Salam Perpisahan Samir Nasri pada Sepak bola

  • Whatsapp
Salam Perpisahan Samir Nasri pada Sepak bola
Salam Perpisahan Samir Nasri pada Sepak bola

Suatu saat nanti barangkali Samir Nasri akan menikmati masa tuanya dengan bermain game sepak bola FIFA. Tentu saja sembari merenung apakah kariernya di dunia sepak bola sudah menyentuh titik paripurna. Pemain sepak bola berkebangsaan Prancis itu memutuskan gantung sepatu di usia 34 tahun.

Mantan pemain Arsenal dan Manchester City itu belum lama ini mengumumkan pengunduran dirinya dari lapangan hijau. Kita mengenal Nasri ketika ia memperkuat Arsenal. Nasri biasa menempati posisi attacking midfilder alias gelandang serang. Karena kecerdasannya, Samir Nasri bahkan terkenal dengan julukan The Little Zidane atau Si Zidan Kecil. Lalu, bagaimana perjalanan Samir Nasri?

Profil Samir Nasri

Siapa menyangka, 34 tahun lalu di pinggiran kota Marseille, Prancis lahir seorang anak laki-laki yang memiliki bakat alami bermain bola. Ya, anak tersebut adalah Samir Nasri yang lahir 26 Juni 1987. Nasri dilahirkan di lingkungan orang yang tua jauh dari kemewahan.

Ibu Nasri, Ouassila Ben Said tak lebih dari sekadar ibu rumah tangga. Sementara ayahnya, Hamid Nasri adalah seorang sopir yang nyambi agen sepak bola. Bakat Nasri kecil sudah mulai terlihat saat di La Gavotte Payret, tempatnya dibesarkan.

Melihat bakat sang anak di dunia sepak bola mulai menunjukkan tanda-tanda akan menjadi pemain hebat, ayah Nasri sekonyong-konyong mendaftarkan Nasri ke sebuah klub lokal. Nama klub itu sama seperti tempat tinggalnya. Namun Nasri tak lama bermain untuk La Gavotte Payret.

Orang tuanya harus pindah ke Pennes, Mirabeau yang membuatnya mau tidak mau mesti ikut. Nasri pindah ke Pennes tepat ketika usianya masih tujuh tahun. Ia juga bermain di klub lokal. Di klub itu, bakat Nasri makin terasah.

Freddy Assolen, seorang pemandu bakat Marseille tiba-tiba panas kupingnya karena tak henti-hentinya mendengar nama Samir Nasri. Hal itu pada akhirnya membawa Assolen untuk pergi menjemput Nasri, namun bukan untuk mengajaknya bergabung ke Marseille. Melainkan dibawa langsung ke turnamen pemain muda di Italia.

Kala itu, tim muda Marseille akan melakoni laga kontra akademi Milan dan Juventus. Nasri terkesan dengan turnamen tersebut. Ia tampil cukup baik, bahkan seorang pencari bakat Milan kala itu berkelakar kalau Nasri harus tinggal, dan Assolen harus sudi melepasnya.

Padahal saat itu Nasri belum secara resmi menjadi bagian dari akademi Marseille. Ia baru masuk ke akademi klub sepulang dari Italia. Setelah balik ke Prancis, seluruh official Marseille lekas mengadakan pertemuan dengan ayah Nasri. Tentu supaya Nasri mau menjadi bagian dari akademi Marseille.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nasri yang ngebet untuk mengembangkan bakatnya itu pun menerima tawaran akademi Marseille saat usianya baru sembilan tahun. Seketika Nasri langsung menjadi bagian dari tim muda Marseille.

Nasri pun menjadi salah satu bagian terpenting dari tim muda Marseille. Ia sukses menjadi salah satu pemain yang turut serta menyumbangkan trofi untuk Marseille muda. Nasri berkembang sangat pesat. Kemampuan dribelnya juga mulai matang.

Kegigihannya itu berbuah manis. Nasri pun mendapat kesempatan debut di Marseille tahun 2004. Sampai tahun 2008, Nasri seolah menjadi salah satu kepingan puzzle Marseille. Ia mencatatkan 121 penampilan dan 11 gol bersama Marseille.

Berkembang di Arsenal, Dibajak City

Samir Nasri menunjukkan performa yang kian menanjak. Saat bermain untuk Marseille, nama Nasri pun menjadi buah bibir. Hingga salah satu The Big Six Liga Inggris, Arsenal memboyong Nasri dari Marseille. The Gunners mesti membayar 12 juta pounds atau sekitar Rp 234 miliar demi memaksa Nasri datang ke Emirates Stadium.

Berada di Arsenal merupakan titik awal karier Nasri menanjak. Selama berseragam The Gunners itu pula, Nasri masuk nominasi Pemain Terbaik PFA (Asosiasi Sepak bola Prancis) pada 2010. Pelatih Arsenal waktu itu, Arsene Wenger memuji permainan Nasri.

Menurut Wenger, fleksibilitas Nasri sangat memesona. Melihat aksi Nasri di lapangan, Wenger selalu menyamakan Nasri dengan legenda sepak bola Prancis, Zinedine Zidane. Bedanya, Zidane dengan keterampilannya mampu menciptakan celah, sedangkan Nasri dengan keterampilannya mampu untuk menusuk ke jantung pertahanan lawan dengan bersolo karier.

Satu yang cukup diingat adalah ketika Arsenal menghadapi Fulham pada 4 Desember 2010. Kala itu, Arsenal unggul 2-1, dan kedua gol di cetak Nasri lewat upaya solo, meliuk-liuk di antara para pemain Fulham. Gol pertama, Nasri sukses mengelabui dua pemain belakang Fulham, untuk kemudian menghajar Schwarzer, penjaga gawang Fulham kala itu dengan tendangan keras.

Gol kedua nyaris sama, namun kali ini Nasri yang berlari dari lini tengah menerima umpan Van Persie. Kemudian mengecoh 3-4 pemain Fulham. Mereka termasuk Schwarzer hanya bisa terpana melihat aksi Samir Nasri dan ikhlas gawangnya dijebol pemain Prancis itu.

Namun begitu, tak satu pun piala yang diberikan Nasri untuk Arsenal. Alih-alih membanggakan publik Emirates Stadium, Nasri justru menjadi bahan cibiran dan meninggalkan kesan yang buruk ketika memutuskan hengkang ke Manchester City. Gooners nyatanya masih belum memaafkan Nasri menyusul kepindahannya ke The Citizens.

Apalagi selama bermain di Manchester City, Nasri justru menyumbangkan beragam trofi. Dua gelar Premier League tahun 2012 dan 2014, satu trofi Piala Carling 2014, dan satu gelar English Super Cup di tahun 2013 seolah membuktikan bahwa Nasri tidak layak mendapat kata maaf dari fans Arsenal.

Para penggemarnya di Arsenal malah mencap Nasri sebagai tentara bayaran. Nasri dianggap mata duitan setelah tergiur 24 juta pounds atau Rp 469,9 miliar. Bukan itu saja, Nasri juga dianggap tak menghormati legenda Arsenal, Thierry Henry.

Rekan setimnya di Prancis, William Gallas merasa kalau Nasri tidak menghormati Henry karena merebut kursi sang legenda di dalam bis saat jeda internasional. Karena itu pula bahkan permusuhan antara Gallas dan Nasri menyeruak. Keduanya tak sudi saling berinteraksi atau berjabat tangan selama setahun.

Meski menorehkan prestasi untuk Manchester City, Nasri justru acap kali tampil inkonsisten. Mantan pelatih Manchester City, Roberto Mancini pernah ingin meninju Samir Nasri. “Saya ingin memberinya (Nasri) pukulan,” kata Mancini seperti dikutip The Sun.

Hampir Meninggal

Pemain yang kini diingat publik sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Arsenal itu pernah mengalami masa suram. Masa ketika dirinya hampir saja dicabut nyawanya oleh malaikat. Saat musim terakhirnya bersama Marseille, Nasri divonis mengidap menengitis.

Saat itulah Nasri mulai berpikir kalau kariernya tak lama lagi. Ia merasa bakal ditinggalkan orang-orang yang dia pikir dekat dengannya. Nasri dirawat 12 hari di rumah sakit, dan saat itulah ia baru merasakan bahwa tak ada satu pun orang baik di sisinya.

“Orang-orang berada di belakang saya saat itu, tetapi ketika saya sakit selama 12 hari, dengan meningitis yang hampir mati, tidak ada seorang pun di sana. Saya memperhatikan bagaimana keadaan sebenarnya,” kata Nasri seperti dikutip The Sun.

Skandal Doping

Sekitar lima tahun lalu, kala Nasri dipinjamkan ke Sevilla, ia pergi ke Los Angeles, Amerika Serikat untuk berlibur. Ketika itu juga Nasri mengunjungi pusat medis Drip Doctors yang salah satu pendirinya Jamila Sozahdah.

Hal itu diketahui setelah Nasri mengunggah foto bersama Jamila di media sosial. Saat di LA, Nasri diduga menerima infus 500 mililiter air yang dicampur nutrisi yang diduga doping. Kelakuan Nasri itu pun diketahui UEFA.

Pada 2018, UEFA akhirnya membuat keputusan yang bisa menghancurkan karier Nasri. Pemain Prancis itu di-banned dari segala kompetisi. Ia dilarang bermain selama 18 bulan karena melanggar etika dan disiplin UEFA setelah melanggar aturan badan anti-doping dunia (WADA).

Sebelum dihukum UEFA, Nasri sebetulnya sudah mengakhiri masa peminjaman dengan Sevilla dan dijual City ke Antalyaspor dengan banderol murah, 3,5 juta euro atau Rp 58,3 miliar. Setahun setelah hukuman UEFA, Nasri pindah ke West Ham United.

Di West Ham kisahnya tak begitu mengesankan. Hingga Nasri pun kemudian pindah ke Belgia. RSC Anderlecht adalah klub terakhir yang menerima Nasri. Namun, bersama raksasa Belgia, Nasri hanya tampil sebanyak 8 kali dengan torehan dua gol. Ia hanya tampil selama semusim 2019/20 bersama Anderlecht.

Pandemi membuat Nasri memilih untuk tidak bermain dan berstatus tanpa klub musim 2020/21. Kini, sebuah kabar dari Sky Sports memberitahu semua orang bahwa Nasri telah member ucapan salam perpisahan pada sepak bola. Pada seluruh fans maupun pembencinya.

Sumber referensi: the-sun.com, givemesport.com, eurosport.com, transfermarkt.com

Pos terkait