Saat Jose Mourinho “Si Mantan Guru Penjas” Menjadikan Porto Raja Eropa

spot_img

Jose Mario dos Santos Mourinho Felix masih berusia 23 tahun saat ia menjadi kapten di Comércio e Indústria, sebuah klub kecil yang berasal dari kota Setubal. Ayahnya, Jose Manuel Mourinho Felix atau yang lebih dikenal dengan nama Felix Mourinho adalah inspirasi Jose Mourinho untuk meniti karier di dunia sepak bola. Bisa dibilang kalau Mourinho berusaha mengikuti jejak karier sang ayah.

Akan tetapi, Mourinho muda lambat laun sadar, kalau talentanya tak cukup untuk menjadi pesepak bola yang sukses. Sepanjang kariernya sebagai pemain, Mourinho hanya berakhir di kasta bawah Liga Portugal. Oleh karena itulah, ia kemudian memutuskan untuk bantir stir ke jalur kepelatihan yang dilihatnya sebagai panggilan sejati.

Mourinho: Guru Penjas yang Digilai Murid Perempuan

Jose Mourinho tak selalu berhasil dalam hidupnya. Sebelum kita mengenalnya sebagai “The Special One” yang nyaris selalu berhasil menghadirkan trofi di setiap klub yang ia latih, Mourinho pernah merasakan tinggal kelas karena gagal dalam ujian matematika di tahun terakhirnya di SMA.

Selepas lulus SMA, sang ibu yang merupakan seorang guru percaya kalau kuliah bisnis adalah jalur yang tepat bagi anaknya. Namun, Mourinho memilih membangkang. Di hari pertamanya di kampus bisnis, ia memutuskan untuk langsung keluar.

Mourinho yang sudah berkeinginan keras sedari muda kemudian mengejar cita-citanya yang tertunda, yakni mendaftar kuliah ke Instituto Superior de Educação Física (ISEF) dan mengambil jurusan pendidikan jasmani alias penjas. Mourinho memang selalu berusaha untuk mengejar apa yang ia mau. Dan, penjas memang sangat cocok dengan dirinya.

Mourinho berhasil lulus tepat waktu dengan predikat yang sangat baik. Setelah itu, ia melanjutkan kursus kepelatihan sepak bola UEFA yang diadakan oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris dan Skotlandia.

Akan tetapi, sebelum terjun ke dunia kepelatihan, Jose Mourinho lebih dulu berprofesi sebagai guru penjas di sebuah sekolah menengah di Portugal. Ya, sebelum menjadi salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola, Jose Mourinho pernah berprofesi sebagai guru penjas.

Namun, Mourinho bukanlah guru penjas biasa. Dia adalah tipikal guru penjas yang digilai oleh murid-murid perempuannya. Sejak masih menjadi guru, Mourinho sudah dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dan berjiwa kompetitif.

Awal Karier Mourinho: Jadi Penerjemah dan Asisten Pelatih

Setelah meninggalkan profesinya sebagai guru penjas, Jose Mourinho mulai menjajal ilmunya di dunia kepelatihan ketika ditunjuk sebagai pelatih tim muda Vitória de Setúbal pada tahun 1987 hingga 1990. Dari situ, ia kemudian menjadi asisten manajer di Estrela de Amadora dan menjadi pemandu bakat di Ovarense.

Sebuah kesempatan langka yang kelak bakal mengubah hidup Jose Mourinho datang di tahun 1992. Saat itu, Sporting Lisbon menunjuk manajer legendaris, Sir Bobby Robson sebagai pelatih anyar mereka. Sporting sadar kalau manajer asal Inggris tersebut tidak bisa berbahasa Portugis. Mereka kemudian memutuskan untuk mempekerjakan seorang penerjemah. Maka ditunjuklah Jose Mourinho, pelatih lokal yang dinilai paham kultur kota Lisbon dan fasih berbahasa Inggris.

Saat mulai bekerja bersama Mourinho, Sir Bobby Robson sadar bahwa rekan kerjanya tersebut tak hanya sebatas penerjemah. Robson menyadari kalau Mourinho punya pemahaman mendalam soal sepak bola.

Saat diminta untuk menyiapkan laporan sebelum pertandingan, Mourinho juga selalu kembali dengan membawa dokumen kelas satu. Akhirnya, Robson tak hanya menjadikan Mourinho seorang penerjemah biasa, tetapi juga penasihat dan tangan kanannya. Singkat cerita, Sir Bobby Robson hampir selalu membawa Jose Mourinho ke setiap klub ia latih.

Usai dipecat Sporting Lisbon pada Desember 1993, Robson kembali bekerja sama dengan Mourinho saat ia setuju menjadi pelatih baru FC Porto pada Januari 2004. Selama di Porto, Robson dan Mourinho berhasil mempersembahkan 2 gelar Liga Portugal, 1 trofi Piala Portugal, dan 1 trofi Piala Super Portugal.

Setelah itu, Sir Bobby Robson ditunjuk sebagai suksesor Johan Cruyff di FC Barcelona pada Juli 1996. Dan sekali lagi, Jose Mourinho kembali ikut serta sebagai tangan kanannya. Di Barca, Robson dan Mourinho sukses mempersembahkan 1 trofi Copa del Rey, 1 trofi Piala Super Spanyol, dan 1 trofi Piala Winners.

Sir Bobby Robson hanya setahun melatih FC Barcelona. Pada musim 1997/1998, ia dipromosikan menjadi general manager sebelum di tahun berikutnya kembali ke Belanda untuk menjadi pelatih PSV Eindhoven.

Kepindahan Bobby Robson tersebut kali ini tak diikuti oleh Jose Mourinho. Barcelona yang kepincut dengan hasil kerja Mourinho tetap mempertahankannya sebagai asisten manajer ketika mereka menunjuk Louis van Gaal sebagai pelatih baru.

Saat bekerja di bawah Bobby Robson, Jose Mourinho kabarnya tak hanya menerjemahkan instruksi dari pelatih asal Inggris tersebut, tetapi juga menyelipkan detail taktisnya sendiri. Oleh Bobby Robson, Mourinho juga diberi otoritas untuk memberikan instruksi dalam sesi latihan tim.

Keistimewaan tersebut berlanjut di era Louis van Gaal. Di bawah kepemimpinan pelatih asal Belanda tersebut, pengaruh Mourinho bahkan jadi makin besar. Van Gaal sendiri menggambarkan sosok Mourinho kala itu sebagai pemuda arogan yang tidak menghormati otoritas.

“Dia tidak penurut – dia sering menentang saya ketika saya melakukan kesalahan. Akhirnya, saya ingin mendengar apa yang ia katakan dan akhirnya lebih mendengarkannya daripada para asisten lainnya.”

Kerja sama Van Gaal dan Mourinho sendiri sukses menghasilkan 2 trofi La Liga secara beruntun serta 1 trofi Copa del Rey dan 1 trofi Piala Super Eropa. Kebersamaan Jose Mourinho dan FC Barcelona baru berakhir pada bulan Mei tahun 2000, bersamaan dengan dipecatnya Louis van Gaal dari kursi pelatih.

Konon, alasan lain yang membuat Jose Mourinho memutuskan hengkang dari Barcelona adalah karena perkataan presiden klub Josep Lluís Núñez yang meremehkan Mourinho dengan menyebutnya sebagai “sang penerjemah”. Momen ini sendiri jadi pijakan awal Jose Mourinho untuk menyudahi perannya sebagai asisten atau semacamnya dan memutuskan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar, yakni menjadi pelatih kepala.

Kesempatan besar kemudian hadir pada bulan September 2000. Kala itu, Mourinho ditunjuk sebagai pelatih Benfica untuk menggantikan posisi Juup Heynckes. Beberapa minggu setelah menerima job ini, Mourinho dihubungi oleh Sir Bobby Robson yang tengah melatih Newcastle United.

Kali ini, Robson tak hanya memintanya menjadi asisten. Setelah dua tahun, Robson berencana mundur dan akan memberikan jabatan manajer Newcastle kepada Mourinho. Namun, Mourinho menolak tawaran mantan mentornya tersebut dan menegaskan ingin meniti jalannya sendiri.

Sayangnya, perjalanan Mourinho bersama Benfica berlangsung sangat singkat. Setelah 9 pertandingan, Mourinho yang sedari awal sudah berkonflik dengan dewan direksi memutuskan mundur usai presiden baru Benfica, Manuel Vilarinho tak memberinya kontrak baru.

Setelah itu Jose Mourinho menganggur cukup lama. Baru pada bulan April 2001, ia ditunjuk sebagai pelatih Uniao de Leiria di 7 pertandingan terakhir musim 2000/2001. Uniao de Leiria adalah klub papan tengah di Liga Portugal. Bisa dibilang kalau mereka tergolong medioker.

Akan tetapi, di bawah kendali Jose Mourinho, Uniao de Leiria disulap menjadi tim underdog yang sulit dikalahkan. Bahkan, kala itu Leiria bisa dikategorikan sebagai “giant killer”.

Setelah membawa Leiria finish di peringkat kelima pada akhir musim 2000/2001, Mourinho sukses membawa Leiria duduk di peringkat 4, 1 poin di atas FC Porto pada 20 Januari 2002. Tiga hari berselang, FC Porto secara mengejutkan mengumumkan Jose Mourinho sebagai pelatih baru mereka.

Menghidupkan Kembali FC Porto yang Tertidur

Reputasi Jose Mourinho sebagai pelatih muda yang sukses menyulap Uniao de Leiria menjadi tim underdog di Liga Portugal ternyata diam-diam dipantau oleh FC Porto. Singkat cerita, klub berjuluk “The Dragons” itu kepincut dengan mantan penerjemah Sir Bobby Robson tersebut.

Pelatih kelahiran 26 Januari 1963 itu menggantikan posisi Octavio Machado yang dipecat. Kala itu, Porto tengah duduk di peringkat 5, di bawah Sporting Lisbon, Boavista, Uniao de Leiria, dan Benfica, serta telah tersingkir dari ajang Piala Portugal. Selain itu, Porto juga diambang tersingkir dari ajang Liga Champions.

Maka dari itu, wajar apabila ada pihak yang melihat penunjukan Jose Mourinho yang saat itu masih berusia 39 tahun sebagai keputusan yang berani dari FC Porto. Bisa dibilang kalau Mourinho punya tugas berat untuk mengembalikan kejayaan Porto. Namun, kelak keputusan inilah yang bakal mengubah sejarah FC Porto.

Singkat cerita, di musim pertamanya, Mourinho hanya berhasil mengantar Porto finish di peringkat 3. Kondisi Porto saat itu jika dibandingkan dengan saat Mourinho datang bersama Sir Bobby Robson dahulu sangatlah berbeda. Saat Mourinho datang sebagai sosok manajer, Porto tengah mengalami puasa gelar domestik selama 3 tahun terakhir.

Kala itu, Mourinho sendiri bilang Porto punya skuad terburuk dalam dua generasi. Omongan Mourinho memang terdengar pedas, tetapi melihat prestasi Porto yang nirgelar dalam 3 musim beruntun, rasanya apa yang diucapkan Mourinho ada benarnya.

Meski menyebut Porto punya skuad terburuk, tetapi Mourinho berhasil menemukan beberapa talenta emas yang kelak bakal jadi pemain andalannya. Vitor Baia, Jorge Costa, Costinha, Ricardo Carvalho, Deco, dan Dmitri Alenichev adalah beberapa pilar penting yang dipertahankan Mourinho di musim berikutnya.

Usai mengatakan Porto punya skuad terburuk, Jose Mourinho juga bersumpah akan memenangkan gelar juara di musim berikutnya. Maka, yang ia lakukan setelahnya adalah melakukan perombakan skuad.

Tak tanggung-tanggung, belasan pemain dilepas ke klub lain. Bisa dibilang kalau setengah dari skuad Porto di musim 2002/2003 dirombak total. Sebagai gantinya, Mourinho mendatangkan Paulo Ferreira dari Vitoria Setubal, Maniche dari Benfica, Cesar Peixoto dari Belenenses, Pedro Emanuel dari Boavista, serta Nuno Valente, Derlei, dan Tiago dari Uniao de Leiria.

Selain merombak skuad, Jose Mourinho juga mereformasi menu latihan. Mourinho memakai pendekatan yang lebih ilmiah dan setiap latihan diukur dan dirancang untuk tujuan tertentu. Konon, setiap pemain harus melahap sesi fisik, taktik, dan transisi secara bersamaan. Tidak ada waktu dan energi yang dibuang percuma.

Taktik dan gaya bermain Porto juga diubah oleh Mourinho. Jauh sebelum dikenal sebagai pelatih pragmatis yang hobi parkir bus, Mourinho adalah tipikal pelatih yang mendikte dan mendominasi lawannya.

Sebelum adanya “gegenpressing”, Mourinho telah lebih dulu membuat Porto bermain dengan pressing tinggi dan ketat hingga area sepertiga akhir lawan. Taktik ini dikombinasikan dengan jarak antarlini yang begitu rapat.

Di lini depan, Mourinho mengandalkan Derlei sebagai penyerang lincah sekaligus pengatur tempo pressing. Sementara di lini tengah, ada Costinha yang bertugas untuk memecah aliran bola lawan dan menjadi pelayan bagi Deco dan Maniche.

Untuk formasi sendiri, Mourinho kerap mengubah pola dari 4-4-2 ke 4-3-3 atau sebaliknya, tergantung dari lawan yang dihadapi. Di saat perubahan itulah, nama Dmitri Alenichev, yang bisa bermain di banyak posisi di lini tengah, pasti akan menjadi supersub Mourinho.

Taktik dan gaya main tersebut terbukti sangat ampuh. Dan, Jose Mourinho akhirnya berhasil menepati janjinya. Di akhir musim 2002/2003, FC Porto berhasil mengawinkan trofi Liga Portugal dan Piala Portugal. Musim tersebut jadi makin manis usai “The Dragons” juga berhasil keluar sebagai kampiun Piala UEFA.

Porto memulai Piala UEFA musim 2002/2003 dengan mulus. Di ronde pertama hingga ronde ketiga, mereka berhasil menghancurkan wakil Polandia, Polonia Warsawa dengan skor agregat 6-2, lalu mengatasi wakil Austria, Austria Wien dengan skor agregat 3-0, dan menang meyakinkan atas runner-up Liga Prancis, RC Lens dengan skor 3-1. Porto kemudian lolos ke babak perempat final dengan amat meyakinkan usai berhasil menyingkirkan wakil Turki, Denizlispor dengan skor telak 8-3.

Di babak perempat final, Porto berjumpa dengan wakil Yunani, Panathinaikos. Di leg pertama yang digelar kandang sendiri di Estádio das Antas, Porto kalah 1-0. Namun, dua gol Derlei di lega kedua sukses membalikkan agregat dan membuat Porto lolos ke semifinal untuk menantang wakil Italia, Lazio.

Menghadapi Lazio yang dihuni banyak pemain bintang semacam Dejan Stankovic, Sinisa Mihajlovic, Diego Simeone, Claudio Lopez, Enrico Chiesa, Jaap Stam, Stefano Fiore, hingga Simone Inzaghi serta Roberto Mancini yang duduk di kursi pelatih, Porto dan Jose Mourinho berhasil tampil mengejutkan.

Tertinggal lebih dulu dari gol Claudio Lopez di menit ke-6, Porto berhasil melakukan comeback monumental. Lewat gol balasan Maniche yang diikuti oleh dua gol Derlei dan satu gol Helder Postiga, Porto berhasil mengakhiri leg pertama dengan kemenangan 4-1. Keunggulan tersebut berhasil mereka pertahankan di leg kedua saat bertandang ke markas Lazio. Porto pun lolos ke partai final untuk menantang wakil Skotlandia, Celtic.

Laga final yang digelar di Estadio Olimpico de Sevilla tersebut dianggap banyak pengamat sebagai momen kebangkitan dari dua raksasa yang tertidur. Apalagi, sebelum laga final tersebut, belum pernah ada tim asal Skotlandia ataupun Portugal yang pernah memenangkan gelar juara Piala UEFA.

Celtic belum pernah menjuarai kompetisi Eropa sejak kemenangan bersejarah mereka di Piala Champions 1967. Sedangkan Porto belum pernah menjuarai kompetisi Eropa sejak menjadi juara Piala Champions 1987.

Di laga final ini, pasukan Jose Mourinho mendapat tekanan berat dari pada pendukung Celtic. Sekitar 80 ribu suporter setia Celtic melakukan perjalanan hingga kota Sevilla untuk mendukung langsung tim kesayangan mereka.

Laga sengit pun tersaji di Estadio Olimpico de Sevilla. Jual beli serangan sudah terjadi sejak awal pertandingan. Skor kacamata nyaris jadi akhir dari babak pertama sebelum Derlei membuat Porto unggul 1-0 di masa injury time.

Laga babak kedua baru berjalan dua menit ketika sundulan Henrik Larsson membuat Celtic menyamakan kedudukan. Tujuh menit berselang, Dmitri Alenichev kembali membuat Porto unggul 2-1. Namun, keunggulan tersebut hanya berlangsung 3 menit. Lewat sundulan kepalanya, Larsson kembali membuat skor menjadi sama kuat, 2-2.

Skor tersebut tak berubah hingga waktu normal selesai. Laga pun berlanjut ke babak extra time. Kala itu, aturan silver goal masih diterapkan. Jadi, tim yang memimpin di akhir babak pertama extra time akan memenangkan pertandingan.

Akan tetapi, hingga babak pertama extra time usai, tak ada gol yang tercipta. Di tengah ketegangan yang memuncak, Celtic harus kehilangan bek tengah mereka, Bobo Balde yang mendapat kartu kuning kedua.

Keunggulan jumlah pemain ini dimanfaatkan dengan apik oleh Porto. Derlei, yang menjadi topskor turnamen, akhirnya memastikan kemenangan Porto lewat golnya di menit ke-115. Di tengah teriakan “boo” dari pendukung Celtic, Jose Mourinho terlihat tersenyum manis menyaksikan Jorge Costa dan Vitor Baia mengangkat trofi Piala UEFA.

Mengantar Porto Juara UCL 2004

Setelah perayaan juara tersebut, Jose Mourinho ditanyai soal bagaimana Porto akan tampil di Liga Champions musim depan. Mourinho hanya menjawab, “Kami bisa melakukan beberapa hal bagus. Namun saya rasa kami tidak bisa memenangkannya. Hanya tim-tim besar yang mampu menghabiskan 20, 30 atau bahkan 40 juta euro untuk satu pemain yang bisa melakukan itu.”

Mourinho memang tak belanja besar seperti musim sebelumnya. Hanya Benni McCarthy yang didatangkan dari Celta Vigo untuk menggantikan topskor mereka musim lalu, Helder Postiga yang hengkang ke Tottenham Hotspur. Sementara sisanya hanya sekelas pemain cadangan.

Praktis, pemain inti Porto tak banyak mengalami perubahan. Para pemain andalan Mourinho tetap bertahan. Dan, Mourinho sendiri kabarnya juga menolak tawaran Paris Saint-Germain dan memilih bertahan di Porto.

Porto sendiri memulai musim dengan kemenangan di Piala Super Portugal atas Uniao de Leiria. Namun, setelah itu, mereka kandas dari AC Milan di perebutan Piala Super Eropa. Di akhir musim, Porto juga gagal mempertahankan trofi Piala Portugal usai kandas dari Benfica.

Akan tetapi, Porto kembali sukses merebut gelar juara Primeira Liga. Mengumpulkan 82 poin, hasil dari 25 kali menang dan hanya 2 kali kalah dalam 34 pertandingan, Porto juga hanya kebobolan 19 kali di sepanjang musim. Dan, hasil yang jauh lebih manis diraih “The Dragons” di ajang Liga Champions Eropa.

Tak ada yang menyangka atau memprediksi kalau Porto akan keluar sebagai juara di akhir turnamen. Dibanding klub besar lain, kekuatan finansial Porto jelas kalah. Apalagi, skuad yang dimiliki Jose Mourinho juga terbilang minim pengalaman di UCL.

Selain itu, Porto juga tergabung dalam Grup F, bersama Marseille, Partizan Belgrade, dan Real Madrid versi Los Galacticos. Di dua pertandingan pembuka, Porto hanya sanggup meraih 1 poin usai bermain imbang di kandang Partizan dan takluk 1-3 di kandang dari Real Madrid.

Namun setelah itu, Porto bangkit dan tak tersentuh kekalahan. Dua kali mengandaskan Marseille dan menang atas Partizan, Porto menutup babak grup dengan menahan imbang Los Galacticos yang diisi Zidane, Ronaldo, Raul, Figo, Beckham, hingga Roberto Carlos di Madrid.

Lolos ke fase gugur sebagai runner-up grup, Porto berjumpa dengan Manchester United di babak 16 besar. Sudah pasti, MU dan Sir Alex Ferguson jauh lebih difavortikan ketimbang Porto dan Jose Mourinho.

Di leg pertama yang digelar di kandang baru Porto, Estadio do Dragao, MU juga terlihat bakal memenangkan pertandingan ketika Quinton Fortune mencetak gol pembuka di menit ke-14. Namun, Porto secara mengejutkan sukses melakukan comeback. Benni McCarthy keluar sebagai pahlawan tuan rumah dengan dua golnya yang sukses membuat Porto menang 2-1.

Meski unggul secara agregat, tetapi ujian bagi Porto belumlah usai. Di hadapan 67 ribu pendukungnya, MU bermain impresif di leg kedua. Mereka berhasil unggul 1-0 lewat gol Paul Scholes di menit ke-32. Dengan aturan gol tandang, MU berhak melaju ke perempat final apabila mampu mempertahankan skor tersebut.

Namun, keajaiban terjadi. Ketika laga memasuki menit ke-90, Costinha berhasil menyamakan kedudukan. Sebuah gol yang membuat Jose Mourinho berlari di pinggir lapangan dengan kegirangan sekaligus membuat pendukung MU terdiam seribu bahasa. Hingga wasit meniup peluit akhir, skor tak berubah. Porto pun menang dengan agregat 3-2.

Di babak perempat final, Porto sudah ditunggu juara Liga Prancis, Lyon. Dengan meyakinkan, Porto berhasil mengatasi Lyon dengan kemenangan 2-0 di leg pertama dan hasil 2-2 di leg kedua. Porto pun melaju ke babak semifinal.

Di babak ini, lawan Porto adalah Deportivo La Coruna yang di babak sebelumnya berhasil mencetak salah satu comeback paling bersejarah di UCL dengan menyingkirkan juara bertahan, AC Milan. Dengan fakta kalau mereka adalah tim underdog yang mengejutkan, “Super Depor” lebih banyak mendapat dukungan ketimbang Porto yang sedikit lebih diremehkan.

Namun, disinilah taktik pragmatis Jose Mourinho unjuk gigi. Melawan lini serang ganas yang dihuni Walter Pandiani, Diego Tristan, dan Albert Luque, Porto berhasil menahan imbang Deportivo 0-0 di leg pertama yang digelar di Estadio do Dragao. Banyak yang menilai kalau hasil tersebut adalah sebuah kerugian bagi Porto. Sebab, di leg kedua, mereka harus tandang ke Estadio Riazor yang di babak sebelumnya jadi kuburan bagi AC Milan.

Akan tetapi, inilah yang diinginkan Mourinho. Mereka sukses mematikan serangan Deportivo. Pun begitu ketika menjalani laga leg kedua. Tampil solid sepanjang laga dengan pertahanan yang amat rapat, Porto berhasil menghentikan kisah dongeng Deportivo lewat gol penalti Derlei di menit ke-60.

Setelah kemenangan yang membungkam banyak pihak tersebut, Mourinho tak mau membuang waktu atau larut dalam euforia. Usai memastikan tiket ke final, ia terbang ke London untuk memantau laga semifinal lainnya antara Chelsea vs AS Monaco.

Mourinho pasti sangat bersyukur ketika akhirnya Monaco yang jadi lawan Porto di final. Namun, Mourinho tetap mempersiapkan laga final dengan amat matang. Bahkan, jauh lebih matang ketimbang laga-laga krusial lainnya. Sepulang dari London, ia memberi para pemainnya sebuah DVD yang berisi video dari masing-masing calon lawan mereka di final nanti.

Lawan final UCL 2003/2004 antara FC Porto dan AS Monaco sendiri merupakan laga final yang mempertemukan dua tim kejutan yang tidak diunggulkan. Mirip dengan Porto, Monaco juga diasuh oleh pelatih muda, yakni Didier Deschamps. Usai melangkahi Deportivo di babak grup, Monaco melaju ke final dengan mengandaskan Real Madrid dan Chelsea di babak perempat final dan semifinal.

Monaco juga dihuni oleh pemain muda berbakat semacam Patrice Evra serta striker Fernando Morientes dan Dado Pršo yang tengah memimpin daftar topskor. Namun, harus diakui kalau laga final yang digelar di Arena AufSchalke tersebut, Porto dan Jose Mourinho sedikit lebih diunggulkan.

Dewi fortuna juga berpihak kepada “The Dragons”. Ketika laga final memasuki menit ke-23, kapten sekaligus penggerak serangan Monaco, Ludovic Giuly, tak bisa meneruskan pertandingan. Giuly memang sosok yang paling diwaspadai Mourinho. Sebelum keluar, dia berulang kali mengancam pertahanan Porto. Namun, sejak Giuly ditarik, situasi di atas lapangan berubah total.

Porto jadi lebih leluasa melancarkan serangan. Hasilnya, Carlos Alberto berhasil membuat Porto menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0. Laga tersebut jadi makin tidak seimbang usai Deco dan Dmitri Alenichev mencetak gol tambahan di menit ke-71 dan 75.

Skor tak berubah ketika wasit meniup peluit akhir. Sebuah perayaan meriah pun pecah setelahnya. FC Porto, tim yang tidak diunggulkan bahkan sedikit diremehkan, sukses menjadi kampiun Liga Champions musim 2003/2004.

Banyak yang bilang kalau kemenangan Porto di final UCL 2004 adalah prestasi terbesar Jose Mourinho. Pernyataan tersebut mungkin terdengar berlebihan, tetapi juga tidak salah. Sebab, prestasi tersebut adalah tonggak awal dari karier dan nama besar Jose Mourinho sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah.

Seperti yang kita tahu, setelah membawa Porto meraih trofi UCL kedua mereka dalam sejarah, Jose Mourinho kemudian menerima tawaran Roman Abramovich untuk menangani Chelsea. Dan, di konferensi pers pertamanya, Mourinho berkata, “Tolong jangan sebut saya sombong, apa yang saya katakan adalah benar. Saya adalah juara Eropa, saya bukan pemain biasa. I’m a special one.”
***
Referensi: Mais Futebol, These Football Times, These Football Times, SkySports, New York Times, BBC, The Independent.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru