Mengenang Kegagalan Total Generasi Emas Timnas Inggris

spot_img

Pada 26 Mei 1999, Manchester United berhasil menciptakan salah satu comeback paling manis dalam sejarah Liga Champions Eropa. Di laga final yang menegangkan di Camp Nou melawan Bayern Munchen, Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer mencetak gol telat di masa injury time yang membuat Manchester United berbalik menang 2-1 atas Bayern Munchen
.
Kemenangan tersebut melengkapi prestasi MU di musim 1999 yang juga keluar sebagai juara Premier League dan FA Cup. The Red Devils pun jadi klub Inggris pertama yang meraih predikat “Treble Winner”.

Beberapa pihak menilai kalau momen tersebut jadi awal dari kelahiran “Generasi Emas” Timnas Inggris. Pasukan Sir Alex Ferguson kala itu memang punya banyak pemain muda berbakat. Siapa lagi kalau bukan “The Class of ‘92”.

Namun, sumber yang lebih kuat diyakini terjadi pada 1 September 2001. Kala itu, di laga kualifikasi Piala Dunia 2002, Inggris berhasil mengalahkan Jerman dengan skor telak 5-1 di Olympiastadion di Kota Munich.

Kemenangan tersebut terhitung sangat mengejutkan. Sebab, di pertemuan sebelumnya, Jerman bisa mengalahkan Inggris asuhan Kevin Keegan 1-0 di Wembley. Sejak 1985, Der Panzer juga belum pernah menelan kekalahan di laga kualifikasi Piala Dunia. Sebaliknya, sebelum away ke Munich, Inggris baru saja kandas 2-0 di sebuah laga uji coba melawan Belanda yang gagal lolos ke Piala Dunia.

Bab 1: Kelahiran Generasi Emas Timnas Inggris

Setelah kemenangan bersejarah tersebut, striker Liverpool Emile Heskey berkata, “Pertandingan itu adalah awal dari Generasi Emas.” Akan tetapi, bukan Heskey yang pertama kali menyebut label tersebut. Adalah CEO FA, Adam Crozier yang pertama kali mengatakan tentang “Generasi Emas” kepada media.

Jika mau mengambil jalan tengah, maka kedatangan Sven-Göran Eriksson pada Januari 2001 adalah awal dari terciptanya “Generasi Emas” Timnas Inggris. Sven-Göran Eriksson adalah alasan di balik kemenangan 5-1 Inggris atas Jerman.

Di era 2000an, pelatih asal Swedia tersebut masih menjadi salah satu pelatih terbaik di dunia. Inggris adalah tim nasional pertama yang dilatih oleh Eriksson. Sebelumnya, ia telah bergelimang trofi bersama IFK Göteborg, Benfica, AS Roma, Sampdoria, dan Lazio.

1 trofi Piala UEFA bersama IFK Göteborg, 3 trofi juara Liga Portugal bersama Benfica, 1 trofi Coppa Italia bersama AS Roma dan Sampdoria, serta 1 scudetto, 2 Coppa Italia, dan 1 trofi Piala Winners bersama Lazio jadi beberapa pencapaian Sven-Göran Eriksson di level klub.

Sven-Göran Eriksson sendiri menjadi pelatih asing pertama yang menangani The Three Lions. Fakta tersebut sempat menimbulkan kontroversi, apalagi gaji Eriksson yang mencapai 4,5 juta paun pertahun langsung menjadikannya sebagai pelatih timnas Inggris dengan gaji termahal.

Namun akhirnya, kehadiran Eriksson berbuah optimisme usai ia berhasil membawa Inggris meraih 5 kemenangan beruntun di 5 pertandingan pertamanya. Dengan CV sebagai “serial-winnner”, Sven-Göran Eriksson dianggap bakal mampu mengeluarkan potensi terbaik dari para pemain timnas Inggris. Maklum, publik Inggris kala itu punya harapan yang cukup tinggi kepada skuad The Three Lions.

Bab 2: Gagal Total di 3 Turnamen Akbar

Arena pembuktian yang pertama adalah Piala Dunia 2002. Inggris memulai turnamen dari Grup F, satu grup dengan Argentina, Nigeria, dan Swedia. Dilihat dari ranking dan komposisi timnya, grup ini disebut sebagai “grup neraka”. Akan tetapi, dengan skuad bertabur bintang yang dibawa Sven-Göran Eriksson ke Jepang dan Korea Selatan, The Three Lions dinilai mampu melaju jauh.

Saat itu, meski Inggris datang tanpa Steven Gerrard dan Gary Neville yang cedera, tetapi mereka masih punya nama-nama bintang, seperti Ashley Cole, Rio Ferdinand, Sol Campbell, Paul Scholes, Davd Beckham, Nicky Butt, Michael Owen, Owen Hargreaves, Robbie Fowler, Emile Heskey, hingga Joe Cole. Pemain senior semacam Martin Keown, Gareth Southgate, Teddy Sheringham, hingga David Seaman juga masih ada dalam skuad.

Singkat cerita, Inggris dengan susah payah berhasil lolos dari fase grup dengan status runner-up, di bawah Swedia yang keluar sebagai juara grup karena punya catatan gol yang lebih banyak. Di babak 16 besar, Inggris dipertemukan dengan juara Grup A, Denmark. Dengan meyakinkan, Inggris berhasil menggasak Denmark dengan skor telak 3-0.

Lolos ke perempat final, Inggris sudah dinanti Brasil asuhan Luiz Felipe Scolari. The Three Lions terlihat bakal memenangkan laga ini usai Michael Owen mencetak gol di menit ke-23. Namun, gol Rivaldo di masa injury time babak pertama membuat skor menjadi 1-1. Dan akhirnya, sebuah gol free kick Ronaldinho di menit ke-50 yang membuat David Seaman malu memastikan langkah Inggris terhenti di babak perempat final.

Setelah kegagalan di Piala Dunia 2002, arena pembuktian berikutnya adalah Euro 2004. Di turnamen terakbar Benua Eropa ini, Inggris hadir dengan skuad yang lebih segar. Dari 23 nama yang dibawa Sven-Göran Eriksson, hanya terdapat 2 pemain yang berusia lebih dari 30 tahun, itupun dua kiper mereka, David James dan Ian Walker. Sementara sisanya adalah pemain yang sedang berada di usia emasnya.

John Terry, Jamie Carragher, dan Ledley King masuk menggantikan figur senior semacam Martin Keown dan Gareth Southgate. Sementara di lini depan, Inggris menghadirkan striker remaja milik Everton, Wayne Rooney.

Sayangnya, Inggris memulai turnamen dengan kekalahan dramatis. Menghadapi juara bertahan Prancis di laga pembuka Grup B, Inggris yang sudah unggul 1-0 sejak menit ke-38 harus tertunduk kalah usai Zinedine Zidane mencetak 2 gol di masa injury time babak kedua.

Untungnya, skuad Tiga Singa berhasil menyapu bersih 2 laga berikutnya dengan kemenangan 3-0 atas Swiss dan 4-2 atas Kroasia. Inggris pun lolos ke perempat final sebagai runner-up grup. Hasil tersebut tidak menguntungkan mereka. Sebab, di babak perempat final, Inggris dipertemukan dengan tuan rumah sekaligus favorit juara Portugal yang dilatih mantan pelatih timnas Brasil, Luiz Felipe Scolari.

Inggris dan Portugal saling berbalas gol. Hingga akhir babak tambahan waktu, skor masih sama kuat 2-2. Laga pun berlanjut ke adu penalti. Diwarnai kegagalan David Beckham dan Rui Costa, Ricardo yang mencopot sarung tangannya menjadi pahlawan Portugal setelah menghentikan eksekusi Darius Vassell dan kemudian sukses menjalankan tugasnya sebagai penendang terakhir. Laju Inggris di Euro 2004 pun berakhir tragis.

Pasca kegagalan di Euro 2004, posisi Sven-Göran Eriksson mulai digoyang. Media-media Inggris mulai antipati kepada pelatih asal Swedia tersebut. Sementara mood para para pendukung timnas makin menurun. Namun, di tengah kondisi tersebut, FA memilih untuk tetap percaya dan memberi perpanjangan kontrak hingga Euro 2008.

Akan tetapi, keadaan justru makin memburuk usai Inggris menerima kekalahan mengejutkan dari Irlandia Utara pada 7 September 2005 di laga kualifikasi Piala Dunia 2006. Pasca kekalahan tersebut, para pendukung The Three Lions mulai melantunkan chants yang berbunyi, “Sack the Swede”. Sementara tanggapan yang lebih sadis dilontarkan pers Inggris yang mengejek Eriksson dengan sebutan “orang bodoh”.

Meski itu adalah kekalahan pertama Inggris dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia atau Kejuaraan Eropa di bawah asuhan Eriksson, tetapi kekalahan tersebut jadi kekalahan pertama Inggris atas Irlandia Utara sejak 1972. Apalagi, itu jadi kali pertama bagi Irlandia Utara dapat membobol gawang Inggris dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Sebuah rentetan fakta yang kala itu sangat sulit diterima oleh publik Inggris.

Tak bisa dipungkiri kalau kritik dan tekanan terhadap pelatih asing pertama timnas Inggris tersebut makin menjadi-jadi. Apalagi, sebelumnya Sven-Göran Eriksson sudah lebih dulu digoyang oleh pers Inggris karena terkuaknya kasus perselingkuhannya dengan sekretaris FA, Faria Alam. Jauh sebelumnya, Eriksson juga ketahuan berselingkuh dengan presenter Ulrika Johnsson saat masih menjalin hubungan dengan Nancy Dell’Olio.

Pada akhirnya, Eriksson memang berhasil meloloskan Inggris ke Piala Dunia 2006. Akan tetapi, pada Januari 2006, FA mengumumkan kalau Sven-Göran Eriksson akan meninggalkan posisinya pasca gelaran Piala Dunia.

Turnamen terakbar sejagad yang digelar di Jerman tersebut adalah arena pembuktian berikutnya bagi Generasi Emas Timnas Inggris. Meski tanpa Paul Scholes yang telah pensiun sejak berakhirnya Euro 2004, The Three Lions tetap datang ke Jerman dengan skuad yang penuh talenta. Beberapa nama segar seperti Jermaine Jenas, Michael Carrick, Aaron Lennon, Peter Crouch, hingga Theo Walcott makin melengkapi skuad The Three Lions yang sudah bertabur bintang.

Datang sebagai tim unggulan, Inggris sukses melewati babak grup dengan cukup meyakinkan. Melangkahi Swedia, Paraguay, serta Trinidad and Tobago tanpa tersentuh kekalahan, Inggris keluar sebagai juara Grup B.

Di babak 16 besar, Inggris berjumpa dengan runner-up Grup A, Ekuador. Inggris cukup kesulitan meladeni wakil Amerika Selatan tersebut. Hingga akhirnya tendangan bebas David Beckham di menit ke-60 jadi satu-satu gol yang tercipta dan membuat Inggris berhak melaju ke babak perempat final.

Di babak ini, Inggris lagi-lagi harus berjumpa dengan Portugal dan Luiz Felipe Scolari. Bagai dejavu, laga kembali harus kembali berlanjut hingga babak adu penalti. Dan, seperti hasil di Euro 2004, dewi fortuna kembali memihak Portugal. “Selecao das Quinas” menang 3-1 usai Frank Lampard, Steven Gerrard, dan Jamie Carragher gagal menjalankan tugasnya.

Akhirnya, kekalahan di babak perempat final Piala Dunia 2006 jadi akhir dari karier Sven-Göran Eriksson di timnas Inggris. Meski secara signifikan berhasil menaikkan peringkat timnas Inggris, tetapi dengan hasil selalu terhenti di babak perempat final di 3 turnamen mayor secara beruntun membuat mantan pelatih Lazio tersebut dianggap gagal total.

Bab 3: Tidak Lolos ke Euro 2008

Jika Sven-Göran Eriksson saja dianggap gagal total, lalu bagaimana dengan Steve McClaren?

Sejak Januari 2006, FA telah menyeleksi beberapa nama yang disiapkan untuk menjadi pengganti Sven-Göran Eriksson. Kandidatnya adalah Steve McClaren, Sam Allardyce, Alan Curbishley, Martin O’Neill, dan Luiz Felipe Scolari.

FA kemudian memilih Luiz Felipe Scolari, sosok yang 3 kali beruntun menghentikan langkah Generasi Emas Timnas Inggris. Namun, upaya untuk mendatangkan mantan pelatih timnas Brasil dan Portugal itu gagal. Pada akhirnya, nama Steve McClaren yang kemudian dipilih sebagai pelatih anyar timnas Inggris.

Keputusan tersebut tak disambut antusias. Sebagai upaya untuk meredam hal tersebut, McClaren menjadikan manager kawakan Inggris sekaligus mantan pelatih Barcelona, Terry Venables sebagai asistennya. Akan tetapi, upaya tersebut tak berarti apa-apa. Di bawah kendali McClaren, semaunya justru menjadi jauh lebih parah.

Usai ditahan imbang 0-0 oleh Makedonia Utara di Old Trafford di laga ketiga babak kualifikasi Euro 2008, Inggris pulang dari Kroasia dengan membawa hasil kekalahan 2-0. Inggris lalu menelan kekalahan kedua mereka di babak kualifikasi saat takluk 1-2 dari Rusia di Moskow.

Dengan raihan 23 poin, hasil dari 7 kemenangan dan 2 hasil imbang dalam 11 pertandingan, Inggris yang duduk di peringkat kedua di bawah Kroasia masih punya kans besar untuk lolos ke Euro 2008. Syaratnya, mereka minimal dapat meraih 1 poin di pertandingan terakhir kontra Kroasia di Wembley.

Di laga yang digelar pada 21 November 2007 tersebut, Wayne Rooney, Michael Owen, Gary Neville, dan John Terry tidak dapat bermain karena cedera. Sedangkan Rio Ferdinand terkena akumulasi kartu. Namun, yang menjadi kontroversi adalah keputusan McClaren yang tak memainkan kiper utama Paul Robinson ataupun kiper kawakan David James, serta mencadangkan David Beckham.

Keputusan tersebut berbuah bencana. Di menit ke-8, Scott Carson membuat kesalahan fatal saat akan menangkap sepakan jarak jauh Niko Kranjcar. Enam menit berselang, kesalahan lini belakang kembali membuat Carson memungut bola untuk kedua kalinya. Inggris pun tertinggal 2-0 di babak pertama.

Di menit ke-56, Frank Lampard membawa Inggris memperkecil skor lewat eksekusi penalti. Sembilan menit berselang, David Beckham yang masuk dari bangku cadangan mengirim umpan silang sempurna dari sisi kanan yang sukses diselesaikan menjadi gol oleh Peter Crouch.

Skor 2-2 sejatinya sudah cukup untuk meloloskan Inggris ke Euro 2008. Namun sayangnya, gol pemain pengganti Mladen Petric di menit ke-77 membuat Kroasia kembali unggul 3-2. Hingga wasit meniup peluit akhir, skor tak berubah.

Di tengah guyuran hujan yang membasahi Wembley, Inggris gagal lolos ke Euro 2008 usai koleksi poin mereka disalip Rusia di detik-detik terakhir yang di laga lainnya menang 1-0 di kandang Andorra.

Kegagalan tersebut jadi kegagalan pertama Inggris di fase kualifikasi sejak Piala Dunia 1994. Sebuah kegagalan yang sulit diterima, sebab pada saat itu, Inggris masih tergolong memiliki generasi emas. Hanya sehari berselang, FA memutuskan untuk memecat Steve McClaren.

Bab 4: Era Fabio Capello dan Akhir Generasi Emas

Pasca memecat Steve McClaren, Inggris langsung mengumumkan Fabio Capello sebagai penggantinya. Menjadi pelatih asing kedua yang menangani Inggris, Capello yang konon digaji 6 juta paun pertahun juga menjadi pelatih timnas Inggris dengan gaji termahal.

Jumlah tersebut bisa dipahami mengingat nama besar yang dimiliki oleh Capello. Sama seperti Sven-Göran Eriksson, Fabio Capello juga punya CV sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia saat itu.

Capello pernah 5 kali meraih scudetto Serie A, 4 bersama AC Milan dan 1 bersama AS Roma. Saat melatih Milan, Capello juga sukses mempersembahkan 1 trofi UCL. Sedangkan bersama Real Madrid, ia sukses menghadirkan 2 trofi LaLiga. Capello juga pernah meraih 2 trofi scudetto bersama Juventus sebelum keduanya dicabut karena skandal calciopoli.

Tak seperti Sven-Göran Eriksson, penunjukan Fabio Capello disambut antusias oleh pers dan fans The Three Lions. Bukan hanya karena raihan gelarnya yang tak kalah presitisius, tetapi juga profil Capello yang lebih disiplin dibanding dua pendahulunya dan jauh dari gosip.

Singkat cerita, Fabio Capello berhasil meloloskan Inggris ke Piala Dunia 2010. Sayangnya, langkah mereka di Afrika Selatan jauh dari kata bagus apalagi memuaskan. Tergabung ke dalam Grup C, Inggris memulai turnamen dengan dua hasil imbang kontra Amerika Serikat dan Aljazair. The Three Lions akhirnya lolos ke fase gugur usai menang tipis 1-0 atas Slovenia di laga pamungkas fase grup.

Hanya lolos sebagai runner-up grup dengan jumlah gol yang hanya mencapai 2 biji, penampilan Inggris jelas menuai kritik. Optimisme yang terbangun sebelum turnamen berubah menjadi pesimisme.

Seperti yang kita tahu, langkah Inggris akhirnya terhenti di babak 16 besar oleh Jerman. Di laga dimana sepakan Frank Lampard yang sudah melewati garis gawang tidak disahkan menjadi gol tersebut, Inggris takluk 1-4. Kekalahan tersebut menjadi salah satu kekalahan terburuk The Three Lions sepanjang gelaran Piala Dunia.

Setelah tersingkir dari Piala Dunia 2010, posisi Fabio Capello sempat terancam. Namun, ia tetap dipertahankan hingga Euro 2012. Capello memang bertahan. Akan tetapi, setelah meloloskan Tiga Singa ke Euro 2012, pelatih asal Italia itu memilih mundur. Intervensi dari FA yang mencabut ban kapten John Terry jadi alasan Capello.

Tersingkirnya Inggris di Piala Dunia 2010 yang kemudian diikuti mundurnya Fabio Capello dari posisi pelatih kepala diyakini sebagai akhir dari Generasi Emas Timnas Inggris. Kala itu, beberapa pemain kunci seperti David Beckham dan Rio Ferdinand telah pensiun dari kancah internasional, sedangkan pemain seperti Frank Lampard dan John Terry sudah berusia lebih dari 30 tahun. Di era Roy Hodgon, label “Generasi Emas” juga sudah tak lagi disematkan.

Bab 5: Penyebab Generasi Emas Timnas Inggris Gagal Total

Akhir dari Generasi Emas Timnas Inggris memang memprihatinkan. Selain tak meraih satu pun prestasi di masa jayanya, di era tersebut The Three Lions bahkan tak sekalipun mampu menembus babak semifinal turnamen internasional.

Banyak sekali teori bertebaran yang diyakini sebagai biang kerok dari gagalnya Generasi Emas Timnas Inggris. Dan, berdasarkan analisis kami, setidaknya ada 4 alasan utama yang jadi penyebabnya.

1. Salah Taktik

Penyebab yang pertama adalah salah taktik. Kesalahan taktik ini yang diyakini sebagai penyebab utama Inggris gagal dalam memanfaatkan potensi terbaik dari pemainnya.

Berbicara kepada Talksport pada Maret 2021 lalu, Michael Owen meyakini kalau timnas Inggris kala itu harusnya mencoba bermain dengan formasi 3-5-2. Owen berkata, “yang seharusnya menjadi titik kuat kami, jadi titik lemah kami. Kami memiliki Gerrard, Scholes dan Lampard, namun kami kalah jumlah di lini tengah di setiap pertandingan.”

Kekuatan utama Inggris kala itu memang terletak pada posisi bek dan lini tengah yang dihuni banyak pemain kelas dunia. Di posisi bek ada Rio Ferdinand, John Terry, Sol Campbell. Jamie Carragher, Ledley King, hingga Jonathan Woodgate. Sedangkan di posisi gelandang, Inggris punya Paul Scholes, Frank Lampard, Steven Gerrard, David Beckham, Michael Carrick, Owen Hargreaves, hingga Joe Cole.

Secari teori, Inggris memang bisa bermain dengan 3-5-2. Akan tetapi, di era Sven-Göran Eriksson, Inggris selalu memainkan formasi 4-4-2. Owen meyakini kalau sistem tersebut telah mematikan potensi terbaik dari para pemain Inggris.

Jauh sebelum Owen, jurnalis kenamaan Henry Winter telah mengidentifikasi penyalahgunaan Paul Scholes sebagai biang dari kegagalan Generasi Emas Timnas Inggris. Untuk mengakomodasi duet Steven Gerrard dan Frank Lampard di lini tengah, Paul Scholes jadi korbannya dan dipaksa bermain di posisi sayap kiri. Konon, ini yang jadi alasan Scholes pensiun dari timnas Inggris di usia 29 tahun.

Banyak pihak yang memang meyakini kalau Gerrard dan Lampard memang seharusnya tak diduetkan. Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, harus diakui kalau pilihan pelatih timnas Inggris kala itu bisa dibilang gagal mengeluarkan kemampuan terbaik dari para pemainnya.

Bayangkan saja, di saat Spanyol mulai memainkan tiki-taka, Jerman dengan gegenpressing, hingga Prancis atau Italia dengan taktik yang lebih modern, Inggris masih kolot dengan taktik “kick and rush” yang mengandalkan long ball. Sungguh disayangkan. Dengan pilihan gelandang yang melimpah dan striker ganas macam Rooney atau Owen, Inggris kala itu harusnya bisa mencoba banyak skema serangan.

2. Rivalitas yang Terlalu Mengakar

Penyebab yang kedua adalah rivalitas yang terlalu mengakar. Saat era Generasi Emas, pamor Premier League sebagai liga memang tengah melambung tinggi dan saat itu rivalitas antarpemain, khususnya yang berasal dari tim “The Big Four” tengah panas-panasnya.

Kepada majalah The Times, Rio Ferdinand berkata, “Satu tahun kami akan melawan Liverpool untuk memenangkan liga, tahun berikutnya Chelsea. Jadi saya tidak akan pernah masuk ke ruang ganti Inggris dan membuka diri kepada Frank Lampard, Ashley Cole, John Terry atau Joe Cole di Chelsea, atau Steven Gerrard atau Jamie Carragher di Liverpool karena saya khawatir mereka akan membawa sesuatu ke klub mereka dan menggunakannya untuk melawan kami.”

“Saya tidak menyadari bahwa apa yang saya lakukan telah merugikan Inggris pada saat itu. Saya begitu asyik, begitu terobsesi untuk menang bersama Man United – tidak ada hal lain yang lebih penting.”

Pernyataan Rio Ferdinand tersebut juga diamini oleh Frank Lampard dan Steven Gerrrad. Lampard berkata, “Banyak negara lain yang memiliki pemain yang bermain di seluruh dunia dan kemudian mereka kembali bersama dan mereka tidak memiliki persaingan, tapi setiap minggu kami saling menghadapi satu sama lain.”

Ada risiko yang besar memang ketika mempersatukan para pemain bintang dalam satu tim. Dan, sekali lagi, kita harus menyalahkan pilihan manager Inggris kala itu yang bisa dibilang telah gagal menyatukan para bintang dalam satu tim. Namun, terlepas dari itu, para pemain Inggris kala itu juga bisa dibilang telah gagal menurunkan egonya dan menyingkirkan rivalitas di level klub untuk kepentingan tim nasional.

3. Timnas Negara Lain Juga Sedang Bagus-Bagusnya

Penyebab ketiga yang jadi alasan gagalnya Generasi Emas Timnas Inggris adalah karena pada saat itu, tim nasional negara lain juga tengah bagus-bagusnya. Jadi, bukan cuma Inggris saja yang punya generasi emas.

Misalnya Brasil yang mengalahkan mereka di perempat final Piala Dunia 2002. Kala itu, Brasil punya 2 peraih Ballon d’Or sekaligus dalam timnya, yakni Ronaldo dan Rivaldo. Kelak, Ronaldinho yang kala itu jadi teman duet Ronaldo dan Rivaldo juga jadi peraih Ballon d’Or, begitu pula dengan Kaka yang kala itu masih duduk di bangku cadangan.

Contoh lainnya adalah Italia. Ketika membela timnas, pemain-pemain seperti Totti, Del Piero, Pirlo, Materazzi, Nesta, Buffon, hingga De Rossi melebur jadi satu kesatuan. Batasan-batasan antar rival luntur demi membela Gli Azzurri.

Selain Italia, Portugal yang dua kali menghentikan Inggris di Euro 2004 dan Piala Dunia 2006 juga disebut sedang memiliki generasi emas. Begitu pula dengan timnas Republik Ceko. Daftarnya bakal makin panjang jika kita juga menyebut timnas Spanyol.

Sementara itu, Emile Heskey meyakini kalau meskipun para pemain Inggris saat itu sangat bertalenta, tapi ia lebih percaya kalau Prancis-lah yang punya generasi emas.

“Dalam kelompok usia saya, mereka memiliki Henry, Anelka, Trezeguet, Gallas, Silvestre dan Sagnol – kemudian Anda bisa menambahkan Zidane, Vieira, Petit, Desailly, Thuram, Barthez dan Lizarazu. Jadi, siapa yang benar-benar memiliki Generasi Emas?”

Pada intinya, Inggris bukanlah satu-satunya negara yang dipenuhi pemain bintang. Jadi, bukan hanya timnas Inggris saja yang bisa memakai predikat generasi emas. Oleh karena itu, Frank Lampard meyakini kalau label “Generasi Emas” yang pertama kali diucapkan oleh Adam Crozier adalah sebuah beban yang tak hanya membuat para pemain frustrasi, tetapi juga berbuah menjadi kutukan.

4. Pers Inggris

Selain tiga faktor tadi, penyebab keempat yang jadi alasan dari gagal totalnya Generasi Emas Timnas Inggris adalah pers atau media. Sudah bukan rahasia lagi kalau media atau pers Inggris kerap terlalu berlebihan. Sorotan kamera yang terlalu intens membuat para pemain Inggris jadi lebih terlihat sebagai superstar.

Media juga kerap memberi bumbu tak penting. Misalnya saat memberitakan berita perselingkuhan Sven-Göran Eriksson atau lebih menyoroti WAGs dari para pemain Inggris di tiap turnamen.

Dalam laporan Henry Winter saat meliput perjalanan Inggris di Piala Dunia 2006, pers Inggris ternyata punya pengaruh yang amat besar kepada mental pemain. Winter melaporkan kalau yang ada dalam benak pemain saat itu adalah berapa rating yang mereka dapat di media esok hari ketimbang fokus dengan apa yang mereka hadapi di depan.

Itulah empat penyebab yang jadi alasan di balik gagal totalnya Generasi Emas Timnas Inggris. Memang menyedihkan mendapati fakta kalau skuad penuh talenta Inggris kala itu gagal meraih satu pun prestasi prestisius di kancah internasional. Namun, pada akhirnya, kita mungkin harus mengakui dan mengambil kesimpulan kalau Timnas Inggris saat itu belum pantas untuk menyandang label “generasi emas”.
***
Referensi: Repubblica, Bein, Talksports, ESPN, DailyMail, FourFourTwo.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru