Merayakan Lolosnya Inter Milan ke Babak 16 Besar Liga Champions Setelah 10 Tahun

Inter Milan berhasil meraih poin sempurna ketika berhadapan dengan Shakhtar Donetsk di kompetisi Liga Champions Eropa. Skuad asuhan Simone Inzaghi yang berada di grup D berhasil menang dengan skor 2-0, dan memastikan diri lolos ke babak 16 besar Liga Champions Eropa musim ini.

Raihan ini kian terasa spesial bagi Inter Milan setelah dalam 10 tahun lamanya, mereka gagal menempatkan diri di fase gugur kompetisi liga champions. Kala itu, Inter terakhir kali masuk ke babak 16 besar pada musim 2011-2012 ketika disingkirkan Olympique Marseille.

Perjalanan Inter Milan di kompetisi Eropa memang terbilang baru panas dalam beberapa tahun terakhir saja. Mereka sempat absen dalam waktu yang cukup lama dan baru tampil lagi di kompetisi ini pada musim 2018/19.

Ketika itu, pelatih Luciano Spalletti yang berhasil membawa Inter kembali tampil di kompetisi Eropa. Sayangnya Inter yang duduk di grup B bersama FC Barcelona, Tottenham Hotspurs, dan PSV Eindhoven, gagal melaju ke babak selanjutnya usai hanya mampu bercokol di tangga ketiga klasemen grup.

Kemudian pada musim berikutnya, ketika tim ditangani oleh Antonio Conte, Inter yang kembali tampil di kompetisi tertinggi masih gagal untuk bisa lolos ke babak selanjutnya. Mereka menempati peringkat ketiga dan harus rela terlempar ke kompetisi Liga Europa. Namun meski bermain di kompetisi kelas dua, Inter nyaris membawa pulang piala andai di partai final mereka mampu mengandaskan perlawanan Sevilla. 

Masih bersama Conte, pada musim berikutnya Inter malah mendapati nasib yang lebih buruk. Mereka yang tergabung dengan Real Madrid, Borussia Mönchengladbach, dan Shakhtar Donetsk, hanya bisa meraih sebanyak enam poin dan harus puas duduk di dasar klasemen.

Dua musim Conte di Inter Milan gagal persembahkan sesuatu yang diinginkan di kompetisi Eropa. Conte memang handal dalam menjuarai liga domestik di dua kompetisi yang berbeda, namun dirinya kerap melempem membawa tim yang dibelanya mengarungi kompetisi Liga Champions Eropa.

Statistik menunjukkan kalau Conte cuma menang tiga kali dalam 15 pertandingan terakhirnya di kompetisi tertinggi antarklub Eropa itu bersama Chelsea dan Inter. Tiga kemenangan pun hanya dicatat kala menangani Inter Milan. Sisanya, tim yang dilatih Conte cuma mencatat enam hasil imbang dan enam kali kalah. Secara keseluruhan, rekor Conte di Liga Champions selama jadi pelatih adalah 12 kemenangan, 11 kali imbang, dan 11 kali kalah.

Catatan terbaik Conte sebagai pelatih tim yang tampil di Liga Champions Eropa adalah ketika dia berhasil membawa Juventus melaju hingga babak perempat final pada musim 2012/13. Langkah mereka di musim tersebut pupus usai gagal meladeni perlawanan FC Bayern dengan skor agregat 0-4.

Di musim terakhir Conte, Inter juga dibawanya mencatat sejarah buruk, setelah untuk pertama kalinya finish di dasar klasemen grup Liga Champions Eropa.

Beruntung, sebelum memilih pergi, Conte lebih dulu meninggalkan jejak spektakuler berupa membawa Inter kembali menaiki panggung juara Serie A, setelah dalam 10 tahun lamanya mereka selalu gagal jadi penguasa.

Laju Penuh Harapan Bersama Simone Inzaghi

Kini, di musim 2021/22, Inter menaruh harapan baru di pundak Simone Inzaghi. Sejak kedatangannya, sudah terdapat masalah yang tidak bisa diremehkan. Inter mendapat masalah finansial, yang itu berarti membuat nya tidak bisa seenaknya belanja. Budget minim dan aturan keuangan yang mulai diperketat membuat Inzaghi dipaksa menerima keadaan yang sebenarnya.

Parahnya lagi, eks pelatih Lazio itu harus menerima kenyataan bila dua bintang yang begitu diandalkan sebelumnya, Romelu Lukaku dan Achraf Hakimi, harus pergi demi menyeimbangkan neraca keuangan klub.

Meski penggemar hanya bisa kecewa, semua juga harus menyadari kalau ini adalah saat yang tepat buat move on bersama Inzaghi. Sosok asal Italia itu bukanlah pria sembarangan. Meski kiprahnya sebagai pelatih tak sampai melanglang buana ke penjuru Eropa, apa yang telah ditunjukkan bersama Elang Ibukota cukup membuktikan segalanya.

Dua titel Supercoppa Italia dan satu trofi Coppa Italia, jadi yang dibawanya terbang bersama puluhan ribu penggemar tim Biru Langit.

Di Inter Milan, Inzaghi yang dengan dana pas-pasan, berhasil membawa nama penting semacam Edin Dzeko, Joaquin Correa dan Hakan Calhanoglu.

Tantangan untuk mempertahankan scudetto memang dianggap sebagai kewajiban bagi Inzaghi. Namun hal itu tampak tidak terlalu dikhawatirkan oleh sang pelatih, usai di Inter Milan, dia mendapatkan komposisi pemain yang tentunya lebih lengkap dari yang sebelumnya ketika dia masih tangani klub ibukota.

Soal pendekatan kepada para pemain, nama Inzaghi juga tak bisa disingkirkan begitu saja. Sebelum putuskan pergi ke London, Romelu Lukaku sempat diajaknya mengobrol tentang performanya di turnamen Piala Eropa.

Lebih dari itu, formasi nya 3-5-2 yang identik dengan Antonio Conte juga memberi keuntungan tersendiri. Mayoritas pemain tinggal meneruskan kemistri dengan yang lainnya, sementara pemain yang baru datang juga tampak tak kesulitan untuk beradaptasi.

Dengan skema tersebut, pada musim 2019/20 lalu, Inter dan Lazio jadi tim dengan produktivitas dan pertahanan yang baik.

Dalam lima pertandingan pertamanya bersama Inter Milan, Simone Inzaghi juga mampu membuktikan bahwa dirinya merupakan pengganti yang menjanjikan Antonio Conte. Ketika Conte melakoni 5 laga perdana musim 2020/21 dengan catatan 13 gol, 8 kebobolan, dan meraih 10 poin, Inzaghi mampu catatkan 18 gol, 5 kebobolan, dan meraih 13 poin.

Melalui formasi 3-5-2, dua posisi ujung diisi oleh Lautaro Martinez dan tentunya Edin Dzeko. Sementara lini tengah yang begitu diandalkan menempatkan sosok Marcelo Brozovic, Nicolo Barella, dan rekrutan anyar Hakan Calhanoglu.

Sementara itu, Darmian dan Ivan Perisic dituntut untuk menguasai area sisi lapangan dengan peran wing back.

Meski skema ini sekilas mirip dengan yang ditampilkan Conte, Inter-nya Inzaghi punya perbedaan pada counter movement dimana hal itu membuat skema yang dimainkan lebih dinamis. Edin Dzeko sebagai striker tak jarang mundur ke belakang untuk berperan sebagai pemantul sekaligus pemancing lawan agar meninggalkan areanya. Sementara Barella atau Brozovic yang berposisi sebagai gelandang terkadang bertugas maju ke depan untuk mengisi ruang yang ditinggalkan penyerang.

Melalui cara tersebut, Inter beberapa kali sukses memenangkan laga dengan sangat baik di kompetisi Serie A. Mereka jadi tim dengan jumlah gol terbanyak sejauh ini dan juga jadi tim dengan pertahanan yang tak terlalu mengkhawatirkan.

Penampilan apik di bawah Inzaghi itu pun berhasil diadopsi di kompetisi Liga Champions Eropa. Di matchday pertama melawan Real Madrid, Inter sejatinya bermain bagus. Sayangnya, performa gemilang Thibaut Courtois di bawah mistar dan juga keberuntungan Rodrygo di akhir laga, membuat mereka kecolongan dan harus mau menelan kekalahan.

“Kami jelas tidak pantas kalah dan (Carlo) Ancelotti mengatakan hal yang sama kepada ku,” kata Inzaghi (via The Athletic)

Expected goal di laga melawan Madrid sebanyak 2.0 bahkan lebih baik dari ketika mereka bermain imbang 0-0 melawan Shakhtar (1.3) di matchday kedua.

Barulah di matchday ketiga melawan Sheriff Tiraspol yang sempat mengangkangi Real Madrid, Inter berhasil tampil baik dengan penguasaan yang mencapai 70%. Dengan skema yang sama yaitu 3-5-2, Inter berhasil menciptakan sebanyak 30 tembakan dimana 9 diantaranya mengarah ke gawang.

Nilai expected goal Inter yang mencapai 2.7 berhasil membuahkan sebanyak tiga gol untuk menutup pertandingan dengan skor 3-1 di kandang sendiri.

Berlanjut ke pertandingan keempat dengan lawan yang sama, performa Inter tak berubah. Selama 90 menit lamanya, Inter berhasil menjebol gawang Sheriff sebanyak tiga kali melalui Marcelo Brozovic, Milan Skriniar dan Alexis Sanchez. Secara keseluruhan, Inter sangat mendominasi babak pertama dengan menciptakan 14 peluang, tetapi hanya satu yang tepat sasaran. Sementara itu, Sheriff hanya sekali menciptakan peluang.

Di babak kedua, Inter tak mengendurkan serangan hingga membuat mereka mampu memberondong gawang tim tuan rumah dengan gelontoran tiga gol. Tim lawan hanya mampu membalas satu gol lewat tandukan Adama Traore pada menit ke 90+2.

Lalu di pertandingan penentu belum lama ini, seperti yang sempat disinggung, Inter sukses melibas perlawanan Shakhtar dengan skor 2-0. Di menit ke 61, Edin Dzeko menyambar bola muntah di dekat tepi garis tengah penalti dan mengubah skor menjadi 1-0. Lima menit kemudian, Inter menggandakan keunggulan. Dzeko kembali membobol gawang Shakhtar, kali ini lewat bola sundulan yang menyambut umpan silang Ivan Perisic.

Raihan 10 poin membuat Inter Milan duduk di tangga kedua setelah Real Madrid yang mengoleksi 12 poin.

“Jika kami mencapai babak berikutnya, itu akan menjadi pencapaian yang luar biasa. Itu adalah salah satu hal yang aku bicarakan dengan manajemen ketika menandatangani kontrak (sebagai pelatih),”

“Kami telah memenangkan dua pertandingan kunci tetapi kami harus terus melakukannya sekarang. Kami memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Inzaghi.

Di laga terakhir grup melawan Real Madrid nanti, Inter tentu akan ngotot untuk mendapatkan kemenangan, mengingat posisi pertama bisa menjadi pemulus bagi mereka untuk bisa mendapatkan lawan yang relatif mudah.

Bila itu bisa direalisasikan, maka Inzaghi berpotensi membawa Inter menduduki tempat yang lebih tinggi di kompetisi Liga Champions Eropa.

Sumber referensi: transfermarkt, bola okezone, goal, Ruang Taktik, Fbref, The Flanker, Sport detik, Whoscored

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru