Kegagalan Pep dan Klopp di Musim Pertamanya Bersama City dan Liverpool

spot_img

Suatu proses yang benar pasti tak akan mengkhianati hasil. Segalanya tak ujuk-ujuk instan. Hal yang berlaku bagi dua pelatih top dunia, Jurgen Klopp dan Pep Guardiola. Mereka adalah dua pelatih yang percaya akan sistem permainan yang jelas dan menyukai sebuah proses.

Kegagalan tak membuat mereka risih, termasuk ketika awal Pep menukangi Manchester City maupun Klopp ketika menukangi Liverpool. Mereka sama-sama mengalami musim yang tak mulus di debutnya ketika datang ke Inggris. Namun yang menarik, keduanya mampu melewati proses itu dengan cara yang berbeda.

Pep Dan Klopp Sama-Sama Berangkat Dari Sebuah Proses

Kedua pelatih ini, sebelum di klubnya yang sekarang telah menorehkan catatan yang hebat. Pep dengan segala deretan prestasi mentereng ketika bersama Barcelona maupun Bayern Munchen. Sedangkan Klopp dengan prestasinya bersama Dortmund yang pernah mengalahkan dominasi Munchen.

Pep pernah menjalani debut mulus dengan mengantarkan Barcelona meraih sextuple di musim 2008/09. Itu ia lakukan setelah berproses dahulu di tim Barca B.
Sementara Klopp berbeda. Ia memulai karier dari melatih klub medioker di Jerman sampai akhirnya bisa dikenal ketika di Dortmund.

Namun, ia tak menjalani masa yang mudah di Dortmund. Klopp membutuhkan waktu lama sebelum memetik hasilnya. Di musim pertamanya ketika menggantikan Thomas Doll, Klopp kesusahan dan hanya finis di papan 6 klasemen Bundesliga. Barulah di musim ketiganya 2010/11, Klopp mampu meraih kesuksesan menjadi juara Bundesliga.

Pep Dengan Ekspektasi Tinggi dan Dana Melimpah

Namun, ketika keduanya pertama kali menginjakan kakinya di Liga Inggris, menjadi sebuah pertanyaan sekaligus tantangan berat. Benar saja, keduanya sama-sama menghadapi masalah yang sama dengan skuadnya masing-masing di awal debutnya.

Di City, Pep dituntut menghadirkan banyak trofi dengan dana melimpah dari taipan Uni Emirat Arab. Karena sebelumnya, City di era Mancini maupun Pellegrini juga pernah sukses meraih beberapa trofi.

Namun, atmosfer dan persaingan di Liga Inggris ini berbeda dengan La Liga maupun Bundesliga. Liga Inggris sangat kompetitif dan tak bisa ditebak kekuatan semua tim per pekannya.

Selain itu, skuad City peninggalan Pellegrini tak ubahnya masih banyak kekurangan untuk bisa cocok dan masuk dalam sistem yang diinginkan Pep. Pep kemudian mulai perlahan membangun sistem permainan di Etihad. Para pemain yang dibutuhkan pun mulai didatangkan, begitu pula yang tak dibutuhkan juga ia depak.

Total spend Pep di musim pertamanya untuk membangun City tak main-main. Dengan mendatangkan Gundogan, Nolito, Gabriel Jesus, Bravo, Stones maupun Leroy Sane, City merogoh kocek hingga 171 juta pounds. Pemain lain yang dianggapnya tak cocok dan tak dipakai lagi macam Wilfried Bony, Edin Dzeko, Stevan Jovetic, Joe Hart, Mangala, maupun Demichelis, semuanya didepak.

Perombakan skuad tersebut awalnya berbuah manis, ketika debut Pep di Liga Inggris diwarnai dengan 6 pertandingan selalu meraih kemenangan. Termasuk yang paling fenomenal kemenangan di Derby Manchester. Ketika itu ia berhasil mempermalukan setan merah di rumahnya sendiri dengan skor 2-1 pada September 2016.

Gelombang optimisme pun bergelora di seantero Etihad, ketika ekspektasi terhadap Pep akan segera menjadi kenyataan. Namun apa yang terjadi setelahnya, inkonsistensi perlahan menghantui pasukan Pep.

Terbukti, kompetitifnya Liga Inggris tak bisa disamakan dengan liga lainnya. Ketika klub-klub medioker macam Middlesbrough, Stoke City, Soton, Leicester, maupun Everton silih berganti menahan laju pasukan Pep musim itu. Pep banyak kehilangan poin dari klub-klub medioker.

Inkonsistensi terjadi seiring dengan berbagai rotasi yang Pep lakukan. Faktor Pep yang masih meraba-raba formasi juga jadi sebab. Seperti ketika kalah 4-2 melawan The Foxes pada Desember 2016. Pep bereksperimen dengan hanya menempatkan 3 bek dengan model Inverted Full Back dalam diri Zabaleta dan Kolarov.

Pekan demi pekan berjalan, pasukan Pep mengarungi proses yang terjal. Sampai akhirnya mereka benar-benar terlatih hingga pekan terakhir dengan hanya mengumpulkan 78 poin, dan hanya finis di posisi ke 3 klasmen Liga Inggris. Tak ada satu pun trofi yang Pep raih. Artinya, ia tak lebih baik dari pendahulunya, Pellegrini yang sebelumnya meraih trofi Piala Liga.

Klopp di Tengah Jalan dan Modal Klub Sedikit

Lain Pep lain pula Klopp. Klopp mengalami proses yang berbeda dengan Pep. Meskipun, sama-sama gagal di musim pertamanya. Perbedaanya terletak pada awal keraguan akan kedatangan pelatih asal Jerman tersebut. Ia datang saat Dortmund terperosok di Bundesliga.

Namun pihak manajemen klub memberi kepercayaan bagi Klopp untuk meneruskan pengembangan di tubuh Liverpool pasca Rodgers. Klopp datang ke Anfield di tengah jalan kompetisi pada Oktober 2015 setelah hasil buruk yang menimpa Rodgers.

Skuadnya pun masih compang-camping sepeninggal Rodgers. Berbeda dengan Pep di City, Klopp harus bersabar dan bekerja ekstra keras karena ia tak mendapat sokongan dana mumpuni dari klub di bursa transfer.

Ia hanya memanfaatkan pemain seadanya, sambil perlahan membangun sistem permainan. Hanya Marko Grujic, sebuah pembelian di Januari 2016 yang notabene murah dan kemudian juga gagal.

Hanya finis di papan 8 klasemen musim 2015/16 adalah hasil yang diterima Klopp. Namun di sisi lain, perlahan permainan Liverpool mulai kelihatan berkembang dengan cara Klopp. Para pemain seperti Coutinho, Firmino, maupun Henderson mulai terlihat berkembang.

Terkhusus Firmino yang mulai coba ditempatkan sebagai penyerang tengah (false nine) “Roberto selalu terlibat dalam aksi ofensif atau aksi defensif. Dan ia memiliki kemampuan fisik untuk melakukannya,” kata Klopp.

Di musim penuh pertamanya 2016/17, Klopp mulai membangun sesuai apa yang ia mau. Namun keterbatasan dana dari FSG, ia hanya dapat belanja secukupnya. Di situlah peran ia menemukan pemain yang tepat teruji. Wijnaldum, Matip, maupun Mane adalah sosok yang didatangkan Klopp untuk dijadikan kerangka awal bagi The Reds.

Format baru Klopp yang terus dibangun dengan 4-3-3, mulai terasah. Sistem itu mulai memunculkan trio baru Liverpool: Coutinho, Firmino, dan Mane. Ketiganya total mampu mengemas 40 gol di semua kompetisi.

Namun naas, di tengah inkonsistensi lini pertahanan dan persaingan yang ketat Liga Inggris, Liverpool hanya dibawanya finis di papan 4 klasemen Liga Inggris.

Di Musim Penuh Kedua, Pep Dan Klopp Sama-Sama Berhasil

Keberhasilan Pep dan Klopp melalui jalan terjal sebuah proses baru terbukti hasilnya di musim penuh kedua mereka. Pep di musim keduanya 2017/18, benar-benar bangkit dari keterpurukan dengan meraih double winners di Piala Liga, dan juara Liga Inggris.

Sedangkan Klopp mulai menjadi penantang serius gelar juara Liga Inggris, sekaligus kembali berjaya di pentas Eropa dengan menjadi finalis Liga Champions.

Kisah kedua pelatih top dunia ini mencerminkan sebesar apa pun namanya, sehebat apa pun seseorang, tetap harus mencintai sebuah proses. Terbukti, keduanya meskipun berlatar belakang nama besar, ia mau berproses meskipun awalnya harus rela menerima kegagalan. Dan pantas, kalau di era sekarang mereka mampu menuai hasilnya.

Sumber Referensi : espn, bbc, goal, beinsports, bleacherreport, liverpoolecho

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru