Koar-Koar Dukung One Love, Jerman Malah Kena Comeback? Ini Kronologinya!

spot_img

Tim Asia membuktikan bahwa mereka tidak bisa diremehkan. Setelah pasukan Elang Hijau sukses bikin Messi CS down, kali ini giliran samurai biru yang menyayat habis pasukan der panzer. Uniknya lagi, kemenangan kedua tim itu sama-sama diraih dengan comeback.

Sayangnya, berita kemenangan Jepang sedikit tertutupi dengan aksi para pemain Jerman yang berpose menutup mulut sebelum pertandingan. Aksi tersebut sebagai bentuk protes kepada FIFA yang melarang tim eropa memakai ban kapten pelangi bertuliskan one love di Piala Dunia 2022.

Arti Kampanye One Love

Kampanye one love sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 2020. Tim yang pertama kali memunculkan kampanye ini adalah tim nasional Belanda. Tujuan utama dari kampanye one love ini adalah untuk menyatakan dukungan kepada komunitas LGBT. Selain itu juga, untuk menentang adanya segala bentuk diskriminasi terhadap semua orang.

Kapten tim nasional Belanda, Virgil Van Dijk mengatakan bahwa pesan yang dibawa dalam kampanye one love ini senada dengan esensi dari bermain sepak bola. Dimana semua orang di atas lapangan memiliki kedudukan yang setara dan ini menurutnya juga harus diterapkan di masyarakat.

“Ini adalah pesan penting yang sesuai dengan permainan sepak bola. Di lapangan semua orang setara dan ini juga harus diterapkan di semua aspek masyarakat. Dengan ban kapten One Love, kami menyampaikan pesan ini”

Kampanye ini ternyata menuai tanggapan positif dari tim nasional Eropa lainnya. Akhirnya Inggris, Belgia, Jerman, Denmark, Swiss, dan Wales bergabung bersama Belanda untuk menyuarakan kampanye one love ini. Pada bulan September 2022, beberapa tim lainnya termasuk Norwegia, Swedia, dan Prancis juga menyatakan akan membawa kampanye ini ke pertandingan-pertandingan mereka. Termasuk Piala Dunia dan ajang UEFA Nations League tahun depan.

Polemik One Love di Qatar

Namun, penggunaan ban kapten one love mulai dipertanyakan di Piala Dunia Qatar. Sebab Qatar adalah negara Islam yang mana tidak mendukung LGBT sebagai bagian dari masyarakat. Meskipun begitu, tim-tim Eropa yang mendukung one love tetap ingin membawa kampanye ini ke Qatar meskipun mereka tahu bahwa ini tentu akan menjadi polemik.

Sebelum Piala Dunia berlangsung, Gareth Southgate mengatakan akan bersikukuh untuk mengenakan ban kapten pelangi ke pemainnya. Manajer the Three Lions itu mengkonfirmasi bahwa kaptennya, Harry Kane akan tetap memakai ban kapten pelangi dan akan mempertahankan kampanye itu selama Piala Dunia berlangsung.

“Kami telah berdiskusi bersama semua orang dan sepakat, bahwa kami rasa kami harus melakukannya. Itulah yang kami perjuangkan sebagai sebuah tim, dan kami telah melakukannya dalam jangka waktu yang lama”

FIFA Melarang

Meskipun begitu, FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia dan organisasi tertinggi sepak bola dunia menegaskan bahwa penggunaan ban kapten one love di Piala Dunia 2022 dilarang. Alasannya adalah FIFA tidak memperbolehkan segala bentuk aksi dan pernyataan politik di atas lapangan.

Selain itu juga, Presiden FIFA mengatakan bahwa elemen dari kampanye one love bukan lah elemen yang dianut oleh semua orang. Terutama Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

“Kami memiliki dan terlibat dalam kampanye di berbagai topik, dimana kampanye tersebut bersifat universal. Kita perlu menemukan topik yang dapat dianut semua orang. Ini adalah elemen penting bagi kami.”

Selain dari FIFA, pengenaan ban kapten pelangi juga ditolak oleh beberapa pemain itu sendiri. Salah satunya adalah kapten tim nasional Prancis, Hugo Lloris. Ia mengatakan bahwa lebih suka tidak mengenakan ban kapten pelangi untuk menghormati negara Qatar sebagai tuan rumah. Ia juga mengaku tidak setuju jika sepak bola dan para pemainnya dibebani dengan isu politik.

Untuk itu, FIFA bertindak tegas dengan mengancam akan memberikan sanksi kepada para tim yang masih ngeyel untuk memakai ban kapten pelangi. FIFA menetapkan, kepada setiap pemain yang mengenakan ban kapten pelangi ketika berlaga akan langsung dikenakan kartu kuning. Desakan dari FIFA itu membuat tim-tim lain terpaksa tidak memakai ban kapten tersebut. Sebagai gantinya mereka mengenakan ban kapten yang bertuliskan “No Discrimination” yang berarti menolak diskriminasi.

Jerman Berpose Tutup Mulut

Tim yang paling mengkritik tindakan FIFA itu adalah Jerman. Sampai-sampai Menteri Dalam Negeri, Nancy Faeser juga ikut bersuara. Ia mengatakan bahwa tindakan dari FIFA adalah sebua ancaman dan itu tidak bisa diterima.

“Ini tidak benar, federasi berada di bawah tekanan. Di zaman sekarang, tidak bisa dipahami FIFA tidak ingin orang-orang mendukung toleransi dan melawan diskriminasi secara terbuka”

Bentuk protes ini kemudian kembali dibawakan di pertandingan perdana Jerman di Piala Dunia 2022, kontra Jepang. Sebelum pertandingan, seluruh starting eleven der panzer berfoto dengan pose menutup mulut. Seolah mengisyaratkan bahwa mereka tidak bisa bersuara di atas lapangan setelah FIFA memberikan ancaman sanksi kepada mereka.

Kai Havertz mengungkapkan bahwa tindakan berpose sambil menutup mulut itu adalah tindakan yang penting untuk dilakukan bagi timnya. Ia mengatakan bahwa penting untuk membantu semampu mereka meskipun FIFA membuatnya menjadi semakin sulit.

“Tentu saja ini penting bagi kami untuk memberikan statement seperti ini. Ini waktu yang tepat untuk menunjukan kepada semua orang, bahwa kami membantu sebisa kami. Tentu FIFA membuatnya jadi semakin sulit tapi kami ingin tetap menunjukkannya”.

Malah Kena Comeback

Tapi mungkin Havertz lupa, kalau hal lain yang lebih penting adalah bermain bola dan menang. Di laga kontra Jepang itu, Jerman malah menelan kekalahan setelah tersayat comeback dari pedang samurai biru. Ini jadi pertama kalinya dalam sejarah Jerman bisa kalah lawan Jepang.

Sebenarnya Jepang bisa unggul lebih dulu, laga baru berjalan tujuh menit tapi samurai biru bisa mencetak gol. Namun, gol dari Daizen Maeda itu malah dianulir offside oleh wasit. Jerman baru bisa bangkit dan menciptakan serangkaian peluang setelah menit ke-20. Der Panzer akhirnya bisa memecah kebuntuan setelah diberikan hadiah penalti oleh wasit. Ilkay Gundogan sukses menjadi eksekutor dan membuat Jerman unggul sementara di babak pertama.

Masuk ke babak kedua, Jepang masih bisa bermain dengan tenang. Hasilnya di menit ke-70, hanya empat menit setelah masuk sebagai pemain pengganti, Ritsu Doan mencetak gol jarak dekat sekaligus menyamakan kedudukan Jepang atas Jerman. Lalu di menit ke-83, Takuma Asano berhasil membuat Neuer memungut bola dari gawangnya sendiri.

Selanjutnya Untuk Jerman dan Jepang

Gol tersebut menjadi gol terakhir di pertandingan itu. Dan jadi mimpi buruk untuk Jerman. Ini juga melanjutkan catatan buruk Jerman di laga pembuka Piala Dunia. Dengan kekalahan ini, mereka resmi kalah di pertandingan pembukaan mereka pada dua Piala Dunia terakhir.

Dari hasil ini, Jerman beruntung masih bisa duduk di posisi ketiga. Setelah di pertandingan lainnya, Spanyol mencatatkan rekor dengan membantai habis Kosta Rika 7 gol tanpa balas. Sementara itu, Jepang masih bisa nyaman duduk di posisi kedua di bawah La Furia Roja.

Selanjutnya, Jerman akan melakukan pertandingan hidup mati melawan Spanyol pada tanggal 28 nanti. Jika kalah dari Spanyol, pintu babak 16 akan semakin mengecil untuk anak asuh Hansi Flick. Sementara Jepang akan melawan Kosta Rika tanggal 27 nanti. Sepertinya Kosta Rika tidak akan menampilkan kejutan seperti di tahun 2014. Jadi, seharusnya Jepang diunggulkan ketika lawan Kosta Rika nanti.

 

Sumber referensi: Time, ESPN, Sky

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru