Kontroversi Stigma ” White Live Matter ” Burnley

spot_img

Burnley FC sekarang banyak dihuni pemain asli Britania Raya, yang didominasi oleh orang-orang berkulit putih. Jika menilik ke belakang, memang jarang kita temukan pemain Burnley yang merupakan ras kulit berwarna. Kalaupun ada, bisa dihitung jari.

Kondisi semacam itu tentu saja mempengaruhi kebijakan klub. Bahkan muncul stigma kalau Burnley turut mengkampanyekan “white live matter” atau “menjunjung tinggi supremasi kulit putih”. Pertanyaannya, mungkinkah itu termasuk kebijakan dari klub? Atau apakah hanya stigma negatif yang merebak saja?

Kondisi Demografis Burnley.

Ditinjau dari kondisi demografis, Burnley yang terletak di Kota Lancashire, Inggris itu menurut survey di tahun 2001, memiliki 73.021 populasi penduduk. Dari situ 91,77% warga distrik Burnley adalah kulit putih, dan 7,16% berasal dari Asia Selatan (Pakistan dan Bangladesh).

Mayoritas penduduk bekerja di sektor perburuhan kasar. Di wilayah Lanchasire jarang ditemui industri industri besar manufaktur macam di Kota Manchester maupun Liverpool yang biasanya di situ banyak tumbuh subur para imigran.

Tak jarang penduduk di wilayah Lancashire yang sebagian berkulit putih menjadi bagian dari basis kemenangan Brexit Britania Raya yang memilih keluar dari Uni Eropa.

Banyak di wilayah ini vote “leave” pada Brexit. Afiliasi politik di wilayah ini sebagian besar didominasi partai buruh (Labor) dan juga United Kingdom Independence Party (UKIP) pimpinan Nigel Farage.

Perbedaan penduduk yang mencolok soal keberadaan ras mayoritas dan minoritas di suatu wilayah mungkin sewaktu-waktu dapat menimbulkan konflik, seperti yang meledak kasusnya pada tahun 2001 di Burnley.

Kasus Rasial 2001

Kedatangan para imigran yang kemudian dianggap merebut lapangan pekerjaan warga lokal yang dominan, menjadi akar masalah utama konflik.

Pada tahun 2001 terjadi kerusuhan hebat tentang perang rasial antara kulit putih penduduk asli Burnley dengan imigran asal Asia Selatan.

Konflik ini dipicu oleh pandangan sinis atau bisa jadi sikap insularitas masyarakat lokal sekitar yang dominan terhadap para pendatang.

Menurut BBC, Claire Campbell seorang wanita warga lokal Burnley mengatakan tidak setuju bahwa hubungan ras itu sepenuhnya harmonis, sebelum kekerasan pada 2001 itu meletus.

“Kami punya banyak masalah. Orang-orang Asia Selatan datang ke daerah kami sering memukuli gadis-gadis kami di sini”

Kasus 2001 merupakan sejarah yang terlupakan masyarakat Burnley soal rasisme. Jika dikaitkan dengan sepak bola, klub kebanggaan mereka Burnley FC bisa juga merupakan miniatur keberadaan dominasi warga lokal Inggris dan kulit putih.

Dominasi Pemain Asli Inggris dan Kulit Putih di Burnley.

Nah, Turf Moor yang menjadi kandang Burnley, nyatanya begitu kental dengan rasisme dan etnosentrisme.

Terkadang justru klub yang terletak bukan di pusat pemerintahan menjadi mudahnya tumbuh populasi keberadaan kaum puritan, atau mereka yang mengagungkan kemurnian suatu kelompok.

Kasusnya hampir sama mungkin seperti Athletic Bilbao yang memiliki kebijakan pemain asal Basque, Burnley pun memiliki kebijakan ketat terkait perekrutan pemain mereka.

Kesebelasan berjuluk The Clarets ini lebih mengutamakan para pemain asli Britania Raya, dan lebih gilanya lagi, sepertinya Burnley lebih senang merekrut para pemain berkulit putih.

Burnley memiliki pemain Inggris terbanyak di antara seluruh peserta lain di Liga Primer Inggris. Skuat asuhan Sean Dyche memiliki hampir 20 lebih pemain asli Britania Raya, dan sisanya ada dari Eropa Timur.

Di skuat utama mereka yang berkulit non putih bisa dihitung seperti Maxwell Cornet dan juga Aaron Lennon.

Banyaknya jumlah pemain asli Britania Raya ini bahkan lebih banyak ketimbang yang dimiliki oleh tim-tim besar Inggris lainnya.

Para pemain asing Burnley pun sebenarnya bukan pengecualian. Misalnya, penyerang Ashley Barnes berdarah Austria yang lahir dan besar di daerah Bath, daerah yang tidak jauh dari Burnley. Sementara Johann Berg Gudmundsson, asal Islandia, juga sudah lama berkarier dan hidup di Inggris.

Meskipun begitu, memang pernah ada beberapa pemain berkulit hitam yang pernah berseragam Burnley antara lain Ian Wright, Frank Sinclair, dan Andre Gray

Karena dominasi kulit putih itulah tak jarang pemain yang berkulit hitam kerap menerima perilaku pelecehan rasisme.

Contohnya Andrey Gray yang menjadi korban perlakuan rasisme oleh suporter. Kelakuan rasis itu membuat Gray memutuskan pindah ke Watford yang notabene klub yang ramah pada pemain kulit hitam.

Perilaku diskriminatif ini sebetulnya tak secara langsung diproklamirkan secara resmi oleh Burnley. Hanya saja penggemar dan orang-orang di sekitar Burnley yang memulainya.

Kasus Spanduk White Lives Matter

Hal itu terwujud nyata pada peristiwa berkibarnya spanduk yang bertuliskan “White Lives Matter” di langit atas stadion Etihad ketika Burnley FC bertandang ke Manchester City pada lanjutan pertandingan Liga Inggris.

Tentu saja hal itu sangat memalukan bagi persepakbolaan Inggris. Saat FA lagi getol-getolnya perang melawan rasisme melalui program berlutut terkait isu Black Lives Matter. Ini malah mengompori dengan sesuatu yang bertolak belakang.

Setelah ditelisik, ternyata itu datang bukan dari pihak klub, melainkan dari penggemar Burnley, Jake Hepple yang membayar pilot untuk mengibarkan spanduk tersebut, beberapa saat setelah para pemain berlutut untuk Black Lives Matter.

Jake Hepple adalah pendukung Burnley yang telah menyatakan dukungannya untuk EDL (English Defense League) sebuah organisasi sayap kanan di inggris dan pemimpinnya, Tommy Robinson ini, sekarang sedang diselidiki oleh Polisi Lancashire. Apakah ada unsur tindak pidana di dalamnya.

Reaksi beberapa fans Burnley yang netral juga tampaknya malu dan marah terhadap kelakuan oknum fans tersebut. Kejadian ini menjadi pukulan keras bagi Burnley, dari pihak klub dan kapten mereka Ben Mee juga merasa dipermalukan.

Aksi White Lives Matter banyak menuai komentar salah satunya dari mantan kapten mereka yang berkulit hitam Frank Sinclair. Kemudian dari beberapa legenda seperti Gary Lineker, Ian Wright maupun Darren Bent.

Darren Bent blak-blakan berbicara setelah kejadian itu dengan mengaitkan peristiwa White Lives Matter tersebut dengan “ tidak adanya pemain berkulit hitam di skuad Burnley”.

Hal itu langsung ditanggapi serius pemain Burnley, McNeil. McNeil merasa tersinggung terutama karena ayahnya juga berkulit hitam dan telah berperan besar dalam hidupnya sehingga menjadi orang yang diandalkan di Burnley sekarang.

Beberapa pemain berkulit hitam di akademi Burnley juga mengeluarkan pernyataan keras untuk mengutuk mereka yang bertanggung jawab atas tindakan bodoh itu.

Terlepas dari kebijakan banyaknya pemain kulit putih yang ada di Burnley, tampaknya sikap seperti apa yang dilakukan Jake Hepple dengan “White Lives Matter” itu tidak dibenarkan. Burnley harus segera menentukan sikapnya, kalau tidak mau dituding sebagai klub yang penuh rasisme.

 

Sumber Referensi : dailymail, smarterscout, theguardian, independent.co, transfermarket, bbc

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru