Skuad Bertabur Bintang Bisa Jadi Bumerang Bagi Paris Saint Germain

  • Whatsapp
Skuad Bertabur Bintang Bisa Jadi Bumerang Bagi Paris Saint Germain
Skuad Bertabur Bintang Bisa Jadi Bumerang Bagi Paris Saint Germain

Paris Saint Germain menjadi satu dari beberapa klub yang berhasil membuat jendela transfer musim panas ini kian menarik. Bersama nama Sergio Ramos, Georginio Wijnaldum, Achraf Hakimi, Gianluigi Donnarumma, hingga Lionel Messi, PSG disebut-sebut sebagai tim yang telah menciptakan transfer paling spektakuler sepanjang sejarah.

Buah dari pergerakan sensasional mereka, PSG disebut tak bakal kesulitan bersaing dengan tim besar lainnya. Tidak hanya di kompetisi domestik yang selama ini mereka sikat, kompetisi terbaik Eropa juga dinilai bakal menjadi tempat bermain bagi mereka untuk dapatkan gelar pertama.

Namun nyatanya, apa yang telah dilakukan PSG tak benar-benar membuat semua orang terpana. Tidak sedikit dari mereka yang justru meragukan permainan tim asal Prancis bakal berkembang. Bukan karena kekurangan pemain berbakat, namun lebih kepada sisi tak meyakinkan bakal menyatunya para bintang dalam satu permainan.

Mendatangkan Messi memang jadi kejutan besar bagi semua. Namun apakah keberadaan Neymar Jr dan Kylian Mbappe masih belum cukup bagi lini depan PSG untuk ditakuti lawan? PR besar tentu tertuju pada sang pemegang taktik permainan. Pria yang mengamati pertandingan dari pinggir lapangan, dituntut untuk bijak dalam membagi peran para pemain bintangnya.

Dalam hal ini, tentu tidak ada pemain yang senang dijadikan pelapis. Maka, bukan perkara mudah untuk mengatakan PSG bakal menyikat habis seluruh gelar yang tersedia. Bila sang pelatih tidak tau cara memaksimalkan skuadnya, kekuatan terbesar yang seharusnya mereka punya, justru bisa menjadi kelemahan paling mematikan yang tak pernah mereka kira.

Deretan Konflik Paris Saint Germain

Kekhawatiran sebagian orang tentang sulitnya para pemain bintang bakal menyatu pun mulai terbukti. Sejauh ini, meski kompetisi belum berjalan setengah musim, Paris Saint Germain yang diklaim bakal nyaman dalam memenangi pertandingan, nyatanya tidak benar-benar mulus dalam melewati rintangan.

Ada beberapa kemenangan yang sulit didapat. Bahkan, di kompetisi Eropa, mereka yang sejatinya sangat dijagokan untuk bisa meraih gelar, juga tak benar-benar bisa tampil mengesankan.

Paris Saint Germain tak ubahnya menjadi sekolah mahal yang setiap muridnya punya keinginan untuk pamer kekayaan. Fasilitas mewah hingga uang saku bulanan dalam jumlah besar bisa dengan mudah didapat. Namun celakanya, dalam sebuah ruang kelas yang berisikan siswa berprestasi, tidak ada yang ingin ditempatkan di tangga terakhir penilaian.

Sang guru pun dibuat pusing ketika ada siswa yang meminta nilai sepuluh, sedangkan soal yang diberikan tak semuanya bisa dijawab. Belum lagi ada siswa lama yang memang berprestasi dan terbiasa dengan pujian besar, tidak ingin tempatnya diambil begitu saja. Baginya, mendapatkan nilai terbaik adalah harga mati. Ruang kelas sebagai sarana unjuk kebolehan benar-benar ingin dimanfaatkan untuk mendapat pengakuan.

Kondisi kelas kian diperkeruh dengan terdapatnya siswa yang seringkali unjuk kebolehan dalam situasi yang kurang tepat. Siswa yang sempat diberi teguran karena terlalu sering menunjukkan hal di luar pelajaran ini sampai membuat rekan-rekannya merasa risih, terutama ketika dia enggan memberi kunci jawaban kepada siswa yang dianggap tak ingin disingkirkan eksistensinya.

Beragam permasalahan yang muncul di kubu PSG memang sudah semestinya mendapat perhatian. Mulanya, klub yang diasuh Mauricio Pochettino mendapat sorotan ketika bintang besar asal Argentina, Lionel Messi, merasa marah ketika diganti. Entah apa yang dipikirkan Pochettino ketika itu, menarik keluar Messi nyatanya malah membuatnya jadi korban kritikan. Dia dianggap tidak bisa memahami betul karakter Messi yang tidak ingin diganti.

Tepat setelah sang pemain diganti, sebuah ekspresi kesal pun tak bisa disembunyikan. Sesampainya di bangku cadangan, La Pulga juga masih belum mau menunjukkan muka senang. Wajah muram yang diperlihatkan sebagai sikap tidak menyukai keputusan sang pelatih terus menjadi bahasan, hingga hal itu lebih mendominasi dibanding kemenangan PSG di laga melawan Lyon itu sendiri.

Kejadian tersebut memang kian membuat sulit situasi Lionel Messi yang sampai saat ini terus mendapat kritik, karena belum juga mampu tunjukkan kelasnya sebagai seorang pemain jempolan.

Usai perselisihannya dengan sang pelatih terus menjadi bahasan, Messi sendiri dilaporkan masih merasa belum nyaman tinggal di Paris. Dia kini masih tinggal di sebuah hotel di Paris yang tarifnya mencapai lebih dari 300 juta rupiah per malam.

Messi kurang nyaman ketika tinggal di hotel, karena dirinya merasa bahwa tempat tersebut tidak memberinya ruang privat yang diinginkan. Masih ada banyak sekali penggemar yang terus mengganggu kediamannya.

Ketika sang pemain dilaporkan sudah menemukan sebuah rumah sewa yang harganya mencapai 800 miliar rupiah, sang pemilik tiba-tiba menaikkan harga yang telah ditetapkan setelah tahu rumahnya diminati pemain sekelas Messi. Karena hal itu, Messi pun mengurungkan niatnya untuk menandatangani kontrak sewa rumah tersebut.

Belum cukup sampai disitu, kondisi tim bertabur bintang saat ini kian sulit temui titik terang, usai terdapat pula kabar yang menyebutkan bila kiper bintang mereka, Gianluigi Donnarumma, merasa tidak senang dengan keputusan sang pelatih sejauh ini. Sang pemenang trofi Piala Eropa bersama timnas Italia itu merasa bosan hingga resah ketika namanya terus ditempatkan dalam daftar pemain cadangan.

Baginya, ini jelas menjadi sesuatu yang sama sekali tidak diinginkan. Bagaimana bisa seorang pemain yang memegang penghargaan sebagai pemain terbaik di gelaran tertinggi Eropa tidak mendapat tempat di tim utama?

Sialnya, Mauricio Pochettino mengaku tidak bisa berbuat apa-apa setelah kondisi yang diterima Donnarumma dikabarkan merupakan buah dari intervensi pemain berjuluk La Pulga. Menurut kabar yang bersumber dari Italia, Lionel Messi bersama pemain asal Amerika lainnya seperti Neymar Jr hingga Angel Di Maria, meminta pelatih untuk lebih memilih Keylor Navas yang berasal dari Kosta Rika jadi penjaga gawang andalan, sebagai sikap solidaritas mereka.

Dalam hal ini, Mauricio Pochettino tidak ingin memperkeruh keadaan dan merusak hubungannya dengan Lionel Messi, setelah sebelumnya dia sudah mendapat perlakuan yang sejatinya kurang menyenangkan dari eks pemain FC Barcelona tersebut.

Makin runyam, Paris Saint Germain yang sekali lagi diprediksi bakal dengan mudah tuntaskan segala misi, harus menghadapi kenyataan kalau dua pemain andalan mereka, Neymar Jr dan Kylian Mbappe terlibat dalam sebuah perselisihan.

Di saat Lionel Messi tengah disibukkan dengan pemulihan cedera lutut, Neymar dan Mbappe justru menciptakan sebuah situasi yang seharusnya bisa dihindari. Dalam laga melawan Montpellier di Liga Prancis, Mbappe dikabarkan marah kepada Neymar karena pemain asal Brasil tersebut tidak memberinya umpan disaat posisinya berada dalam situasi ideal untuk mencetak gol.

Neymar yang lebih memilih untuk unjuk kebolehan dengan mengecoh sang kiper lawan, justru gagal temui sasaran. Aksinya berhasil dimentahkan hingga membuat peluang emas terbuang sia-sia.

Komentar Mauricio Pochettino

Menurut Mauricio Pochettino, PSG saat ini memang bukanlah sebuah tim. Ia mengakui sendiri kelemahan yang dimiliki skuad asuhannya saat ini. Baginya, pemain seperti Messi, Ramos, hingga Donnarumma hanyalah segelintir pemain bintang yang berhasil direkrut PSG.

Mereka semua dan pemain lain belum menemukan chemistry yang pas untuk menjadi sebuah tim yang solid. Menurutnya, hal itulah yang kemudian menjadi penyebab mengapa PSG belum benar-benar serasi dalam menjalani pertandingan.

Namun kembali lagi, apa yang terjadi saat ini merupakan tanggung jawab yang harus segera dibenahi Mauricio Pochettino. Selaku nahkoda sebuah kapal besar, dia harus segera membetulkan gangguan agar pelayaran menuju panggung juara tak lenyap oleh hantaman karang atau badai yang sesekali menghadang.

Sumber referensi: news en, sportstar, football-italia

Pos terkait