Menjaga Mimpi dan Jalan Karier Si Kurus, Kurniawan Dwi Yulianto

spot_img

Melamun di teras rumah pernah dilakukan setiap manusia kala hidup sedang keadaan sungsang. Paling mudah mengobatinya dengan mengingat mimpi yang dahulu ditulis pada secarik kertas lalu tertempel dalam ingatan saban hari.

Mengubah mimpi jadi motivasi dengan bertanggung jawab pada pilihan  dan disiplin dalam mengerjakan. Jalan yang ditempuh memang panjang dan berkeringat, tapi percaya pada proses diuji dalam perilaku bukan omongan sambil lalu.

Pria bernama lengkap Kurniawan Dwi Yulianto merawat mimpi menjadi pemain bola dengan dua alasan. Pertama, bisa masuk televisi. Kedua, jalan-jalan ke luar negeri numpak pesawat gratis. Meski mula-mula karier di dunia sepak bola tidak direstui orang tua.

Mimpi anak Magelang itu bukan isapan jempol. Memulai di SSB Wajar Magelang sejak kelas 1 SMP, mimpi Si Kurus  berpijak satu kaki di bumi. Membunuh homesick serta menabung uang jajan demi sepasang sepatu.

Moncer di lapangan dan sekolah jadi modal Kurniawan untuk lanjut ke sekolah ke tingkat lanjut atas. Pilihannya, melanjutkan ke SMA Taruna Nusantara melalui jalur beasiswa berprestasi atau Diklat Salatiga.

Kurniawan muda memilih Diklat Salatiga ketimbang masuk SMA Taruna Nusantara. Konsekuensinya, ia sempat kena “marah” dan ditantang pihak sekolah.

“Kalau pilih Diklat Salatiga, saya ingin lihat empat tahun akan datang. Pemain depan Timnas Indonesia diperkuat oleh anak muda bernama Kurniawan Dwi Yulianto,” kata guru SMP Kurniawan, Zahri yang ditirukannya.

Gairah berjuang ia lakoni dengan mengikuti seleksi di Diklat Salatiga. Baginya, waktu adalah pedang. Sesiapa saja melanggarnya akan dilibas oleh pedang yang tajam. Ia bangun pukul setengah lima saban hari dan berusaha tidak berbuat curang setiap latihan agar tak kehilangan mimpi-mimpinya menjadi pesepakbola.  

Mimpi-mimpi itu, ia jaga dengan empat nilai. Pertama perilaku disiplin. Si Kurus yang menetap di “mess”  saat Diklat Salatiga patuh terhadap aturan. Kebiasaan di rumah dicucikan dan dibangunkan ia rubah dengan mencuci pakaian sendiri dan bangun tidur tepat waktu. 

Meski saat itu bergaji 13 ribu rupiah. Hasilnya ia tabung untuk membeli sepatu baru.

Kedua, tanggung jawab pada diri sendiri. Ia tak ingin orang di sekitarnya merasa kesusahan akibat tindakannya. Oleh karena itu, pilihan-pilihan yang ditempuhnya adalah harus dijalani sekuat tenaga.

Ketiga, kerja keras secara sportif. KDY bercerita saat melakoni latihan di Diklat Salatiga saban ba’da Subuh. Ia tak pernah coba-coba mengelabui pelatih saat pemanasan. Sebab di sana akan tercermin perilaku kompetitif sekaligus sportif.

Terakhir, optimisme menjadi pemain profesional yang ditayangkan televisi sekaligus mampu “jalan-jalan” ke luar negeri naik pesawat gratis.

Jatuh Bangun Karir

Namun ia pernah berada di titik nadir kehidupan. Kurniawan hanya bisa berkeluh kesah kepada sang ibu. Dalam karier menjadi penari lapangan, Ibu baginya sebagai satu-satunya orang yang mampu mengangkat moralnya saat terjatuh.

“Kamu sudah terlanjur dan kecebur (di bola) dan pilihannya hanya satu, tutup mulut mereka dengan prestasi,” katanya menirukan ucapan ibunya.

Barangkali sebelum ucapan itu terlontar dari mulut sang Ibu. Kurniawan sudah membayar kekesalan gurunya di SMP saat memilih Diklat Salatiga ketimbang SMA Taruna Nusantara dengan keterpilihannya menjadi pemain timnas yang diboyong tur ke Italia.

Tak berhenti di sana, petualangannya di Benua Biru ia lanjutkan bermain untuk klub Swiss. Golnya bersama FC Luzen menjadikan dirinya sebagai pemain Indonesia yang berhasil mencetak gol di kompetisi resmi Benua Eropa.

Pun usai pulang dari Sampdoria. Ia benar-benar memegang ucapan ibunya saat membawa klub juara di kompetisi Indonesia. Bersama PSM tahun 2000 dan Persebaya tahun 2004 berhasil mengantarkan juara. Lalu, saat membela Macan Kemayoran, ia merengkuh double runner up di Liga Indonesia dan Copa Indonesia tahun 2005.

Bersama Timnas Indonesia, ia turut serta dalam tiga kali gelaran Piala Tiger pada tahun 1998, 2000, dan 2004/2005 dengan prestasi terbaik juara dua.

Deretan juara dan kesempatan menjadi pelatih melampaui dua mimpi Kurniawan kecil, disorot televisi dan jalan-jalan ke luar negeri naik pesawat gratis.

Ke Como Bukan Akhir KDY

Mimpi “jalan-jalan naik pesawat”  keluar negeri KDY ternyata tak berhenti saat menjadi pemain. Apalagi setelah tim kasta kedua Liga Italia atau Serie B, Como 1907 merekrut Kurniawan Dwi Yulianto sebagai salah satu staf pelatih.

Kurniawan Dwi Yulianto telah sepakat sebagai asisten pelatih klub yang baru saja promosi ke Serie B itu. Pria kelahiran Magelang mengatakan akan dikontrak selama lima tahun.

“Saya dikontrak lima tahun oleh Mola. Semoga semua berjalan baik dan bagus bagi karier saya,” ujar Kurniawan Dwi Yulianto.

Selain itu, Kurniawan Dwi Yulianto mengatakan kalau selama di Eropa, dia tak akan tinggal diam. Sebagai pelatih, ia akan terus memperbanyak ilmu kepelatihan utamanya yang formal.

“Saya ingin mengejar lisensi kepelatihan UEFA Pro. Sebab, saya berkarier di Eropa dan kesempatan itu pun terbuka,” tutur Kurniawan Dwi Yulianto.

Kurniawan mengakui bahwa kontrak bersama klub barunya tak terlepas dari peran para pemilik klub tersebut yang orang Indonesia, antara lain Mirwan Suwarso, MOLA, dan Djarum.

Sebelum menjadi asisten pelatih Como 1907, karier pelatih Si Kurus dimulai dari Chelsea Soccer School Indonesia di Jakarta pada 2014. Empat tahun selanjutnya, ia menjadi pelatih kepala bersama Ponaryo Astaman di klub Borneo FC pada gelaran Piala Presiden 2018.

Pada tahun yang sama, Si Kurus dipilih federasi sepak bola Indonesia, PSSI untuk mengemban tugas baru sebagai asisten pelatih Timnas Indonesia U-23. Ditunjuknya Kurniawan mengisi kekosongan posisi tersebut sepeninggalan Yunan Helmi yang mengundurkan diri dan kini menjadi pelatih kepala Barito Putera.

Mantan punggawa timnas Indonesia juga pernah melatih klub asal Malaysia, Sabah FA. Kontraknya bersama kontestan baru di Liga Malaysia itu berlangsung hingga Desember 2021.

Namun, Sabah FA melalui keterangan resminya, mengkonfirmasi penghentian kerja sama dengan pelatih Kurniawan Dwi Yulianto pada 30 November 2020. Kurniawan Dwi Yulianto kehilangan jabatannya di Sabah FA karena dianggap tidak memenuhi target yang dibebankan kepadanya.

Sabah FA hanya mampu finis di peringkat ke-10 dalam klasemen akhir Malaysia Super League 2020 atau satu garis di atas zona merah. Pria yang akrab disapa Si Kurus hanya mampu memberikan sembilan poin, hasil dari dua kali menang, tiga kali imbang, dan enam kali kalah.

Petualangan Si Kurus di Negeri Pizza memang bukan kali pertama. Saat menjadi pemain ia bergabung dengan Timnas Indonesia Primavera untuk ikut tur di Italia selama dua tahun. Ia pun dikontrak oleh klub asal Swiss, FC Luzern.

Kedua kali ini, KDY jelas tidak akan hanya mampir “jalan-jalan” seperti mimpi masa kecilnya. Kesempatan yang diberikan oleh pemilik Como 1927 selama setengah dekade ke depan akan digunakan untuk menimba ilmu kepelatihan di Eropa.

 

Referensi : Akurasi TV, Skor.id, Buka Talk, Tirto.id, Estu Ernesto, Tabloid Bola

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru