Kembali Ke EPL Setelah 74 Tahun! Apa Yang Menjadi Rahasia Sukses Brentford?

  • Whatsapp
Kembali Ke EPL Setelah 74 Tahun! Apa Yang Menjadi Rahasia Sukses Brentford
Kembali Ke EPL Setelah 74 Tahun! Apa Yang Menjadi Rahasia Sukses Brentford

Kompetisi Liga Primer Inggris musim depan bakal terasa lebih menarik, setelah disana terdapat nama Brentford, klub legendaris asal London yang sudah 74 tahun lamanya tidak mentas di kompetisi tertinggi. Dengan keberhasilan Brentford meraih tiket promosi musim depan, mereka kini resmi menjadi klub London ke 10 yang akan bermain di Premier League. Sebelumnya sudah ada nama-nama yang selalu mewarnai Premier League, termasuk Chelsea, Arsenal, dan Tottenham.

Keberhasilan ini sendiri didapat setelah mereka berhasil mengalahkan Swansea City di laga play-off. Bermain di Wembley Stadium, Brentford berhasil menang dengan skor 2-0. Kemenangan tim berjuluk The Bees dibuka oleh Ivan Toney pada menit ke 10, untuk kemudian ditutup oleh Emiliano Marcondes sepuluh menit berselang.

Brentford, dalam hal ini, berhasil mengikuti jejak Norwich City dan Watford yang sudah lebih dulu memastikan diri tampil di kompetisi Liga Primer Inggris untuk musim depan.

Salah satu pencetak gol Brentford di laga melawan Swansea, Ivan Toney, boleh dibilang sebagai pemain kunci klub pada musim ini. Penyerang berusia 25 tahun itu tampil menggila dengan catatkan sebanyak 33 gol di divisi Championship. Dengan begitu, dia berhasil melanjutkan kegemilangan setelah pada musim lalu berhasil menjadi top skor di League One dengan torehan 26 gol.

Kembali ke kasta tertinggi dalam 74 tahun lamanya, Brentford resmi menjadi tim ke 50 yang tampil di kompetisi Premier League. Maka bukan hal mengejutkan bila keberhasilan ini disambut dengan sangat meriah oleh seluruh lapisan tim yang bermarkas di Griffin Park, tak terkecuali sang pelatih, Thomas Frank.

“Aku benar-benar merasa kosong sekarang. Aku tidak bisa mendeskripsikannya. Perjalanan kami begitu panjang, ada banyak masa naik-turun,” ujat Frank di Sky Sports.

Profil Singkat Brentford

Brentford sendiri merupakan klub yang berbasis di London Barat. Klub yang dibentuk pada 10 Oktober 1889 ini dikuasai oleh Matthew Benham dan Rasmus Ankersen. Kedua sosok tersebut sebelumnya berhasil membangun kekuatan di FC Midtjylland, salah satu klub asal Denmark yang mampu mendobrak Eropa. Kini, setelah sekian lama, giliran Brentford yang dibawanya naik ke kasta tertinggi sepakbola Inggris.

Di awal berdirinya, Brentford hanya bermain di level amatir sebelum akhirnya masuk ke Liga London. Pada tahun 1896, mereka sempat menempati posisi runner up namun gagal keluar sebagai juara setelah menampilkan performa yang buruk. Dalam sejarahnya, mereka juga lebih sering dikenal sebagai spesialis runner up. Mereka selalu gagal ketika memiliki kesempatan untuk duduk di tempat tertinggi.

Beruntung, pada musim ini, Brentford sukses mematahkan cap buruk yang tersemat, dengan berhasil naik ke panggung tertinggi sepakbola Inggris.

Bicara tentang keberhasilan Brentford pada musim ini, bagaimana cara mereka memperbaiki segalanya hingga mendapatkan hasil yang memuaskan?

Revolusi Benham

Seperti yang sudah dijelaskan, Brentford berhasil naik ke panggung tertinggi berkat revolusi yang digalakkan Benham selaku pemilik. Benham yang memiliki kecerdasan sebagai seorang analis sepakbola mulai mengakuisisi Brentford pada tahun 2012 silam. Benham yang dibantu oleh Rasmus Arkensen sebagai Co-Director of Football Brentford, merupakan lulusan Bachelor of Arts degree in Physics Universitas Oxford yang kemudian menjadi seorang pejudi profesional.

Dia begitu akrab dengan data dan statistik sehingga banyak menerapkan sistem di Brentford melalui cara tersebut. Menurutnya, data memiliki peranan penting dalam menentukan performa pemain. Dari kecerdasannya itu, Benham berhasil menemukan bakat Neal Maupay sampai Ollie Watkins.

Semenjak Benham datang, klub langsung mengalami perkembangan secara bertahap. Ditukangi oleh mantan pemain Manchester City, Uwe Rosler, Brentford berhasil melaju sampai ke babak play-off League One pada tahun 2013. Sayangnya, ketika itu mereka belum berhasil lolos ke kompetisi League One.

Namun, melihat permainan dan perjuangan para penggawa Brentford membuat para penggemar mulai bisa melihat bagaimana kiprah tim kesayangan mereka selanjutnya. Akhirnya, ketika pada musim 2013/14 tim ditangani oleh Mark Warburton, Brentford berhasil duduk di tangga kedua dan memastikan diri untuk lolos ke divisi Championship.

Kendati demikian, keberhasilan Mark Warburton dalam membawa Brentford lolos ke divisi Championship tidak membuat Benham terkesan. Menurut perhitungannya melalui data dan statistik, sang pelatih dan jajaran asistennya tidak bermain cukup bagus, sehingga Benham pun tak segan untuk memecatnya, setelah Mark hanya menemani Brentford selama semusim di kompetisi Championship

Selain turut memantau perkembangan tim melalui data dan statistik, Benham yang merupakan seorang pejudi juga tentu memandang sepakbola sebagai hal yang tak lepas dari bisnis. Memberi jaminan sebesar 500 ribu pounds di awal bagi klub, untuk kemudian bertambah menjadi 100 juta pounds, Benham mulai berinvestasi pada akademi, fasilitas, dan stadion.

Namun ternyata, hal tersebut dirasa tidak memberi keuntungan yang cukup bagi klub, terutama sistem akademi mereka. Hasilnya, Benham melakukan gebrakan dengan menghapus sistem akademi Brentford dan hanya menjalankan tim Brentford B, dimana disana terdapat pemain berusia 17 sampai 21 tahun. Baginya, akademi tidak memberi untung yang memuaskan. Dirinya yang mengeluarkan dana sebesar dua juta pounds per tahun untuk akademi hanya menerima profit sebesar 30 ribu pounds dari setiap pemain yang keluar.

Ketika sistem akademi sudah tidak dijalankan, Benham beserta Rasmus Ankersen lalu memilih untuk mengambil pemain setengah matang dan tidak terpakai di klub besar untuk mengisi tim Brentford B atau langsung dimainkan di tim utama. Menurut mereka ini bukan langkah yang buruk. Pasalnya para pemain tersebut dianggap tidak benar-benar jelek sehingga tidak dipakai di klub besar. Masih ada kesempatan untuk mengembangkan kembali potensi mereka.

Lalu Siapa Yang Bertugas Mencari Pemain?

Tugas perekrutan pemain sendiri dilakukan oleh Ankersen dan Phil Ghiles sebagai Co-Director of sport. Selain mengamati calon pemain yang akan didatangkan, kedua sosok tersebut juga bertanggung jawab atas kesuksesan klub dalam jangka panjang. Dalam hal ini, lagi-lagi mereka menggunakan data sebagai acuan untuk mengamati calon pemain yang bakal direkrut.

Setelah para pemain yang diidentifikasi dengan data sudah ditemukan oleh Ankersen dan Phil Ghiles, nantinya para pemain tersebut akan dikelompokkan ke dalam grup yang berisi 6 sampai 7 pemain, untuk dibina oleh seorang development coach.

Dengan sistem tersebut, ada banyak pemain berkualitas yang berhasil memberi keuntungan. Seperti misalnya Maupay yang dijual ke Brighton dengan biaya 19,8 juta pounds meski didatangkan dengan nilai yang tak mencapai angka 2 juta pounds. Berikutnya ada Chris Mepham yang merupakan bakat asli tim B dan dijual ke Bournemouth seharga 12,2 juta pounds. Jangan lupakan pula Ezri Konsa yang diboyong dengan nilai 2,5 juta pounds namun berhasil terjual sampai 12 juta pounds ke Aston Villa.

Kembali lagi, semua adalah tentang bisnis. Ketika sistem akademi dirasa tidak cocok dengan visi, maka dengan sistem pengganti, Brentford FC setidaknya mampu meraih profit 15 juta pounds setiap tahunnya dari penjualan pemain yang mereka lakukan

Selain itu, tim Brentford B juga dikabarkan sudah memberikan sebanyak 16 pemain ke skuad utama dalam kurun waktu empat tahun. Pemain yang tidak dipakai di klub besar sebelumnya berhasil dikembangkan dan mampu meningkatkan nilai skuad Brentford, yang sebelumnya 4,9 juta pounds pada 2015, menjadi 15,3 juta pounds pada musim 2020/21.

Melalui kecerdasan Matthew Benham dan Rasmus Ankersen, Brentford mampu membentuk skuad dengan nilai tinggi, meski mereka tidak memiliki dana sebesar klub kaya semacam duo Manchester hingga Chelsea.

Pembagian Tugas Yang Efektif

Selain menghilangkan sistem akademi klub dan berhasil meraup lebih banyak keuntungan, Brentford melalui Benham juga mengubah sistem lainnya. Di klub tersebut, pelatih kepala tidak ikut campur dalam proses perekrutan pemain, karena seperti yang sudah dijelaskan tugas tersebut diemban oleh Ankersen dan Phil Ghiles. Sang pelatih hanya bertugas untuk memenangkan pertandingan pada setiap minggunya saja.

“Dalam struktur tradisional klub Inggris ada manajer yang mengurusi hampir semua urusan jangka panjang dan pendek klub. Menurut kami itu tidak baik bagi perkembangan pemain. Rata-rata manajer hanya memiliki durasi 14-16 bulan menangani satu klub,”

“Dalam durasi yang singkat itu apa yang akan menjadi fokus utamanya? Mungkin hanya terkait pertandingan di akhir pekan. Apakah kamu akan mengambil risiko dengan memainkan pemain muda ketimbang memilih pemain mahal yang berpengalaman?” kata Ankersen.

Pelatih mereka, Thomas Frank, resmi duduk di kursi panas tim pada tahun 2018 silam untuk menggantikan peran Dean Smith yang bertolak ke Aston Villa. Dia yang hanya ditugaskan untuk meraih kemenangan pada setiap laga, memang memiliki perkembangan yang luar biasa. Dalam kurun waktu tiga tahun lamanya, meski banyak pemain yang datang dan pergi, Thomas Frank tetap mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Di musim perdananya, dia memang hanya mampu membawa Brentford duduk di tangga ke sebelas. Namun dia tetap dipertahankan karena Benham melihat ada sesuatu yang istimewa dari sosok Thomas Frank. Benar saja, semusim berselang, dia berhasil membawa Brentford duduk di tangga ketiga. Raihan itu terlihat semakin menakjubkan setelah Brentford di musim tersebut mampu mencetak 80 gol dan hanya kebobolan sebanyak 38 gol saja. Sayangnya, ketika itu Brentford tumbang di laga play off melawan Fulham.

Di musim 2020/21, masih menggunakan sistem permainan menyerang, Thomas Frank berhasil mempertahankan posisi ketiga dengan mencetak 79 gol dan kebobolan 42 gol. Kabar baiknya adalah, mereka berhasil lolos ke kasta tertinggi untuk pertama kali sejak 74 tahun lamanya.

Sumber referensi: Sky Sport, Bolanet, Indosport, Panditfootball, Transermarkt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *