Ada banyak cerita tentang sepakbola di tanah Inggris. Selain karena olahraga ini disebut-sebut berasal dari negara tersebut, tapi juga karena disana memang terdapat banyak klub hebat yang mampu merajai Eropa.
Salah satu wilayah termasyhur, yang begitu populer dengan permainan sepak bolanya adalah kota Manchester. Kawasan perkotaan terbesar ketiga di Britania Raya, dengan populasi sekitar 2,2 juta jiwa itu memang punya rentetan sejarah yang tak akan pernah dilupakan. Indahnya langit biru yang dijaga ketat oleh iblis merah, melambangkan betapa kuat dan indahnya wilayah tersebut.
Kota Manchester memang terkenal dengan dua corak warna. Biru untuk The Sky Blues, dan merah untuk The Red Devils. Ketika bicara tentang siapa yang terkuat, tentu keduanya punya alasan masing-masing untuk bisa dianggap sebagai yang terhebat.
Rivalitas antara Si Biru atau yang dipegang oleh klub Manchester City, dan Si Merah yang dipegang oleh klub Manchester United, memang sudah terjadi sejak lama. Di era sejak kompetisi Inggris dimainkan, dua klub tersebut memang sudah saling sikut untuk menarik minat warga setempat. Namun harus diakui bila Manchester United dikenal sebagai tim yang lebih garang dan kaya akan prestasi, dari tim yang dulunya dianggap sebagai tetangga berisik.
Ya, di era 1970 an, 80, 90, hingga awal 2000 an, pamor Manchester City masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Manchester United. Maka dari itu, banyak penggemar Setan Merah yang mengatakan bila City merupakan perwujudan dari sosok tetangga berisik. Pasalnya, suporter mereka berteriak lebih keras dari prestasi yang mereka dapatkan.
Beruntung, setelah memasuki era Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, Manchester City berhasil naik kelas. Mereka sudah bukan lagi tetangga berisik. Melainkan tetangga yang sudah sangat layak disandingkan kemapanan nya dengan Manchester United.
Setelah klub diakuisisi oleh investor Timur Tengah, City memang menjelma menjadi salah satu klub terbaik di Inggris bahkan Eropa. Mereka selalu memberi ancaman pada setiap musimnya dan tak jarang menjadi penghadang serius tim-tim yang ingin meraih gelar juara.
Namun dibalik persaingan ketat antar kedua tim seperti sekarang ini, muncul fakta mengejutkan yang berhasil diungkap oleh sejarah.
Apa itu? Yakni munculnya kabar bahwa Manchester City dan Manchester United nyaris merger!
Merger dalam hal ini adalah menggabungkan dua klub sepakbola menjadi satu kesatuan. Namun begitu, rencana atau keputusan ini bukanlah suatu cara yang populer. Malah merger dianggap punya stigma jelek. Selalu ada kontroversi di balik rencana penggabungan dua klub sepakbola.
Merger dengan klub lain apalagi rival dianggap sebagai sebuah pengkhianatan. Hal ini pun tak jarang memunculkan gerakan anti merger dari para penggemar. Mereka tidak ingin tim kesayangan ditelan atau mengalami kerugian dalam berbagai hal bila melakukan merger yang dilakukan, apalagi dengan tim rival.
Namun, hal ini benar-benar akan dilakukan oleh dua tim yang saling berseberangan, Manchester City dan Manchester United.
Ide gila ini muncul pada tahun 1964. Ya, sudah barang tentu bila ide ini akan ditolak oleh para penggemar dan wajar bila dianggap sangat tidak masuk akal jika terjadi pada saat ini. Namun faktanya, di era tersebut, rencana merger antara Manchester City dan Manchester United terdengar sangat masuk akal.
Pada momen tersebut, meski City dan United sudah dikenal sebagai rival sekota, perseteruan antar keduanya belum seruncing seperti sekarang. Pada saat itu, Perang Dunia Kedua mungkin menjadi hal yang justru menyatukan kedua tim tersebut. Maka, karena alasan tertentu, ide yang tadinya dianggap gila benar-benar nyaris terjadi!
Dalam sebuah fakta yang diungkap di buku Manchester – The City Years, seperti dilansir Vice, sejarawan sepakbola bernama Gary James mengungkap ada rencana penggabungan klub Manchester City dan Manchester United. Dia menceritakan bahwa Chairman Manchester City, Frank Johnson, merupakan otak dari rencana ini. Frank diketahui menawarkan ide ini yang kemudian langsung ditolak mentah-mentah oleh petinggi United.
Dalam hal ini, alasan Frank Johnson dalam memberi penawaran merger adalah, pertama, Manchester City tengah mengalami periode terburuk sepanjang sejarah. Mereka mengalami penurunan prestasi dan sulit mendongkrak performa. Meski disebutkan bahwa pada periode tersebut, dalam hal prestasi, masih lebih baik dari musim 1988/89, Frank Johnson mengatakan kalau City telah kehilangan pamor.
Awalnya, City masih mampu mengundang sebanyak 30 ribu penonton setiap bertanding. Namun setelah sempat turun kasta, mereka benar-benar kehilangan atensi. Penonton yang hadir dalam setiap pertandingan rata-rata tidak lebih dari 15 ribu orang. Ia menilai bila antusias klub telah turun drastis.
Di sisi lain, atau yang bisa dijadikan sebagai alasan kedua, Frank Johnson melihat bila MU tengah mengalami kesulitan. Mereka ketika itu masih terus berjuang untuk mengembalikan performa, pasca kehilangan banyak pemain akibat kecelakaan pesawat di Munich yang begitu melegenda.
Berikutnya ada satu alasan lagi yang membuat rencana itu pada akhirnya berani diutarakan. Adalah ketika Stadion Old Trafford rusak akibat imbas dari Perang Dunia Kedua, City dengan baik hati mau meminjamkan Stadion Maine Road untuk dipakai skuad Setan Merah. Dari situ, keharmonisan antar kedua klub tersebut pun tampak terjalin dengan baik.
Dengan berbagai alasan itulah, Frank Johnson menilai bila rencana ini masuk akal.
Kendati begitu, seperti yang sudah disinggung, Frank Johnson yang memberikan penawaran tersebut mendapat penolakan dari Albert, yang merupakan chairman Manchester United. Albert berkata bila Frank Johnson memang merupakan orang yang selalu memberikan ide-ide tak masuk akal.
Selain itu, ide yang dilontarkan Frank Johnson juga tak sepenuhnya disetujui oleh pihak The Citizens.
“Ide itu dibungkam oleh kedua klub sebelum muncul ke publik.” ungkap Gary James. (via Vice)
Penolakan yang dilakukan pihak Manchester United tersebut juga didasari dengan fakta bahwa mereka segera bangkit setelah tragedi kecelakaan pesawat. MU kembali mampu bersaing di level tertinggi. Klub berjuluk Setan Merah mampu menguasai Inggris dan sempat menjadi jawara Eropa di era 60 an, berhasil merebut sejumlah Piala FA di periode 60, 70, hingga 80 an, sebelum akhirnya kembali menjadi raja di tanah Britania pada era 90 an.
Setelah sempat menjadi raja tunggal di kota sendiri, kini, dalam satu dekade terakhir, persaingan di derby Manchester terus timbulkan momen-momen menggelegar. Kedua tim saling jual beli kemenangan. Bahkan, di tengah maraknya media sosial, di kalangan para penggemar, aksi saling hina kerap tak terhindarkan.
Bila kita diperbolehkan untuk berandai-andai dengan menyebut penggabungan dua klub Manchester itu menjadi kenyataan, maka boleh jadi saat ini, kita hanya akan menyaksikan satu klub raksasa saja yang hadir dari kota Manchester.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=VFo0l68YodQ[/embedyt]
Sumber referensi: vice


