Jose Mourinho: The Sacked One

  • Whatsapp
Jose Mourinho The Sacked One
Jose Mourinho The Sacked One

Senin pagi waktu setempat, ditengah situasi yang sedang ricuh karena mencuatnya wacana jika 6 klub Premier League menyetujui untuk bergabung dengan European Super League, Jose Mourinho membuat kegaduhan baru dengan dirinya yang dipecat dari kursi manajerial Tottenham Hotspur. Mou harus mengakhiri perjalanan di London pada bulan ke-17, sedikit lebih cepat dari durasi kontraknya yang tercatat sampai 3,5 tahun. Hal semacam ini seharusnya tidak perlu untuk kita kagetkan, karena seperti biasa kita sudah bisa menerka bagaimana ending seorang Jose Mourinho kala melatih sebuah klub. Konflik dan pemecatan adalah teman setia yang selalu mengiringi langkahnya.

Tottenham adalah klub tersingkat yang pernah merasakan racikan taktik parkir busnya, dengan hanya mengumpulkan 86 laga. Jauh berbeda dengan klub-klub sebelumnya yang angkanya selalu diatas 100 laga. Bersama Manchester United 144 laga, Chelsea 321 laga dari total dua periode, Real Madrid 178 laga, Inter Milan 108 laga, dan Porto 127 laga. Sedikitnya jumlah laga yang dinaungi Mourinho bersama Tottenham seolah menjadi bukti nyata jika sepak bola masa kini sudah semakin sulit untuk menerima proses pembangunan yang memakan waktu lama. Jika satu tahun lebih seorang pelatih belum memberikan dampak nyata kepada tim, pintu keluar sudah dibuka lebar.

Bacaan Lainnya

Isu mengenai akhir karir Mourinho di Tottenham sejatinya sudah terkode sejak dua minggu yang lalu dari pernyataan Daniel Levy selaku pimpinan Tottenham Hotspur, tepatnya setelah Tottenham ditahan imbang Newcastle United dengan skor 2-2. Saat itu Daniel Levy mengeluarkan pernyataan jika dirinya kecewa dengan hasil yang ditorehkan timnya.

“Ini bukan poin yang bagus. Harusnya kita tuh bisa menang, gue nggak bahagia samasekali dengan hasil ini. Gue disini nggak mau ngasih analisa yang lebih mendalam terkait permainan, intinya gue cuma pengen ngungkapin aja apa yang gue rasain, apa yang gue pikirin, ya meskipun nggak semuanya bisa gue sharing ke kalian (media), karena menurut gue ada hal yang sedikit privasi dan tetep gue keep buat di ruang ganti aja.”

Hal yang dibahas hanya di ruang ganti itulah yang disinyalir menjadi kode bahwa manajemen Tottenham sudah jengah dengan rentetan hasil negatif The Lilywhite. Karena tidak dipungkiri jika pribadi Mourinho yang cukup arogan juga amat kontras dengan pelatih terdahulu mereka yang sangat kalem, Mauricio Pochettino. Kalau lah kita mau menganalisa lebih dalam, keputusan Tottenham ini tidak salah juga karena mereka punya beberapa alasan konkret mengapa Mourinho memang seharusnya dipecat.

Permainan Mourinho Yang Gak Berkembang

Hal pertama yang menjadi alasan adalah dari segi permainan, Mourinho sangat idealis dengan gaya mainnya dan sepertinya sulit untuk dia hilangkan. Taktik parkir bus yang mengantarkannya sukses di Portugal dan Italia, atau di Inggris pada periode awal, sudah amat usang untuk bisa bersaing di era sepak bola masa kini. Bahkan kalau saya boleh bilang, strategi teka-teki Ole yang super absurd sepertinya lebih menarik daripada permainan bertahan Mourinho. Tottenham bisa mempertahankan Pochettino dalam kurun waktu yang cukup lama tak lain adalah ya karena permainan yang disuguhkan dia masih lebih baik, meskipun sama-sama nihil dari segi gelar.

Sepak bola terus berevolusi, setiap pelatih memang sudah seharusnya ikut menyesuaikan jika ingin bersaing. Tiki-taka yang dulu kita kira mustahil dipecahkan, nyatanya tumbang juga dengan gegen pressing, taktik Klopp yang gila-gilaan juga sudah tumbang bahkan di periode yang cukup singkat. Apalagi parkir bus yang sudah lama sekali menjauhi periode kejayaannya, akan lebih baik untuk Mourinho menurunkan sedikit idealismenya di parkir bus, untuk memodifikasi supaya bisa mengembalikan catatan baiknya di dunia sepak bola.

Segi permainan juga pernah menjadi bumerang bagi Mourinho sendiri kala masih melatih Manchester United, perbedaan filosofi klub menjadi dasar kuat Setan Merah berani mendepak Mourinho dari Old Trafford. Realistis aja sih bro, siapa juga yang tahan liat tim main ngantukin begitu, apalagi fans di benua Asia yang rela begadang tengah malam masa disuguhi pemandangan tim yang bermain membosankan.

Seharusnya dari situ Mourinho lebih sadar untuk mengubah gaya mainnya. Pemecatan Mourinho di Tottenham juga seakan menunjukkan jika dia masih mempertahankan gaya mainnya, maka karirnya di Inggris sudah tamat saat itu juga. Legenda Liverpool, yaitu James Carragher yang saat ini berprofesi sebagai pundit di Sky Sports mengungkapkan jika Mourinho seharusnya mencari tempat lain untuk melatih.

“Kalo kalian nanya ke gue apa mungkin abis dipecat dari Tottenham Mourinho bakal nglatih tim medioker, jawaban gue nggak. Mourinho bisa balik ke Serie-A, ya kalo disono mungkin aja dia bisa sukses dengan gaya mainnya.”

Jose Mourinho Bersikap Arogan

Permasalahan yang kedua adalah sikapnya yang dinilai sombong. Kalo hal mendasar seperti ini sebenarnya sulit untuk diubah, karena sifat dasar seseorang menang sejatinya tidak bisa diubah. Mourinho mempunyai pribadi yang arogan, apalagi untuk tim polos nan lugu seperti Tottenham Hotspur. Hal ini terlihat saat Mou ditanya mengapa dirinya tidak bisa sesukses saat di Chelsea, Inter Milan, dan Porto, dengan entengnya Mou menjawab, “Same coach, different players.” Terdengar agak menyindir memang dan hal seperti itu memang sudah biasa terjadi di industri sepak bola modern yang penuh kontroversi dan menunjukkan jika Mou just being Mou, sisi arogansi dia tidak bisa diubah.

Sifat arogan yang seperti itu tidak mencerminkan pribadi klub yang dia latih, dimana Tottenham jarang sekali membuat skandal dan kontroversi yang disorot perhatian publik.

Jose Mourinho di sisi malaikatnya memiliki sifat yang sangat keras dan bisa memotivasi timnya untuk bertarung sampai titik penghabisan, mentor yang sangat baik untuk menyalurkan semangat dan mental juara para pemainnya. Jaga jaga jika kalian lupa, Luka Modric bisa sehebat itu tak lain karena didikan Mourinho, dan yang terbaru ada Scott McTominay yang selalu bermain spartan juga karena dirinya pernah menjadi anak kesayangan Mourinho.

Meski bagaimanapun sifat arogan yang dimiliki Mourinho tidak bisa dibenarkan, karena jika sudah masuk ke dalam lingkup klub, semua memiliki tujuan yang sama untuk meraih hasil yang tinggi, semua bersama menjadi satu keluarga. Jika nantinya seorang pelatih mengalami kendala sulit, kalau attitude dia baik pasti akan mendapatkan dukungan. Ole Gunnar Solskjaer sudah dua tahun lebih di United tanpa mempersembahkan trofi apa-apa nyatanya tetap dipertahankan, kalau kemungkinan terburuknya tidak dipertahankan, paling tidak hubungan dengan klub tetap baik-baik saja seperti Frank Lampard dengan Chelsea.

Target Transfer Pemain Yang Gak Dituruti Manajemen

Alasan selanjutnya dibalik rentetan pemecatan Mourinho adalah target transfer yang jarang dipenuhi oleh manajemen. Biasanya hal semacam ini terjadi di tahun ketiga usai Mou mengantarkan timnya di posisi terbaiknya. Sayangnya di Tottenham dia samasekali belum menginjakkan kaki di musim ketiga. Mana sempat, keburu dipecat. Dua klub sebelumnya yang memecat Jose Mourinho mempunyai latar belakang yang sama, yaitu transfer pemain.

Saat masih di Chelsea drama transfer pemain juga pernah menghampiri Mourinho dan menjadi salah satu penyebab terdepak dirinya di Stamford Bridge. Kegagalan mendatangkan John Stones yang pada saat itu masih di Everton, sang pemain dinilai oleh Mourinho bisa menjadi suksesor dari seniornya, yaitu John Terry. Puncaknya saat Chelsea harus bertekuk lutut dengan kekalahan 3-1 dari Everton. Situasi yang sering terjadi pada Mou jika target transfernya tidak dituruti.

Di sisi lain juga ada penyebab yang menjadikan posisi Mourinho makin pelik kala itu. Radamel Falcao, striker yang sangat diharapkan menjadi ujung tombak Chelsea bermain tidak sesuai ekspektasi, dirinya flop saat hijrah ke Inggris. Kepergian sosok pemimpin seperti Didier Drogba juga menambah sulit situasi, karena dia yang biasanya mampu menjadi pembimbing bagi pemain muda supaya mempunyai daya juang dan rasa hormat pada pelatih.

Di United pun sama adanya, selain karena filosofi yang berbeda, drama transfer pemain juga mengiringi pemecatan Jose Mourinho. Perlu diketahui jika Mourinho sudah sangat ngebet untuk mendatangkan Alvaro Morata, namun karena beberapa hal dan dendam masa lalu Florentino Perez, transfer tersebut gagal direalisasikan, United malah membeli Romelu Lukaku yang sejak awal sudah condong ke Chelsea.

Dua nama tersebut akhirnya sama-sama menemui titik kegagalan di karirnya akibat transfer yang tertukar. Fred yang didatangkan dengan harga mahal di musim terakhir Mourinho juga gagal menemukan performa terbaiknya, entah manajemen United sedang kerasukan jin apa sehingga mendatangkan Fred saat itu, tapi yang jelas Fred bukankah pilihan utama di daftar transfer uang diajukan Mourinho.

Kepergian Wayne Rooney dan Zlatan Ibrahimovic selaku senior yang berjiwa kepemimpinan tinggi juga turut menyumbang kesulitan bagi posisi Mourinho, karena bagaimanapun sosok pemimpin dalam sebuah tim itu amat vital perannya. Meskipun mereka tidak bermain di lapangan, namun kehadirannya di ruang ganti bisa menjadi penyalur keharmonisan antara pemain muda ber-ego tinggi dengan pelatih penuh arogansi.

Konflik Dengan Sesama Pemain Asuhannya

Permasalahan yang terakhir, dan hampir menjadi penyebab Mourinho dipecat dari Tanah Britania adalah konflik dengan pemain. Suasana ruang ganti menjadi boiling room atau ruang sauna yang panas sudah pasti tidak akan terhindarkan jika memiliki pelatih semacam Jose Mourinho. Tindakannya yang suka mengkritik pemain di depan media membuat terperciknya api perseteruan. Diego Costa, Eden Hazard, Thibaut Courtois saat masih di Chelsea ikut meramaikan drama bermalas-malasan demi keluarnya Mourinho dari ruang ganti.

Saat di MU juga sama, yang paling ketara dan menuai banyak perhatian adalah perseteruan Paul Pogba dan Luke Shaw dengan Jose Mourinho. Dua pemain tersebut terbilang cukup sering mendapatkan kritik baik dari performa maupun tingkah lakunya di luar lapangan. Catatan buruk itu sayangnya ia lanjutkan saat melatih Tottenham, deretan nama seperti Dele Alli, Gareth Bale, dan Serge Aurier disinyalir tidak bahagia dengan kehadiran Mourinho di dalam tim.

Pelatih tipikal seperti Mourinho ini memang sering kurang cocok dengan banyak pemain, hanya beberapa nama saja yang bisa beradaptasi dengan kelakuan pria berusia 58 tahun tersebut. Zlatan Ibrahimovic adalah tipe pemain yang cocok untuk dilatih Mourinho, pribadi yang tidak baperan dan bisa membalas sisi arogansi Mourinho, songong ketemu songong jadinya klop klop aja.

Setiap ada drama pemecatan, yang menurut saya paling menarik adalah uang kompensasi atau pesangon yang akan diberikan pada si pelatih. Karena jumlahnya pasti akan sangat besar, apalagi jika durasi kontraknya masih terbilang panjang. Jose Mourinho mempunyai rekor yang cukup membanggakan kalo urusan beginian. Dari total lima klub yang ketuk palu untuk memecat Mourinho, dia mendapatkan pesangon lebih dari satu triliun rupiah. Kita bahas satu-satu ya rinciannya.

Tahun 2007 silam, Jose Mourinho mengalami pemecatan jilid satu di Chelsea. Saat itu dirinya mendapatkan uang pesangon sebesar 18 juta poundsterling. Enam tahun berselang, Mourinho juga dipecat oleh Real Madrid karena gagal membawa Los Blancos menjuarai Liga Champions, uang pesangon yang dia terima juga 18 juta poundsterling.

Periode kedua bersama Chelsea, tujuh bulan usai mengantarkan Chelsea juara liga, Mourinho kembali dipecat oleh Roman Abramovich dan diberi uang pesangon sekitar 16 juta poundsterling. Hal yang sama juga kembali Mourinho temui ketika menangani Manchester United, dengan uang pesangon sebesar 15 juta poundsterling, tapi kabarnya itu belum dihitung dengan uang tutup mulut supaya Mou tidak memberikan statement yang aneh-aneh terkait MU.

Terakhir adalah saat bersama Tottenham Hotspur, kontrak yang seharusnya berakhir pada musim panas 2023 terpaksa harus diakhiri awal pekan kemarin, dan mau tidak mau Spurs harus memberikan uang pesangon kepada Mourinho. Uang sebesar 16 juta poundsterling harus dikeluarkan oleh Tottenham untuk menggusur posisi Mourinho.

Jika kita gabungkan, total pesangon Mourinho dari lima kali dirinya mengalami pemecatan adalah £83 juta, atau jika dikonversikan dalam nilai rupiah saat ini sekitar 1,6 triliun. Gila bro, duit pesangon doang segitu. Kalau lah saya jadi Mourinho, punya uang sebanyak itu mending berhenti aja dari pusingnya dunia pelatih sepak bola, tinggal buka bisnis, menikmati hidup dengan duduk santai sambil ngopi. Tapi ya namanya udah cinta sama si kulit bundar yekan, ada kemungkinan juga Mou akan tetap melanjutkan karirnya di dunia kepelatihan, patut kita tunggu dimana ia akan berlabuh.

Sebutan The Sacked One agaknya lebih cocok disematkan kepada Mourinho, menggantikan The Special One.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *