Piala Dunia 2022 memang tengah berlangsung. Ajang kompetisi sepakbola sejagat itu selalu menjadi sorotan. Edisi ini, gagasan untuk menggelar Piala Dunia di Qatar banyak menuai kecaman. Suara-suara sumbang itu masih tetap bermunculan ketika Piala Dunia sudah digelar.
Menggelar Piala Dunia di Qatar disebut-sebut adalah pilihan yang buruk. Banyak yang menilai bahwa Qatar tidak layak untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Lantas, mengapa nada-nada kritik itu tetap bermunculan? Mengapa Qatar disebut tidak pantas jadi tuan rumah Piala Dunia?
Daftar Isi
Nasib Pekerja Migran
Pertama dan yang paling utama adalah dugaan terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) pada persiapan Piala Dunia 2022. Para pekerja migran menjadi korbannya. Beberapa laporan menyebut ada sekitar 6 ribu pekerja migran tewas sejak Qatar memenangkan undian Piala Dunia.
Para korban ini adalah mereka yang bekerja untuk persiapan Piala Dunia di Qatar, termasuk salah satunya dalam proyek pembangunan stadion. Dalam laporan Amnesty Internasional juga menyebutkan bahwa ada pelanggaran HAM dalam proyek Piala Dunia di Qatar.
Boycott Qatar World Cup 2022. #BoycottQatar2022
Many thousands of migrant workers have died at the World Cup construction sites. pic.twitter.com/bAqhnh5CYx— S. Melgar-Foraster (@ShaudinMF) November 19, 2022
Banyak pekerja migran yang tewas berasal dari Asia Selatan, seperti Nepal dan India. Tewasnya para pekerja migran ini disinyalir karena tekanan dan kemarahan internasional. Namun yang paling menyedihkan, di negara Islam seperti Qatar, menerapkan sistem kafala. Sederhananya kafala merupakan sistem perbudakan orang asing.
Sistem kafala ini tidak hanya dipraktikkan di Qatar, tapi juga nyaris di semua negara Timur Tengah. Pekerja migran dipaksa untuk bekerja selama 12 jam. Mereka diberi upah jauh di bawah upah minimum. Tidak hanya itu, para pekerja migran juga bekerja dengan resiko yang tinggi.
Ada banyak versi soal jumlah pekerja migran yang meninggal. Tapi poinnya bukan di situ. Seharusnya tidak ada nyawa yang melayang hanya karena olahraga, termasuk sepakbola. Karena satu nyawa saja sudah terlalu banyak.
Terlalu Sempit
Belum lama ini mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter mengaku menyesal karena memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Salah satu alasannya adalah Qatar bukanlah negara yang luas. Itu benar dan sama sekali tidak keliru. Qatar memang negara yang sempit.
Salah satu Negara Teluk itu hanya memiliki luas 11.571 kilometer persegi. Luas itu bahkan tak sampai seperempat luas Provinsi Papua yang memiliki luas sekitar 81 ribu kilometer persegi. Dengan kata lain, Qatar juga menjadi negara terkecil yang menyelenggarakan Piala Dunia.
Sebagai perbandingan, Rusia yang menggelar Piala Dunia tahun lalu memiliki luas sekitar 17,1 juta kilometer persegi. Sementara Brasil yang menggelar Piala Dunia empat tahun sebelumnya memiliki luas sekitar 8,5 juta kilometer persegi. Afrika Selatan yang posisinya paling selatan di Benua Afrika saja, luasnya 1,22 juta kilometer persegi.
Former FIFA president Sepp Blatter has admitted the decision to award Qatar with the 2022 World Cup was a “mistake”.
Blatter was president of FIFA in 2010 when the 2018 and 2022 World Cup’s were controversially awarded to both Russia and Qatar. pic.twitter.com/aiu3G7A2eY
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) November 8, 2022
Macet
Piala Dunia menjadi pesta sepakbola terbesar di seluruh dunia. Orang-orang dari mancanegara pasti akan datang ke tuan rumah Piala Dunia untuk mendukung negaranya. Mereka bakal memenuhi negara tuan rumah.
Masalahnya, Qatar adalah negara yang sempit, apa mereka mampu menampung para pendatang yang ingin menyaksikan Piala Dunia? Mampu sih, mampu saja. Tapi itu akan menyebabkan kemacetan di sana-sini.
Betul bahwa jarak dari satu stadion ke stadion lain sangat berdekatan. Jarak tempuhnya sekitar satu jam. Para penggemar bisa menggunakan mode transportasi apa pun, termasuk transportasi darat. Itu memungkinkan untuk menonton lebih dari satu pertandingan setiap harinya.
Akan tetapi, konsekuensi yang muncul adalah macet. Para penggemar sudah pasti akan menemui kemacetan parah di negara Teluk tersebut. Kemacetan bukan hanya berimbas pada pendatang dan penggemar, tapi juga warga sekitar yang tidak ada urusannya dengan agenda FIFA.
Infrastruktur yang Sedikit
Qatar adalah negara yang tidak memiliki sejarah sepakbola. Oleh karena itu infrastruktur di negara ini menjadi persoalan yang lain lagi. Negara Teluk itu tidak memiliki banyak infrastruktur untuk menopang gelaran Piala Dunia. Kalaupun ada, jumlahnya sangat minim.
Misalnya stadion. Lihatlah bagaimana Qatar menjadi negara yang jadi tuan rumah Piala Dunia dengan venue paling sedikit, yaitu delapan stadion. Stadion yang dipakai untuk Piala Dunia saja banyak yang dibangun dari nol atau direnovasi total.
Khalifa International Stadium 🏟
The oldest stadium at the 2022 FIFA World Cup is the Khalifa International Stadium. The home of the 3rd place match, five group stage games, and the opening game for this venue is England vs Iran on November 22nd. (Sponsored by @qatarairways) pic.twitter.com/etrs962l9F
— FOX Soccer (@FOXSoccer) November 16, 2022
Ini membuktikan bahwa Qatar sebenarnya tidak memiliki stadion yang punya standar untuk Piala Dunia. Maka untuk membangun itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya Qatar harus mengucurkan dana 220 miliar US Dolar atau sekitar Rp3,4 kuadriliun untuk membangun stadion, hotel, dan infrastruktur lainnya.
Mungkin bagi Qatar uang itu tidak masalah. Tapi ini terlihat seperti pemborosan. Dana yang dihabiskan sangat banyak hanya untuk Piala Dunia yang berlangsung kurang dari sebulan. Padahal tahun 2010, Afrika Selatan saja, hanya membutuhkan 3,5 miliar US Dollar atau sekitar Rp54,9 triliun untuk persiapan Piala Dunia 2010.
Panas
Qatar termasuk negara yang memiliki iklim panas. Bahkan konon kamu bisa memasak telur di atas kap mobil saking panasnya. Suhu di Qatar, pada musim dingin saja bisa mencapai 50 derajat celcius. Sementara para peserta, terutama dari Eropa tidak terbiasa dengan suhu yang panas itu.
Maka yang muncul adalah solusi-solusi ajaib seperti AC di dalam stadion dan rekayasa awan. Turnamen bagaimanapun cukup sulit dimainkan di dalam suhu yang panas. Mantan presiden sepakbola Jerman yang juga anggota Komite Eksekutif FIFA, Theo Zwanziger mengatakan bahwa suhu panas di Qatar juga menyulitkan para anggota medis.
The 8 stadiums at the Qatar World Cup will have gigantic air conditioners that will blast cold air across the stadium and onto the pitch to cool the hot temperatures. Do you guys think this will help the European teams who seem to struggle when the conditions are very hot? pic.twitter.com/SUbkbp6z81
— Frank Khalid (@FrankKhalidUK) November 20, 2022
“Mereka (Qatar) memang membuat stadion ber-AC, tapi bagaimana di luar? Para penggemar yang datang dan bepergian dalam cuaca panas akan mengganggu kesehatan,” kata Theo Zwanziger dikutip Euro Sport.
Piala Dunia pun digeser di musim dingin. Dan hal itu berdampak ke banyak hal, termasuk membuat Piala Dunia akhirnya merecoki kompetisi yang sedang bergulir. Kompetisi terpaksa berhenti sejenak untuk Piala Dunia. Klub-klub pun harus melepas pemainnya untuk membela negaranya masing-masing.
Sayangnya, hal itu juga berdampak pada si pemain. Para pemain beresiko terkena cedera di Piala Dunia. Jika itu terjadi, ini jelas merugikan klub ketika ingin memakai si pemain itu lagi untuk mengarungi kompetisi.
Dugaan Suap
Pemilihan Qatar sebagai tuan rumah juga diselimuti dugaan suap dan korupsi. Pada tahun 2010, Qatar berhasil memenangkan pemungutan suara untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Negara Teluk itu mengalahkan tawaran dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.
Namun, dalam pemungutan suara disinyalir ada patgulipat antar pejabat di dalam FIFA. Ada begitu banyak tuduhan praktik korupsi dalam penawaran yang dilakukan Qatar. Selain itu ada pula kepentingan politik, kesepakatan pemerintah, serta kesepakatan gas antar negara.
The mastermind behind FFP, Michel Platini:
• currently banned from football after being found guilty of ethics violations
• arrested last year in relation 2022 Qatar World Cup corruption probe
• cited in Panama Papers that exposed tax evasion pic.twitter.com/4pUqrVT0GM
— ⚡️🇧🇼 (@Priceless_Silva) February 17, 2020
Tak kurang dari selusin pejabat FIFA kala itu bahkan menerima larangan berorganisasi. Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter bahkan pernah didakwa korupsi. Lalu, mantan pemain Prancis sekaligus mantan Presiden UEFA, Michel Platini ditangkap atas suap terkait Piala Dunia Qatar.
https://youtu.be/s8b5m5osZHs
Sumber: TheDiplomat, EuroSport, Quora, BR, BR2, Reuters, LaTimes, NPR, TheSun


