Satu Tahun Erick Thohir Menjabat Ketum PSSI, Puaskah?

spot_img

Februari 2024 jadi penanda satu tahun Erick Thohir mengemban jabatan sebagai Ketua Umum PSSI. Jika dalam hubungan lawan jenis kita mengenal istilah anniversary untuk memperingati satu tahun perjalanan kisah cinta, maka dalam dunia kepemimpinan kita acap kali mendengar istilah refleksi.

Meski sudah satu tahun menjabat, transformasi sepakbola yang selalu dicanangkan PSSI tampaknya belum juga menampakan batang hidungnya. Lantas, benarkah program Erick Thohir belum berjalan dengan baik di tahun pertama bersama PSSI? Mari kita ulas bersama.

Bukan Tanpa Gebrakan

Setahun menjabat, bukan berarti tak ada pencapaian dari Erick Thohir. Dalam tahun pertamanya, terdapat beberapa program yang mulai terlaksana. Sebagai contoh ketika PSSI menggandeng POLRI untuk menciptakan iklim sepakbola yang lebih baik di Indonesia. Perjanjian kerjasama atau MoU pun sudah ditandatangani pada akhir tahun 2023 kemarin.

Selain itu, PSSI juga membuka akses yang lebih luas untuk bekerjasama dengan negara-negara yang sektor sepakbolanya dianggap sudah maju. Erick mengajak federasi sepakbola Jepang untuk bekerjasama meningkatkan kualitas para wasit lokal. Dalam keterangannya, Erick menginginkan wasit Indonesia mendapatkan fasilitas pelatihan dan teknologi yang lebih baik.

Selain Jepang, PSSI juga resmi menjalin kerjasama dengan operator Bundesliga, DFL. Dari program ini, ada enam poin kerjasama yang disepakati. Poin-poin tersebut berfokus pada pengembangan potensi, tata kelola kompetisi, serta tata kelola sumber daya secara lebih profesional.

Yang tak kalah mengejutkan, Erick Thohir berhasil menghadirkan juara dunia tahun 2022, yakni Timnas Argentina untuk berhadapan dengan Timnas Indonesia di agenda FIFA Matchday. Mampu mendatangkan Tim Tango ke negara yang kekuatan sepakbolanya tak diperhitungkan macam Indonesia jadi suatu pencapaian luar biasa bagi PSSI. Hanya saja, Erick Thohir masih belum mampu menyelesaikan hal-hal mendasar yang sebetulnya masih menjadi fokus dari apa itu “transformasi”.

Batal Selenggarakan Piala Dunia U-20

Kegagalan menggelar Piala Dunia U-20 bukan sepenuhnya salah PSSI. Namun begitu tetap patut disayangkan. Batalnya Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 berkaitan dengan situasi politik dan masifnya penolakan kedatangan Israel, yang waktu itu menjadi peserta. Apalagi karena Indonesia tak punya hubungan diplomatis dengan Israel.

Namun, sejatinya menurut Peraturan Kementerian Luar Negeri Nomor 3 Tahun 2019 di Bab X tentang Hal Khusus, Indonesia boleh-boleh saja mengadakan turnamen olahraga yang melibatkan negara-negara yang tak memiliki hubungan diplomatis seperti Israel. Pemerintah menuliskan beberapa prosedur tertentu yang harus dipatuhi. Salah satunya larangan adanya atribut kebangsaan Israel di wilayah Indonesia.

Tapi ya mau gimana lagi, masifnya penolakan membuat PSSI gagal meyakinkan FIFA soal keamanan peserta kompetisi di Indonesia. Akhirnya, turnamen tersebut batal dan dilimpahkan ke Argentina.

Kasus Kanjuruhan

Sejumlah pengamat juga menilai menilai sepakbola Indonesia belum menunjukkan adanya perbaikan berarti setelah setahun masa jabatan Erick Thohir di PSSI. Terlebih dalam menyikapi kasus Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang dan melukai ratusan lainnya pada 1 Oktober 2022 silam.

Dilansir BBC Indonesia, mantan anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), Akmal Marhali mengatakan dari 12 rekomendasi yang diserahkan ke Presiden Jokowi hanya sekitar 40% saja yang dijalankan oleh PSSI. 

Upaya yang sudah dilakukan antara lain mendorong sebagian klub untuk merenovasi stadion, perbaikan kualitas kompetisi, dan membentuk komite Ad Hoc Suporter. MA juga telah membatalkan vonis bebas terhadap dua anggota polisi di kasus Tragedi Kanjuruhan dalam putusan kasasi. 

Dua terdakwa dari unsur kepolisian itu adalah mantan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi dan eks Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto. Keduanya dijatuhi hukuman pidana dua tahun dan enam bulan. Namun, Jaringan Solidaritas Keadilan Korban Kanjuruhan menyebut bahwa hasil putusan itu terlalu ringan untuk kejahatan yang menghilangkan ratusan nyawa.

Kerusuhan Suporter

Erick Thohir juga berusaha mencegah kerusuhan antarsuporter. Salah satu upayanya adalah melarang fans untuk bertandang ke markas lawan. Tapi, kenyataannya langkah itu kurang efektif. Beberapa fans yang bandel tetap mendatangi kandang lawan dengan berbagai alasan.

Definisi luas ‘suporter tim tamu’ dalam Pasal 51 Ayat 6 Regulasi Liga 1 2023/24 justru jadi celah yang merugikan klub. Mereka terpaksa terus menyetor uang denda ke rekening BRI atas nama PSSI lantaran minimnya sosialisasi dari pihak PT LIB maupun PSSI terkait mengantisipasi kehadiran suporter lawan. 

Hal itu dibenarkan oleh CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi. Dikutip dari Bola Nusantara, Yoyok kecewa dengan keputusan Komdis PSSI yang langsung menjatuhkan denda Rp25 juta tanpa adanya komunikasi dan sosialisasi. Jadi, PSSI cuma mengeluarkan aturan tanpa penjelasan bagaimana penerapannya dan apa saja yang termasuk pelanggaran.

Jika federasi serius menghapuskan budaya rusuh dalam sepakbola nasional, diperlukan langkah strategis yang memberikan efek jera. Bukan hanya menghukum klub atas perilaku semena-mena pendukungnya. 

Kualitas Wasit yang Masih Gitu-gitu Aja

Seperti yang kita tahu, PSSI sudah bekerjasama dengan Jepang dan menaikan gaji wasit yang katanya sampai lebih tinggi dari seorang Menteri. Namun, kenyataannya kualitas wasit lokal masih gitu-gitu aja. Sering salah dalam mengambil keputusan.

Seperti yang terjadi pada laga Persija Jakarta melawan RANS Nusantara di pekan ke-16 Liga Indonesia. Macan Kemayoran dirugikan oleh keputusan wasit Naufal Adya Fairuski yang tidak mengesahkan gol Witan Sulaeman. Dalam tayangan ulang, sejatinya bola yang memantul mistar gawang sudah melewati garis gawang.

Di pekan yang sama juga terjadi beberapa keputusan yang kontroversial di laga antara PSS Sleman dan Persik Kediri. Di babak pertama, PSS membuka keunggulan melalui Hokky Caraka. Namun, asisten wasit, Dedi Saputra, menganggap Hokky telah berada dalam posisi offside. Padahal posisi Hokky sejajar dengan Irkham Milla selaku pemberi umpan.

Melihat masih banyaknya wasit dan asistennya yang salah mengambil keputusan, itu membuktikan transformasi sepakbola di sektor pengembangan wasit yang digembar-gemborkan PSSI masih jauh dari kata sukses. Oleh karena itu, PSSI berusaha menggunakan teknologi VAR di paruh kedua musim 2023/24. Namun, hingga akhir Februari belum ada tanda-tanda uji coba penggunaan VAR di pertandingan resmi. 

Salah Kaprah Soal Thomas Doll

Yang masih hangat-hangatnya adalah respons kontroversial Erick Thohir saat menyikapi penolakan Thomas Doll untuk melepas pemainnya ke Timnas U-23 yang akan berlaga di Piala Asia U-23. Pelatih Persija Jakarta itu memiliki dasar argumen yang kuat, yakni regulasi FIFA. 

Dilansir Bola Okezone, bersamaan dengan Piala Asia U-23, Liga 1 2023/24 masih bergulir. Piala Asia U-23 sendiri juga bukan agenda FIFA. Sehingga klub punya hak untuk tidak melepas pemainnya. Thomas Doll tidak ingin melepas pemainnya ke Timnas Indonesia U-23 karena sedang berjuang untuk finis empat besar guna menjaga asa meraih gelar juara Liga 1 musim ini.

Nah, bukannya menghormati keputusan Thomas Doll, Erick Thohir dan pengurus PSSI lainnya justru menyalahkan sang pelatih. Mirisnya, PSSI sampai bawa-bawa identitas kewarganegaraan dalam kasus ini. Itu jelas tak ada kaitannya dengan permasalahan yang mendasari terjadinya perbedaan pendapat ini, yakni tidak adanya kompetisi kelompok umur.

Mengapa demikian? Karena pada dasarnya, Timnas Indonesia U-23 bisa mengambil para pemain yang usianya di bawah 23 tahun dari tim muda sebuah klub, bukan dari tim utama. Beberapa tim nasional bahkan tidak mencampurkan pemain muda dan senior seperti tim nasional Indonesia sekarang.

PSSI era Erick Thohir masih gagal soal itu. Piramida kompetisi terstruktur tak kunjung jadi perhatian. Padahal Timnas Indonesia akan tambah hebat kalau piramida kompetisi benar-benar terwujud disamping gencarnya mencari pemain keturunan.

Survei Membuktikan

Apa pun itu, nyatanya publik sepak bola Indonesia menyatakan puas dengan kinerja Erick Thohir dalam satu tahun pertamanya. Menurut laporan Lembaga Survei Indonesia, hanya ada 52% responden yang mengetahui bahwa Erick Thohir menjabat sebagai Ketua Umum PSSI. Sedangkan 48% lainnya tidak.

Dari 52% itu, tingkat kepuasannya sangat tinggi. Ada 88,7% yang menyatakan puas dengan kinerja Erick. Rinciannya, 17,3% responden merasa puas dan 71,4% lainnya merasa cukup puas.

Sumber: Pandit Football, Jawa Pos, BBC, Bola Okezone

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru