Pemain Kulit Hitam Bikin Spanyol Ngeri Lagi Lewat Lamine Yamal dan Nico Williams

spot_img

Ibarat bestie yang senasib dan seperjuangan. Sayap Timnas Spanyol Nico Williams dan Lamine Yamal jadi sosok yang paling disorot penampilannya di EURO 2024. Selain masih muda, mereka juga lahir dari rahim etnis minoritas di Spanyol yang sering kena perlakuan rasis. La Furia Roja memang dari dulu tidak identik dengan pemain berkulit gelap. Namun kenapa pada perkembangannya justru mereka makin tambah subur?

Sebelum mengetahuinya, football lovers baiknya subscribe dan nyalakan loncengnya dulu agar tak ketinggalan sajian menarik dari Starting Eleven Story.

Fenomena Nico Williams dan Lamine Yamal

Melihat performa Lamine Yamal dan Nico Williams di EURO 2024, kalau dilihat-lihat seperti tokoh Tsubasa Ozora dan Taro Misaki dalam film anime Captain Tsubasa. Pasangan emas yang kompak dan saling bahu-membahu demi tim yang dibelanya.

Meski beda umur, mereka terbukti saling menghormati satu sama lain. Nico Williams lahir duluan tahun 2002 di Pamplona. Sedangkan Lamine Yamal, baru brojol dari perut ibunya tahun 2007 di kawasan Esplugues de Llobregat.

Mereka adalah asli kelahiran Spanyol dan berkewarganegaraan Spanyol. Meskipun keduanya berasal dari keturunan imigran asal Afrika. Lamine Yamal adalah keturunan Maroko, sedangkan Williams keturunan Ghana.

Sudah jamak menemui orang keturunan Afrika di Spanyol. Karena sejak zaman Romawi, orang-orang Afrika banyak yang masuk ke wilayah Spanyol. Mereka sering disebut orang Afro-Spanyol.

Jumlah populasi orang keturunan Afrika di Spanyol menurut Kementerian Kesetaraan Spanyol di tahun 2019, mencapai 1.029.944. Dari jumlah tersebut, 71% lahir di Spanyol dan memilih berkewarganegaraan Spanyol.

Munculnya Pemain Berkulit Hitam Di Spanyol

Banyaknya orang keturunan Afrika di Spanyol pun akhirnya merambah ke dunia si kulit bundar. Karena sepakbola di Spanyol adalah salah satu olahraga yang banyak digandrungi berbagai lapisan masyarakat. Sama seperti di Indonesia.

Namun, sepakbola bagi mereka hanyalah selingan hidup belaka. Sepakbola bukanlah sebuah impian bagi para orang Afro-Spanyol untuk meraih hidup yang layak. Karena mereka sadar, sebagai kelas yang terpinggirkan pasti akan mengalami diskriminasi.

Orang Afro-Spanyol susah untuk masuk klub-klub ternama di Spanyol, apalagi masuk tim nasional. Ya, sesusah ingin dapat proyek tapi tak punya orang dalam. Pasalnya menurut sejarah, bangsa Spanyol sejak abad pertengahan sudah punya sikap rasis terhadap para imigran, terutama yang berkulit hitam. Orang Afro-Spanyol bahkan dianggap oleh orang Spanyol asli sebagai “budak”.

Sampai tahun 1994, belum ada satupun orang berkulit hitam yang berseragam Timnas Spanyol. Sampai akhirnya pada tahun 1994 kebijakan naturalisasi dari Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) mengubah fenomena tersebut.

Pemain Kulit Hitam Pertama Di Spanyol

Di tahun tersebut, muncul pemain yang dinaturalisasi oleh Spanyol bernama Donato Gama Da Silva. Donato memang bukan dari golongan orang Afro-Spanyol. Ia adalah pemain keturunan Amerika Latin, yang lahir di Brasil. Namun, Donato termasuk dalam kategori pemain berkulit hitam. Ia bahkan tercatat di buku sejarah sepakbola Spanyol sebagai pemain kulit hitam pertama di La Furia Roja.

Ia dinaturalisasi berkat penampilan memukau di Deportivo La Coruna sejak tahun 1994. Berkat performanya juga, Donato akhirnya dipanggil masuk skuad EURO 1996 oleh pelatih Spanyol saat itu, Javier Clemente.

Donato terharu dan bangga jadi pemain kulit hitam pertama di Tim Matador. Ia merasa dihormati. Donato menganggap langkahnya tersebut bisa membuka jalan bagi pemain kulit hitam lainnya untuk termotivasi masuk Timnas Spanyol.

Setelah Donato, lalu muncul pemain berkulit hitam lainnya di Timnas Spanyol bernama Vicente Engonga. Bedanya Engonga dengan Donato, Engonga ini tidak dinaturalisasi, melainkan sudah berkewarganegaraan Spanyol sejak lahir.

Engonga adalah pemain keturunan Guinea Equatorial, namun lahir di Barcelona. Engonga masuk Timnas Spanyol karena performannya yang apik bersama Real Mallorca sejak tahun 1997. Ia bahkan dipanggil pelatih timnas Spanyol Jose Antonio Camacho ke EURO 2000.

Kritik dan Rasisme

Kisah Donato dan Engonga, adalah contoh yang memperlihatkan bagaimana Timnas Spanyol mulai membuka keran bagi pemain berkulit hitam. Namun yang jadi catatan, para pemain kulit hitam tersebut tak luput dari kritik dan masih saja terkena diskriminasi rasial. Donato dan Engonga dianggap ”noda kotor” oleh sebagian publik sepakbola Spanyol yang rasis.

Ya, penyakit rasis orang Spanyol memang tak bisa sembuh. Terbukti beberapa kasus masih sering terjadi hingga sekarang. Termasuk kepada pemain asing sekalipun seperti Vinicius Junior.

Namun ada satu momen penting dalam sejarah sepakbola Spanyol, saat sejenak mengesampingkan sikap rasis kepada pemain kulit hitam. Momen tersebut terjadi saat ada pemain berkulit hitam bernama Marcos Senna sukses jadi bagian penting La Furia Roja meraih gelar EURO 2008.

Fenomena Marcos Senna

Marcos Senna adalah penerus Donato. Ia lahir di Brasil dan baru jadi warga negara Spanyol pada tahun 2006. Senna juga tak sembarangan dinaturalisasi. Senna saat itu performanya masih gacor bersama Villarreal asuhan Manuel Pellegrini.

Pelatih Spanyol, Luis Aragones pun tak ragu memanggilnya untuk tampil di EURO 2008. Aragones saat itu juga ingin menunjukan bahwa tidak ada lagi tempat untuk rasisme di sepak bola Spanyol.

Performa Senna di EURO 2008 benar-benar memukau publik Spanyol. Ia tampil solid sebagai jenderal lini tengah yang membawa La Furia Roja meraih gelar kedua di ajang EURO. Senna dipuja-puji bak pahlawan oleh rakyat Spanyol saat itu.

Jangan Rasis

Kisah Senna tersebut akhirnya menjadi inspirasi bagi pemain kulit hitam lainnya yang ingin sukses. Tak hanya sukses sebagai pemain, namun sukses memerangi rasisme dari publik Spanyol.

Gara-gara Senna, pemain kulit hitam baik itu dari keturunan Amerika Latin maupun Afrika, silih berganti menghiasi Timnas Spanyol. Seperti misal Catanha, Adama Traore, Ansu Fati, Alejandro Balde, hingga sekarang Lamine Yamal dan Nico Williams.

Di EURO 2024, Lamine Yamal dan Nico Williams terbukti telah jadi ikon dengan performanya yang ciamik. Keduanya merupakan bintang masa depan La Furia Roja yang harus dirawat.

Jangan sampai kasus rasisme kembali menyerang mereka. FYI aja, Nico Williams pernah mengalami pelecehan rasial oleh pendukung Atletico Madrid di La Liga. Sampai-sampai pihak Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) saat itu menghukum Los Colchoneros dengan denda.

Sementara itu, Lamine Yamal juga pernah kena pelecehan rasial oleh pandit salah satu stasiun TV di Spanyol. Sampai-sampai pihak klub, yakni Barcelona, tak mau lagi berbicara dan diundang di stasiun TV tersebut.

Masa Depan Timnas Spanyol

Lamine Yamal dan Nico Williams adalah aset berharga Timnas Spanyol. Di EURO 2024, dua pemain tersebut sudah membuktikan. Jangan sampai potensi mereka dipinggirkan begitu saja lewat pelecehan rasial. Spanyol harus ngaca, mereka juga masih punya hutang budi kepada pemain kulit hitam seperti Marcos Senna yang telah memberikan gelar prestisius.

Masa depan Timnas Spanyol mau tidak mau akan terus diwarnai lahirnya bibit unggul dari pemain berkulit hitam. Spanyol tak bisa menghindar akan fenomena tersebut. Lamine Yamal dan Nico Williams adalah contoh nyata. Mereka bukan budak. Mereka berdua justru bagaikan “mutiara hitam” yang akan menyinari masa depan sepakbola Spanyol menjadi lebih cerah.

Sumber Referensi : nytimes, elpais, premium.cat, prnewswire, yalehistoricalreview, worldometer, nytimes

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru