Merih Demiral dan Gaya Selebrasinya yang Kontroversial

spot_img

Timnas Turki yang tampil cukup impresif selama gelaran Piala Eropa 2024 gagal lolos ke babak semifinal setelah dikalahkan Belanda dengan skor 2-1 di Olympiastadion, Berlin. Pada laga tersebut, Timnas Turki bermain tanpa Merih Demiral, pemain yang sebelumnya mencetak 2 gol melawan Austria. Pertandingan yang berakhir dengan skor 2-1 tersebut berhasil meloloskan mereka ke babak 8 besar untuk menghadapi Belanda. 

Sayangnya, Demiral dilarang tampil pada laga melawan Belanda akibat selebrasinya yang kontroversial saat menghadapi Austria. Alhasil, Turki tampil pincang tanpa pemain yang kini bermain di Al-Ahli bersama Roberto Firmino dan Riyad Mahrez tersebut. Lantas, mengapa Demiral dijatuhi hukuman akibat selebrasinya tadi?

 

Gestur Tangan Serigala Abu-Abu

UEFA menjatuhkan hukuman larangan dua pertandingan kepada Demiral atas selebrasinya yang membentuk gestur tangan serigala. Gestur tersebut dianggap sebagai tindakan yang provokatif dan melanggar aturan UEFA. Pasalnya, gestur serigala tersebut dianggap simbol dari kelompok Serigala Abu-Abu.

Mereka adalah kelompok garis keras yang dikenal pernah melakukan tindakan kekerasan dan rasisme terhadap kelompok minoritas seperti etnis Kurdi, Armenia, dan Yunani. Kelompok ini adalah militan dari Partai MHP di Turki yang juga dianggap kelompok terlarang di Prancis dan Austria.

Sontak, aksi Demiral tersebut mengundang reaksi dari berbagai pihak. Dilansir dari Turkish Minute, Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Faeser, ikut cawe-cawe mengomentari tindakan Demiral tersebut. Menurutnya, tindakan Demiral adalah simbol ekstrimisme yang tidak boleh mendapatkan tempat di Jerman.

Komentar tersebut tentu saja mengusik sanubari warga Turki yang tinggal di Jerman. Sampai-sampai dikabarkan bahwa kedua Menteri Luar Negeri, baik Turki dan Jerman saling bertemu untuk membahas masalah ini. Yang ditakutkan, apabila berlarut-larut, masalah ini bisa menyebabkan konflik sosial karena ada sekitar 3 jutaan warga Turki yang tinggal di Jerman.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan juga ikut mengomentari masalah ini. Menurut Erdogan, hukuman yang dijatuhkan kepada Demiral adalah persoalan politis belaka. Dirinya pun akhirnya menyempatkan diri datang ke Jerman untuk menyaksikan tim asuhan Vincenzo Montella berlaga melawan Belanda. Alhasil, jadwalnya untuk bertamu ke Azerbaijan harus dibatalkan demi menambah moral Arda Guler dan kawan-kawan.

Serigala Abu-Abu sebagai Simbol Kebudayaan Turki

Warga Turki sendiri menolak tuduhan UEFA yang menganggap gestur tangan serigala tersebut simbol kekerasan. Sebab, serigala abu-abu adalah simbol yang memiliki nilai sejarah yang panjang bagi masyarakat Turki.

Dikutip dari TRT World, Ahmet Tasagil, seorang profesor di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Yeditepe, menjelaskan bahwa simbol tersebut adalah simbol yang berharga bagi bangsa Turki yang sudah dipakai sejak abad ke-5 masehi. Oleh karena itu, simbol tersebut tidak ada hubungannya dengan kekerasan dan rasisme.

Serigala abu-abu dianggap sebagai simbol pembimbing dan penyelamat bagi masyarakat Turki. Simbol tersebut dipakai dalam banyak hal, mulai dari mata uang hingga lambang untuk berbagai institusi negara. 

Menurut Ahmet Tasagil, kontroversi mengenai simbol serigala abu-abu ini terjadi akibat munculnya berbagai gerakan ekstrimisme di Eropa, tak terkecuali di Turki. Kelompok-kelompok tersebut membutuhkan simbol agar mudah dikenali. Di Turki, serigala abu-abu adalah salah satu korban dari penggunaan simbol dari kelompok ekstrimis.

Tasagil menambahkan bahwa seharusnya tidak jadi masalah apabila Timnas Turki memakai simbol serigala abu-abu tersebut. Sebab menurutnya, hal tersebut tidak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh negara lain, misalnya Prancis dengan ayam jantannya yang khas.

Demiral sendiri mengaku bangga dengan yang dilakukannya tersebut. Dikutip dari The Guardian, Demiral merasa bangga bisa mencetak 2 gol dan menunjukkan identitasnya sebagai orang Turki dalam bentuk serigala abu-abu. Menurutnya, simbol tersebut tidak memiliki makna terselubung, melainkan simbol kebanggaan masyarakat Turki. 

UEFA yang Dianggap Pilih Kasih

Kasus yang dialami Demiral ini juga memunculkan masalah lain terkait integritas UEFA. Pasalnya, di laga Inggris melawan Slovakia, Jude Bellingham juga tersangkut kasus serupa. Mega bintang Real Madrid tersebut tertangkap kamera melakukan gestur yang tidak senonoh setelah berhasil mencetak gol penyeimbang di menit-menit akhir.

Bedanya, UEFA menjatuhi hukuman Demiral dengan 2 kali larangan bertanding, sementara Bellingham hanya dijatuhi 1 kali larangan bertanding. Dilansir Daily Mail, UEFA butuh 5 hari untuk menyelidiki kasus Bellingham sebelum memberinya hukuman, sementara Demiral langsung dihukum 3 jam setelah pertandingannya usai.

Warganet Turki pun berbondong-bondong meramaikan tagar #BeFairUEFA sebagai bentuk protes. Mereka kecewa dengan perlakuan UEFA yang berbeda terhadap kasus Demiral dan Bellingham.

Simbol Lain yang Menuai Kontroversi di Sepak Bola

Tak hanya Turki, Serbia dan Albania juga memiliki simbol-simbol serupa. Keduanya, juga memiliki kontroversinya masing-masing. Serbia memiliki gestur tangan tiga jari. Gestur ini awalnya adalah simbol dari Gereja Ortodoks Serbia. Tiga jari tersebut melambangkan trinitas yang diimani oleh orang-orang Ortodoks Serbia.

Dahulu, gestur 3 jari tersebut adalah simbol perlawanan Gereja Ortodoks Serbia terhadap rezim komunis Yugoslavia. Gereja Ortodoks Serbia adalah musuh nomor satu yang selalu diawasi oleh rezim komunis. Sebab, mereka curiga bahwa Gereja Ortodoks Serbia masih memiliki hubungan terselubung dengan Kerajaan Serbia.

Namun, sama seperti simbol serigala abu-abu, gestur 3 jari akhirnya dipakai oleh kelompok nasionalis garis keras Serbia yang dipimpin oleh Slobodan Milosevic. Kelompok tersebut adalah kelompok yang banyak melakukan kekerasan terhadap kelompok minoritas selama perang perpecahan Yugoslavia berlangsung.

Dusan Vlahovic pernah terjerat masalah setelah menggunakan gestur 3 jari. Saat dikabarkan akan bergabung dengan PSG pada musim panas 2023, striker Juventus tersebut mendapat ancaman dari suporter PSG apabila perpindahannya menuju Paris tersebut terlaksana.

Pasalnya, Vlahovic pernah berpose dengan gestur tersebut saat membela seragam Serbia. Suporter sendiri mengancam akan memotong tiga jari Vlahovic apabila masih berpose dengan gaya tersebut. 

Sementara Albania memiliki simbol elang ikonik yang pernah populer akibat selebrasi Xherdan Shaqiri dan Granit Xhaka. Meskipun keduanya membela Timnas Swiss, Shaqiri dan Xhaka adalah warga keturunan Albania yang bangga dengan identitasnya tersebut.

Gestur elang tersebut adalah lambang dari negara Albania dan sudah sejak lama dipakai sebagai lambang bagi masyarakat Albania. Layaknya serigala abu-abu bagi masyarakat Turki.

Selebrasi elang tersebut ramai dibicarakan karena dilakukan setelah menaklukan Serbia 2-1 pada babak grup Piala Dunia 2018. Selebrasi Xhaka tersebut memancing kemarahan warga Serbia karena gestur elang tadi berkaitan dengan konflik kemerdekaan Kosovo. Kosovo sendiri adalah negara pecahan dari Serbia yang berisi etnis Albania dan menyatakan dirinya secara sepihak lepas dari Serbia pada tahun 2008.

 

Provokasi dan Tindakan Pemain Dapat Merugikan Tim

Kasus Demiral ini memberi pelajaran bahwa tindakan yang dilakukan oleh pemain bola, meskipun menurutnya benar, dapat menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri. 

Mungkin kita sering melihat pemain bola yang menutupi mulutnya saat berbincang di lapangan. Ini adalah siasat dari mereka agar apa yang mereka katakan tidak menjadi masalah apalagi dipelintir oleh pihak tertentu.

Sesuatu yang bagi sebagian orang positif seperti ungkapan rasa bangga yang dilakukan Demiral, masih saja memiliki celah untuk disalahkan. Apalagi perbuatan yang jelas-jelas salah seperti yang dilakukan pemain Albania, Miriland Daku, yang menyanyikan ucapan provokatif terhadap orang Makedonia.

Baik hukuman terhadap Demiral maupun Daku, keduanya sama-sama merugikan tim. Sebab, dengan berkurangnya pemain yang dapat bertanding di lapangan, artinya berkurang pula kekuatan tim tersebut.

https://youtu.be/f1cJqT5023A

Sumber: The Guardian, TRT News, Daily Mail, BBC, dan The Washington Post

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru