Taklukkan “Catalan Derby”, Xavi Raih Debut Manis di Barcelona

  • Whatsapp

“Derbi barceloní” atau biasa dikenal pula dengan sebutan “Catalan Derby”. Begitulah penamaan yang dipakai untuk menandai pertemuan antara dua klub asal kota Barcelona. Siapa lagi kalau bukan FC Barcelona dan RCD Espanyol.

Dibanding derbi sekota lainnya di Spanyol, “Catalan Derby” harus diakui masih kalah pamor. Salah satu penyebab mengapa derbi Barceloni tak semewah dan semegah derbi sekota lainnya adalah karena ketimpangan di antara kedua klub yang berseteru.

Barcelona vs Espanyol: Derbi Sekota yang Tak Seimbang

Bila kita melihat raihan trofinya, kita akan paham betapa timpangnya derbi sekota ini. Di kancah domestik saja, Blaugrana telah memenangkan 75 trofi. Sementara Periquitos hanya punya 6 trofi domestik yang terdiri dari 4 trofi Copa del Rey dan 2 trofi Segunda Division.

Di kancah internasional, nama Barcelona juga jauh lebih dikenal dan punya basis fans yang tersebar di seluruh dunia. Maklum, mereka punya 17 trofi di level Eropa dan 3 trofi Piala Dunia Antarklub.

Sementara itu, prestasi terbaik Espanyol di kancah internasional hanyalah dua kali menjadi runner-up Piala UEFA. Meski tak sebanding secara prestasi, tetapi kedua klub nyatanya punya rivalitas tersendiri yang tentu saja dibumbui dengan identitas mereka sebagai bangsa Catalan.

Pendukung Espanyol mengklaim dirinya lebih Catalan ketimbang Barcelona. Klaim tersebut tak lepas dari sejarah berdirinya klub. RCD Espanyol didirikan pada 28 Oktober 1900 oleh Angel Rodriguez, orang asli Catalan. Warna biru dan putih yang jadi ciri khas Espanyol berasal dari Roger de Lluria, seorang mantan tentara Catalan yang penting di masanya.

Sementara FC Barcelona didirikan pada 29 November 1899 oleh Joan Gamper yang merupakan orang Swiss. Oleh karena itu pula, warna jersey mereka sangat mirip dengan klub asal Swiss, FC Basel.

Barcelona sendiri merupakan representasi dari pemberontakan bangsa Catalan. Sementara Espanyol adalah wujud kepatuhan terhadap pemerintah Spanyol. Inilah yang selalu jadi bumbu rivalitas di antara kedua klub asal Kota Barcelona itu hingga hari ini.

Meski pamornya tak semegah Derbi Madrileño ataupun Derbi Sevillano, tetapi faktanya, derbi Catalan merupakan derbi lokal yang paling banyak dipertandingkan dalam sejarah La Liga. Dari 172 pertemuan di La liga, Barca unggul dengan 100 kemenangan, jauh meninggalkan sang rival yang baru menang 34 kali.

Khusus di kompetisi mayor, Barca dan Espanyol telah bertemu sebanyak 212 kali. Secara total, Barcelon masih jauh mengungguli Espanyol dengan 124 kemenangan. Sementara sang rival baru meraih 44 kemenangan.

Diwarnai Penalti Kontroversial, Xavi Menangi Derbi Barceloni Edisi ke-213

Pada 20 November kemarin, rekor kemenangan Barca atas Espanyol kembali bertambah. Derbi Barceloni edisi ke-213 atau yang jadi pertemuan ke-173 di La liga tersebut juga terasa sangat spesial. Sebab, laga derbi tersebut menjadi debut Xavi Hernandez sebagai pelatih anyar FC Barcelona.

Setelah 6 tahun meninggalkan Barca, Xavi kembali ke Camp Nou sebagai suksesor Ronald Koeman. Hasil mentereng saat melatih Al-Sadd jadi alasan mengapa dirinya ditunjuk sebagai pelatih anyar Blaugrana.

Selama hampir 3 tahun menukangi Al-Sadd, Xavi berhasil mempersembahkan 7 trofi. Bukan perkara mudah memboyong Xavi dari Qatar, sebab Barca mesti membayar biaya klausul rilisnya sebesar 5 juta euro. Dilaporkan MundoDeportivo, Barca dan Xavi dikabarkan sepakat untuk berbagi pembayaran tersebut.

Namun, seperti yang kita tahu. Ketika dirinya diresmikan sebagai entrenador anyar Barcelona hingga Juni 2024, tugas Xavi di klub yang membesarkan namana itu tak bakal mudah. Ia mewarisi sisa-sisa skuad Ronald Koeman yang punya banyak masalah. Apalagi, ia mesti menjalani debutnya melawan Espanyol dalam lanjutan pekan ke-14 La Liga musim 2021/2022.

Meski langsung dihadapkan dengan laga derbi, Xavi berhasil melaluinya dengan hasil yang cukup memuaskan. Barcelona berhasil menundukkan perlawanan Espanyol di hadapan lebih dari 74 ribu pendukungnya di Camp Nou. Eksekusi penalti Memphis Depay di menit ke-48 menjadi pembeda di laga tersebut.

Hadiah penalti tersebut sebetulnya cukup kontroversial. Depay terlibat kontak dengan bek Espanyol, Leandro Cabrera sebelum dirinya terjatuh di dalam kotak penalti. Namun, dalam tayangan ulang, Cabrera terlihat lebih dulu mendapatkan bola.

Meski diwarnai keputusan kontroversial, kemenangan Barcelona tetap dinyatakan sah. Sebagai pelatih, Xavi merasa lega dan cukup senang atas kemenangan tersebut. Namun, pelatih 41 tahun itu tak menampik bahwa performa anak asuhnya masih banyak kekurangan.

“Faktanya, ada banyak yang perlu ditingkatkan. Kami harus menghasilkan lebih banyak peluang. Pada akhir pertandingan kami kekurangan hal untuk mendominasi permainan. Kami tidak dalam situasi terbaik dan Espanyol memberi kami banyak masalah di menit-menit akhir,” kata Xavi dikutip dari Goal.

Sinyal Positif Barca Bersama Xavi Hernandez

Dari catatan statistik, Barcelona sebenarnya cukup mendominasi Espanyol. Mereka menguasai bola hingga 65,3%. Bibit-bibit tiki-taka juga mulai terlihat. Barca tercatat membuat 592 umpan sukses dengan akurasi 89%, jauh meninggalkan Espanyol yang cuma membuat 273 umpan dengan akurasi 80%. Blaugrana juga berhasil melesatkan 16 tembakan, di mana 6 tembakannya mengarah tepat sasaran.

Namun, seperti yang disadari oleh Xavi, Espanyol memberi banyak masalah. Periquitos masih mampu menghasilkan 12 tembakan, di mana 2 diantaranya mengarah tepat sasaran. Bahkan intensitas serangan Periquitos makin meningkat di 20 menit terakhir.

Ini menjadi bukti bahwa taktik Xavi di Barcelona masih mentah dan belum sempurna. Menurut laporan Diario AS, Xavi hanya duduk selama 2 menit. Sisanya, ia sibuk memberi instruksi dan motivasi kepada pemainnya dari pinggir lapangan.

Namun, dari catatan kami, ada beberapa hal positif yang ditampilkan Barca di bawah asuhan Xavi Hernandez. Dari segi taktikal, Xavi kembali memakai formasi 4-3-3. Struktur formasi tersebut akan berubah ketika Barca dalam fase menyerang.

Seorang gelandang dan bek sayap akan maju mengisi satu pos di lini depan dan membuat struktur formasi Barca menjadi 3-2-5. Dalam hal ini, Jordi Alba, Frenkie de Jong, atau Nico Gonzalez yang akan melakukan overlap. Sesuai dengan filosofi taktiknya, skema tersebut adalah ciri khas taktik Xavi agar anak asuhnya bermain selebar mungkin saat menyerang dengan tujuan untuk meregangkan garis pertahanan lawan.

Selain itu, dari pilihan susuan pemainnya, ada keputusan menarik yang diambil oleh Xavi. Dengan cederanya Ansu Fati, Martin Braithwaite, dan Ousmane Dembele, ia dengan berani memberi debut kepada pemain 17 tahun, Ilias Akhomach.

Akhomach ditempatkan sebagai winger kanan, mendampingi Memphis Depay dan gelandang 17 tahun Gavi yang dipasang sebagai winger kiri. Keputusan tersebut membuat Akhomach menjadi debutan pertama di era kepelatihan Xavi.

Akhomach bukan satu-satunya pemain muda yang ditampilkan. Xavi juga memasang gelandang 19 tahun Nico Gonzalez untuk mendampingi kapten Sergio Busquets dan Frenkie de Jong di lini tengah. Di babak kedua, mantan pelatih Al Sadd itu juga memasukkan winger 19 tahun, Abde Ezzalzouli yang menggantikan posisi Ilias Akhomach.

Dari catatan statistik, pemain-pemain muda yang ditampilkan Xavi menampilkan performa yang cukup memuaskan. Abde Ezzalzouli misalnya. Pemain asal Maroko yang acap kali disapa Abde itu tercatat melakukan 6 dribble sukses dan memenangi 10 duel. Luar biasanya, statistik tersebut jadi yang terbaik dibanding pemain lainnya dan ia hanya melakukannya dalam 45 menit.

Sementara Nico Gonzalez berhasil mencatat 34 umpan akurat dengan akurasi 94%. Nico juga tercatat 3 kali melepas tembakan dan 2 kali melepas umpan kunci.

Penampilan apik beberapa penggawa muda di laga melawan Espanyol jadi sinyal positif di tengah krisis yang melanda FC Barcelona. Apalagi mereka mendapatkannya bersama sang pelatih anyar, Xavi Hernandez yang sukses menandai debutnya sebagai pelatih Barca dengan kemenangan di laga derbi.

Kemenangan tipis 1-0 tersebut membuat rekor kemenangan Barca di laga Derbi Catalan makin bertambah menjadi 125 kemenangan atau jadi kemenangan ke-101 mereka atas Espanyol di kompetisi La Liga. Tentu, kemenangan tersebut sedikit mendongkrak moral Blaugrana.

Tambahan 3 poin membuat koleksi poin mereka bertambah menjadi 20, hasil dari 5 kali menang dan 5 kali imbang dalam 13 pertandingan. Posisi Barca di papan klasemen La Liga pun ikut terdongkrak ke peringkat 7.

Sayangnya, debut manis gagal ditorehkan Xavi di ajang Liga Champions. Dalam lanjutan matchday ke-5, Barca gagal mengalahkan Benfica di Camp Nou. Memainkan formasi 3-4-2-1, Barca ditahan imbang 0-0. Hasil tersebut sebetulnya lebih baik ketimbang pertemuan pertama mereka di matchday kedua, di mana saat itu Barca yang dilatih Ronald Koeman tumbang 3 gol tanpa balas.

Sayangnya, hanya sanggup menambah 1 poin membuat kans mereka untuk lolos ke babak 16 besar menipis. Barcelona wajib menang atas Bayern Munchen di pertandingan terakhir atau mereka hanya bisa berharap agar Benfica gagal memetik 3 poin dari Dynamo Kyiv.

“Saya tidak kesal, saya tidak marah karena saya tidak bisa mencela apa pun yang dilakukan para pemain. Mereka melakukan segalanya dengan sempurna untuk memenangkan pertandingan, sangat disayangkan kami tidak melakukannya. Tapi kami memiliki kesempatan lain. Kami harus terus maju dan kami harus menang di Munich,” kata Xavi dikutip dari FotMob.

Musim masih cukup panjang. Jadi, apakah kalian optimis dengan Xavi Hernandez wahai Cules?
***
Sumber Referensi: Barcabuzz, Goal, Goal 2, FotMob, Kompas.

Pos terkait