Tim yang GAGAL Meraih Satu Pun Poin di EURO Sejak Abad Ke-21

spot_img

Seandainya Polandia dihempaskan Prancis di laga pamungkas Grup D kemarin, mereka akan masuk daftar ini. Sebelum menghadapi pasukan Didier Deschamps, anak asuh Michal Probierz tidak meraih satu pun poin. Dua laga, dua kekalahan.

Untung di laga terakhir, Robert Lewandowski dan kolega menahan imbang Les Bleus. Yah, walaupun tetap saja tersingkir, setidaknya Polandia tidak malu-maluin karena bisa membawa oleh-oleh satu poin. Polandia minimal tidak seperti tim-tim berikut ini, yang datang ke EURO untuk kalah.

Sejak memasuki abad ke-21 atau mulai tahun 2001, tim-tim berikut ini lolos ke Piala Eropa, namun tidak membawa pulang satu pun poin. Menariknya, ada tim besar juga di sana. Siapa itu? Mari masuk ke pembahasan.

Bulgaria (EURO 2004)

Bulgaria lebih sering gagal daripada lolos ke Piala Eropa. Sejauh ini mereka baru dua kali lolos, yaitu tahun 1996 dan 2004. Pada tahun 1996, Bulgaria masih sanggup meraih poin, walau akhirnya tersingkir. Nah, di edisi 2004, nasib mereka lebih buruk.

Bulgaria datang ke Piala Eropa 2004 dengan catatan manis. Mereka menjadi juara Grup 8 di babak kualifikasi. Modal ini seharusnya membuat mereka percaya diri. Apalagi Bulgaria diperkuat generasi emas, seperti Zoran Jankovic, Martin Petrov, dan tentu saja Dimitar Berbatov.

Namun, apa yang disebut generasi emas itu sia-sia karena sang pelatih, Plamen Markov justru memainkan sepak bola defensif. Bulgaria tak menguasai bola. Bahkan permainannya membosankan.

Pantas, di laga pertama, Bulgaria dibantai generasi progresif Swedia 5-0. Alih-alih bangkit dan berusaha menekan Denmark di laga kedua, Bulgaria justru kian tenggelam. Bukan rombongan Berbatov yang menekan, tapi Tim Dinamit yang sibuk berada di pertahanan Bulgaria.

Hasilnya, mereka kalah lagi. Dua kekalahan memastikan Bulgaria tak lolos ke babak berikutnya. Kehancuran Bulgaria kian sempurna usai di laga akhir dikalahkan Italia.

Yunani (EURO 2008)

Jika Bulgaria datang ke EURO 2004 dengan torehan manis di kualifikasi, Yunani datang ke EURO 2008 dengan status juara bertahan. Yunani yang masih dilatih Otto Rehhagel berada di Grup D, bersama Spanyol, Rusia, dan Swedia.

Rehhagel dan Yunani-nya masih saja bermain bertahan. Namun, hanya dengan bermain bertahan, mereka kena batunya. Rehhagel harus terima bahwa taktik bertahan justru laksana obat pembunuh saat menghadapi tim dengan penguasaan bola seperti Spanyol, agresivitas ala Swedia, dan total football-nya Guus Hiddink di Rusia.

Pertahanan rapat dan kemampuan fisik sempat mempersulit Swedia. Namun, sebaliknya Swedia juga bisa menghentikan serangan balik dari Yunani. Di babak pertama tak ada gol, tapi Swedia tak menyerah dan terus mengacak-acak pertahanan Yunani yang solid.

Membongkar pertahanan yang solid sulit buat para striker. Namun, Rehhagel kurang awas, kalau di lini depan Swedia sedang merekah sosok bernama Zlatan Ibrahimovic. Pemain Inter saat itu berhasil membuka keran gol Swedia. Setelah kerannya terbuka, Swedia mengerti caranya membobol Yunani.

Gol kedua pun datang dari Petter Hansson. Swedia sukses memaksa laga berakhir dengan skor 2-0. Di laga kedua, Rehhagel masih saja bermain bertahan. Namun, Rusia yang punya pemain muda yang cepat dan agresif mencuri kemenangan 1-0.

Penderitaan Yunani ditutup dengan kekalahan tipis atas Spanyol. Di edisi ini, Yunani bukan cuma tak memperoleh satu pun poin. Tapi mereka juga cuma sanggup mencetak satu gol.

Belanda dan Republik Irlandia (2012)

Dua tahun setelah Spanyol berpesta di Afrika Selatan, Piala Eropa 2012 digelar. Edisi ini Belanda tak ubahnya Timor Leste di Piala AFF. Pasukan Bert van Marwijk yang dua tahun sebelumnya runner-up Piala Dunia, tak mampu meraih satu pun poin di Grup B Piala Eropa 2012.

Belanda satu grup dengan Jerman, Portugal, dan Denmark. Grup B ini bisa dibilang grup neraka karena isinya para mantan juara, kecuali Portugal. Pertandingan demi pertandingan berlangsung ketat. Belanda sendiri gagal memetik kemenangan maupun imbang.

Belanda juga hanya mampu mencetak dua gol, menjadi salah satu yang paling sedikit dari semua kontestan. Kekalahan tiga kali beruntun di EURO menjadi pertama kalinya bagi Belanda. Hasil ini tak bisa lepas dari penampilan buruk para pemain bintang.

Robin van Persie, misalnya. Ia yang melepas 30 shoot ke gawang Denmark tak berbuah satu pun gol. Penampilan mengecewakan Arjen Robben di klub juga menular ke timnas. Ditambah pertahanan Belanda juga buruk.

Selain Belanda, di EURO 2012, Republik Irlandia juga menelan hasil buruk. Irlandia bersama Spanyol, Italia, dan Kroasia berada di Grup C. Namun, mereka tidak meraih satu pun poin. Tidak hanya itu, Irlandia hanya berhasil mencetak satu gol, yakni ketika menghadapi Kroasia.

Padahal di kompetisi itu, Irlandia dilatih Giovanni Trappatoni, salah satu pelatih yang sukses menangani Juventus. Sayangnya, kesalahan sudah dilakukan Trappatoni sebelum EURO dimulai. Pak Tua ini memaksa pemain tua seperti Shay Given (36 tahun) dan Robbie Keane (31) bermain.

Ukraina (EURO 2016)

Dari tim-tim sebelumnya, inilah yang paling buruk. Ukraina melakoni EURO 2016 dengan cara paling paling mengecewakan. Di Grup C, Ukraina menghadapi Irlandia Utara, Jerman, dan Polandia. Barangkali Jerman dan Polandia adalah tim tersulit, tapi menghadapi Irlandia Utara harusnya Ukraina bisa mencuri poin.

Kenyataannya malah Irlandia Utara yang menghajar Ukraina dua gol tanpa balas. Karena di laga pertama sudah kalah dari Jerman 2-0, kekalahan ini memastikan Ukraina sebagai tim pertama yang tersingkir dari EURO 2016. Lalu, gol Blaszczykowski tak mampu dibalas Ukraina dan mereka pun takluk atas Polandia di Stade Velodrome.

Tiga kekalahan tanpa satu pun mencetak gol adalah kenangan terburuk Ukraina. Keputusan Mykhaylo Fomenko juga patut dipertanyakan. Sebelum EURO, muncul kekhawatirkan kalau sang pelatih cuma bergantung pada pemain bintang macam Yevhen Konoplyanka dan Andriy Yarmolenko.

Sang pelatih kurang memberi kesempatan pemain seperti Viktor Kovalenko. Permainan Ukraina di atas lapangan juga tidak fleksibel. Lini depan tak mampu membongkar pertahanan lawan, meski sanggup menguasai permainan.

Turki dan Makedonia Utara (2020)

Di Piala Eropa 2020, Turki disebut-sebut tim kuda hitam. Banyak yang mengira Turki akan mengulangi kesuksesan 12 tahun sebelumnya. Tak berlebihan bilang begitu. Pasukan Senol Gunes toh dipenuhi pemain yang berlaga di kompetisi elit di Eropa. Sebut saja Hakan Calhanoglou, Merih Demiral, Yusuf Yazici, Cengiz Under, hingga Zeki Celik.

Ironis, yang terjadi justru antiklimaks. Di pertandingan pertama saja, Demiral ngegolin ke gawangnya sendiri. Setelah gol itu, Italia lalu menambah gol lewat Immobile dan Insigne. Tiga gol tak bisa dibalas. Setelah itu, melawan Wales, Turki kalah lagi.

Dua kekalahan cukup bikin Turki tersingkir. Namun, setidaknya masih bisa dapat satu poin. Sayangnya di laga terakhir, Turki kembali kalah. Tiga gol Swiss hanya dibalas satu gol dari Kahveci. Kampanye ini menjadi salah satu yang terburuk di EURO.

Turki yang cuma mencetak satu gol dan kebobolan delapan gol memiliki selisih gol -7. Hasil ini sangat mengecewakan. Padahal di babak kualifikasi, Turki cuma kalah sekali. EURO 2020 yang berlangsung di tengah pandemi berdampak bagi mereka.

Memang, sebagian besar skuadnya bermain di divisi teratas Eropa. Namun, kedalaman skuad mereka buruk karena kurangnya pengalaman. Turki juga tak membawa top skor mereka di babak kualifikasi, Cenk Tosun karena cedera.

Selain Turki, Makedonia Utara juga tak meraih satu pun poin di EURO 2020. Bagi Makedonia Utara, EURO 2020 adalah ajang mayor pertama. Karena selain belum mengikuti EURO, Makedonia Utara juga tak tampil di Piala Dunia.

Sebagai debutan, Makedonia Utara menjalani tugasnya dengan baik. Mereka hanya dijadikan lumbung gol bagi Austria, Ukraina, dan Belanda. Selain cuma ngandelin Goran Pandev yang renta, pertahanan mereka juga buruk. Delapan gol bersarang ke gawang Makedonia Utara.

Namun, setidaknya mereka lebih baik dari Ukraina di edisi 2016. Dengan dua gol yang dicetak di babak grup, Makedonia Utara juga lebih baik dari Turki. Hasil mengecewakan ini ditutup dengan pensiunnya Goran Pandev di tim nasional.

https://youtu.be/gLZHyCqrRaQ

Sumber: ABC, France24, DailyMail, TheGuardian, ESPN, BBC, Reuters

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru