Mengenang Kejeniusan Ole Gunnar Solskjær Saat Melatih Molde FK

Apes. Begitulah nasib Ole Gunnar Solskjær di akhir masa jabatannya sebagai manajer di Manchester United. Ungkapan “from hero to zero” agaknya pas untuk menggambarkan garis takdirnya saat ini.

Ole Gunnar Solskjær meniti kariernya sebagai pemain bola di klub lokal Clausenengen, sebelum bergabung dengan tim promosi Liga Norwegia, Molde pada musim 1995. Selama 2 musim, Ole yang berposisi sebagai striker berhasil mencetak 41 gol dalam 54 penampilan di semua kompetisi. Performanya bersama Molde itulah yang membuat Sir Alex Ferguson memboyongnya ke Old Trafford dengan mahar 1,5 juta poundsterling.

Nama Ole Gunnar Solskjær kemudian menjadi besar bersama Manchester United. Ole menjelma sebagai penyerang tajam hingga mendapat julukan “The baby-faced Assassin” alias pembunuh berwajah bayi. Ia bersinar di “Thetre of Dreams” dengan catatan 126 gol dalam 366 penampilan dari periode 1996 hingga 2007.

12 trofi, termasuk treble winner di musim 1999 adalah persembahan Ole Gunnar Solskjær selama bermain untuk Manchester United. Sebuah prestasi yang menasbihkan dirinya sebagai legenda Setan Merah.

Tak lama setelah pensiun, Ole meneruskan kariernya sebagai pelatih tim cadangan MU di musim 2008. Ia bertahan hingga 2011 dan mempersembahkan 4 trofi bagi tim cadangan Setan Merah sebelum dipinang oleh mantan klubnya di Liga Norwegia, Molde FK.

Kisah Manis Ole Gunnar Solskjær Bersama Molde FK

Ole menangani Molde mulai musim 2011. Ia menandai kariernya di Liga Norwegia dengan kekalahan memalukan. Molde tumbang 3-0 dari klub promosi, Sarpsborg. Leganda MU itu baru bisa membawa klubnya menang di pekan keempat.

Setelah itu, performa Molde di bawah asuhan Ole Gunnar Solskjær kian membaik. Bahkan sejak pekan ke-14, Molde berhasil memimpin klasemen liga. Puncaknya, 30 Oktober 2011, tepat di pekan ke-28, hasil imbang 2-2 melawan Strømsgodset sudah cukup untuk membuat posisi Molde kokoh di puncak klasemen hingga akhir musim.

Ya, Ole berhasil menjuarai Liga Norwegia di musim pertamanya menangani Molde. Lebih spesial lagi, itu adalah gelar juara liga pertama bagi Molde setelah 100 tahun klub tersebut berdiri. Alhasil, Ole dianugerahi penghargaan Pelatih terbaik Liga Norwegia musim 2011.

Di musim keduanya, lagi-lagi Ole Gunnar Solskjær berhasil membawa Molde memenangkan gelar Liga Norwegia kedua secara beruntun. Molde dibawanya mengumpulkan 62 poin, hasil dari 19 kemenangan dan 5 kali imbang dalam 30 pertandingan. Keberhasilan tersebut lagi-lagi membuatnya memenangkan predikat Pelatih Terbaik Liga Norwegia musim 2012.

Musim 2013 atau musim ketiga Ole menangani Molde jadi masa-masa yang sulit. Ia hanya sanggup membawa Molde meraih 7 poin dalam 11 pertandingan pertama. Namun, perlahan tapi pasti, Ole berhasil membenahi timnya dan mengantar Molde finish di peringkat 6 di akhir musim.

Tak hanya itu, ia juga berhasil membawa Molde meraih trofi Piala Norwegia setelah di partai final mengandaskan Rosenborg dengan skor 4-2. Raihan tersebut jadi trofi Piala Norwegia ketiga buat Molde. Sementara bagi Ole Gunnar Solskjær, prestasi tersebut membuatnya tercatat selalu meraih trofi di 3 musimnya menangani Molde.

Setelah masa-masa bergelimang trofi tersebut, Ole Gunnar Solskjær meninggalkan Molde dan ditunjuk sebagai pelatih baru Cardiff City di musim dingin 2014. Sayang, musim pertamanya di Liga Inggris sebagai pelatih terbilang gagal total. Ole ikut terdegradasi ke divisi Championship sebelum akhirnya dipecat di bulan September 2014.

Setahun berselang, Ole kembali ke Liga Norwegia dan kembali melatih Molde FK. Ia ditunjuk pada 21 Oktober 2015 menggantikan pelatih interim Erling Moe. Di musim tersebut, Ole membawa Molde finish di peringkat 6.

Di musim berikutnya, performa Molde bersama Ole Gunnar Solskjær makin membaik. Mereka berhasil mengakhiri liga di posisi kelima. Sementara di ajang Liga Europa, Ole berhasil mengantar Molde mencapai babak 32 besar Liga Europa. Hasil makin baik dicapai di musim 2017 dan 2018. Di 2 musim tersebut, Ole berhasil mengantar Molde mengakhiri Liga Norwegia sebagai runner-up.

Semasa melatih Molde, Ole Gunnar Solskjær tak hanya mempersembahkan trofi. Ia juga cukup berhasil dalam mengorbitkan beberapa pemain. Martin Linnes dan Ørjan Nyland adalah salah satu pemain yang Ole orbitkan di periode pertamanya melatih Molde. Kebetulan, kedua pemain tersebut sama-sama didatangkan secara gratis dan kini sama-sama menghuni skuad timnas Norwegia.

Ole juga termasuk pelatih yang membantu Mathias Normann bersinar. Diboyong pada musim 2017, Ole meminjam Normann selama 2 tahun dari klub Liga Inggris, Brighton yang sama sekali tak memainkannya. Di bawah asuhan Ole, Normann tampil sebanyak 18 kali dan kini ia menjadi penggawa penting di Norwich City dan timnas Norwegia.

Yang paling berkesan tentu saja Erling Haaland. Ya, bomber haus gol milik Borussia Dortmund itu pernah merasakan bimbingan Ole Gunnar Solskjær di Molde. Haaland bergabung ke Molde di musim 2017 saat usianya baru 16 tahun. Musim pertama Haaland bersama Ole berakhir dengan torehan 4 gol.

Namun di musim 2018 performanya langsung meledak. Haaland jadi top skor klub dengan torehan 16 gol dalam 30 penampilan. Di musim tersebut, tepatnya pada Juli 2018, Haaland juga pernah mencetak 4 gol hanya dalam 21 menit. Peningkatan performa itu tak lepas dari andil besar Ole Gunnar Solskjær.

“Saya ingat ketika Solskjaer memberikan beberapa tips untuk saya ketika saya berada di depan gawang lawan. Saya selalu mengingatnya sampai saat ini karena hal tersebut benar-benar membuat proses mencetak gol menjadi lebih mudah,” ujar Haaland kutip dari Tempo.

Kisah Memilukan Ole Gunnar Gunnar Solskjær: Dulu Dipuja, Kini Dicaci-maki Pendukung MU

Musim 2018 itu juga jadi musim terakhir Ole Gunnar Solskjær melatih Molde. Sebab pada Desember 2018, ia ditunjuk oleh mantan klubnya, Manchester United untuk jadi pelatih caretaker menggantikan posisi Jose Mourinho.

Ole kemudian menandai debutnya sebagai pelatih MU dengan tinta manis. Bertemu mantan klubnya, Ole membawa Setan Merah menang 5-1 atas tuan rumah Cardiff City. Itu adalah kali pertama MU mencetak 5 gol dalam 1 laga setelah terakhir kali merasakannya pada tahun 2013 saat dilatih Sir Alex Ferguson.

Singkat cerita, pada bulan Maret 2019, Ole Gunnar Solskjær diberikan kontrak permanen setelah berhasil memenangkan 14 dari 19 pertandingan pertamanya sebagai pelatih MU. Namun, begitu mendapat kontrak permanen, performa Setan Merah bersama Ole justru terus mengalami pasang surut.

Puncaknya, setelah rentetan hasil buruk yang MU derita musim ini, Ole mendapat surat pemecatan pasca anak asuhnya dipermalukan di kandang tim promosi Watford. Cristiano Ronaldo dan kolega pulang dengan kekalahan 1-4 setelah tampil begitu mengecewakan.

Pemecatan Ole Gunnar Solskjær dari kursi pelatih Setan Merah sebetulnya sudah menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu. Maklum, pendukung MU sudah terlanjur gemas melihat tim kesayangannya kerap tampil buruk di bawah asuhan Ole, baik di kompetisi domestik maupun kompetisi Eropa.

Akan tetapi, di balik pemecatan tersebut, terselip kisah yang memilukan. Dikutip dari SportBible, beberapa pemain dan staff Manchester United dilaporkan menangis usai kalah memalukan dari Watford. Khusus untuk Ole, momen pemecatan dirinya membuka aib pendukung The Red Devils.

Bagaimana tidak, dahulu, nama Ole Gunnar Solskjær begitu dipuja-puja saat dirinya masih berstatus sebagai penggawa Setan Merah. Sayangnya, pujian di masa lalu itu kini telah berubah menjadi caci maki.

Usai pertandingan melawan Watford, Ole Gunnar Solskjær dengan gagah berani menghampiri tribun suporter MU yang datang ke Vicarage Road untuk meminta maaf. Sayang, tindakan berkelasnya tersebut dibalas cacian oleh pendukung MU.

Melihat hal tersebut, Bruno Fernandes memarahi suporter MU dan meminta mereka untuk tidak menyalahkan Ole seorang. Hal tersebut tentu jadi pemandangan yang menyedihkan.

Ole Gunnar Solskjær mungkin telah meninggalkan mantan klubnya dalam kondisi yang memprihatinkan. Selama hampir 3 tahun menangani Manchester United, Ole juga gagal mempersembahkan satu pun trofi. Hasil terbaik yang pernah ia persembahkan hanyalah menjadi runner-up Liga Europa musim lalu.

Meski tak meninggalkan satu pun trofi, Ole yang sejak dulu sudah menjadi legenda Manchester United rasanya tak layak mendapat caci maki, apalagi jika hal memalukan tersebut ia terima dari fans Setan Merah sendiri.

Ingat! Kamu boleh saja membenci Ole sebagai seorang mantan manajer MU, tetapi tetaplah respect dan menyayanginya sebagai seorang pribadi. Bagaimanapun, Ole Gunnar Solskjær juga seorang manusia yang tak luput dari kesalahan.

“Mari terus dukung tim ini, Anda harus tetap bersama mereka. Para penggemar luar biasa dengan saya sejak saya mencetak gol dengan salah satu yang pertama, sampai sekarang. Dan saya yakin kita akan bertemu lagi karena jika ada tempat untuk menonton pertandingan sepak bola, itu di Old Trafford,” ujar Ole Gunnar Solskjær dikutip dari manutd.com.

***
Sumber Referensi: BBC, UEFA, Goal, Goal 2, ManUtd, Tempo, SportBible. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru