“Saya berterima kasih kepada Tuhan setiap pagi karena bisa menjadi pesepakbola.”
Kalimat yang terasa amat bergetar itu keluar dari mulut mantan kiper Malaga berkebangsaan Kamerun, Idriss Carlos Kameni. Namanya bagi sebagian penggemar sepak bola boleh jadi kurang familiar. Namun, bagi pencinta gim Pro Evolution Soccer, Winning Eleven, FIFA, dan Football Manager barangkali sangat mengenal kiper yang satu ini.
Idriss Carlos Kameni di eranya pernah jadi andalan para pemain Master League. Ia punya atribut dan statistik yang mentereng. Bahkan overall nilai atributnya saat memperkuat Espanyol dan Malaga tak pernah kurang dari 80. Bukan hanya jago, ia diandalkan karena harganya yang murah.
Selain terkenal di kalangan para pengguna Master League, sejatinya Carlos Kameni memang sosok kiper tangguh yang underrated. Sayang kiprah gemilangnya tidak bertahan lama. Kini namanya mungkin saja dilupakan.
Daftar Isi
Dari Medali Emas Olimpiade 2000 ke Le Havre
Kita tak perlu terlalu jauh meneropong kesuksesan Carlos Kameni. Sebab pada tahun 2000 saja, kiper yang satu ini sudah mendapatkan gelar prestisius berupa medali emas Olimpiade Sydney tahun 2000. Itu prestasi hebat pertama yang diraih Kameni.
Uniknya, ia tergabung dalam skuad Kamerun Olimpiade Sydney kala usianya baru 16 tahun. Ia satu tim dengan Samuel Eto’o kala itu.
Just for the record, Cameroon’s victory over Brazil wasn’t the first time. Cameroon competed at the 2000 Summer Olympics in Sydney, Australia. The Lions won the nation’s first Olympic football gold medal by beating a full complemented Brazilian national side 2-1.
— Cameroon Community (@Cameroon_Com) December 3, 2022
Not the 1st time pic.twitter.com/MFVZwa7eK5
Walaupun hanya bermain tiga kali di ajang tersebut, pencapaian medali emas mengantarkan Carlos Kameni ke Eropa. Kiper kelahiran 18 Februari ini menyita minat klub Prancis, AC Le Havre. Akan tetapi, kesialan menimpa Kameni.
Datang ke Le Havre bermaksud mencari menit bermain, tapi ia tidak bermain sama sekali. Kameni justru dipinjamkan ke klub Prancis lainnya, Saint-Etienne. Tapi ia tetap gagal di sana. Kameni tak mendapat apa pun selama perjalanannya di Prancis.
Hendak Dibeli Wolves dan Juventus
Meskipun hanya duduk di bangku cadangan, bakat Carlos Kameni tercium sampai klub-klub raksasa. Itu wajar saja, karena di Timnas Kamerun ia juga sangat berprestasi. Setelah menyumbangkan medali emas Olimpiade tahun 2000, Kameni juga terlibat dalam skuad Kamerun yang menjuarai Piala Afrika 2002.
Setahun sebelum menjuarai AFCON, Carlos Kameni sempat dikabarkan bakal merapat ke raksasa Italia, Juventus. Pelatih La Vecchia Signora kala itu, Marcelo Lippi bahkan dilaporkan telah meminta direktur Juventus untuk mendatangkan kiper 17 tahun tersebut.
🇨🇲 | Time for celebration 🎉 #IndomitableLion Sydney 2000 Gold medalist and 2002 AFCON winner Idriss Carlos #Kameni turned 3️⃣7️⃣ today.
— Fecafoot-Officiel (@FecafootOfficie) February 18, 2021
Happy birthday #Lion 🦁💚❤️💛🎂🍾 pic.twitter.com/NwpBJqAtix
Lippi menginginkan Kameni sebagai pelapis Gianluigi Buffon yang dibeli dengan status penjaga gawang termahal di dunia. Selain itu, pelatih yang kelak membawa Italia juara Piala Dunia tersebut frustrasi dengan kiper kedua Juventus, Fabian Carini. Kiper berpaspor Uruguay itu dinilai Lippi berpenampilan buruk.
Datangnya minat dari Juventus tentu juga mendatangkan kebahagiaan bagi Kameni. Tapi ia dipaksa kecewa. Sebab kabar minat dari Nyonya Tua itu mudah disapu angin. Belakangan disinyalir itu hanyalah kabar burung. Meski demikian minat pada Kameni masih muncul.
Klub Inggris, Wolverhampton Wanderers berniat untuk meminjam Kameni musim 2003/04. Kesepakatan kedua tim sudah terjalin. Namun izin kerja kiper Kamerun itu jadi ganjalan. Izin kerja Carlos Kameni ditolak oleh otoritas sepak bola setempat.
Wolves pun sempat mengajukan banding. Manajer Wolves kala itu, Dave Jones bahkan sampai menghadiri pengadilan sebagai upaya untuk mendapatkan izin kerja sang kiper. Sekretaris klub ketika itu, Richard Skirrow juga turun tangan. Tapi izin kerja tetap tidak keluar.
Bergabung ke Espanyol
Usai seolah naik di atas perahu yang menerjang ombak laut yang ganas, Kameni akhirnya menemukan klub yang sungguh meminatinya. Tahun 2004, Espanyol bersedia membayar klausul sang kiper dari Le Havre senilai 550 ribu euro (Rp9,56 miliar). Gabungnya ke klub Catalan itu juga diwarnai drama.
Sebelumnya Kameni juga ditawar oleh klub Catalan lainnya, Barcelona. Selain itu, ia sempat ditawarkan untuk latihan ke Bolton Wanderers. Tapi Kameni menolak dua tawaran itu. Mantan kiper terbaik Timnas Afrika dan seniornya, Thomas N’Kono mempengaruhi keputusannya.
Ia yang masuk ke jajaran staf pelatih Espanyol berhasil meyakinkan Kameni. Tentu saja dengan senang hati ia menerima Espanyol karena ingin mengikuti jejak seniornya itu. “Sebuah kehormatan bisa bermain di satu klub yang sama dengannya (N’Kono),” kata Kameni dikutip BBC.
Carlos Kameni. Para mi fue uno de los mejores porteros d la década de los 2000. discípulo de Thomas N’Kono… poco mas q añadir. pic.twitter.com/GERH9rIHb0
— àlex guerrero (@mrgwerrero) September 21, 2022
Membawa Espanyol Copa del Rey
Sebagai kiper baru ia harus menerima konsekuensi menjadi kiper cadangan saja. Kala itu, Espanyol masih punya Gorka Iraizoz yang tak tergantikan di bawah mistar gawang. Kendati menjadi kiper cadangan saja, bergabung ke Espanyol bisa jadi salah satu keberuntungan Kameni.
Ia bermain di final Copa del Rey musim 2005/06. Sempat terjadi perselisihan antara Kameni dengan Iraizoz. Namun, kedua kiper menyelesaikannya dengan kesepakatan. Iraizoz akan turun di liga, sedangkan Kameni di Copa del Rey.
Kameni yang bermain di final Copa del Rey itu pun sukses mengantarkan timnya juara. Anak asuh Diego Martinez mengalahkan Real Zaragoza dengan skor telak 4-1. Tepat sekali. Kameni hanya kebobolan satu gol di final itu!
🔵⚪️ Idriss Carlos Kameni et Thomas Nkono avec le trophée de la Copa Del Rey remporté avec l’Espanyol Barcelone 🏆🇨🇲 pic.twitter.com/tZnHQZJyEq
— AllezLesLions (@AllezLesLions) July 21, 2022
Namun di musim setelahnya, Kameni tidak turun di Final Piala UEFA musim 2006/07. Saat itu giliran Iraizoz yang menjadi starter, sedangkan Kameni hanya duduk di bangku cadangan. Namun kekalahan menghampiri Espanyol.
Los Periquitos mesti puas hanya jadi runner-up setelah ditekuk rekan senegaranya, Sevilla melalui babak adu penalti. Andai di final itu Carlos Kameni yang turun, mungkin ceritanya akan lain. Apalagi kariernya mentereng selama di Espanyol.
498 Menit Tak Kebobolan
Musim 2008/09 bisa dibilang salah satu musim tersulit Kameni di Espanyol. Ia terlibat konfrontasi dengan penggemar yang rasis padanya, pun ia juga terlibat konflik dengan rekannya di sesi latihan. Namun itu tidak berefek buruk pada penampilannya di atas lapangan.
Musim itu ia bahkan mencatatkan rekor yang luar biasa dengan 498 menit nirbobol. Gawangnya tetap tak bergetar sedikit pun selama lima laga beruntun menghadapi Numancia, Racing Santander, Sporting Gijon, Real Betis, dan Valencia.
Ia mengalahkan rekor klub sebelumnya yang dipegang seniornya sendiri, Thomas N’Kono dengan 496 menit clean sheets pada musim 1988/89. Akan tetapi rekor Kameni patah di tangan Atletico Madrid. Lebih tepatnya kaki Diego Forlan yang memutus rekor nirbobol tersebut melalui pertandingan dramatis.
Ke Malaga
Memasuki musim 2011/12, penampilan Carlos Kameni mengalami penurunan. Pelatih Espanyol ketika itu, Mauricio Pochettino lebih suka menurunkan kiper Argentina, Cristian Alvarez. Kameni pun dilepas ke Malaga dengan status bebas transfer.
Lagi-lagi ia harus jadi kiper pelapis. Kali ini ia jadi pelapis Willy Caballero. Tatkala Caballero memutuskan untuk pergi dari La Rosaleda Stadium dan bergabung ke Manchester City, Kameni naik jadi kiper utama. Walaupun tanpa trofi di Malaga, penampilan Kameni sangat berkesan.
Carlos Kameni (Malaga) could be in the interests of Fenerbahçe. pic.twitter.com/NXI1b3wbgM
— Fener Int (@fenerint) June 6, 2017
Satu yang paling diingat adalah ketika Malaga menahan imbang Real Madrid 0-0 di Santiago Bernabeu pada 26 September 2015. Para pemain Los Galacticos menciptakan setidaknya 31 tembakan, tapi semuanya mentah di tangan Kameni.
Salah satu yang dibikin stres oleh Kameni adalah Cristiano Ronaldo. Pada laga itu, sang mega bintang benar-benar tak berkutik. Padahal pada pertandingan sebelumnya, CR7 menginspirasi timnya untuk pesta gol. Tak pelak ini menjadi semacam ironi.
Namanya Lenyap
Lima musim berseragam Malaga ia kemudian memilih pergi ke klub Turki, Fenerbahce. Tidak ada yang istimewa selama kariernya di sana. Kontraknya di Fenerbahce berakhir pada musim 2019/20. Sempat tanpa klub cukup lama, ia menyusul rekan senegaranya, Alex Song ke negara Djibouti.
Tahun 2021, ia bergabung ke klub Djibouti, AS Arta/Solar7. Semusim di Arta/Solar7, ia melancong ke Andorra. Pada Agustus 2022, ia bergabung klub Andorra, UE Santa Coloma. Sampai hari ini Carlos Kameni masih membela klub Andorra tersebut. Namanya pun lenyap dan terlupakan.
Sumber: Sportskeeda, MundoDeportivo, BBC, ELConfidencial, LaLiga, SNL24, UEFA, PESmaster


