Musim Paling Menyedihkan Bayern Munchen

spot_img

Dear Bayern Munchen, ada apa denganmu musim ini? Performamu bagai macan ompong baik di liga domestik dan Eropa. Sebuah tamparan besar bagi klub sebesar Munchen kalau tak satu pun trofi digondol mereka dalam semusim. Die Roten punya kenangan buruk kalau soal puasa gelar. Nah, berikut ini adalah musim-musim paling menyedihkan Bayern Munchen, karena tak satu pun gelar diraih.

1991/92

Hantu menakutkan bagi Munchen tiap musimnya adalah puasa gelar dalam semusim. Seperti di musim 1991/92, ketika musim terburuk pernah mereka alami. Musim tersebut Munchen masih dilatih Jupp Heynckes. Pemainnya juga tak kalah hebat, ada Stefan Effenberg maupun Brian Laudrup.

Munchen masih menyimpan dendam, ketika di musim sebelumnya mereka hanya menjadi runner up Bundesliga dibawah Kaiserslautern. Namun alih-alih menggebu untuk menggapai gelar Bundesliga, performa Die Roten malah meletre.

Performa Munchen di laga-laga awal Bundesliga tak menjanjikan. Effenberg dan kawan-kawan gagal memberi kesan awal yang manis bagi publik Olympiastadion. Termasuk pada bulan Agustus 1991, The Bavarian sudah kandas di babak awal DFB Pokal melawan tim antah berantah, FC 08 Homburg.

Bulan demi bulan berlalu, Heynckes terus mendapat tekanan karena penampilan Die Roten tak kunjung membaik. Boro-boro meraih posisi teratas Bundesliga, bercokol di lima besar pun mereka kesusahan. Heynckes pun sempat jadi bulan-bulanan cibiran fans. Ia dicap tak becus menangani Munchen. Tau sendiri, di musim sebelumnya Heynckes hanya bisa meraih trofi Piala Super Jerman bagi Munchen.

Pasca kalah atas Stuttgarter Kickers 4-1 pada bulan Oktober 1991, pelatih kelahiran Monchengladbach tersebut akhirnya diberhentikan. Semakin keruh saja kondisi Die Roten pasca Heynckes pergi. Pasalnya suksesor yang ditunjuk makin tak jelas. Ia adalah Soren Lerby, mantan pemain Munchen era 80-an yang belum pernah melatih klub mana pun sebelumnya.

Sampai akhirnya Lerby kembali diganti dengan Erick Ribbeck, pelatih yang membawa Leverkusen juara Piala UEFA 1988. Namun Ribbeck ibarat hanya mendapat barang yang sudah bobrok. Performa Munchen makin tak tertolong lagi dan akhirnya harus puas finish di posisi 10 Bundesliga. Miris bukan?

Tak hanya itu, mereka juga puasa gelar. Ya, nasib bener Ribbeck ini. Alih-alih menjadi superman, ia malah menanggung malu karena menjadi pelatih Munchen pertama kali dalam sejarah yang finish terburuk di Bundesliga.

2006/07

Jejak kegagalan Munchen meraih gelar ternyata tak berhenti di musim 1991/92 saja. Tak ada yang mengira, pasca Piala Dunia 2006, Munchen kembali mengalami nasib buruk.

Munchen masih dilatih Felix Magath. Pelatih yang sebelumnya membawa mereka kampiun Bundesliga dua musim beruntun. Namun yang tak pernah terkuak di media, bahwa sebenarnya musim tersebut Magath sudah mulai kehilangan kepercayaan dari para pemainnya.

Bukan soal hasil, melainkan banyaknya kekurangan lain seperti gaya permainan yang banyak berubah. Bild ketika itu menyebut bahwa banyak pemain tim tampak kebingungan dengan perubahan Magath tersebut.

Magath memperburuk keadaan dengan tidak banyak berkomunikasi kepada para pemainnya. Jarak tersebut jadi faktor kenapa koneksi antara pemain baru seperti Lukas Podolski dengan pemain lama menjadi buruk.

Sampai pada akhirnya performa Munchen benar-benar anjlok. Manajemen jadi khawatir, pasalnya Munchen terancam tak mendapat jatah bermain di Liga Champions. Maka dari itu, keputusan memecat Magath pun dilakukan. Sebagai gantinya manajemen menunjuk pelatih yang membawa Munchen juara UCL 2001, Ottmar Hitzfeld.

Namun sayang, semuanya sudah terlambat. Para pemain Munchen sudah kadung kehilangan kepercayaan dirinya. “Sungguh mengecewakan melihat tim ini terpuruk. Saya tak pernah melihat betapa kecilnya kepercayaan diri mereka di lapangan,” kata Hitzfeld.

Hasil buruk akhirnya harus puas diterima Munchen di akhir musim. Mereka tak bisa keluar dari peringkat empat Bundesliga. Dengan peringkat tersebut, Die Roten harus absen di UCL, dan hanya bermain di Piala UEFA.

Di ajang DFB Pokal, mereka sudah terhenti di babak ketiga oleh klub antah berantah Alemannia Aachen. Sementara di Liga Champions, mereka terhenti di babak perempatfinal oleh AC Milan. Ya, Munchen kembali puasa gelar di akhir musim.

2008/09

Ada pemandangan baru di Munchen musim 2008/09. Kapten sekaligus kiper mereka Oliver Kahn pensiun. Pelatih mereka sebelumnya Ottmar Hitzfeld pergi untuk menerima pinangan melatih Timnas Swiss.

Munchen mengawali musim yang baru dengan menunjuk Jurgen Klinsmann sebagai pelatih. Manajemen munchen ingin menjadikan Munchen dengan wajah baru yang fresh dengan inovasi-inovasi Klinsmann.

Benar saja, Klinsmann benar-benar membawa banyak hal baru bagi Munchen. Ia memperkenalkan psikolog, ahli gizi, dan pakar dari olahraga lain untuk membantu pelatihan munchen. Ia juga memperkenalkan ruangan khusus dan sunyi untuk kelas yoga bagi para pemain.

Hal-hal baru tersebut mungkin bisa diterima jika hasilnya positif bagi tim. Celakanya dengan segala hal yang baru tersebut, performa Munchen justru anjlok. Klinsmann banyak dikritik karena miskin taktik. Banyak pemain bingung dengan taktik Klinsmann, termasuk Philipp Lahm.

Lahm bahkan tak malu berkata bahwa Munchen di bawah Klinsmann hanya berlatih kebugaran saja, bukan teknis. Malah lebih sering para pemain yang mendiskusikan cara mereka bermain sebelum laga.

Lama kelamaan kepercayaan kepada Klinsmann pun meredup. Menyusul hasil yang diraih tak maksimal. Seperti di DFB Pokal, mereka dikandaskan Leverkusen di perempat final. Di UCL mereka juga dihempaskan Barcelona-nya Pep di perempat final.

April 2009, sepertinya menjadi bulan yang buruk bagi Klinsmann. Belum genap setahun, pelatih Jerman tersebut diberhentikan. Namun sebagai ganti Klinsmann, kurang meyakinkan. Ia adalah Jupp Heynckes. Tau sendiri, Heynckes pernah gagal total bersama Munchen di tahun 1991 silam.

Benar saja, Heynckes hanya menjadi saksi Die Roten puasa gelar. Di Bundesliga Munchen gagal menyalip Wolfsburg yang akhirnya menjadi juara. Ya, lengkap sudah penderitaan Munchen di musim tersebut.

2011/12

Munchen ini bagaimana ya, mereka belum kapok menunjuk Jupp Heynckes sebagai pelatih. Padahal secara hasil, Munchen pernah mengalami dua musim tanpa gelar bersama Heynckes.

Lha kok, di musim 2011/12 manajemen Munchen kembali menunjuk “pak tua” yang satu ini? Sampai-sampai ada yang membeberkan bahwa Heynckes ini teman dekat presiden Munchen kala itu, Uli Hoeness.

Namun apakah musim ini kepercayaan Munchen pada Heynckes terbayarkan? Awalnya berjalan baik-baik saja. Munchen kembali seperti sejatinya, yakni tim yang mendominasi Bundesliga. Die Roten makin tak sabar merebut gelar Bundesliga yang direbut Dortmund di musim sebelumnya.

Di ajang Liga Champions, Heynckes berhasil membawa Mario Gomez dan kawan-kawan perkasa hingga babak final. Terasa spesial karena final UCL akan dihelat di Allianz Arena. Munchen tentu ingin berpesta di kandang sendiri.

Di DFB Pokal pun sama. Heynckes berhasil mengantarkan Munchen ke partai puncak dan akan menghadapi pasukan Dortmund-nya Jurgen Klopp. Dengan kondisi tersebut, Munchen bahkan sempat diprediksi bakal meraih treble winner di akhir musim.

Namun nahas, kenyataan pahit yang akhirnya didapat. Di akhir musim tiga gelar yang ada di depan mata harus raib. Munchen menangis di rumahnya sendiri setelah tak beruntung di babak tos-tosan final UCL melawan Chelsea.

Heynckes juga tak berdaya setelah dikangkangi oleh Jurgen Klopp di Bundesliga dan DFB Pokal. Semakin buruk saja nama Jupp Heynckes bagi publik Munchen. Namun anehnya, pelatih tua itu tak diberhentikan juga di akhir musim. Ya, benar-benar “Ordal” Heynckes ini.

https://youtu.be/PjMoCr4DlIM 

Sumber Referensi : bavarianfootballworks, sportsbrief, theguardian, dw.com, thesefootballtimes

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru