Liga Spanyol Butuh Regenerasi Wajah Baru Jika Tak Ingin Membosankan Seperti Liga Tetangga

  • Whatsapp

Come and go, begitulah kehidupan, datang dan pergi merupakan bagian dari siklus yang tak bisa dihindari. Pun di dunia sepak bola, tidak ada yang abadi satu generasi akan berjalan selamanya, wajah baru pasti akan selalu dibutuhkan, sehebat apapun generasi terdahulu.

La Liga Spanyol sudah lebih dari sedekade ini menguasai jalannya kompetisi di Eropa, jika kita menilik kembali ke belakang, faktor utama mengapa jalannya kompetisi sepak bola Spanyol terlihat menarik adalah karena ada duel antar pemain terbaik di planet ini, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Nama terakhir sudah memutuskan hengkang sejak bertahun-tahun yang lalu, dan nama pertama juga kemungkinan dalam waktu dekat akan menyusul kepergian sang kompetitor dari Negeri Matador.

Bacaan Lainnya

Keolengan yang disebabkan oleh kurangnya regenerasi bisa kita lihat dari beberapa laga besar yang tidak seseru jaman dahulu kala. Jaman dimana alien dan robot masih saling bersikutan untuk menunjukkan siapa yang terbaik. El Clasico, duel tertinggi sepanjang sejarah sepak bola Spanyol, yang selalu dinantikan oleh seluruh penggemar sepak bola di dunia. Kini El Clasico terlihat hanyalah sebuah laga biasa yang ada di lanjutan pekan Liga Spanyol.

Masih pada ingat kan bagaimana serunya puncak El Clasico kala masih dilatih Jose Mourinho dan Pep Guardiola? Yang sama-sama mengandalkan pemain terbaik dunia mereka? Apakah saat ini kita melihat vibes yang sama di El Clasico? Tentu saja tidak. Apakah perlu empat nama tersebut untuk mengembalikan keseruan di El Clasico? Tidak juga. Hanya perlu regenerasi, ya regenerasi wajah-wajah baru untuk meneruskan pertandingan sakral di LaLiga ini.

Mourinho dan Pep sudah lama pergi dari Spanyol dan sedang menikmati nasib mereka, Ronaldo sudah pergi ke Italia mencari pengalaman baru, Messi sebentar lagi juga akan menyusul ikut keluar. Tidak ada yang salah dengan keputusan mereka berempat, karena jika manajemen di Liga Spanyol hanya bisa menyalahkan keadaan, tidak akan pernah ada kemajuan. Disaat liga lain sudah mulai serius memperbaiki sepak bola mereka dengan hadirnya bintang baru, sebut saja Bundesliga dengan Erling Haaland, dan Ligue 1 dengan Kylian Mbappe. Liga Inggris? Oh jelas, ada Jesse Lingard.

Daripada saling menyalahkan si ini dan si itu yang pergi silih berganti, kenapa tidak mencari terobosan dan ide baru untuk kembali membranding Liga Spanyol supaya lebih banyak diminati. Ada beberapa alasan mengapa perlu ada langkah baru menyiasati masalah ini, dimana regenerasi menjadi solusinya.

 

1. Mengembalikan Identitas dan Rivalitas

Sudah tak dipungkiri jika setiap liga pasti ada satu momen pertandingan yang amat dinantikan, seperti Derby Milan di Serie-A, Northwest Derby di Premier League, dan El Clasico di La Liga. Dimana derby derby tersebut adalah puncak dari terselenggaranya liga, laga panas yang sarat akan makna di dalamnya.

Tapi bagaimana kabarnya sekarang? El Clasico yang sekarang sangat kontras dengan El Clasico tempo dulu dimana akan selalu ada drama keributan di dalamnya, terselenggaranya pun selalu memancing penggemar tidak hanya dari kedua klub tersebut, tapi nyaris seluruh penggemar sepak bola ikut meramaikannya menjadi tim hore saat El Clasico tiba.

Sejak Ronaldo pergi, bahkan pernah tersaji laga El Clasico dengan skor kacamata, berbeda dari sebelum-sebelumnya yang seringkali banjir gol. Saat masih dilatih Jose Mourinho, hampir pasti setiap pertemuan Real Madrid dengan Barcelona tak lepas dari insiden kartu merah, menandakan duel yang benar-benar serius. Agak mengherankan jadinya jika laga terpanas kompetisi liga berakhir dengan skor 0-0, meskipun permainan terbilang cukup impresif.

El Clasico terakhir yang baru saja selesai beberapa minggu lalu masih belum bisa disetarakan dengan laga yang dulu, namun sudah ada sedikit kemajuan. Entah ini akan menjadi El Clasico terakhir Messi?! Who’s know. Yang pasti kemajuan tersebut terbilang cukup membuat laga berjalan sedikit lebih seru, yang menjadi pembeda adalah dramanya bukan lagi diatas lapangan, tapi diatas media. Tuding menuding terkait siapa yang dibantu wasit.

Drama tersebut berawal dari lord kebanggaan saingan Jesse Lingard, yaitu Martin Braithwaite yang dijatuhkan di kotak pinalti tapi wasit menilai itu bukan pelanggaran jadi nggak ada tuh hadiah gosok voucher. Hadeh, ini mah si Braithwaite aja yang kurang jago skill menjatuhkan diri, coba tanya ke Bruno Fernandes bagaimana cara mendapatkan voucher dengan mulus, dijamin sukses.

Kontroversi wasit tidak hanya pada insiden jatuhnya Martin Braithwaite, tapi juga tambahan waktu yang dinilai kurang panjang. Perlu diketahui, bahwa di laga tersebut total ada 9 kali pergantian pemain, tapi di akhir waktu normal, wasit memberikan tambahan waktu hanya 4 menit. Karena hal-hal semacam itulah Real Madrid dituduh mendapat bantuan dari wasit. Kalo dibantu mah ya udah pasti semua tim dibantu lah Hyung, kalo nggak dibantu wasit nggak bakal jalan itu pertandingan bola.

Laga udah kelar juga ini si Gerard Pique malah berulah lagi ngulangin kesalahannya yang dulu, tapi kali ini misuh-misuhnya nggak di depan wartawan, melainkan langsung di depan si wasit. Buset nih orang kerad juga. Pique tertangkap kamera sedang marah marah ke wasit yang memimpin El Clasico saat itu, yaitu Gil Manzano. Auto rame kan tuh digoreng media tingkahnya si Pique itu.

Sebenarnya Barcelona nggak akan protes sevokal itu terkait segala keputusan yang dibuat wasit, iya nggak bakal protes kalo tim mereka menang. Itu karena mereka kalah aja jadi nyalahin wasit, coba kalo menang macam comeback 6-1 lawan PSG dulu, ayem tentram deh pasti. Tapi ya sudahlah, drama seperti itu juga bagian dari bumbu yang selalu meramaikan sepak bola, kita nikmati saja sambil sesekali ngetawain.

 

2. Mengembalikan Tensi Pelatih

Selain dari segi permainan di atas lapangan, drama yang datang dari barisan pelatih juga menjadi pusat perhatian yang asik untuk diikuti. Liga Spanyol pernah mempunyai Jose Mourinho dan Pep Guardiola yang saling adu gengsi tiap kali bertemu. Mourinho yang suka memancing keributan memang menjadi daya tarik tersendiri mengapa Liga Spanyol tempo dulu sangat menyenangkan untuk diikuti.

Saat ini pelatih klub papan atas di Spanyol terbilang cukup kalem dan jarang saling melontarkan psy war atau sindiran sebelum dan sesudah laga. Kalaupun pernah, tetap akan rasanya berbeda dari rivalitas Mou dan Pep. Zidane yang super santai, Diego Simeone yang pecicilannya cuma di lapangan doang, dan Ronald Koeman yang pasrah pasrah aja, agaknya perlu dikasih sedikit gebrakan untuk kembali mengembalikan keramaian di La Liga.

Alih-alih pelatih yang bikin rame, justru presiden klub yang suka dengan sukarela menjadikan dirinya pusat perhatian media di seluruh dunia. Jika beberapa bulan lalu ada mantan presiden Barcelona, yaitu Josep Maria Bartomeu dengan skandal Barcagate. Nah, sekarang yang lagi rame ada Florentino Perez, presiden kesayangan rakyat ibukota yang dengan super pedenya mau mendirikan Europa Super League, dimana kompetisi tersebut langsung memecah penggemar menjadi dua kubu, dengan kubu pro karena melihat kebobrokan UEFA, dan ada pula kubu kontra karena tidak mau kehilangan sejarah klub yang sudah lama mengakar. Pokoknya kalau itu presiden di klub La Liga nggak bikin ulah, udah bisa dipastikan jalannya kompetisi hambar macem masakan kurang micin. Massive thank you, Bartemou and Perez.

 

3. Penyegaran Komposisi Skuad

Tak dipungkiri jika pertarungan Ronaldo dan Messi tidak hanya menarik perhatian penggemar Liga Spanyol, tapi seluruh penggemar sepak bola di dunia. Nggak peduli klean fans Liverpool, MU, Juventus, Milan, atau bahkan Arsenal, pasti punya opini sendiri membandingkan siapa yang terbaik diantara dua pemain itu. Yang ujung-ujungnya pasti debat yang tak berkesudahan. Tapi justru hal itulah yang menjadikan La Liga terasa seru.

Tak usah munafik lah ya, karena faktanya sejak ditinggalkan oleh Ronaldo, feel kompetisi di Liga Spanyol terasa berbeda, entah kalian mau mengakui atau tidak tapi itu memang nyata adanya. Soalnya yang apple to apple untuk dibandingkan ya cuma Ronaldo Messi, kan aneh rasanya kalo kita membandingkan Vinicius sama Braithwaite, masih lebih cakep perbandingan Lingard sama Werner dong.

Sehebat apapun rivalitas yang pernah disuguhkan oleh Ronaldo dan Messi, namun namanya dunia sepak bola tentu tidak ada yang abadi, pemain akan datang dan pergi. Begitupun dengan Ronaldo dan Messi, sudah waktunya bibit baru menggantikan rivalitas mereka di lapangan. Pekerjaan rumah yang cukup berat memang untuk menggantikan peran alien dan robot, namun mau tidak mau petinggi La Liga memang sudah seharusnya mencari pengganti mereka supaya pamor dan branding kompetisi tetap berjalan baik, apalagi Messi sudah hampir pasti akan meninggalkan Barcelona akhir musim nanti. Coba Real Madrid boleh datangkan Jesse Lingard untuk melanjutkan rivalitas sengit, kan seru tuh Lingard vs Braithwaite.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *