Emile Smith Rowe, Peluru Mematikan Tim Meriam London

  • Whatsapp
Emile Smith Rowe, Peluru Mematikan Tim Meriam London
Emile Smith Rowe, Peluru Mematikan Tim Meriam London

Kegemilangan Arsenal di kancah sepakbola Inggris masih terus berlanjut. Mereka yang sebelumnya jadi bahan tertawaan, kini bisa melihat kebawah setelah para pembenci yang sering melempar hujatan harus mendapati bahwa tim kesayangan mereka berada dalam kubang kesengsaraan.

Arsenal, yang kini sudah melakoni sebanyak 11 laga Liga Primer Inggris resmi duduk di tangga kelima dengan raihan 20 poin. Lebih dari itu, mereka yang kalah dalam tiga pertandingan pertama, kini hanya berjarak enam poin saja dari sang pemuncak liga.

Performa Arsenal menunjukkan bahwa pelatih Mikel Arteta mulai mendapatkan formula terbaik untuk diterapkan. Selain itu, kepercayaan kepada pemain tertentu juga menjadi alasan, mengapa Arsenal kini bisa terbang mengudara tanpa kekalahan dalam 10 pertandingan liga.

Melihat tajamnya meriam yang digunakan Arsenal, terdapat satu peluru mematikan yang membuat tim kian tak terhentikan.

Adalah Emile Smith Rowe, pemuda berkualitas yang kini resmi berstatus sebagai pemain andalan Arsenal.

Kisah Perjalanan Karir Emile Smith Rowe

Emile Smith Rowe yang kini jadi pemain yang terus tampil di tim utama telah menunjukkan sesuatu yang istimewa untuk membuat Arteta terkesan. Namun begitu, tidak mudah baginya untuk bisa menjadi peluru yang terus dipakai Arsenal dalam setiap pertempuran.

Emile Smith Rowe memang menjadi pemain jebolan akademi Arsenal. Namun dia pernah mengalami penolakan ketika melakoni pelatihan di tim rival. Sebelum resmi menjadi pemain akademi Arsenal di usia 10 tahun, dia pernah menjajal akademi Chelsea. Namun sayangnya, klub tersebut menolak dengan alasan bahwa Smith Rowe memiliki tubuh yang terlalu kecil.

Penolakan tersebut disaksikan langsung oleh pemain yang kini membela Chelsea, Reece James.

“Aku tahu betul Smith Rowe adalah pemain top. Sejatinya, dia datang ke Chelsea ketika dia masih cukup muda, dalam sebuah uji coba. Aku ingat bermain dengannya dan bermain melawannya,”

“Bahkan ketika dia pindah ke Arsenal, aku selalu tahu dia adalah pemain top dan aku pikir musim ini dia menunjukkan betapa bagusnya dia,” jelas James.

Beruntung, di tengah penolakan yang diterima, Arsenal justru melihat ada sesuatu yang berbeda dalam diri Smith Rowe. Namun meski sudah resmi menjadi bagian dari akademi Arsenal, Smith Rowe masih harus menjalani masa yang membuatnya dipaksa bekerja keras.

Pelatihnya di tim muda dulu, Andries Jonker, menyebut bila Smith Rowe tidak pernah menunjukkan sesuatu yang lebih dalam bermain bola, meski memang Andries Jonker mengakui bila Smith Rowe memiliki semangat juang tinggi dan selalu disiplin dalam berbagai hal.

Menurut pria asal Belanda itu, Smith Rowe digambarkan sebagai sosok pendiam, berdedikasi, selalu ada, selalu hadir dalam pertemuan, namun sekali lagi, dia tidak istimewa. Smith Rowe dianggapnya selalu berhasil tampil baik dan tidak pernah bermain buruk. Akan tetapi satu hal itu tadi, dia tidak pernah menonjol dari pemain lain.

Satu yang jadi kelebihannya adalah kerja keras yang ditunjukkan.

Kerja keras Smith Rowe sempat akan diuji di klub RB Leipzig. Sayangnya, baru bermain dalam tiga laga sepanjang musim, dia sudah keburu dipulangkan ke Inggris. Bukan ke Arsenal, namun ke klub Championship, Huddersfield, pada Januari 2020.

Di tim tersebut, Smith Rowe malah menemukan apa itu arti dari kerja kerasnya selama ini. Bersama pelatih Danny Cowley, Smith Rowe berhasil menunjukkan kualitas mumpuni sebagai seorang pemain muda masa depan. Dia mendapat lebih dari 1000 menit bermain dalam 19 laga dan mampu menyumbang 3 gol serta 2 assist guna menghindarkan klub dari jerat degradasi.

Berbeda dengan ucapan Andries Jonker, Danny Cowley justru menilai bila Smith Rowe merupakan pemain fantastis. Dia melihat itu dari cara berlarinya, hingga pergerakan tanpa bola yang diperlihatkan. Satu skil yang menonjol lainnya dari sosok Smith Rowe adalah, dia dianggap sebagai pemain yang brilian dalam menemukan ruang ketika dihadapkan dalam situasi satu lawan satu dengan pemain lawan.

Dengan penampilan yang ditunjukkan di Huddersfield, Smith Rowe lalu dipulangkan ke Arsenal hingga mendapat kesempatan tampil di tim utama. Di tengah keterpurukan Arsenal di musim 2020/21 silam, Arteta melakukan perjudian dengan memilih untuk mencadangkan nama Aubameyang hingga Willian, dan memutuskan untuk memainkan para pemuda seperti Gabriel Martinelli, Smith Rowe, hingga Bukayo Saka, untuk dimainkan di laga melawan Chelsea pada akhir Desember 2020.

Hasilnya, Arsenal sukses meraih hasil positif dengan menang 3-0, dimana Smith Rowe sukses bukukan satu assist pada laga itu.

Kecerdasan Smith Rowe pada laga itu dipuji Arteta. Sang pelatih asal Spanyol menyebut kalau pemain mudanya tampil sangat brilian. Dia cermat dalam memberi umpan, serta pandai menemukan ruang hingga membuat rekan setimnya tak kekurangan opsi umpan. Hal itu dianggap satu hal menonjol dari apiknya permainan Smith Rowe.

Kualitasnya sebagai pemain jempolan juga kian terbukti ketika Arsenal mendatangkan Odegaard, namanya tetap tak tersingkirkan. Arteta yang berhasil meramu tim mampu menemukan cara untuk bisa memainkan keduanya, yaitu menempatkan Smith Rowe di posisi winger kiri.

Melalui pergerakannya yang fleksibel, Smith Rowe yang tampil di posisi winger kiri tetap mendapat kebebasan untuk bergerak, atau masuk ke tengah untuk berkolaborasi dengan Odegaard.

Dengan keberadaan Smith Rowe yang juga kian memudahkan pergerakan Kieran Tierney, lantas membuat Arsenal memiliki titik serang di wilayah tersebut. Hal itu bisa dilihat dari catatan 40% serangan The Gunners yang dimulai dari situ.

Tampil selama 1.449 menit dalam 20 pertandingan bersama Arsenal, Smith Rowe berhasil mencetak 2 gol dan catatkan empat assist di musim lalu.

Smith Rowe seolah menunjukkan bahwa dia telah berhasil menjadi penawar ketika tim sedang kekurangan gairah.

Kegemilangan Berlanjut di Musim 2021/22

Pada musim ini sendiri, kiprah Smith Rowe sebagai pemain inti Arsenal masih terus berlanjut. Dalam peta heatmap yang ditunjukkan situs Sofascore, Smith Rowe yang mayoritas pergerakannya berada di sisi kiri, mampu tunjukkan statistik yang tak kalah hebat.

Bermain dalam seluruh pertandingan yang dijalani Arsenal, dirinya mampu catatkan empat gol dan dua assist. Selain itu, Sky Sports juga mencatatkan kalau tembakan yang dilancarkan mengalami peningkatan, dari 0,81 per laga musim lalu menjadi 1,61 per laga pada musim ini. Lebih lanjut, sebanyak 0,37 tembakan yang mengenai sasaran pada musim lalu juga mengalami peningkatan menjadi 1,01 shot per laga pada musim 2021/22.

Pergerakan yang dilakukan Emile Smith Rowe kian tampak mematikan, usai dia telah berhasil melakukan 2,93 sentuhan per 90 menit di kotak penalti lawan dan menciptakan 2,12 dribble sukses dalam rata-rata satu pertandingan lamanya.

Smith Rowe mampu memberikan dimensi berbeda dalam permainan Arsenal. Dia begitu cermat dalam memberi umpan ke area lawan, dimana hal tersebut dibuktikan dengan statistik yang mencatat bila persentase umpan di sepertiga akhir nya mengalami peningkatan dari 83,6 persen menjadi 88,7 persen.

Selain itu, meski Smith Rowe disebut mengambil banyak resiko dengan memberi umpan langsung ke depan, dia tetap mampu catatkan persentase umpan sukses sebanyak 90,2 persen. Catatan itu jadi yang tertinggi dari pemain Arsenal lainnya dan sekaligus menjadi bukti dari efisiensinya dalam membangun serangan.

Menyusul performa apiknya bersama The Gunners musim ini, pelatih timnas Inggris Gareth Southgate tak ragu untuk memberinya panggilan ke tim tiga singa guna melakoni laga kualifikasi Piala Dunia, meski sebelumnya dia sempat dimasukkan ke timnas U-21 Inggris.

“Awalnya aku bersiap untuk pergi ke tim U-21. namun satu hari sebelumnya aku mendapatkan telpon dari Gareth [Southgate] dan ia mengabarkan kalau aku dipanggil ke tim utama,”

“Ini benar-benar mimpi jadi nyata! Ini adalah momen yang luar biasa bagiku dan juga keluargaku,” ujarnya.

Sumber referensi: The Flanker. Transfermarkt, Sky Sport 1, Sky Sport 2

Pos terkait