Seperti roller coaster, kehidupan manusia terus bergerak mengikuti perputaran takdir. Terkadang di atas, terkadang juga di bawah. Menariknya, kita bisa memilih sendiri gimana cara menyikapi situasi.
Apakah saat badai masalah mendera, kita bakal menyerah begitu saja atau memilih bangkit dan melawan. Apakah saat angin kesuksesan membelai, kita bakal terlena atau justru berjaga-jaga.
Dan seorang Jay Idzes punya cara tersendiri untuk menikmati naik turun karier sepak bolanya. Lantas, gimana kisah Bang Jay hingga bisa berada di titik sekarang?
Kisah apa saja yang mewarnai perjalanan El Capitano Timnas Indonesia dan Venezia ini? Apakah Jay sedari awal memilih sepak bola sebagai jalan hidupnya? Simak ulasannya hingga selesai.
Awal Karier Jay Idzes
Setiap pesepakbola pasti pernah mengalami titik nadir dalam karier profesional mereka. Begitu juga dengan seorang Jay Noah Idzes. Pemain kelahiran Mierlo sudah merasakan garam dan madu kehidupan.
Bang Jay menggeluti si kulit bundar sejak masih berusia 7 tahun. Pria setinggi 191 cm ini mengawali langkahnya dengan menimba ilmu di klub amatir bernama SC Brabant.
Kemampuan spesial Jay dengan cepat diketahui oleh pemandu bakat di Belanda. Umur 9 tahun, PSV Eindhoven menawari Jay untuk bergabung di akademi profesional.
Kehebatan pemain berdarah Semarang ini pun semakin berkembang pesat. Singkat cerita, Jay menjalani debut profesional saat berumur 18 tahun.
Saat anak seusianya masih sibuk berpantun ubur-ubur ikan lele, Jay sudah main di Liga Belanda lee. Sang pemain langsung mengamankan satu tempat utama di FC Eindhoven.
Dua musim bersama skuad Blauw-witten, Jay tampil konsisten dengan mencatatkan 57 laga. Namun sebelum momen manis ini datang, Jay sempat bimbang.
Hampir Jadi Pemain Futsal
Pasalnya, Jay pernah jadi pemain Timnas Futsal Belanda U-17. Rupanya selain jago bermain di lapangan gede, Jay juga terampil di lapangan kecil.
Kisah ini diceritakan langsung oleh Jay saat jadi bintang tamu podcast The Haye Way. Pada tahun 2016, di sela-sela latihan dengan FC Eindhoven, Jay rupanya iseng bermain futsal.
Namun lama kelamaan agenda setiap pekan ini berubah jadi sesuatu yang serius. Jay yang pandai membagi waktu merasa asyik dengan dunia futsal.
Sampai-sampai dirinya terpilih masuk skuad Timnas Futsal Belanda U-17. Jay pun mengaku sudah mencicipi kompetisi elit melawan tim-tim kuat Eropa.
“Delapan tahun lalu, saya mulai bermain untuk Timnas Futsal Belanda U-17. Kami melawan Spanyol, Portugal, Italia, hingga Rusia. Saya sudah pernah bermain di level Eropa dan kualifikasi olimpiade,” cerita Jay ke Thom Haye.
Namun di persimpangan jalan ini, Jay membulatkan tekad untuk memilih sepak bola. Jay sudah terlanjur cinta dan tak kuasa lagi untuk mendua.
“Sampai akhirnya saya harus memilih antara sepak bola atau futsal. Saat itu, saya sudah dekat atau sedang berlatih dan bermain dengan tim utama FC Eindhoven. Saya putuskan untuk kembali fokus ke sepak bola,” terang Jay.
Spesialis Bawa Tim Promosi
Keputusan Jay ini pun berbuah manis, lantaran perlahan namun pasti kariernya menanjak. Usai di FC Eindhoven, Jay diboyong oleh Go Ahead Eagles.
Nggak butuh waktu lama, Jay sukses membawa Pasukan Elang Hitam terbang tinggi. Pada musim 2020/21, Jay jadi pemain kunci yang membawa Go Ahead Eagles promosi ke Eredivisie.
Transfermarkt mencatat, dari 31 laga Jay menggemas 1 gol dan 4 assist. Bukan cuma produktif, tugas utama Jay sebagai bek terjalani dengan baik.
Terbukti, Go Ahead Eagles jadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit. Performa solid Jay di lini belakang membuat klub asal kota Deventer ini cuma kebobolan 25 gol. Kehebatan Jay pun kabarnya menarik minat banyak klub-klub top Eropa.
Namun, sebagai pria penyuka tantangan, Jay malah menerima pinangan dari klub Serie B. Pada musim 2023/24, Jay hijrah ke Italia dan memperkuat Venezia. Jay menantang dirinya untuk keluar dari zona nyaman di kasta teratas sepak bola Belanda. Jay dengan sadar memilih untuk kembali berjuang di divisi kedua.
Lagi-lagi, kehebatan Jay mendatangkan keberuntungan untuk klub barunya. Pasalnya hanya butuh satu musim skuad Lagunari bisa promosi ke Serie A.
Mengidap Penyakit Paru-paru
Namun di titik ini, Jay sempat mengalami ujian yang sangat berat . Bagaimana tidak? Jay yang sepanjang kariernya jarang cedera tiba-tiba absen dalam 18 laga bersama Venezia.
Bukan karena performanya anjlok dan nggak masuk skema pelatih. Melainkan sejak Oktober 2023, sang pemilik rambut klimis ini dinyatakan mengidap penyakit misterius.
Setelah dilakukan pemeriksaan, Jay rupanya dihinggapi Trombosis Vena. Paru-paru Jay dinyatakan bermasalah sehingga terpaksa harus masuk ruang medis.
Diselamatkan Timnas Indonesia
Akibat penyakit langka dan mengancam jiwa ini, banyak yang mengira karier Jay bakal kandas. Namun Jay bukan seorang bocah cengeng yang menangis di pojokan karena kalah.
Jay menghadapi fakta pahit ini dengan kepala tegak bak seorang ksatria. Mental sang pemain pun semakin kokoh lantaran mendapat dukungan dari Timnas Indonesia.
Padahal, PSSI bisa saja balik badan dan menggantungkan nasib Jay. Namun federasi pimpinan Erick Thohir ini ogah PHP dan tetap meneruskan proses naturalisasi Jay.
”Itu, kan, yang namanya pemain ada fase up and down. Tapi, kalau kita lihat Jay bisa bermain di Liga Italia, di klub Venezia, itu berarti bukan kaleng-kaleng,” terang Pak Erick kala itu.
Terbukti, Jay pun sukses melewati cobaan berat ini dengan nilai 100. Pada 24 Januari 2024, Paolo Vanoli selaku pelatih Venezia dengan riang gembira mengabarkan kalau Jay sembuh total.
Tampil All Out dan Jadi Kapten Timnas Indonesia
Sekitar satu bulan sebelumnya, tepatnya 29 Desember 2023 proses naturalisasi Jay juga sudah rampung. Baru pada Maret 2024, Jay merasakan buah manis dari pilihan hatinya.
Ya, Jay menjalani debut saat laga kontra Vietnam yang berakhir dengan skor 1-0 untuk Skuad Garuda. Dan berkat jiwa kepemimpinannya, Jay dengan cepat dipercaya jadi kapten.
Tercatat, Jay menjadi El Capitano Pasukan Merah Putih sejak laga pertama kualifikasi Piala Dunia 2026 ronde ketiga. Padahal saat itu, Timnas Indonesia sudah punya Jordi Amat dan Asnawi Mangkualam.
Namun, keputusan Shin Tae-yong kala itu untuk memindahkan ban kapten ternyata sangat tepat. Jay membayar kepercayaan itu dengan tampil all out. Jay tampak sangat dewasa dan tenang saat menghadapi tekanan. Jay pun mampu memberikan arahan dengan kepala dingin juga mampu memompa semangat tim.
Kepemimpinan Jay, bukan cuma di atas lapangan tapi juga di ruang ganti. Wibawa dan karisma Jay selaku kapten menyala sangat terang dan tak dibuat-buat.
Jadi Kapten Venezia dan Menaklukan Striker Top Serie A
Semenjak jadi pemimpin Timnas, performa Jay di Venezia semakin menanjak. Bahkan sejak pekan ke-23, sang pemain sudah dipercaya jadi kapten Venezia. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan kuat, lantaran Jay memang dinilai sosok yang layak. Hal ini diakui oleh Eusebio Di Francesco selaku pelatih Venezia.
“Jay adalah kapten kami saat ini, dia dipilih untuk mewakili tim ini karena pengetahuannya, bahasanya, atas caranya menjadi seorang pemimpin, atas dedikasinya dalam membantu rekan satu timnya,” ungkap Eusebio kepada awak media.
Sanjungan setinggi langit ini bukan sekadar omon-omon belaka. Pasalnya sejak jadi kapten, Jay tampil semakin menawan dan buat Venezia sulit dikalahkan. Jay sukses mengantongi para striker ganas di Serie A, membuat mereka tak berdaya. Terbaru, ada Mateo Retegui yang mencetak setidaknya 21 gol di Serie A, dibikin frustrasi lantaran dikawal ketat oleh Jay.
Selain itu, ada nama Romelu Lukaku yang juga gagal mencetak gol gara-gara ditempel oleh Jay. Bomber Napoli yang dikenal punya badan besar ini ternyata kalah berduel dengan Jay. Pergerakan Lukaku sukses dikunci habis oleh Jay yang bermain cerdik dan disiplin.
Di momen lain, Jay juga berhasil menaklukan Dusan Vlahovic. Bahkan striker andalan Juventus ini sampai ngamuk ke Jay lantaran nggak dikasih celah untuk beraksi. Untungnya, Jay nggak terprovokasi dengan aksi top skorer Si Nyonya Tua ini. Bahkan, Jay membalas celotehan Vlahovic dengan sebuah gol sundulan.
Selanjutnya ada sosok Lautaro Martinez yang juga dibuat pusing tujuh keliling. Pasalnya, Jay nggak membiarkan penyerang lincah Inter Milan ini lolos dari penjagaan. Bahkan di menit ke-50, Jay sukses memblok peluang emas Lautaro Martinez.
Siapa sangka, nama-nama besar di atas yang biasanya gampang nyekor malah dipecundangi oleh Jay. Mengawal dan membuat striker lawan mandul diakui oleh Jay sebagai rutinitas tiap pekan yang mengasyikan. Dari laga ke laga, pemain berusia 24 tahun ini selalu antusias menjalankan tugas.
Berkah Bagi Timnas Indonesia
Performa apik dan mentalitas elit Jay ini menjadi berkah tersendiri bagi Timnas Indonesia. Pasalnya, di sisa ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 para lawan berat sudah menanti.
Australia, Bahrain, Tiongkok, dan Jepang bakal jadi batu sandungan. Namun Jay yang punya jam terbang tinggi di Eropa, sama sekali nggak gentar. Jay pun diharapkan bisa terus tampil konsisten dan membuat tembok pertahanan Garuda lebih kokoh. El Capitano pun optimis bisa membawa Timnas Indonesia mentas di Piala Dunia.
“Kami masih punya empat pertandingan yang harus dijalani. Namun, saya percaya bahwa mimpi ini bisa terwujud jika kita semua bekerja keras dan bersatu,” kata Jay.
Para fans pun sudah nggak sabar melihat sang kapten kembali merumput dengan jersey anyar Merah Putih. Bang Jay pun menyampaikan pesan khusus untuk pencinta sepak bola Tanah Air.
“Kami sangat butuh dukungan kalian. Entah itu lewat televisi, media sosial, atau jika memungkinkan datang langsung ke stadion. Saya yakin tiket akan habis terjual. Jadi, ayo dukung kami. Timnas Indonesia akan menang.”
Sumber referensi:
https://bola.kompas.com/read/2025/01/13/13104958/jay-idzes-berbicara-soal-duel-dengan-lautaro-martinez
https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20250209141903-142-1196257/jay-idzes-dipuji-pelatih-venezia-pemimpin-hebat-dan-multibahasa
https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20250302002924-142-1203965/kata-kata-pelatih-venezia-usai-jay-idzes-cs-solid-tahan-atalanta


