Masih ada sejumlah pemain bintang lainnya yang ternyata memiliki pekerjaan kasar sebelum resmi menjadi seorang pesepakbola profesional. Siapa sajakah mereka? Berikut kami berikan daftarnya.
Daftar Isi
Virgil van Dijk
Meski musim 2020/21 menjadi yang tidak bersahabat dengan Virgil van Dijk, pemain asal Belanda itu telah merasakan kejayaan luar biasa, sejak bergabung dengan Liverpool. Sempat diragukan performanya, Virgil van Dijk yang didatangkan the Reds dengan harga mahal berhasil menjawab tantangan.
Dia yang ditempatkan di lini belakang sukses menjadi gerbong pertahanan Liverpool dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, gelar juara Eropa sukses ia sumbangkan untuk Liverpool. Tidak hanya itu, dia juga menjadi bagian penting dari keberhasilan Liverpool yang sukses memutus paceklik gelar di kompetisi Liga Primer Inggris.
Perjuangan Virgil van Dijk memang tak terbantahkan, tidak hanya di dalam lapangan namun juga diluar lapangan.
Sebelum menjadi pesepakbola terkenal, dia sempat menjalani hidup yang sulit. Saat usianya masih menginjak 17 tahun, van Dijk sempat menjalani profesi sebagai tukang cuci piring di restoran Uncle Jean yang berlokasi di Breda. Dia melakukan hal tersebut demi mendapatkan uang agar bisa terus berlatih sepakbola bersama Willem II.
Setiap harinya, van Dijk yang bekerja sebagai seorang tukang cuci piring akan mendapat bayaran sebesar 4 euro.
Kini, berstatus sebagai salah satu pemain terbaik dunia, Virgil van Dijk menerima gaji yang mencapai 3 miliar rupiah per minggu.
Virgil van Dijk used to wash the dishes in a restaurant. His boss tried to persuade him to give up football and to pay more attention to his work. He didn’t give up on his dream, and eventually made it real!
— FOOTBALL4FRIENDSHIP (@f4fprogramme) May 12, 2021
Alexis Sanchez
Sama halnya dengan Virgil van Dijk, bintang sepakbola asal Chile juga pernah melakoni pekerjaan sebagai tukang cuci. Namun pemain yang pernah membela FC Barcelona ini tidak bekerja sebagai tukang cuci piring, melainkan tukang cuci mobil. Sebagai seorang tukang cuci mobil, dia mendapat bayaran senilai 50 sampai 100 peso.
Hal itu dilakukan karena Sanchez memiliki masa kecil yang sangat memprihatinkan. Dia bahkan harus tinggal bersama sang pemain karena ibunya tidak mampu membiayai hidupnya. Sanchez dahulu tinggal di perkampungan kumuh. Selain menjadi seorang tukang cuci mobil, dia juga tak jarang melakukan aksi akrobatik untuk kemudian dibayar kepada penonton yang menikmati aksinya.
Karena memang hobi bermain bola, meski memiliki kehidupan yang serba pas-pasan, Sanchez tetap tekun menggeluti permainan sebelas lawan sebelas itu. Dia yang mulai tampil bersama tim lokal kemudian menarik pemandu bakat tim asal Italia, Udinese. Dari situ, perjalanannya berlangsung sangat luar biasa.
Pada tahun 2011, dia dikontrak FC Barcelona dan mulai memenangkan banyak gelar. Sempat menjadi bintang di Arsenal dan melempem di MU, Sanchez kini jadi andalan Inter Milan dan berhasil sumbangkan trofi Liga Italia.
Menjadi pemain sepakbola profesional sukses membuat Sanchez menaikkan derajat keluarganya.
Alexis Sanchez on life growing up: “I used to wash cars for such little money just so I had enough money to buy my football boots.” #afc pic.twitter.com/MoQDTgA4EG
— afcstuff (@afcstuff) October 3, 2016
Carlos Bacca
Carlos Bacca baru menapaki karir sebagai seorang pesepakbola profesional pada usia 21 tahun. Sebelum resmi menjadi seorang pemain bola, Carlos Bacca menjalani hidup dengan susah payah. Dia yang lahir dari keluarga miskin harus rela menghabiskan waktu untuk bekerja, demi membantu perekonomian keluarga.
Dia pernah bekerja sebagai seorang nelayan, bahkan saat melakoni tugasnya sebagai pemain di awal karirnya. Dia ketika itu pernah menjadi seorang penangkap ikan untuk kemudian menjualnya dan mendapatkan uang.
Tak cukup sampai disitu saja, Carlos Bacca juga pernah menjalani pekerjaan sebagai kernet bus demi bisa menutup kebutuhan sehari-harinya. Setelah nyaris selama seperempat abad menjalani hari dengan penuh kesusahan dan belum menjadi pemain terkenal, Carlos Bacca lalu temui peruntungan ketika pada tahun 2011 dia mulai merantau ke Eropa.
Bacca mulai tapaki sepakbola Eropa setelah bergabung dengan klub Liga Belgia Club Brugge. Disana, dia berhasil catatkan 31 gol dan 15 assists dari total 54 laga yang dijalani, sebelum akhirnya diboyong Sevilla dan berhasil memenangkan dua trofi Liga Europa.
Sempat bermain untuk AC Milan, Bacca kembali ke Spanyol dan bergabung dengan Villareal. Kali ini, dia juga berhasil memenangkan trofi Liga Europa bersama tim kapal selam kuning setelah berhasil menumbangkan perlawanan Manchester United di laga final.
From fishing fish to Goals. columbia striker carlos bacca led sevilla to win uefa europa cup against underdogs dnipro pic.twitter.com/971n0bo6LW
— Cornelius manoti (@ColloManoti) May 28, 2015
Luis Suarez
Salah satu penyerang terbaik di dunia saat ini, Luis Suarez, telah banyak habiskan karir sebagai seorang pemenang. Baru-baru ini, meski dilepas FC Barcelona begitu saja, dia sukses membawa Atletico Madrid meraih gelar juara La Liga.
Sepanjang karir sepakbolanya, Suarez boleh disebut sebagai pemain yang sangat sukses. Mulai dikenal ketika tampil apik di Liga Belanda, dia lantas menjadi andalan Liverpool selama beberapa musim. Dari situ, bakatnya yang diminati FC Barcelona langsung terbayar lunas dengan banyaknya gelontoran piala yang didapat. Bersama Lionel Messi dan Neymar, Suarez sukses meraih tiga trofi bergengsi dalam satu musim bersama el Barca.
Namun bila melihat kehidupannya sebelum menjadi pemain sepakbola, Suarez hanyalah anak biasa yang hadir dari keluarga miskin. Dia tidak bisa banyak bertindak dengan uang. Dia justru harus bekerja keras demi membantu perekonomian keluarga.
Dia pernah terpaksa menjadi tukang sapu jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, di usia 11 tahun dia juga rela berbohong kepada ibunya saat bekerja serabutan di salah satu bengkel di dekat rumahnya. Hal itu dilakukan untuk membantu keluarga.
Beruntung, kerja keras Suarez yang memang sudah sangat mencintai sepakbola sejak kecil meski hidup pas-pasan, berhasil terbayar dengan sebuah kesuksesan besar.
Luis Suarez is a player who is hated a lot but for people in Uruguay, he is football.
His story is quite amazing as well. A love story that changed his life & fortunes for the good.
Suarez was born into a family where money came tight. They were on the brink of poverty. pic.twitter.com/1q7VynemPB
— The Nutmeg Assist (@TheNutmegAssist) April 1, 2020
Gabriel Jesus
Sama seperti kebanyakan pemain Amerika Latin lainnya, Gabriel Jesus juga memiliki masa kecil yang memilukan. Dia lahir dari keluarga miskin dan terpaksa harus bekerja untuk ikut memenuhi kebutuhan keluarga.
Dia kerap menjadi kuli atau menjadi pekerja serabutan lainnya untuk membantu keluarga. Bahkan, Gabriel Jesus yang kini jadi salah satu penyerang hebat pernah menjadi bocah yang mengecat jalan untuk memeriahkan ajang Piala Dunia 2014 di Brasil.
Namun berkat ketekunanya dalam menggeluti sepakbola, Gabriel Jesus perlahan mampu membuktikan kualitasnya sebagai seorang pemain jempolan. Dia yang menjalani masa kecil bersama Club Anhanguera, sukses menarik minat Palmeiras dan menjadi bintang disana. Di usia 18 tahun, dia sudah masuk ke tim utama Palmeiras dan berhasil mencetak 21 gol dan 6 assist dalam 52 pertandingan, serta meraih 1 titel Brazilian Cup dan 1 Campeonato Brasileiro Série A.
Kini, dia masih tercatat sebagai penggawa Manchester City dengan raihan yang sangat luar biasa.
#FIFA2018 Four years ago, #gabrieljesus was helping paint the streets of his neighbourhood in yellow, green and blue in preparation of the World Cup. #AlexisSanchez did street acrobatics for a living. Poor little rich boys #Ironies @ttindia @SankarshanT https://t.co/6WWgQPhoMC
— Upala Sen (@UpalaSen) June 10, 2018
Dimitri Payet
Pemain asal Prancis, Dimitri Payet, menghabiskan sebagian besar karirnya di negeri mode. Kini, di usia 34 tahun, dia masih tercatat sebagai andalan Marseille. Di sela karirnya sebagai seorang pemain bola, Payet juga pernah begitu disegani di klub asal Inggris, West Ham.
Meski belum pernah menyumbangkan trofi untuk West Ham, permainan Payet sukses membius seluruh penggemar sepakbola. Bahkan, dia sempat diminati oleh banyak klub besar Eropa.
Perlu diketahui bahwa sebelum menjadi pemain yang begitu populer, Payet pernah bekerja sebagai seorang pelayan toko baju. Sama seperti yang lainnya, dia menjalani kehidupan yang sangat keras sebelum berstatus sebagai seorang profesional. Demi mencukupi kebutuhan sembari bermain untuk tim amatir, Payet terus menjalani hidup sebagai seorang pelayan toko.
Akhirnya, pada tahun 2008 ketika bergabung dengan Saint Etienne, Payet baru menjalani kehidupan yang layak.
🇫🇷 In Ligue 1, Dimitri Payet is top of our player ratings so far this season.
Despite Marseille being 10 points down on leaders PSG, individually Payet has shone with 5 goals and 1 assist in 5 appearances.
He is also averaging 3.8 key passes per match (a league high).#OM pic.twitter.com/KmvzZyy7p5
— FotMob (@FotMob) October 5, 2021


