Shaun Goater: Sang Legenda Manchester City Sesungguhnya

spot_img

Sebelum kemunculan nama seperti Mario Balotelli, Edin Dzeko, hingga Sergio Aguero yang jadi pemain hebat yang mengangkat derajat Manchester City. Ada nama lain yang tentu saja tidak boleh dilupakan. Nama ini ada sebelum Sheikh Mansour melawat ke Manchester dan mengakuisisi sisi biru kota tersebut.

Pemain itu adalah Shaun Goater. Ia sangat pantas disebut “Legend of Legends” dari klub yang kini bermarkas di Etihad Stadium itu. Di era 90-an hingga awal 2000an Shaun Goater bak dewa bagi fans City. Sayang namanya tak ranum selamanya. Sosok Goater nyaris tenggelam di tengah lautan pemain-pemain hebat yang datang ke Manchester Biru.

Dari Bermuda Untuk Manchester

Lahir di Bermuda, sebuah pulau kecil yang berada di wilayah seberang laut Britania Raya, Shaun Goater menjelma striker hebat Manchester City. Namun, jangan dikira The Citizen yang menemukan bakat Goater. Justru rival merekalah, Manchester United yang menemukan bakat luar biasa terpendam dalam diri pemuda dari seberang laut Britania Raya.

Di usia 17 tahun, Goater sukses menjalani trial di Manchester United, sehingga ia mendapat kontrak profesional dari Setan Merah. Sayangnya, ia bernasib seperti pemain-pemain muda MU lainnya. Setelah mendapat kontrak profesional, Goater tak kunjung menembus skuad utama Manchester United.

Goater hanya menghabiskan masa mudanya di Manchester United sebagai pemain pinjaman. Ia rela bermain di kasta yang jauh lebih rendah demi mendapatkan menit bermain yang cukup. Meski banyak tawaran bermain di luar Inggris, Goater tetap memilih untuk bermain di Inggris bersama Rotherham, Notts County, hingga Bristol City.

Ketika bermain di Bristol, Goater yang sejak mudah menjadi seorang gelandang berubah posisinya menjadi striker. Tepat di titik inilah performa Goater menunjukkan kegemilangan. Ia menjelma penyerang berbahaya di kotak penalti lawan.

Mencintai dan Dicintai

Pada penghujung paruh kedua musim 1998-99, tawaran dari Manchester City yang saat itu masih menghuni Championship datang. Ketika itu manajer City, Joe Royle tertarik mendatangkan Goater. Ia datang tujuan awalnya untuk menyelamatkan City dari degradasi ke divisi ketiga. Namun sayang, kedatangan Goater dirasa terlambat. Meski mencetak tiga gol di tujuh laga tersisa, Goater tidak mampu menyelamatkan City dari bencana degradasi. 

Gagal menyelamatkan Manchester City dari degradasi, membuat Goater kehilangan kepercayaan diri. Ia harus melihat timnya terpuruk, sembari menerima kenyataan bahwa klub masa kecilnya kian mendominasi Inggris dan meraih treble luar biasa tahun 1999.

Goater sempat mengalami kesulitan di lapangan, goal-goalnya pun mulai mengering. Bahkan ia sampai menemui psikolog yang bekerja di Manchester City untuk mencari cara bagaimana ia bisa meningkatkan kepercayaan diri di lapangan.

Setelah mendapat bimbingan dari psikolog, Goater kembali menemukan jati dirinya. Ia membawa City kembali ke divisi Championship setelah memenangkan laga play off melawan Gillingham. Duet Shaun Goater dan Paul Dickov jadi penyelamat City kala itu.

Waktu normal yang hanya menyisakan beberapa menit saja, Shaun Goater muncul sebagai pahlawan. Ia jadi pemberi umpan untuk sebuah gol dari Paul Dickov yang diakui oleh beberapa fans lawas City, itu lebih penting daripada gol Sergio Aguero ke gawang QPR satu dekade kemudian. Pasalnya gol tersebut jadi titik balik City di sepakbola Inggris.

Kesetiaan yang Teruji 

Shaun Goater terus berjuang untuk mencetak gol. Berkat gol-golnya ia berhasil memenangkan hati para penggemar. Fans City selalu memiliki ruang khusus di hati mereka untuk Shaun Goater, pemain yang berjuang melalui kesulitan dan membuktikan dirinya belum habis.

City pun berhasil mengamankan promosi berturut-turut pada musim berikutnya dengan finis di peringkat dua Championship musim 1999/2000. Goater menjadi sosok penting dalam kesuksesan City. Ia menyelesaikan musim yang luar biasa sebagai pencetak gol terbanyak klub dengan 23 gol, serta menyabet penghargaan Player of The Year. 

Penantian panjang pun telah usai, Goater membawa klub yang ia cintai berlaga di kasta tertinggi sepakbola Inggris pada musim 2000/2001. Namun, musim pertamanya di Premier League tak berjalan mulus. Kedatangan legenda Liberia, George Weah membuat Goater lebih sering menghangatkan bangku cadangan ketimbang bermain dan mencetak gol.

Meski berhasil mendatangkan pemain sekaliber George Weah dan Alf-Inge Haaland, City tak mampu berbicara banyak di musim pertamanya di Premier League. Hasil-hasil buruk mengiringi perjalanan City musim itu. Di Akhir musim, Goater kembali harus menelan pil pahit. Perjuangannya selama ini seakan sirna dengan kembalinya City ke Divisi Championship.

Dengan keadaan City yang carut marut, beberapa bintang pun memutuskan pergi. George Weah memilih berkarir di Prancis, sedangkan Paul Dickov bergabung dengan tim Inggris lainnya, Leicester City. Sementara Goater? Masih setia menemani Manchester City.

Momen Epic Derby Manchester 2003

Goater kembali menjadi saksi perjalanan roller coaster Manchester City di sepakbola Inggris. Kali ini tak tanggung-tanggung, Goater membawa Manchester City kembali ke Premier League melalui jalur juara Divisi Championship 2001/2002. 

Goater menggila dengan mencetak 32 gol di semua kompetisi. Pencapaian ini menjadikannya pemain pertama sejak Francis Lee yang mampu mencetak lebih dari 30 gol dalam satu musim.

Musim 2002/2003 jadi musim kelima Shaun Goater berseragam Manchester City. Klub mempersiapkan musim keduanya di Premier League dengan mendatangkan Nicolas Anelka dan Robbie Fowler. Namun kedatangan mereka tak membuat Goater gentar. Pemain bintang boleh datang dan pergi, tapi Shaun Goater tetap menjadi satu-satunya GOAT di Manchester City.

Musim kedua di Premier League jadi musim yang paling melekat di ingatan fans Manchester City. Di bawah asuhan Kevin Keegan, Goater CS berhasil meraih kemenangan Derby Manchester pertama dalam 15 tahun terakhir. Goater pun jadi bintang di laga tersebut.

Berduet dengan Anelka di lini depan, Goat mampu menginspirasi serangan-serangan Manchester City. Gol pertama yang dicetak Anelka juga hasil bola muntah sepakan Goater. Beberapa menit berselang, giliran Goater yang memasukan namanya ke dalam daftar pencetak gol. Ia memanfaatkan kesalahan Gary Neville di dalam kotak penalti.

Tak puas hanya mencetak satu gol, Goater kembali menambah keunggulan di babak kedua, sekaligus mengunci kemenangan dengan skor 3-1 atas Manchester United. Kemenangan di Mine Road jadi kemenangan yang dinanti-nanti oleh fans City. 

Manchester City mengakhiri musim 2002/2003 dengan finis di urutan ke-9. Dengan berakhirnya kompetisi, berakhir pula petualangan Shaun Goater bersama Manchester City. 103 gol telah dicetak Goater selama pengabdianya di City. 

Yang perlu kalian ingat, Manchester City yang kalian kenal sekarang adalah warisan dari Shaun Goater. Jika Shaun Goater tak setia dan membawa City kembali ke kasta tertinggi, mungkin kalian tak akan pernah tahu bahwa ada klub sepakbola lain di kota Manchester.

Sumber: These Football Times, Football Faithfull, Bein Sport, Transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru