah poacher mungkin jarang disebut di era sekarang. Orang lebih mengenalnya sebagai target man.

Itu pun perannya berkembang, tak lagi hanya mencetak gol, tapi juga menggiring dan kadang memberi umpan. Tapi poacher dulu tidak begitu. Perannya terbatas di dalam kotak penalti. Keistimewaannya cuma satu: mencetak gol. Sesempit apa pun ruangnya harus bisa mencetak gol. Sebab bagi poacher, pilihannya cuma mencetak gol atau kariernya tamat.

Montella orang yang demikian. Di tangan Capello, Montella sering mencetak gol-gol krusial. Terutama sekali saat AS Roma meraih scudetto ketiga mereka. Musim 2000/01, Montella mencetak gol penentu kemenangan lawan Atalanta, Internazionale, dan Reggina.

Ia juga mencetak gol penyeimbang melawan AC Milan dan gol di injury time saat menghadapi Juventus pada pekan ke-29. Namun, yang paling krusial adalah ketika Montella mencetak satu gol dan satu asis kala Roma menang 3-1 atas Parma untuk memastikan mahkota Serie A.

Kariernya Berakhir dan Memutuskan Menjadi Pelatih

Saat masa-masa akhirnya di Roma, Montella dipinjamkan ke klub lain. Ia pernah ke Fulham dan dipinjamkan ke Sampdoria. Di masa peminjaman itulah, Montella dituntut memiliki kemampuan selain mencetak gol. Ia pada akhirnya menjadi pemain yang serba bisa.

Disamping tetap mencetak gol, Montella juga mulai bagus dalam umpan dan dribel. Memasuki musim 2009/10, Montella kembali ke AS Roma. Namun, ia kembali hanya untuk pensiun. Tempatnya sudah digantikan bomber berbahaya baru seperti Luca Toni.

Setelah pensiun, ia meniti karier sebagai pelatih. Tapi Montella gagal mengulangi kesuksesan scudetto saat menukangi AS Roma pada paruh musim 2010/11. Namun, Montella sukses mengantarkan AC Milan juara Piala Super Italia musim 2016/17. Montella kini melatih Timnas Turki. Pesawat kecil itu sukses membawa Timnas Turki terbang ke Jerman.

https://youtu.be/u2JQEv1TSIA

Sumber: Foottheball, ASRoma, LigaLaga, AllBluedaze, TheGuardian, KumparanBola, 10FootballEntertainment

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru