Dewasa ini, haram hukumnya menilai playlist musik seseorang. Ada yang suka musik-musik keras macam Linkin Park, tapi banyak juga yang mendengarkan lagu-lagu pop milik Taylor Swift. Karena pada dasarnya, keindahan dalam seni musik itu perkara selera.
Pemilihan pemain di Timnas Indonesia pun demikian. Pelatih, dalam hal ini Patrick Kluivert layaknya seorang pendengar yang bisa sesuka hati memilih pemainnya. Mereka yang dipilih diharapkan bisa membantu pelatih dalam mewujudkan skema permainan di lapangan. Namun, baru-baru selera Kluivert dipertanyakan.
Dalam pengumuman daftar pemain yang akan menghadapi Australia dan Bahrain, tak ada satu pun pemain yang berasal dari Persib Bandung. Itu jadi persoalan, setidaknya bagi beberapa fans. Gimana enggak? Wong Persib lagi moncer-moncernya.
Mereka bahkan sedang memuncaki klasemen dan berpeluang back to back juara Liga Indonesia. Jika kalian juga bertanya-tanya, maka kami punya jawabannya.
Daftar Isi
Pemain Lokal yang Dipanggil
Minggu, 9 Maret 2025, untuk pertama kalinya, Patrick Kluivert mengumumkan skuad Timnas Indonesia. Seperti janjinya, ia memadupadankan pemain lokal dan pemain diaspora yang berkarir di Eropa. Dari 27 nama yang dipanggil, setidaknya ada sembilan pemain dari Liga Indonesia.
Kluivert memanggil kembali pemain Liga Indonesia yang sebelumnya absen di November lalu. Mereka adalah Ernando Ari, Ramadhan Sananta, dan Nadeo Argawinata. Nama yang cukup mencuri perhatian justru muncul di posisi striker. Dia adalah Septian Satria Bagaskara dari Dewa United.
Meski kerap menjadi pemain pengganti, Septian terbilang cukup subur untuk penyerang lokal di BRI Liga 1. Dari 25 laga dia telah mencetak tujuh gol. Selain nama-nama itu, ada Egy Maulana Vikri dan Ricky Kambuaya yang juga dari Dewa United, Rizky Ridho dan Muhammad Ferrari dari Persija, dan the one and only, Hokky Caraka dari PSS Sleman.
Nah, dari sembilan nama pemain yang bermain di Liga Indonesia, tidak ada satu pun yang berasal dari Persib. Padahal tim kebangggaan Kota Kembang tersebut tampil impresif sepanjang musim ini. Skuad asuhan Bojan Hodak bahkan tengah memuncaki klasemen dan baru kalah dua kali.
Melihat Kebutuhan Tim
Mengapa Patrick Kluivert seakan mengabaikan potensi yang dimiliki dari sebuah tim yang sedang diambang juara itu? Sebelum menjawab, kita akan mundur ke era Shin Tae-yong terlebih dahulu. Ternyata, ini bukan kali pertama terjadi. Dari jaman STY, Timnas Indonesia senior memang cukup jarang dibela oleh punggawa Maung Bandung.
Tercatat ada beberapa pemain Persib Bandung yang pernah memperkuat tim nasional di era STY. Contohnya seperti Marc Klok, Ricky Kambuaya jaman masih di Persib, Rachmat Irianto, Dimas Drajad, Edo Febriansyah, hingga Ezra Walian. Namun, nama-nama itu jarang sekali berada di satu panggilan tim nasional yang sama. Seringnya bergantian.
Pemain Persib yang cukup konsisten membela Timnas Indonesia adalah Dimas Drajad dan Marc Klok. Tapi kedua pemain itu juga sudah lama tidak muncul di daftar pemain Skuad Garuda. Klok terakhir kali dipanggil pada bulan Maret 2024, sedangkan Dimas terakhir kali masuk skuad untuk pertandingan melawan Bahrain dan China Oktober lalu.
Sebagai informasi tambahan saja, kala itu, Shin Tae-yong benar-benar selektif dalam memilih pemain. Sebetulnya, pemanggilan pemain ke sebuah tim nasional, itu murni pertimbangan utamanya adalah kebutuhan tim. Bukan siapa tim yang menjadi peringkat pertama. Maka dari itu, tidak ada jaminan bagi pemain Persib.
Cederanya Dimas Drajad
Jika berbicara selera, Patrick Kluivert ini sangat menggemari pemain nomor sembilan, alias striker murni. Selain karena dulunya bermain sebagai striker, ketertarikan Kluivert terhadap penyerang murni bisa dilihat dari formasi yang paling sering digunakan olehnya. Di atas kertas, formasinya menggunakan striker tunggal.
Saat di Adana Demispor misalnya. Pelatih berkebangsaan Belanda itu sangat mengandalkan sosok M’Baye Niang di lini depan. Nah, jika skema yang sama akan digunakan di Timnas Indonesia, maka seharusnya penyerang Maung Bandung, Dimas Drajad bisa masuk skuad.
Secara pengalaman dan performa, Dimas memang jadi salah satu yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, namanya tak dipanggil karena sedang menjalani pemulihan cedera robek ligamen engkel. Mantan pemain Persikabo itu mengalami cedera saat menghadapi PSS Sleman Desember lalu.
Dimas sempat dipaksakan bermain di laga melawan PSBS Biak Januari lalu. Namun, laga itu justru memperparah cederanya. Alhasil, sampai sekarang Dimas belum kembali ke skuad Persib. Karena cedera yang dialami cukup beresiko, maka Dimas diperkirakan akan absen hingga akhir musim ini.
Persib Terlalu Mengandalkan Asing
Selain cederanya Dimas Drajad, komposisi dan peran di lapangan bisa jadi faktor mengapa pemain Maung Bandung tidak dipanggil ke Timnas Indonesia era Patrick Kluivert. Persib dinilai terlalu mengandalkan pemain asing untuk terus tampil solid di sepanjang musim. Hampir semua lini bahkan diisi oleh pemain asing.
Mari kita ambil contoh dari bagaimana kualitas pertahanan Persib. Hingga narasi ini ditulis, Persib menjadi tim dengan kebobolan paling sedikit dengan kemasukan 24 gol. Hal itu tidak lepas dari apiknya penampilan para pemain asing di lini belakang Persib, seperti Kevin Mendoza, Nick Kuipers, dan Gustavo Franca.
Begitupun di lini depan. Bojan Hodak bertumpu pada kualitas individu yang dimiliki oleh Ciro Alves dan David Da Silva. Dua pemain ini jadi yang paling rajin mendobrak pertahanan lawan. Meski begitu, yang menyandang status top skor tim adalah sang gelandang serang, Tyronne Del Pino dengan 12 gol. Yak, lagi-lagi pemain asing.
Berkat penampilan yang aduhai dari Tyronne, pemain-pemain lokal di lini tengah, macam Marc Klok, Robi Darwis, dan Adam Alis jadi tak tersorot. Alhasil, gelandang-gelandang Persib kalah saing dengan Ricky Kambuaya yang mampu memberikan kontribusi lebih meski Dewa United memiliki Jaja dan Alexis Messidoro.
Pemain Persib yang Layak, Tapi…
Tapi, masak sih nggak ada yang layak dipanggil blas? Bobotoh mungkin bisa tenang dulu. Sebetulnya, Maung Bandung punya beberapa talenta lokal yang memiliki kualitas bersaing dengan pemain-pemain asingnya. Mereka adalah Edo Febriansyah dan Beckham Putra. Meski tak selalu bermain full, kedua pemain ini dinilai jadi yang paling mencuri perhatian.
Sayangnya, Edo berposisi bek kiri. Sedangkan Beckham berposisi sebagai pemain sayap. Itu adalah dua posisi yang memiliki daya saing level hard di skuad Timnas Indonesia. Tahu sendiri kan, sumber daya di bek kiri sangat melimpah. Selain Calvin Verdonk, setidaknya ada Pattynama, Nathan, dan Arhan. Belum lagi, ada Dean James yang kabarnya bakal nyusul.
Begitupun dengan Beckham. Meski tampil apik bersama Persib, saingannya di tim nasional sangat berat. Pos pemain sayap dan gelandang serang sudah diisi oleh pemain-pemain kaliber Ragnar Oratmangoen, Rafael Struick, Marselino Ferdinan, dan Egy Maulana. Ketimbang Beckham, Patrick memprioritaskan Egy yang berstatus top skor pemain lokal di Liga 1 dengan 11 golnya.
Suatu Hal yang Lumrah
Pemain Persib Bandung sebetulnya masih laris manis kok. Tapi buat tim nasional kelompok umur. Contohnya saja saat Indonesia mengirimkan skuad U-22 ke Piala AFF 2024 kemarin. Kakang Rudianto dan Robi Darwis dipanggil oleh STY untuk terlibat dalam proyek itu. Pemain muda Persib bahkan jadi bagian penting di skuad tersebut.
Adanya persaingan di tim nasional tentu jadi suatu hal yang sangat lumrah. Di negara-negara besar, banyak juga yang tidak menjadikan pemain liga lokal sebagai tumpuan utama di tim nasional. Argentina bisa jadi contoh kecil. Di skuad yang menjuarai Piala Dunia 2022, hanya Franco Armani yang berasal dari Liga Argentina.
Itu pun bukan berasal dari Boca Juniors yang menjuarai Liga Argentina di tahun tersebut, melainkan dari River Plate. Argentina memiliki banyak pemain abroad. Mereka tersebar di berbagai liga top Eropa. Secara kualitas dan pemahaman taktik, mereka jelas lebih baik. Akan bodoh jadinya jika Lionel Scaloni tidak memanfaatkan sumber daya itu. Sampai sini paham?
Sumber: CNN Indonesia, Tempo, Skor.id, Bola.net


