Dari Sayap Hingga Jadi Mesin Gol, Kisah Perkembangan Peran Cristiano Ronaldo

spot_img

Kisah perjalanan karir sepakbola seorang Cristiano Ronaldo sampai kapan pun akan terus disorot. Banyak yang bisa dibahas dari seorang GOAT yang saat ini nyasar ke Al Nassr. Tak usah bicarakan lagi soal gol, gelar, penghargaan, maupun rekor darinya. Apalagi sisi kontroversialnya, sudah banyak menghiasi beberapa media akhir-akhir ini.

Sisi lain yang menarik untuk dibahas, salah satunya yakni perjalanannya dalam peran permainannya di lapangan. Bayangkan, ketika datang ke MU dulu, ia hanyalah pria bertubuh kurus yang beroperasi di sektor sayap dan sering terlihat hanya bisa gocek sana gocek sini saja. Namun dalam perkembangannya, sungguh luar biasa. Nah, bagaimana bisa itu terjadi?

Diremehkan Dan Bekerja Keras

Didatangkan Ferguson dari Sporting Lisbon, Ronaldo pada musim 2003/04 diharapkan menjadi penerus jangka panjang bintang mereka, David Beckham yang hijrah ke Madrid. Debutnya bersama Setan Merah ketika itu harus langsung menerima sepakan selamat datang dari kerasnya Liga Inggris oleh Nicky Hunt, pemain Bolton Wanderers.

Masih berusia 18 tahun, status wonderkid pun disematkan padanya. Permata Fergie tersebut awalnya diragukan menjadi superstar. Kata wartawan BBC ketika itu, Alan Hansen, masalah utama yang terjadi pada musim debutnya di MU adalah masalah penyelesaian akhir.

Banyak pengamat pun juga tetap tidak yakin dengan bakat Ronaldo akan berkembang. Hingga Januari 2006, Manchester Evening News masih memuat tajuk utama “Ronaldo: Class Act Or Show Pony?” Karena dalam dua musim pertamanya bersama United, terbukti Ronaldo hanya bisa mencetak 15 gol dalam 90 pertandingan.

Namun apa yang terjadi setelah 2006? Ia seolah memberikan jawaban. Seiring tubuhnya yang makin atletis berkat kerja keras latihannya yang tanpa henti, fisiknya perlahan mendukungnya dalam bermain.

Pertumbuhan itu membuat perubahan signifikan dalam performa Ronaldo. Jumlah dribbling-nya pun tak lagi sebanyak musim sebelumnya. Di musim 2006/07, ia hanya mencipta 6,1 dribbling per pertandingan. Berbeda dengan 9,3 dribbling yang ia torehkan di musim sebelumnya. Jumlah golnya pun dua kali lipat dari musim sebelumnya yakni 23 gol.

Sebagai seorang winger pelayan, Ronaldo waktu itu sudah mampu menciptakan 22 assist, Sebuah rekor cemerlang yang dilakukan oleh pemuda seperti Ronaldo.

Berkembangnya Ronaldo di zaman Fergie, tak lepas dari kebebasan yang diberikan kepadanya. Ia menjelma menjadi sayap kuat yang sering bergerak ke dalam area kotak penalti dan melakukan finishing dengan baik. Ia mulai pandai menguasai ruang kosong dalam sepertiga akhir pertahanan lawan.

Berbagai gelar pun senantiasa mengiringi perkembangannya bersama MU. Ronaldo seolah telah memberi jawaban kontan akan beberapa orang yang awalnya meragukan bakatnya. “Dia adalah pemain yang selalu ingin mengambil bola dan selalu bermain dengan keberanian yang luar biasa,” kata Fergie pada tahun 2008.

Mulai Berubah Perannya Ketika Di Madrid

Sampai akhirnya GOAT yang satu ini akhirnya memilih pergi dari Theater Of Dream menuju Santiago Bernabeu di musim 2009/10. Bermain kurang lebih sama perannya ketika di MU. Yakni sebagai winger yang sesekali dapat merangsek ke area kotak penalti dan menciptakan gol. Namun, secara gol yang dicetak, ia tak lebih banyak dari Gonzalo Higuain yang mencetak 27 gol, dibandingkan 26 gol miliknya.

Perubahan pun mulai terjadi pada peran Ronaldo ketika Manuel Pellegrini dipecat dan Mourinho datang. Kerja sama sesama Portugal pun terjalin. Datangnya bala bantuan dengan rekrutan macam Di Maria maupun Ozil membuat peran Ronaldo dalam pakem Mourinho 4-2-3-1 menjadi lebih cair. Ia hanya fokus pada finishing, meskipun ia secara formasi masih ditempatkan di sisi kiri.

Tanda-tanda peran Ronaldo mulai berubah menjadi Inside Forward terendus ketika statistik sentuhannya tak lagi banyak. Hanya rata-rata 72 sentuhan dan nilai itu terus menurun tiap musimnya ketika di Madrid. Hal itu membuktikan ia tak lagi terlibat lebih banyak dari sisi membangun serangan, tapi ia lebih efektif.

Setelah Mou pergi dan digantikan Ancelotti, sistem Real Madrid pun berubah. Ancelotti memilih sistem berbeda dengan 4-3-3 yang mengandalkan trio di depan. Dikenalah trio BBC: Benzema, Bale, dan Cristiano Ronaldo.

Di situ peran Ronaldo lebih terpusat lagi. Ia benar-benar dijadikan opsi utama “end product” Madrid oleh Ancelotti. Dengan Bale lebih melebar ke kanan, Benzema yang mencari ruang lebih ke belakang untuk menarik lawan, dan Ronaldo lah yang difungsikan untuk sering berada di kotak penalti dan menciptakan gol.

Begitupun ketika Zidane datang. Penyempurnaan pun dilakukan oleh Zizou. Ia juga kerap terang-terangan memakai Ronaldo menjadi dua pemain di depan bersama Benzema, ketika ia memakai pola 4-4-2 diamond.

Dengan efektifitas peran yang berubah dari Ronaldo, ia benar-benar menjadi mesin gol tersubur di Los Blancos. Raihan 50 gol ke atas selalu ia torehkan selama di Madrid sejak 2010 hingga 2015. Namun, seiring cedera otot yang kadang melandanya, ia mulai terganggu. Bahkan ketika memasuki usia 30-an, ia tak lagi secepat dulu. Penampilannya pun mulai menurun.

Di akhir karirnya bersama Madrid, evolusi perannya sebagai pemain benar-benar terbukti. Menurut data Transfermarkt, Ronaldo memainkan 31 pertandingan sebagai penyerang tengah pada 2017/18, dibandingkan dengan hanya 12 pertandingan sebagai penyerang sisi kiri. Data itu membuktikan bahwa ia sudah bukan pemain sayap lagi.

Poacher Di Juve

Hal itu juga terbukti dimanfaatkan Juve ketika berhasil meminangnya pada musim 2018/19. Ia menjelma sebagai seorang dua striker di depan selama di Juventus. Bersama Dybala dan Mandzukic, ia silih berganti menjadi “Poacher” Juventus. Meskipun terkadang, Allegri memakainya dari sebelah kiri penyerangan kalau menggunakan format 4-3-3 atau 4-2-3-1.

Selama di Si Nyonya Tua, perannya sebagai striker mesin gol terbukti dengan beberapa gelar top skor yang diraihnya. Kelonggaran peran Allegri untuk pemain yang sudah berusia 30 tahun ke atas menjadi tepat.

Maklum menurunnya skill, kecepatan dribbling, maupun fisiknya seiring menuanya usia tak bisa ditutupi oleh Ronaldo. Namun ia sangat tepat dengan memilih perannya yang tak lagi ngoyo di lapangan dan lebih efektif. Insting gol maupun mental bertandingnya juga masih tetap terjaga.

Sampai akhirnya ia kembali ke Theater Of Dream di usia 36 tahun pada musim 2021/22. Dalam racikan 4-2-3-1 ala Ole, ia menjadi seorang striker tunggal. Magis sentuhannya pun awalnya masih bertaji dengan menjadi top skor klub dengan 24 golnya di semua kompetisi.

Transformasi Ronaldo dari awal karirnya di MU menjawab betapa pentingnya peran seorang pemain di posisi yang tepat. Hal itu membuktikan bahwa evolusi peran dalam karir Ronaldo, berjalan sesuai apa yang telah direncanakan.

Sumber Referensi : breakingthelines, sportskeeda, messivsronaldo, thetelegraph, en.as, manchestereveningnews

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru