Sepak Bola Di Tangan Gus Dur, Jadi Jokes dan Dialektika Politik

spot_img

Kepala dibalut peci dengan kacamata dan sarung menjadi pakaian saat berkunjung ke pondok pesantren. Gus Dur Duduk di panggung untuk ceramah dihadapan ribuan santri dengan sesekali mengeluarkan jokes. Pendengar bisa tertawa terpingkal-pingkal sebab spontanitas dan menggambarkan realitas adalah landasan punchline-nya.

Cerita mantan Presiden ke-4 Indonesia bercerita tentang orang Madura, Brodin yang ingin menjalin kerjasama dengan Gus Dur menjadi pelatih. Lantas, Brodin datang ke Jakarta menumpak becak di antar ke depan istana. Terjadilah percakapan antara petugas keamaan istana dengan pria asal Madura.

Cari siapa, Pak?” tanya petugas penjaga.

“Saya pengen ketemu Gus Dur, Pak,” jawab Brodin.

“Ada keperluan apa ya, Pak?” tanya penjaga lagi.

“Tadinya saya ingin Gus Dur menjadi pelatih sepak bola di klub saya di Madura. Saya juga tadinya sekalian hendak bertanya berapa biaya transfernya. Saya dan teman-teman di klub sudah mengumpulkan duit. Tapi nggak jadi,” kata Brodin.

“Memang kenapa Pak?” tanya petugas mencoba terus mengikuti perkataan Brodin.

“Aduh, ternyata rumah Gus Dur kayak gini. Kalau harus segede ini mana saya sanggup Pak. Ternyata klub sepak bola di Jakarta kaya sekali ya Pak. Rumah pelatihnya saja kayak istana,” ucap Brodin.

Pendengar ceramah Gus Dur tertawa terpingkal-pingkal bukan main. Sepakbola ditangannya bukan sekadar tontonan ekslusif melainkan sesuatu yang bisa dibuat bahan bercanda.

Kiai yang familiar dengan ungkapan “Gitu Aja Kok Repot” sejak belia kecintaan terhadap sepakbola tidak bisa ditawar. Kala ayahnya, KH. Wahid Hasyim bermukim di Jakarta, halaman belakang disulap jadi lapangan untuk menendang bola bersama bapak di sore hari.

Greg Barton dalam buku “Biografi Gus Dur” mengisahkan Abdurrahman kecil pernah tidak naik kelas semasa duduk di Sekolah Ekonomi Pertama (SMEP) karena gagal ujian. Musababnya, ia tak pernah membereskan pekerjaan rumah karena terlalu sering bermain dan menonton pertandingan sepakbola.

Buah kegagalan Gus Dur, ia dikirim ke Jombang bersekolah di pesantren. Hobinya yang dulu bermain beranjak dewasa ia menjadi pandit.

Masih di buku Greg Barton, Gus Dur lalu disekolahkan ke Al Azhar, Mesir.  Ia mengetahui kegilaan masyarakat Negeri Piramida terhadap bola.

Pada dekade 1960an, negara bagian Afrika Utara tengah mengalami rivalitas antara klub Zamalek dan Al Ahly berujung pada ideologi. Persitiwa ini bermula, 1966 sebelumnya pertandingan yang mempertemukan dua klub berujung pada kerusuhan dan mengakibatkan suporter saling serang dengan militer.

Sekembalinya di Indonesia, ia menjadi salah satu kolumnis bola ternama saat itu. Gus Dur dan sepakbola melempar ingatan tentang upaya secara pribadi yang gila bola. Keuletannya menggunting artikel koran tentang dunia kulit bundar yang terkumpul dalam koper. Potongan koran menjadi salah satu “bank data”  untuk membuat tulisan berupa analisis pertandingan di Harian Kompas dan Majalah Tempo.

Berpolemik dengan Idiom Sepak bola

Abdurrahman Wahid, atau yang lebih populer dengan sebutan Gus Dur, merupakan tokoh panutan yang sangat di hormati oleh banyak kalangan karena pengabdiannya kepada masyarakat,demokrasi, dan islam toleran. sosok penuh teka-teki dan kontroversial sehingga pemikiran dan tindakannya sering disalahpahami oleh banyak kalangan. Dia dipuji oleh banyak kalangan, namum juga dicela oleh mereka yang tak mampu memahami jalan pikiran dan sikapnya.

Gus Dur dan Shindunata pernah terlibat dalam polemik berbahasa bola. Waktu menghadapi kasus Bulog, Gus Dur begitu yakin akan dapat mengatasi Pansus DPR karena ia menerapkan strategi catenaccio (pertahanan gerendel khas Italia).

Penulis mengkritik strategi pertahanan konservatif itu. Kalau Gus Dur memakai ”catenaccio politik”, yang cenderung menunggu peluang itu, betapa makin sulit kita mengharapkan perubahan. Baru saja kita merasa hidup baru, tetapi sekarang tiba-tiba kita merasa sesak dalam udara lama, kembali dicekik cara pikir dan kekuatan lama. Dalam sekejap, kita seperti kehilangan bola emas di depan gawang lawan (Kompas, 16/12/2000).

Gus Dur pun membalas kritik yang disampaikan oleh Sindhunata dengan tulisan dalam kolom berjudul “Catenaccio Hanya Alat Belaka” (18 Desember 2000).

“Jadi, dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bahwa strategi Totaalvoetbal harus diterapkan secara kreatif dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Dalam satu hal, kita menggunakan strategi Catenaccio, sedang dalam hal lain strategi Kick and Rush (ala Inggris). Bahkan, kadang kita menggunakan strategi Totaalvoetbal sekaligus memeragakan permainan cantik ala tarian Samba khas kesebelasan Brasil”, kata Gus Dur.

Bagi Gus Dur strategi total football harus diterapkan secara kreatif dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Dalam satu hal, kita menggunakan strategi catenaccio, sedang dalam hal lain strategi hit and run. Bahkan, kadang kita menggunakan strategi total football dan siapa tahu kita juga memeragakan bola Samba kesebelasan Brasil.

Pada pergaulan ini Gus Dur memberi tauladan bahwa kritik dibalas dengan kritik bukan intrik dan argumen dibalas argumen bukan sentimen. Sebab, Gus Dur tahu jauh sebelum Sindhunata memberikan kritik melalui tulisan tersebut terdapat beberapa tulisan yang mendukung.

Kesebelasan Gus Dur

Saat Gus Dur diangkat menjadi presiden, Sindhunata menulis artikel berjudul “Kesebelasan Gus Dur”. Isi tulisannya mengharapkan kabinet di bawah kepemimpinannya dapat bekerja dengan amanah. Bagi Shindunata, sepakbola bukan dianggap sebagai hiburan dan permainan, tapi cara memimpin negara layaknya seperti pelatih. (hal. 232).

Gus Dur diminta dapat belajar kepada pelatih Jerman, Sepp Herberger yang mampu mengulingkan dominasi Hunggaria di Piala Dunia 1954 dalam buku berjudul Bola-Bola Nasib

“Keberhasilan dalam sepakbola ditentukan oleh tiga hal, yakni sepertiga kebiasaan, sepertiga perkawanan dan seperti terakhir keberuntungan. Kebiasaan dapat dilakukan dalam latihan. Keberuntungan terjadi di lapangan hijau. Perkawanan dibina di luar latihan dan lapangan. Pelatih harus bisa mengumpulkan pemain-pemain yang siap untuk mengorbankan diri bagi cita-cita yang sedang digeluti dan bagi kawan kawan-kawannya sendiri. Gus Dur kiranya boleh mengoper rumus keberhasilan  Herberger untuk kesebelasan yang sedang dipersiapkan  

Sindhunata pun menuliskan “Kami, rakyat Indonesia, masih didera krisis yang membuat kami kehilangan identitas. Maka permintaan kami pada sampeyan: Gus, bentuklah “kesebelasan” yang bisa memberi lagi kami kebanggaan, hingga kami bisa bilang, kami kembali menjadi siapa, setelah lama kami malu karena kami bukan siapa-siapa”

Harapan Sindhunata tentu diejawantahkan Gus Dur yang hanya memimpin Indonesia 18 bulan. Melakukan diplomasi dengan berbagai negara agar eksistensi Indonesia di mata dunia tetap diakui. Di dalam negeri, ia mengakui keberagaman warga negara sebagai keniscayaan bukan hambatan. So, berusaha menciptakan keadilan agar perdamaian antar di masyarakat mampu tercapai.

Gus Dur barangkali satu dari sekian pemimpin negara di dunia yang gandrung bola dan mampu mengejawantahkan permainan 11 lawan 11 dalam dunia politik.

—-

Al Fatihah untuk haul ke-12, Gus Dur.

 

Referensi : Tirto.id, NU Online, Panditfootball, Gusdurian, Bola-Bola Nasib: Catatan Sepak Bola Sindhunata, Biografi Gusdur, Gus Dur dan Sepak Bola: Kumpulan Kolom Gus Dur tentang Sepak Bola

 

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru