Masa Depan Cerah ala Pablo Gavi

  • Whatsapp
Masa Depan Cerah ala Pablo Gavi
Masa Depan Cerah ala Pablo Gavi

Baru saja terjadi belum lama ini, Pablo Gavi dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga Spanyol melawan Swedia pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022. Di laga yang berlangsung di Estadio de La Cartuja itu, Spanyol berhasil meraih kemenangan tipis 1-0 melalui gol yang dicetak Alvaro Morata pada menit ke 86.

Meski Alvaro Morata jadi penentu kemenangan La Furia Roja, sorotan justru tertuju pada Pablo Gavi. Dia yang bermain di lini tengah bersama Sergio Busquets dan Carlos Soler mampu tampil gemilang.

Menurut catatan whoscored, Gavi berhasil melepas dua keypass di sepanjang laga. Gavi juga tercatat melakukan lima dribel sukses. Lebih dari itu, dia yang terbilang sibuk di lini tengah telah ciptakan operan sebanyak 74 kali dengan akurasi mencapai 91,9%.

Selain terus membuat lini tengah Spanyol tampil brilian, Gavi juga tak lupa untuk ikut turun membantu pertahanan. Hal ini dibuktikan dengan catatan satu intersep dan dua tekel yang diciptakannya.

Dengan penampilan yang terbilang brilian itu, Gavi mendapat rating sebanyak 7,66 dimana itu jadi yang tertinggi diantara pemain lainnya.

Perjalanan Karir Pablo Gavi

Pablo Gavi yang lahir dengan nama lengkap Pablo Martin Paez Gavira, sudah mulai memainkan si kulit bundar sejak usia muda. Tempat pertamanya untuk menimba ilmu tentang olahraga yang paling disukainya adalah Liara Balompié.

Ketika itu, pelatih pertamanya yang bernama Manuel Batalla langsung melihat ada sesuatu yang istimewa dari sosok Pablo Gavi.

“Dia berbeda dengan anak-anak lain di dalam tim,” kata Batalla kepada Marca. (via The Flanker)

Satu hal yang paling disorot dari sosok Gavi oleh Batalla adalah, sang pemain punya kepercayaan diri yang sangat tinggi. Selain itu, kemampuan Gavi kian berkilau saat kaki kiri dan kaki kanan memiliki kekuatan yang sama baiknya.

Gairah Gavi tentang sepakbola tak pernah pudar. Visi bermainnya benar-benar jauh meninggalkan rekan-rekan setimnya. Maka tak heran bila kemudian klub sekelas FC Barcelona langsung terpikat dengan kemampuannya.

Gavi yang lepas dari akademi Liara Balompié memang lebih dulu menimba ilmu di akademi Real Betis. Namun ketika klub tersebut ingin segera mengikatnya dengan kontrak, Barcelona datang dengan memberi tawaran menggiurkan.

Dengan cepat, Gavi langsung mengatakan bila dia ingin segera bergabung dengan FC Barcelona. La Masia yang memang jadi salah satu akademi terbaik di dunia membuat Gavi terpana. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bila klub sekelas FC Barcelona menginginkan jasanya, meski memang, apa yang ada pada dirinya layak mendapat penghargaan lebih besar.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Gavi tak membutuhkan waktu lama untuk mengesankan orang-orang di Barcelona. Pelatihnya yang bernama Franc Artiga, bahkan tak ragu untuk mengatakan bila Gavi merupakan sosok brilian yang mampu mengubah apa yang akan dia lakukan dalam sepersepuluh detik, dan berimprovisasi.

Dalam diri Gavi, kemenangan menjadi tujuan yang paling utama. Tak peduli siapa lawan yang dihadapi, bahkan seberapa jauh jarak usia lawan dengannya. Kembali lagi, dia hanya ingin tampil sesuai rencana dan memberi kemenangan kepada tim yang dibelanya.

Maka wajar bila kita kerap melihat Gavi tak canggung ketika bermain di level tertinggi bersama penggawa senior lainnya. Melalui Sky Sports, Jamie Redknapp malah sempat bercanda bahwa akta kelahiran Gavi harus diperiksa.

Masuk ke Tim Utama FC Barcelona dan Mendapat Panggilan Luis Enrique

Sudah jadi barang tentu bila ketika ada seorang pemain muda yang kemampuannya jauh lebih menonjol dari pemain lain, langsung mendapat panggilan ke tim utama. Inilah yang dirasakan Gavi. Pada kompetisi La Liga musim 2021/22, Ronald Koeman tak ragu untuk memasukkan namanya ke daftar tim utama.

Meski sebelumnya sempat akrab dengan bangku cadangan, momentum Gavi akhirnya tiba di laga melawan Getafe dalam lanjutan La Liga. Dia masuk pada menit ke 73 untuk gantikan peran Sergi Roberto. Di laga tersebut, Barcelona berhasil memetik kemenangan dengan skor tipis 2-1.

Saat diminta untuk membahas debutnya bersama tim utama FC Barcelona, sulit bagi Gavi untuk menyembunyikan rasa bahagianya. Dia merasa bangga dan seolah tak percaya bahwa mimpi yang selama ini ia rawat mampu jadi kenyataan dalam waktu yang relatif singkat.

“Saat ini, aku menjadi anak paling bahagia di dunia,” kata Gavi kepada Barca TV.

“Sejak aku masih kecil, aku memiliki mimpi untuk melakukan debut La Liga di Camp Nou dan hari ini aku mampu mencapainya. Banyak sekali hal yang aku rasakan. Aku agak gugup. Tapi aku selalu berpikiran untuk memberikan yang terbaik di lapangan,” imbuhnya.

Sudah tampil dalam 10 pertandingan La Liga musim ini, Gavi berhasil catatkan satu assist. Lebih dari itu, perkembangannya yang memang terus meningkat membuatnya jadi pemain yang mulai paham untuk menempatkan diri di atas lapangan. Dia bisa merancang serangan melalui umpan-umpan pendek, dan jadi penghubung sempurna antara lini belakang dan lini depan.

Bahkan, dia tak jarang membantu serangan ketika para penyerang bermain lebih ke dalam. Dengan pergerakan dinamis yang dimainkan, Gavi secara langsung telah memberi banyak opsi umpan buat rekan-rekan setimnya.

Kemampuan-kemampuan itulah yang pada akhirnya turut membuat Luis Enrique tak ragu untuk memasukkannya ke dalam daftar tim utama Spanyol, yang bakal menghadapi Italia di semifinal UEFA Nations League.

Di laga melawan Italia, Gavi yang jadi muka baru langsung bisa mengantar Spanyol mengambil satu tempat di laga final ajang tersebut. Pada usia 17 tahun dan 62 hari, Gavi bahkan menjadi pemain termuda dalam sejarah timnas Spanyol, dengan memecahkan rekor sebelumnya yang dibuat pada 1936 atas nama Angel Zubieta.

Meski awalnya diragukan, Gavi yang berperan di lini tengah bersama Sergio Busquets dan Koke berhasil tampil sangat mengesankan. Selama 83 menit diturunkan, Gavi mampu melakukan 68 sentuhan dengan 89 persen umpan sukses. Lebih lanjut, Gavi melengkapi catatannya dengan empat tekel sukses yang menandai pemain muda ini juga mau melakukan pekerjaan ‘kotor’.

Berlanjut ke laga final melawan Prancis, Gavi kembali tunjukkan performa ciamik meski pada akhirnya Spanyol harus menyerah dengan skor 1-2.

“Dia seperti sedang bermain di taman sekolah atau di taman belakang rumahnya. Ini jelas jadi pertanda bagus bagi kami, ketika kami memiliki pemain dengan kualitas dan kepribadian seperti Gavi,” ucap Luis Enrique. (via goal)

Kini, biarkan waktu yang akan menjawab segala takdir yang melekat dalam diri Gavi. Meski tak mudah untuk menjadi bintang di tim sekelas FC Barcelona dan Spanyol, setidaknya Gavi sudah memiliki bekal sempurna untuk menjadi andalan di masa depan.

Sumber referensi: The Flanker, Goal, Libero, CNN, Bola

Pos terkait