Pertama kali dicetuskan oleh Charles Reep pada 1950an dan dipopulerkan oleh Alf Ramsey pada Piala Dunia 1966, Kick and Rush filosofi taktik asli dari Inggris, pernah begitu berjaya dan mendominasi selama beberapa dekade.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Kick and Rush dianggap usang. Kemunculan Totaalvoetbal, Catenaccio, Tiki-taka hingga Gegenpressing membuat Kick and Rush perlahan terpinggirkan.
Di tanah Inggris sendiri, Kick and Rush terakhir kali berjaya lewat kiprah Stoke City. Sedekade lalu, The Potters pernah mengguncang Liga Inggris. Memang, tak ada trofi yang dimenangkan, tetapi tim manapun yang berjumpa dengan pasukan Tony Pulis, apalagi di Britannia Stadium, pasti akan dibuat jijik.
Tony Pulis yang Awalnya Tak Diinginkan di Stoke City
Fans lawas Premier League tentu paham betul sosok satu ini. Tracksuit dan baseball cap jadi dandanan wajib Tony Pulis di setiap pertandingan. Dia lah dalang di balik kegemilangan Stoke City di masa lalu.
Why does Tony Pulis wear a tracksuit and flat cap? He looks like someone from Aldershot. #chav pic.twitter.com/AjFAem5R
— Tristan (@Tristan_ATFC) August 26, 2012
November 2002 jadi awal kedatangannya ke Britannia Stadium. Penunjukannya sebagai manajer anyar kala itu mendapat kritik dan penolakan. Sebelumnya, prestasi terbaik Pulis hanyalah mengantar Gillingham promosi ke divisi 3 di musim 1995/1996.
Salah satu yang paling keras menolak adalah Terry Conroy, legenda Stoke City di era 70an. Menurutnya, Stoke City, klub tertua kedua di Inggris layak mendapat pelatih berkelas.
Sebelum dengan Stoke City, Tony Pulis memang sudah menerapkan negative football. Di musim 1995/1996, Pulis membuat Gillingham hanya mencetak 49 gol dalam 46 pertandingan. Namun, mereka membuat rekor di Inggris dengan hanya kebobolan 20 gol.
Inilah yang membuat penunjukan Tony Pulis kurang diterima. Namun, Pulis justru sukses menyelamatkan Stoke City dari jurang degradasi Championship musim 2002/2003.
Sayangnya, di musim panas 2005, ia dipecat secara tidak hormat. Selain karena gaya main yang tidak disukai, Pulis berselisih paham dengan pemilik Stoke saat itu, Gunnar Gíslason terkait transfer pemain.
Menariknya, setahun kemudian, Tony Pulis kembali ke Britannia Stadium. Adalah pemilik baru The Potters, Peter Coates yang mempekerjakannya kembali. Tak ayal, protes pun kembali merebak.
Pulis yang kekeh dengan taktik kunonya lalu menjawab dengan prestasi. Di musim 2007/2008, ia berhasil mengantar Stoke City promosi ke Premier League untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak Premier League diperkenalkan pada 1992.
Musim berikutnya jadi musim yang ikonik bagi pendukung The Potters. Di pertandingan pertama musim 2008/2009, Stoke City takluk 3-1 dari Bolton Wanderers. Keesokan harinya, bandar judi Paddy Power membayar semua taruhannya agar Stoke City langsung terdegradasi di akhir musim.
Sembilan bulan kemudian, Tony Pulis memimpin Stoke City meraih kemenangan kandang terakhir dengan melibas Wigan Athletic 2-0. Sebuah hasil yang membuat Stoke City finish di urutan ke-12.
Pada awal musim berikutnya, seluruh pendukung The Potters menikmati es krim gratis yang diberikan oleh Paddy Power sebagai permintaan maaf. Sebelumnya, pada pertengahan April 2009, Paddy Power telah menyewa satu halaman penuh surat kabar Stoke Sentinel untuk mengakui kebodohannya.
Musim tersebut juga jadi pertama kalinya istilah “Pulisball” terdengar. Siapa sangka, taktik usang yang diusung Tony Pulis sukses mengguncang Premier League.
ON THIS DAY 2011: Stoke City 5-0 hammering of Bolton Wanderers at Wembley for the FA Cup Semi Final #SCFC pic.twitter.com/grrsaAaS50
— FootballAwaydays (@Awaydays23) April 17, 2022
Stoke City dan Pulisball yang Menjijikkan
Tak ada tim yang bermain lebih menjijikkan ketimbang Stoke City. Ketika taktik ini gagal, Stoke adalah tim terburuk di liga. Namun, ketika berhasil, mereka adalah tim yang paling menyebalkan.
Aroma Kick and Rush begitu kental dalam Pulisball. Di bawah arahan Tony Pulis, Stoke bermain dengan keras.
Musim 2008/2009 adalah bukti terbaiknya. 71 kartu kuning dan 5 kartu merah dikantongi pasukan Tony Pulis yang rata-rata menerima 2 kartu per pertandingan.
Salah satu momen paling ikonik yang merekam betapa brutalnya Stoke City era Tony Pulis terjadi pada 27 Februari 2010. Di satu-satu laga tandang yang dimenangkan Arsene Wenger melawan Pulisball tersebut, ia kehilangan Aaron Ramsey yang mendapat patah tulang tibia dan fibula kanan usai diterjang tekel horor Ryan Shawcross. Enam bulan kemudian, Wenger yang geram dengan Pulisball menyebut kalau Stoke City lebih pantas disebut tim rugby.
Selain bermain keras, Pulisball juga mengandalkan long ball. Formasi 4-4-2 jadi andalannya. Quartet bek akan menjaga area penalti, begitu pula dengan empat gelandang yang berdiri berdekatan untuk menjaga kedalaman. Hal ini membuat Stoke City seolah bermain dengan 8 defender.
Praktis, tim lawan hanya diberi ruang di sisi sayap. Namun, Tony Pulis punya antitesisnya, yakni bek-bek jangkung yang siap menghalau umpan lambung.
Tony Pulis memang membangun skuadnya dengan pemain-pemain besar. Danny Higginbotham, Abdoulaye Faye, Ryan Shawcross, Robert Huth, dan Danny Collins adalah beberapa bek jangkung bertipikal keras yang pernah didatangkan pelatih asal Wales tersebut.
A question that we will never know the true answer to, but just for fun…
What would the result have been if Barcelona & Messi had faced Stoke City at the Britannia on a cold, wet and windy night in their prime with Delap, Huth, Shawcross and Pulis type football? #SCFC #TBPTV pic.twitter.com/z8YTv6YLqF
— The Bear Pit TV (@TheBearPitTV) October 4, 2018
Begitu pula dengan striker. Pulis menyukai striker yang punya keunggulan fisik dan duel udara. Ricardo Fuller, Mamady Sidibé, Jonathan Walters, Kenwyne Jones, dan Peter Crouch adalah beberapa diantaranya. Tugas mereka sederhana, yakni menyambut umpan lambung dengan memenangkan duel fisik atau dengan sundulan kepala untuk mencetak gol.
Lalu, yang jadi bagian penting dari Pulisball adalah pemanfaatan bola mati. Tony Pulis melatih mati-matian skema ini di tempat latihan Stoke City, Clayton Wood. Di sini pula lemparan mematikan Rory Delap ditemukan.
“Kami baru tahu Rory Delap bisa melempar bola seperti itu ketika kompetisi sudah dimulai. Dia mengambil bola dan melemparkannya ke tiang belakang. Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Dari situlah kami menggunakannya sebagai senjata yang luar biasa,” kata Tony Pulis dikutip dari PunditArena.
Throw-in Rory Delap memang jadi senjata mematikan Stoke City selama era Tony Pulis. Delap bisa melempar sejauh 30-40 meter dengan kecepatan maksimum 60 km/jam. 18 gol tercipta dari skema ini selama tahun-tahun Pulisball, di mana 9 diantaranya tercipta di musim 2008/2009.
Salah satu tim yang paling sering kena bully skema ini adalah Arsenal. The Gunners takluk 2-1 di laga tandang pertamanya ke Britannia Stadium, 1 November 2008. Bukan sebuah kebetulan kala dua gol Stoke yang dicetak Fuller dan Olofinjana berawal dari lemparan jauh Rory Delap.
As an Arsenal fan, these Rory Delap throw ins, were the bane of my life 😂😂 pic.twitter.com/n7RsANlm04
— The Cheek Clapping Connoisseur (@mikeviceo) April 29, 2020
Pulisball memang begitu ampuh ketika berhadapan dengan Arsene Wenger. Semasa Stoke ditangani Tony Pulis, Wenger hanya menang sekali dalam 6 lawatannya ke Britannia Stadium. Karena saking seringnya dibully Pulisball, Wenger sampai meminta agar lemparan ke dalam ala Rory Delap dilarang.
“Wenger mengeluh tentang rumput yang terlalu panjang. Dia menulis surat kepada FA. Wasit dan hakim garis harus datang dan mengukur rumput. Saya tahu dia berbicara tentang pelarangan lemparan ke dalam dan mengatakan itu tidak boleh diizinkan. Itu semua jadi musik di telinga kami,” kenang Tony Pulis, dikutip dari Daily Mail.
Long ball, bola mati, dan throw-in Rory Delap memang membuat bek lawan terasa mendapat bom udara ketika berhadapan dengan Stoke City. Namun, elemen terpenting yang menjadikan mereka ditakuti oleh tim lain adalah Britannia Stadium.
Selain rumput yang dibiarkan tumbuh agak tinggi, oleh Tony Pulis, Britannia Stadium disulap jadi benteng bak colosseum. Mirip dengan Highbury di masa lalu, Pulis meminta agar ukuran lapangan dipersempit ke dimensi minimum yang diperbolehkan. Ini membuat lemparan Rory Delap jadi lebih terasa dekat dan intimidatif.
Kebetulan pula, Kota Stoke-on-Trent memiliki cucaca yang mendukung Pulisball. “A cold, wet and windy night at Stoke City” adalah kalimat terkenal yang menggambarkan kondisi markas Stoke City yang dingin, berangin kencang, dan bercurah hujan tinggi. Kondisi ini sangat mendukung pulisball yang mengandalkan umpan-umpan lambung.
Kombinasi taktik, atmosfer stadion, dan cuaca membuat laga tandang ke markas Stoke City menjadi momok bagi banyak tim Premier League. Sebaliknya, itu membuat Stoke City jadi tim jago kandang.
🌧️ The rain pouring down at the Britannia Stadium…
💪 Rory Delap has fetched the towel for a throw-in.
🗣️ Huth and Shawcross are barking orders.
🧢 Tony Pulis pulling the strings.
Was there a more prime Barclays storyline than Stoke City in the Premier League❓ pic.twitter.com/BsIdrX7GtV
— The Set Pieces (@thesetpieces) January 26, 2022
Selama periode Pulisball, Stoke City meraih prestasi terbaiknya di tahun 2011 dan 2012. Untuk pertama kalinya, The Potters lolos ke final Piala FA 2011. Sayangnya, di laga final, mereka takluk dari Manchester City.
Namun, hasil tersebut cukup untuk membawa mereka meraih tiket ke kualifikasi babak ketiga Liga Europa. Stoke City kemudian lolos ke fase grup dan melaju hingga babak 32 besar sebelum takluk dari Valencia.
Masa-masa indah itu kemudian berakhir di musim panas 2013. Tony Pulis meninggalkan Stoke City dengan kesepakatan bersama setelah kampanye yang buruk di musim 2012/2013.
Tak ada sosok yang lebih sedih dengan kepergian Tony Pulis ketimbang Terry Conroy, legenda yang dulu mencibir Pulis di awal kedatangannya ke Britannia Stadium. Namun, pada akhirnya, bukan cuma Terry Conroy yang sedih, tetapi juga seluruh pendukung Stoke City.
Sejak pemecatan Tony Pulis, Pulisball tak lagi tersaji dan Britannia Stadium tak lagi angker. Meski sempat mencatat hasil Liga Inggris yang lebih baik bersama Mark Hughes, tetapi perlahan, mantra The Potters di Premier League memudar hingga akhirnya terdegradasi di musim 2017/2018.
Semenjak itu, Stoke City masih berkutat di Championship hingga hari ini. Meski Tony Pulis dan Stoke City tak lagi berjodoh, tetapi memori Pulisball akan terus dikenang sepanjang masa.
***
Referensi: DailyMail, Stoke Sentinel, Pundit Arena, Football Pink, Jobs4Football, Tirto, FourFourTwo.


