Lagi dan lagi, Brentford kembali menumbangkan tim Big Six Liga Inggris. Kali ini yang jadi korban adalah anak asuh Jurgen Klopp. Darwin Nunez cs dipaksa tunduk dengan skor meyakinkan, 3-1 di Stadion Gtech Community. Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkan The Bees memutus tren buruk tak pernah menang dari Liverpool selama 85 tahun lamanya.
Rekor Brentford ketika menghadapi tim Big Six musim ini memang sangat mengesankan. Dari enam tim yang sudah dihadapi, The Bees hanya kalah sekali dengan skor 3-0 saat bersua sang pemuncak klasemen, Arsenal. Lantas bagaimana sih anak asuh Thomas Frank mendominasi tim Big Six Liga Inggris? Berikut kisah Brentford si tukang jagal raksasa Liga Inggris.
Daftar Isi
Menembus 10 Besar
Menariknya, kemenangan atas Liverpool telah memperpanjang tren positif Brentford saat menghadapi tim-tim papan atas Liga Inggris. Jika football lovers masih ingat, Ivan Toney dkk juga pernah menghajar Manchester United dengan skor telak 4-0 di pekan kedua musim ini. Empat gol Brentford pada laga ini dicetak oleh Josh Dasilva, Mathias Jensen, Ben Mee dan Bryan Mbeumo. Seluruh gol tercipta pada babak pertama.
Brentford boss Thomas Frank says his players have given their fans ‘lifelong memories’ after their sensational 4-0 victory over Manchester United. 🐝 pic.twitter.com/qTZjvbjCfc
— Sky Sports News (@SkySportsNews) August 13, 2022
Usai mengalahkan Setan Merah, Brentford sempat kalah dari tim promosi, Fulham di laga yang bertajuk West London Derby. Anak asuh Thomas Frank dipaksa tunduk dengan skor tipis 3-2. Namun setelah kekalahan itu, hingga pekan ke-19 kemarin, The Bees hanya menelan tiga kekalahan di mana hanya satu tim Big Six yang mampu mengalahkan mereka. Brentford kalah 3-0 dari Arsenal di pekan kedelapan Liga Inggris.
Kemenangan atas Liverpool juga membuat Brentford berhasil menembus sepuluh besar Liga Inggris dengan mengumpulkan 26 poin. Perlahan namun pasti Brentford mulai melunturkan tanggapan miring netizen kalau mereka cuma bakal jadi tim yoyo macam Norwich City. Mereka berhasil membuktikannya dalam dua musim terakhir kalau mereka bisa bersaing di kasta tertinggi sepakbola Inggris.
Bagaimana Mereka Mendominasi Tim Big Six?
Di balik suksesnya Brentford mendominasi tim-tim Big Six, ada peran besar Thomas Frank. Usai kemenangan 4-0 yang luar biasa atas Manchester United, Thomas Frank bak memiliki kunci untuk membuka pertahanan tim mana pun yang mereka hadapi.
Meski menghadapi tim-tim besar seperti duo Manchester, Brentford berani memainkan sepakbola atraktif. Alih-alih full bertahan, Thomas Frank justru menginstruksikan anak asuhnya untuk memberikan tekanan apabila lawan memilih untuk menguasai bola di area permainannya sendiri.
Sang juru taktik sesekali mengubah taktik skema Brentford yang tadinya 3-5-2 menjadi 4-3-3 menyesuaikan siapa lawan mereka. Hal itu untuk menambah pemain di lini depan guna meningkatkan pressing di area pertahanan lawan. Dalam situasi ini, biasanya Thomas Frank mengandalkan kecepatan Bryan Mbeumo, Yoane Wissa dan Josh Dasilva untuk memberikan tekanan ketika tim lawan menguasai bola di area bertahan.
Sedangkan apabila bola sudah melewati garis tengah lapangan, Mbeumo dan Ivan Toney akan stay di depan dan melimpahkan tugas tersebut kepada duo gelandang, Christian Nørgaard dan Mathias Jensen. Khusus Jensen, ia kerap diberikan tugas man to man marking oleh Thomas Frank. Perannya dalam menjaga satu pemain juga jadi salah satu kunci kemenangan The Bees kala melawan United. Jensen berhasil mematikan pergerakan Christian Eriksen.
Jadi, apabila Brentford memenangkan bola, sudah ada dua pemain yang menanti di lini depan. Skema ini terbilang sukses saat mencetak gol kedua kontra Manchester City beberapa pekan lalu. Yoane Wissa yang masuk menggantikan Mbeumo sukses membangun serangan balik cepat yang dikonversikan menjadi gol oleh Ivan Toney. Kuncinya adalah transisi yang rapi dan kecepatan pemain depan Brentford.
Ivan Toney Sang Mesin Gol
Itu kalau bertahan, lantas bagaimana apabila Brentford menyerang? The Bees bisa menyerang dari berbagai sisi. Thomas Frank selalu menekankan kepada pemainnya untuk melihat ruang kosong di area bertahan lawan yang bisa mereka eksploitasi.
Namun, ada satu pemain yang selalu terlibat dalam skema serangan Brentford. Pemain itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ivan Toney. Pemain berkebangsaan Inggris itu jadi tulang punggung Brentford dalam urusan mencetak gol. Sejak promosi tahun 2021, Toney sudah mencetak hampir 30% gol Brentford di liga. Musim ini saja, mantan pemain Newcastle itu sudah mencetak 12 gol dari 16 penampilannya di Liga Inggris.
🏴 Ivan Toney has scored eight goals in his last six games for Brentford.
⚽️⚽️ vs Burnley
⚽️⚽️⚽️ vs Norwich City
❌ vs Newcastle United
⚽️ vs Everton
⚽️ vs Wolves
⚽️ vs Manchester UnitedToney is on fire. #BREBUR #BrentfordFC pic.twitter.com/thI6I8u8rm
— Mozo Football (@MozoFootball) March 12, 2022
Gacornya Ivan Toney bukan tanpa sebab, ada peran Thomas Frank di baliknya. Entah apabila bukan Frank pelatihnya, mungkin potensi Toney tak akan pernah terlihat seperti sekarang. Pelatih asal Denmark itu paham betul bagaimana cara menggunakan Toney yang bertipikal target man di depan gawang.
Apabila Mbeumo mengandalkan kecepatan, Thomas Frank memanfaatkan kecerdasan dan efisiensi dari Ivan Toney yang bermain menggunakan otak. Toney pandai menahan bola dan menemukan ruang di kotak penalti. Kecerdikan Toney terbukti kala menghadapi Tottenham. Dalam skema sepak pojok, Toney menyelinap di antara Clement Lenglet dan Pierre-Emile Højbjerg untuk mencocor bola masuk ke gawang.
Senjata Rahasia Brentford
Meski Ivan Toney merupakan pemain paling berpengaruh di klub, Thomas Frank tak ambil pusing apabila sang bomber harus absen membela The Bees. Contohnya saja saat sang pemain mengalami cedera dan tak bisa tampil di laga kontra Liverpool kemarin. Brentford membuktikan kalau mereka bisa tampil apik tanpa Toney.
Thomas Frank mengandalkan daya ledak duo Wissa dan Mbeumo. Lihat saja bagaimana kecepatan dua pemain ini sudah cukup untuk mengobok-obok pertahanan Liverpool sejak menit-menit awal. Bahkan ketiga gol Brentford di laga tersebut semuanya buah kerja keras kedua pemain.
Selain itu, dilansir The Athletic, Thomas Frank juga mengandalkan skema bola mati. Kita bisa lihat setidaknya ada tiga peluang emas yang dihasilkan Brentford melalui skema bola mati di laga tersebut. Dari lemparan ke dalam hingga sepak pojok, Brentford telah mendapatkan keuntungan kecil yang membantu mereka meraih beberapa kemenangan penting.
Efektifnya skema bola mati Brentford bukan karena keberuntungan semata. Sadar mereka bukan tim unggulan di setiap laga melawan tim Big Six, Brentford mempertajam kemampuan mereka dalam mengeksekusi bola mati. Selama beberapa tahun, Brentford berfokus pada bola mati untuk memberi mereka senjata rahasia di tengah persaingan liga yang kian ketat.
Orang di balik tajamnya skema bola mati Brentford adalah Bernardo Cueva. Ia sudah menjabat pelatih teknik dan mengasah kemampuan tim untuk meningkatkan peluang mencetak gol melalui skema bola mati sejak 2020. Ia menggantikan pelatih sebelumnya Andréas Georgson yang kini menjabat sebagai pelatih Malmo.
Di bawah asuhan Thomas Frank, Brentford bermain sangat atraktif. Gaya main mereka juga tak melulu bertahan. Yang jadi pertanyaan adalah, sejauh mana The Bees bisa terbang di Liga Inggris musim 2022/23?
https://youtu.be/O8WF6vBY-q0
Sumber: The Athletic, The Athletic 2, The Mastermind, Daily Mail, Brentford


