Mengawali liga dengan kekalahan meyakinkan atas tim promosi Brentford, sudah pasti bikin fans Arsenal sedikit murung. Sebaliknya, Arsenal yang diperdaya Brentford 2-0, memberi sinyal baik kalau Premier League musim 2021/2022 akan jauh lebih menghibur. Paling tidak, ada Arsenal dan Arteta yang jadi bahan lawakan.
Hal itu benar belaka. Usai dibuat malu Brentford, Arsenal kembali kalah saat menghadapi Chelsea 0-2. Lalu, Arteta kembali meyakinkan fans klub rival bahwa dirinya hanya pantas melatih klub Championship usai Arsenal digilas Manchester City 5-0 di Etihad.
Sungguh malang nasib Arsenal. Liga baru mulai, The Gunners harus menghadapi tim-tim kuat seperti Manchester City, Chelsea, dan Brentford. Namun, tampaknya Mikel Arteta segera sadar kalau dirinya adalah suksesor Arsene Wenger. Salah satu pelatih yang disegani di Inggris. Ia juga sepertinya sadar kalau tim yang ditanganinya itu bertanding di Premier League bukan Championship.
Kebangkitan Arsenal
Akhirnya, Arsenal pun bangkit. Ya, kamu tidak salah dengar. Tim Meriam London membuktikan mereka tidak pantas untuk dihina, dikucilkan, atau bahkan dianggap klub EFL Championship yang nyasar ke Premier League. Setelah diremukkan City, Arsenal bangun dengan mengalahkan Norwich City, klub zona degradasi. Arsenal sendiri waktu itu posisinya juga tidak jauh dari zona degradasi.
Tak disangka, Arsenal meraih kemenangan atas seniornya di papan bawah Premier League, meski hanya 1-0. Kemenangan itupun berlanjut di laga setelahnya. Arsenal menang atas Burnley dengan skor yang sama.
Ujian sesungguhnya kembali menghampiri Arsenal di pertandingan berikutnya. Skuad Arteta mesti menghadapi Tottenham Hotspur. Hasilnya, Arsenal menegaskan bahwa ayam tidak jauh lebih baik dari burung kenari. Meriam London menang telak 3-1 atas The Lilywhites.
Norwich ✅
Burnley ✅
AFC Wimbledon ✅
Tottenham ✅
Brighton 🤝
Crystal Palace 🤝
Aston Villa ✅
Leeds ✅
Leicester ✅
Watford ✅Unbeaten in 10 – let’s keep it going 🙌 pic.twitter.com/j7NI4R00Zm
— Arsenal (@Arsenal) November 7, 2021
Ajaib, kemenangan atas Tottenham tampaknya bikin anak asuh Arteta makin pede. Bahkan setelah pertandingan itu, Aubameyang cs mencatatkan rekor unbeaten. Arsenal tidak pernah kalah di 10 laga. 2 kali meraih imbang saat jumpa Crystal Palace dan Brighton, sedangkan sisanya meraih kemenangan termasuk saat menghadapi Watford.
Namun, rekor unbeaten Arsenal terputus. Arsenal yang sudah lupa caranya untuk kalah, justru diingatkan kembali oleh Liverpool. The Reds membantai Arsenal 4-0 di Anfield. Namun pembantaian tersebut hanya seperti noda kecil saja bagi Arteta. Sebab, Arteta sendiri kadung sukses mengerek posisi Arsenal dari yang mendekati zona degradasi, sampai ke mendekati zona Liga Champions per 30 November 2021.
Arsenal cepat move on dari kekalahan menyakitkan atas Liverpool. Anak didik Arteta kembali tampil klinis saat menghadapi klub kaya baru, Newcastle United. Arsenal menang 2-0 atas The Magpies di Emirates Stadium. Lantas apa sebenarnya rahasia Arsenal bisa mendadak jago? Apakah yang disebut-sebut Arteta soal “proses” itu beneran nyata dan inilah hasilnya?
Pemain Muda Adalah Kunci
Awal musim, Mikel Arteta secara mengejutkan mendatangkan pemain-pemain muda yang harganya terbilang mahal. Aaron Ramsdale, Ben White, dan Nuno Tavares adalah contohnya. Akan tetapi, tiga pemain tersebut plus Takehiro Tomiyasu dan Albert Sambi Lokonga nyatanya tak sanggup berbuat banyak.
Kenyataannya, itu hanya sesaat. Aaron Ramsdale yang dibeli dari Sheffield United seharga 24 juta paun atau Rp 454 miliar membuktikan kalau Arteta tidak salah membeli. Kiper yang punya CV spesialis degradasi itu justru tampil apik di tangan Mikel Arteta.
Arteta menyulap kiper 23 tahun itu menjadi kiper yang begitu trengginas di Premier League. Ramsdale bahkan memiliki persentase penyelamatan terbaik kedua di bawah Edouard Mendy dengan 86%. Ramsdale baru salah satu pemain muda yang moncer di tangan Arteta.
Good morning, Gooners 👋
💛 @AaronRamsdale98 pic.twitter.com/0vbs1Qf2aB
— Arsenal (@Arsenal) November 29, 2021
Masih ada nama lain yang bisa menunjukkan kepada para haters, bahwa Arsenal tidak terlalu butuh pemain berpengalaman. Tapi, cukup dengan pemain muda yang bertalenta, Arsenal bisa mengangkangi Tottenham Hotspur. Ada nama Emile Smith Rowe yang tengah naik daun.
Anak muda 21 tahun itu tampil impresif di beberapa pertandingan terakhir. Berkat determinasinya, Smith Rowe bahkan menjadi man of the match saat Arsenal menaklukkan Aston Villa 3-1. Ia mencetak satu gol dan menyumbang satu assist.
This is an amazing team with these two youngster; Saka and Smith-Rowe. You focus too much on one and the other just bangs in all the goal!! Both on either side of the team but with the intelligence to create overloads on either side! #COYG pic.twitter.com/8aPO3ArQoh
— GravityGooner✨ (@Gravitygunner14) November 27, 2021
Duetnya dengan Bukayo Saka yang juga pemain muda di sektor sayap, membuat orang jadi berpikir “proses” yang dimaksud Arteta benar adanya. Belum lagi, Arsenal masih punya Gabriel Martinelli, pemain muda yang mesinnya baru panas setelah mencetak gol ke gawang Newcastle.
Pemain-pemain muda tersebut, bagaimanapun menjadi kunci permainan Arsenal. Minimal agar Arteta dan Arsenal lupa caranya kalah. Namun itu baru satu baut saja. Yang jelas, kegemilangan Arsenal tersusun bukan hanya dari satu baut itu doang.
Rencana Arteta Jelas
Saat pertama kali Mikel Arteta masuk menggantikan Arsene Wenger tahun 2018, ia berkali-kali bilang percaya pada proses. Tampaknya, sungguh Arteta tengah membangun proses itu. Dalam suatu wawancara di kanal YouTube Arsenal, Arteta selalu memberikan motivasi dan memajang foto Arsene Wenger di tempat latihan Tim Meriam London.
Hal itu dilakukan Arteta demi menjaga kebersamaan para pemain dan mentalitasnya. Selain dari segi non-teknis, Arteta mengajak Nicolas Jover untuk menjadi pelatih set piece atau bola mati skuad The Gunners. Jover sendiri sebelumnya bekerja dengan Pep Guardiola di Manchester City, juga sebagai pelatih bola mati.
Kedatangan Jover terbukti berdampak signifikan. Gol Arsenal di musim lalu dari situasi bola mati hanya 11%. Nah, ketika Jover masuk, 46% gol The Gunners berasal dari situasi bola mati. Dari situlah peran Jover sangat riskan bagi Arsenal.
Nicolas Jover — Working wonders. 👏 #afc pic.twitter.com/t7gvXwOBMj
— afcstuff (@afcstuff) October 30, 2021
“Seseorang (Jover) yang keahliannya bisa sangat berguna dan berharga bagi kami,” kata Arteta seperti dikutip SkySports.
Sampai pertandingan ke-13, Arsenal tampil lumayan. Arteta berhasil mendongkrak timnya hingga ke peringkat kelima untuk sementara. Arsenal memiliki poin sama dengan West Ham di tangga keempat, yaitu 23 poin.
The Gunners juga dapat menjaga asa merebut posisi ketiga dari Liverpool. Terlebih jarak keduanya hanya terpaut 5 poin. Akan tetapi, semua bisa jadi bakal berubah. Entah ke arah yang positif maupun tidak.
Can anyone explain to me as an #Arsenal fan why you didn’t like Mikel Arteta’s show of emotion against Liverpool which got him a yellow card? Klopp started it and Arteta reacted. I loved seeing the passion. 🔴 pic.twitter.com/YJsU3pcZdm
— Arsenal News Channel (@Arsenalnewschan) November 23, 2021
Arsenal mungkin bisa menang atau minimal imbang saat menghadapi tim yang selevel dengan mereka. Namun ketahanan skuad Arteta kerap lemah gemulai ketika berhadapan dengan Big Six. Dari tim yang termasuk Big Six, kecuali Arsenal, sejauh ini yang mampu dikalahkan Meriam London baru Tottenham Hotspur.
Arsenal kalah dari Chelsea, Manchester City, dan terakhir Liverpool. Nah, ujian berikutnya adalah Manchester United. Jika, dan hanya jika Arsenal mampu, mereka bisa mengalahkan Manchester United.
Seumpama dilihat dari performa 5 laga terakhir, peluang Arsenal mengalahkan Manchester United begitu terbuka. Arsenal tampak lebih baik dengan 4 kali menang, sedangkan MU hanya sekali. Ditambah lagi pertandingan tersebut akan digelar di Old Trafford, tempat di mana MU dibantai Liverpool 5-0.
Sumber referensi: marca.com, talksport.com, bbc.co.uk, skysports.com, YouTube Arsenal


