Seluruh Tim Serie A Bersatu Untuk Kalahkan Juventus

spot_img

Sampai saat ini, meski pada musim 2020/21 Juventus masih terus berjuang untuk bisa naik ke puncak klasemen, mereka tetap dijagokan sebagai salah satu kandidat juara Serie A. Juventus, yang sudah menjuarai liga sebanyak sembilan kali secara beruntun, seolah menjadikan Italia sebagai kompetisinya sendiri. Dengan koleksi gelar beruntun tersebut, mereka kini resmi mengoleksi sebanyak 36 trofi Serie A, unggul jauh dari pesaing terdekatnya, yakni Inter dan AC Milan yang sama-sama mengoleksi 18 gelar.

Namun dibalik prestasi yang diciptakan Juventus, ada banyak ribuan pasang mata yang menyimpan dendam. Ya, keberhasilan Juventus di kompetisi Serie A memang begitu membanggakan, namun juga membosankan bagi para penikmat sepakbola. Lebih dari itu, kesuksesan yang diciptakan klub asal Turin banyak dipandang sebelah mata oleh para pesaingnya.

Hal ini memang sudah terlihat wajar di kompetisi Serie A. Mungkin banyak yang mengatakan kalau tim-tim yang kesulitan meraih gelar juara hanya iri, karena mereka tidak bisa mendapatkan apa yang sukses didapat oleh klub bercorak putih hitam. Namun bila mengingat sebuah fakta bahwa Juventus pernah terjerumus ke jurang kehancuran karena kelicikan terbesar dalam sepakbola Italia, siapa yang mau percaya dengan kekuatan mereka?

Sudah menjadi rahasia umum dan skandal paling memalukan sepakbola Italia, ketika dua scudetto Si Nyonya Tua dicopot pada musim 2004/05 dan 2005/06 karena mereka terbukti main belakang. Ada suap yang dilancarkan oleh petinggi klub sehingga pertandingan bisa dengan mudah diatur, untuk kemudian memunculkan Juventu sebagai juaranya.

Juventus yang dikuasai oleh keluarga Agnelli memang banyak terkenal dengan permainan licinnya. Pada awal 90an, menurut Franklin Foer yang menulis skandal Juventus, Fiat telah mengeluarkan suap sebesar 35 juta dolar sepanjang sepuluh tahun sebelumnya, yang mana itu dianggap telah membunuh sportivitas sepakbola Italia.

Malah saking muaknya dengan permainan belakang yang dilakukan keluarga Agnelli, koran yang diketahui milik keluarga tersebut, La Stampa, juga turut mengecam cara kotor tuannya untuk mendapatkan gelar juara.

“Orang-orang tidak bisa terus berdiam ketika dihadapkan dengan kebetulan-kebetulan tertentu yang sedemikian unik, dan katakanlah bergizi.” (via gantigol)

Apa yang telah dituduhkan kepada Juventus memang tidak mengada-ada. Oleh sebab itu, banyak tim Italia yang kepanasan ketika tahu Juve kembali naik ke tahta juara Liga Italia. Meski tak menyingkirkan fakta bahwa Juve punya kekuatan besar dalam hal pemain, finansial, dan juga yang lainnya, kontestan lain Serie A seolah tetap tidak terima bila lagi-lagi Juve yang harus juara.

Maka, dengan segala fakta dan juga kenyataan yang terjadi sekarang, banyak anggapan yang menyebut bila seluruh tim Serie A bersatu untuk merobohkan dominasi Juventus.

Musim ini sendiri, banyak hal terjadi di kompetisi Serie A. Pertama adalah pengangkatan Andrea Pirlo sebagai pelatih anyar Juventus, untuk menggantikan Maurizio Sarri yang meski berhasil meneruskan tonggak juara La Vecchia Signora. Kemudian ada Spezia yang baru saja mencicipi kompetisi Serie A. Mereka menemani Crotone dan Benevento yang sebelumnya sempat main di Serie B selama semusim.

Pergerakan Juventus pada musim ini, khususnya saat mereka nekat menunjuk Andrea Pirlo sebagai pelatih, banyak mendapat sorotan. Melalui Pirlo, Juve dianggap mengalami transisi yang cukup beresiko. Pasalnya seperti yang kita tahu, pemilik tendangan akurat itu belum memiliki banyak pengalaman melatih tim di kompetisi tertinggi.

Namun Juve berdalih bahwa Pirlo merupakan pria dengan otak jenius. Mereka juga masih percaya dengan skuad yang dimiliki Juve, yang dinilai bakal sangat membantu proses perkembangan Pirlo sebagai pelatih, plus mempertahankan gelar Serie A.

Juventus juga semakin percaya diri dengan keberadaan Cristiano Ronaldo yang meski sudah berusia tua, tetap mampu menjadi andalan di lini depan. Di posisi belakang, ada nama Matthijs de Ligt yang disiapkan sebagai bek masa depan. Belum lagi penandatanganan Federico Chiesa, sang berlian Fiorentina yang memilih untuk berganti kostum putih hitam pada musim ini.

Dengan susunan formasi dan juga tradisi juara yang dimiliki, Juventus masih difavoritkan untuk meraih gelar juara.

Kendati demikian, seperti yang sudah disinggung di awal, seluruh tim Serie A seolah bersatu untuk memutus dominasi Juventus. Mereka berjuang untuk mengalahkan Si Nyonya Tua dalam setiap kesempatan. Hasilnya, langkah Juventus pada musim ini sedikit tersendat.

Mereka baru saja kalah dari Inter Milan dan berada semakin jauh dari sang pemuncak klasemen sementara, AC Milan.

Untungnya, satu trofi Piala Super Italia berhasil didapat, sehingga itu bisa menjadi motivasi tersendiri bagi mereka untuk terus maju ke perburuan juara Serie A.

Squawka, pada Oktober 2020 lalu memprediksi kalau Juventus masih mampu menyandang gelar juara pada musim ini. Persentase keberhasilan mereka sama dengan Inter Milan yang memang punya skuad mumpuni (33,56%).

Dibawah Antonio Conte, Inter Milan memang memiliki performa yang jauh semakin matang. Meski tumbang di kompetisi Eropa, mereka jadi lebih fokus berkompetisi di Liga Italia. Pemain banyak yang berada dalam kondisi bugar karena tak lagi berpikir untuk tampil di Eropa. Hal tersebut diklaim mampu dimanfaatkan La Beneamata untuk mengejar gelar juara pada musim ini.

Uniknya, AC Milan yang hanya diprediksi bakal menempati posisi ke empat musim ini malah mampu memimpin klasemen sementara saat ini. Mereka yang pada awalnya memilih Stefano Pioli sebagai pelatih sementara, justru mampu membangun skuad luar biasa.

Kedatangan Zlatan Ibrahimovic jelas memberi dampak signifikan. Zlatan berhasil memupuk mental juara kepada seluruh pemain Milan yang mayoritas berusia muda. Belum lagi, kedalaman skuad yang secara perlahan mampu ditambal.

Terbaru, Milan dengan percaya diri mendatangkan penyerang berusia 34 tahun asal Kroasia, Mario Mandzukic. Pembelian itu seolah menunjukkan bahwa Milan serius ingin merebut gelar juara. Atau mungkin, mereka juga tak ingin melepas trofi juara Liga Europa begitu saja. Kedatangan Mandzukic yang kaya akan pengalaman tentu akan berdampak kepada Milan dalam berbagai aspek. Sama seperti Zlatan Ibrahimovic, Mandzukic diharapkan mampu mengemban tugas sebagai pemain veteran yang bisa membawa perubahan lebih besar.

Apa yang dilakukan AC Milan musim ini pun menjadi momentum bagi tim Italia selain Juventus untuk meraih gelar juara. Selain itu, Inter Milan yang tentu tak ingin ketinggalan juga semakin mempersempit peluang Juventus untuk sekadar melangkah ke depan.

Selama seluruh tim Italia termasuk AC Milan, Inter Milan, hingga Napoli, Roma, Atalanta, dan Lazio selalu waspada, mereka diprediksi mampu menumbangkan dominasi Juventus secara bersama-sama. Kemudian, mereka juga harus selalu ingat bahwa kompetisi masih sangat panjang. Gelar juara bagi tim Serie A selain Juventus masih jauh dari kata mungkin.

Menurut kalian football lovers, siapkah kompetisi Italia menyambut jawara baru pada musim ini?

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=rJa_nPMotyo[/embedyt]

 

Sumber referensi: forzaitalianfootball, squawka, gantigol

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru