Rasanya, tidak ada kisah yang lebih epik di babak grup Liga Champions musim ini ketimbang kisah Junior Messias bersama AC Milan. Masuk sebagai pemain pengganti, pemain asal Brasil itu berhasil mencetak gol kemenangan ke gawang Atletico Madrid.
Berawal dari umpan silang Franck Kessie, Messias yang masuk ke jantung pertahanan Atletico tanpa kesulitan berarti sukses menjebol gawang Jan Oblak. Gol yang sangat spesial, bukan hanya untuk Milan, tetapi juga bagi Messias itu sendiri. Sebab, ia mencetaknya di laga debutnya di Liga Champions saat usianya sudah 30 tahun.
“Apa yang terjadi adalah momen terpenting dalam karier saya, tetapi kerendahan hati tetap sangat penting. Saya tidak boleh kecewa dengan kritik, atau gembira dengan pujian. Saya mendedikasikan gol ini untuk keluarga saya dan semua orang yang percaya kepada saya,” kata Junior Messias dikutip dari FootballItalia.
Junior Messias is 30 years old. He made his professional debut three years ago.
Before that, he was a part-time player working as a delivery driver.
Today, he scored for AC Milan in the Champions League 😍 pic.twitter.com/R49iRG4zMn
— GOAL (@goal) November 24, 2021
Ya, Rabu 24 November kemarin adalah malam yang sangat spesial untuk Junior Messias. Bermain untuk tim sekelas AC Milan saja bagaikan mimpi baginya. Apalagi sampai bermain di kompetisi sebesar Liga Champions Eropa, kompetisi yang terasa sangat asing baginya.
Bagaimana tidak, bermain di Liga Champions bersama Milan yang merupakan pengoleksi 7 trofi “Si Kuping Besar” mungkin sulit untuk dibayangkan Messias. Sebab, 3 tahun yang lalu sepak bola hanyalah sebuah pekerjaan sampingan bagi Messias yang merupakan seorang kurir di Italia.
Lalu, bagaimana kisah di balik perjalanan karier Junior Messias hingga mampu jadi juru selamat AC Milan di Liga Champions musim ini?
• 2011: At 20 years old, he moves to Italy
• 2011: Works as a deliveryman
• 2015: Starts in the Italian 5th division
• 2016: Serie D
• 2018: Serie C
• 2019: Serie B
• 2020: Serie A
• 2021: Signs for Milan
• 2021: First goal in UCL pic.twitter.com/s8KQ0URaGE— Milan Posts (@MilanPosts) November 24, 2021
Junior Messias: Mantan Kurir yang Baru Catat Debut Profesional di Usia 27 Tahun
Junior Walter Messias lahir pada 13 Mei 1991 di pinggiran kota Belo Horizonte, Brasil. Karier sepak bolanya dimulai di tim akademi Cruzeiro pada tahun 2008. Namun, Messias dianggap bukan pemain potensial. Kariernya kemudian mati saat dilepas Cruzeiro pada tahun 2011.
Setelah itu, Messias yang masih berusia 20 tahun memutuskan merantau ke Italia untuk menyusul saudara lelakinya yang sudah lebih dulu hijrah ke Turin. Di Italia, Messias bisa dibilang telah sedikit meninggalkan ambisinya untuk menjadi pesepakbola.
Tujuan Messias merantau ke Turin tak lain dan tak bukan adalah untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Ia kemudian bekerja sebagai seorang kurir di sebuah toko peralatan, seperti kulkas, mesin cuci, dsb. untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.
Pekerjaan itu ia lakoni selama 4 tahun dan di sela-sela kesibukannya, Messias yang masih mencintai sepak bola bergabung ke tim sepak bola amatir. Ia bergabung dengan rekannya dari tim komunitas orang-orang Peru dan bertanding di sebuah turnamen amatir bernama UISP, sebuah turnamen yang dipakai oleh CONI Italia untuk mempromosikan olahraga di kalangan pekerja.
Baru pada tahun 2015 peruntungannya di sepak bola berubah. Ezio Rossi, mantan pemain dan pelatih Torino melihat potensi dalam diri Messias. Ia kemudian membujuk Messias untuk bergabung dengan FC Casale, tim dari divisi 5 Liga Regional Italia yang ia latih.
Pada awalnya Messias menolak tawaran Ezio Rossi karena ragu hal tersebut akan menghambat pekerjaannya. Namun akhirnya ia setuju dan di akhir musim Messias tercatat mencetak 21 gol dalam 32 pertandingan sekaligus mengantar Casale promosi ke Serie D.
But then Rossi found a club for him, 5th division side USD Casale, Ezio Rossi knew the president.
Rossi made him a contract, salary of 1.500€ per month, so he can focus on football.
It was a full success, Messias scored more than 20 Goals and was a big key for the promotion. pic.twitter.com/KG1y4uUpwp— Luca 🦦 (@L89_BVB) August 31, 2021
Pada musim panas 2016, Messias hijrah ke Chieri dengan banderol 120 ribu euro. Di klub tersebut ia mencetak 15 gol dan membantu Chieri memenangkan Coppa Italia Serie D.
Junior Messias diketahui sempat ditawar klub legendaris Pro Vercelli yang berkompetisi di Serie B. Sayang, mimpinya terbentur birokrasi. Tim-tim Serie B dan Serie C dilarang mendaftarkan pemain non-Uni Eropa yang telah terdaftar di klub amatir.
Messias kemudian sempat menganggur sebelum klub Serie D, Gozzano mengontraknya pada bulan Desember 2017. Di musim 2017/2018, Messias berhasil membantu Gozzano promosi ke Serie C. Keberhasilan itu juga membuatnya menembus level profesional. Artinya, Junior Messias baru benar-benar memulai debut profesionalnya di usia 27 tahun.
Bersama Gozzano, Messias menampilkan performa yang cukup bagus. Ia adalah pemain serba bisa yang dapat memainkan posisi penyerang tengah, sayap kiri, dan tentunya gelandang serang. Musim pertamanya di level profesional ia selesaikan dengan torehan 4 gol dan 1 asis dalam 32 penampilan.
> Junior Messias (Atacante, 26, Chieri, foto acima) e Simone Rosso (Meia-atacante, 21, Torino) ao Pro Vercelli (custo zero | empréstimo) pic.twitter.com/c0hdrDJSyk
— Gol Olímpico Futebol (@gololimpicofoot) July 15, 2017
Bersinar Bersama Crotone, Messias Dipinang AC Milan
Di musim 2019/2020, Messias pindah ke klub Serie B, Crotone. Crotone sebenarnya sudah membeli Messias pada bulan Januari sebelumnya seharga 400 ribu euro. Namun, mereka langsung meminjamkannya lagi ke klub lamanya hingga akhir musim.
Musim pertama Messias bersama Crotone berakhir dengan manis. Ia menyumbang 6 gol dan 6 asis serta sukses membantu Crotone meraih tiket promosi ke Serie A Italia.
1⃣ Gozzano-Piacenza 26.9.18 – Serie C ✅
2⃣ Crotone-Trapani 29.12.19 – Serie B ✅
3⃣ Crotone-Bologna 20.3.21 – Serie A ✅
4⃣ Atletico Madrid-Milan 24.11.21 – Uefa Champions League✅Bella storia, Junior #Messias 👏❤️ pic.twitter.com/ZsWDaRI60Y
— SerieBNews (@SerieBNewsCom) November 25, 2021
Junior Messias kemudian merasakan debut di kompetisi level teratas saat berusia 29 tahun. Ia tampil cukup bagus di musim pertamanya di Serie A. Messias mencetak 9 gol dan 4 asis dalam 36 penampilan. Sayang, sumbangan tersebut gagal menyelamatkan timnya dari jurang degradasi.
Di saat itulah, raksasa Italia, AC Milan meminang Junior Messias di bursa transfer musim panas 2021. Messias yang tiba dengan status pinjaman ditebus dengan harga 2,6 juta euro. Milan punya opsi pembelian senilai 5,4 juta euro + bonus 1 juta euro di akhir musim.
Transfer tersebut bisa dibilang sebagai sebuah pembelian tak terduga dari Milan. Messias disebut sebagai pilihan terakhir rossoneri pasca mereka gagal mendapat pengganti sepadan Hakan Calhanoglu. Meski begitu, transfer tersebut membuat Junior Messias serasa berada di kisah dongeng.
Musim pertamanya bersama Milan tak berjalan mulus. Tak lama setelah bergabung, Messias menderita masalah fisik yang membuat debutnya tertunda cukup lama. Ia baru mencatat debut pada 4 Oktober 2021, itu pun sebagai pemain pengganti kala Milan menundukkan Atalanta 3-2 di giornata ketujuh.
Ironisnya, tak lama setelah laga tersebut, Messias dikonfirmasi menderita cedera otot yang membuatnya absen hingga 5 pekan lamanya. Ia baru diturunkan lagi di pekan ke-13 sebagai pemain pengganti saat Milan tumbang di kandang Fiorentina.
Messias Junior vs Atletico (A)
25 minutes – First goal for Milan on his #UCL debut ! pic.twitter.com/6p3CHhdkoN
— Milan Comps (@CompsACM) November 25, 2021
Gol Messias ke Gawang Atletico Madrid Jaga Asa Milan Lolos ke Babak 16 Besar Liga Champions
Messias kemudian baru diberi kesempatan tampil lagi oleh Stefano Pioli di matchday kelima Liga Champions. Ia masuk di menit ke-65 untuk menggantikan Rade Krunic di laga melawan Atletico Madrid. 22 menit kemudian, Junior Messias sukses mencetak gol debutnya untuk AC Milan.
Ya, gol sundulan kepala yang menggetarkan gawang Jan Oblak itu adalah gol perdana Messias dalam balutan jersey rossoneri. Sebuah gol yang sangat penting hingga membuatnya terlihat begitu emosional.
Messias berhasil mempersembahkan kemenangan pertama bagi Rossoneri di Liga Champions setelah terakhir kali meraihnya di musim 2013/2014. Menariknya, sebelum Messias pemain Brasil terakhir yang mencetak gol untuk Milan di Liga Champions adalah Kaká, yang kebetulan juga mencetak gol ke gawang Atlético Madrid.
Junior Messias scored with his first-ever shot for AC Milan. Before Messias, the last Brazilian AC Milan player to score a goal in the Champions League was Kaká, who also netted against Atlético Madrid. pic.twitter.com/TAoobOOrXk
— Milan Posts (@MilanPosts) November 25, 2021
Gol tersebut tak hanya berarti gol perdana bagi Messias untuk Milan, tetapi juga berarti 3 poin pertama Milan di Liga Champions musim ini. Messias, seorang mantan kurir yang dulu menjadikan sepak bola sebagai pekerjaan sampingan berhasil menyelamatkan muka AC Milan di ajang Liga Champions.
Berkat gol kemenangan tersebut, poin Milan kini bertambah menjadi 4 sekaligus membuat rossoneri menggeser posisi Atletico Madrid di peringkat 3 Grup B. Hasil tersebut berhasil memperpanjang napas Milan di Liga Champoins musim ini.
Milan masih berpeluang untuk lolos ke babak 16 besar sebagai runner-up grup. Syaratnya, mereka wajib menang atas Liverpool di pertandingan pamungkas. Sementara di pertandingan lain, duel antara Porto dan Atletico Madrid tak menghasilkan pemenang.
Bila Milan nantinya lolos ke babak 16 besar, mereka mesti berterima kasih kepada Junior Messias. Tanpa golnya ke gawang Atletico Madrid, mereka tak akan mendapat kesempatan berharga untuk mencapai babak tersebut.
Lalu apabila Milan hanya mampu finish di peringkat ketiga dan berlaga di babak play-off Liga Europa, mereka juga masih wajib berterima kasih kepada Junior Messias. Setidaknya, gol kemenangan Messias membuat perjalanan Milan di kompetisi Eropa belum berakhir.
Namun apabila Milan terhenti di babak grup Liga Champions tanpa lolos ke Liga Europa, rossoneri tetap harus berterima kasih kepada Messias. Sebab, dialah yang menyelamatkan muka AC Milan di Liga Champions musim ini. Sangat memalukan bukan bila sang pengoleksi 7 trofi UCL tersebut tersingkir tanpa mampu meraih satupun kemenangan.
Milan had one point after four Champions League games.
Their late win against Atlético keeps their knockout hopes alive ✨ pic.twitter.com/yN4Ip5Otqq
— B/R Football (@brfootball) November 24, 2021
—
Akhir kata, ada satu hal penting yang dapat kita pelajari dari perjalanan karier Junior Messias. Kisah epiknya tersebut patut dijadikan inspirasi. Kisahnya memang tak sehebat pemain kelas dunia lainnya. Messias hanyalah seorang mantan pemain akademi yang berusaha menyambung hidup dengan bekerja sebagai seorang kurir demi menghidupi keluarganya.
Akan tetapi, mimpinya tak pernah padam. Walaupun baru menyentuh level profesional saat usianya sudah 27 tahun, Messias tak patah arang. Gol perdananya di Liga Champions dalam balutan jersey AC Milan saat usianya sudah 30 tahun jadi bukti bahwa, tak ada kata terlambat untuk sukses. Cepat atau lambat, segala jerih payah yang kita usahakan akan terbayarkan dengan nikmatnya kesuksesan.
***
Sumber Referensi: Football Italia, Calciomercato, Goal, Givemesport, CNN.


