Tahun Baru 2023, tapi Masalah Liverpool Tetap Sama!

spot_img

Ibarat lubang yang menganga, masalah di tubuh Liverpool itulah lubang yang sampai hari ini belum kunjung tertutup dengan baik. Setelah mulai menunjukkan tren positif lagi. Beberapa hari setelah Piala Dunia, Liverpool terjungkal lagi.

Adalah Brentford, tim yang dikenal suka mengobrak-abrik tim raksasa itu, kini melibas Liverpool. Tak sekadar menang tipis. Pasukan Thomas Frank menghantam Liverpool dengan skor telak 3-1. The Reds kembali oleng dari jalurnya.

Setelah empat laga di Liga Inggris sebelumnya meraih kemenangan, Liverpool kembali terjungkal. Dan sekali lagi, lubang itu sepertinya masih menganga. Jurgen Klopp, dalam hal ini, mungkin khilaf belum bisa memperbaiki permasalahan itu secara sempurna.

Momok Cedera

Tahun sudah berganti ke 2023, tapi permasalahan Liverpool tetap sama. Salah satunya problem cedera. Cedera masih menjadi momok bagi pasukan The Kop. Terhitung, The Reds menjadi salah satu tim di Liga Inggris yang apes, karena di setiap lini sudah pernah merasakan cedera.

Di lini pertahanan, beberapa pemain pernah cedera. Kini dikabarkan bek andalan Liverpool, Virgil Van Dijk juga alami cedera yang kabarnya tidak sembuh dalam waktu dekat. Lalu permasalahan cederanya pemain tengah juga pernah menjangkiti Liverpool. Pemain-pemain seperti Thiago Alcantara, Jordan Henderson, Naby Keita, sampai James Milner pernah atau sedang merasakan cedera.

Pasukan Jurgen Klopp hari ini juga giliran dihantam badai cedera bagi pemain depannya. Per 2 Januari 2023, para penyerang Liverpool seperti Diogo Jota, Roberto Firmino, dan Luis Diaz tengah mengalami cedera.

Betul bahwa Liverpool masih memiliki beberapa opsi di lini depan, seperti Mohamed Salah dan Darwin Nunez, tapi tentu dua orang itu saja tidak cukup. Kehadiran Cody Gakpo mungkin saja bisa menjadi solusi. Namun, soal itu kita bahas nanti.

Pertahanan Buruk

Lini bertahan Liverpool juga masih menjadi masalah yang tak kunjung terurai. Jason Burt, seorang kolumnis di The Telegraph menulis, bahwa pertahanan Liverpool amburadul. Berkaca dari laga menghadapi Brentford, apa yang ditulis Burt benar belaka.

Pertahanan Liverpool tampak kedodoran menghadapi serangan-serangan dari Brentford. Padahal saat menghadapi Liverpool, The Bees tidak diperkuat top skor mereka, Ivan Toney. Dan ironisnya lagi, di laga itu anak asuh Thomas Frank kalah penguasaan bola.

Brentford hanya memiliki 27% penguasaan bola, berbanding 73% yang dimiliki Liverpool. Namun, intensitas serangan Brentford membuat pertahanan Liverpool pontang-panting. Karena lunglainya pertahanan Liverpool, bahkan Brentford bisa melepas 8 kali tembakan di dalam kotak penalti The Reds hanya dalam waktu 45 menit.

Pertahanan yang compang-camping itu, statistik buruk pun melekat pada pasukan The Kop. Dari catatan The Athletic, Liverpool hanya bisa memenangkan dua pertandingan dari delapan pertandingan tandang mereka. Liverpool juga kebobolan lebih dulu dalam 10 dari 17 laga yang dilakoni.

Menurut catatan Opta, sebagaimana dikutip The Athletic, total 51 kali lawan bisa menciptakan peluang besar di pertahanan Liverpool. Angka itu dua kali lebih banyak dari lima tim yang berada di atas Liverpool di tangga klasemen Liga Inggris.

Garis pertahanan yang tinggi juga jadi masalah. Apalagi Liverpool sedikit melakukan tekanan. Pertahanan Liverpool pun akhirnya mudah dieksploitasi lawan. Para pemain belakang Liverpool tidak kuasa menutup celah itu.

Kurangnya Intensitas Tekanan

Liverpool dikenal sebagai tim dengan intensitas serangan yang tinggi dan solid. Tapi, itu dulu, sekarang tidak lagi. Liverpool, kendati memiliki garis pertahanan yang tinggi, jarang menekan sebagai suatu kesatuan dalam tim. Liverpool tampak seperti setengah hati dalam bermain.

Jika melihat pertandingan saat menghadapi Brentford, kita bisa tahu bahwa Liverpool minim melakukan tekanan. Data dari Sofascore menunjukkan, walaupun Liverpool unggul dalam penguasaan bola dari Brentford, tapi perkara tekanan kalah. Liverpool hanya melakukan 9 tekel, sedangkan Brentford 17 kali.

Tidak hanya itu, Brentford melakukan 17 hadangan, sedangkan Liverpool hanya 4. Liverpool juga lebih sering kehilangan penguasaan bola, yaitu 176 kali, daripada Brentford yang kehilangan 164 kali penguasaan bola. Dengan kata lain, intensitas tekanan Brentford lebih efektif daripada Liverpool.

Legenda Liverpool, Jamie Carragher juga mengakui hal itu. Mengutip Mirror Irlandia, Carragher mengatakan, Liverpool adalah tim dengan intensitas. Karena itu adalah identitas Liverpool.

“Mereka (Liverpool) tidak bisa mengatasinya lagi. Sepertinya, tim yang menua akan segera berakhir. Liverpool memiliki masalah sepanjang musim melawan tim yang mengandalkan fisik. Ketika permainan memiliki intensitas tinggi, Liverpool tidak sanggup mengatasinya,” kata Carragher.

Lemah dalam Set Piece

Ketika menghadapi Brentford, ada satu permasalahan lagi yang sepertinya luput diperhatikan oleh Jurgen Klopp. Masalah itu adalah soal bola mati alias set piece. Liverpool ternyata lemah dalam menghadapi situasi bola mati.

Setiap Brentford memiliki kesempatan untuk mengeksekusi bola mati, justru memicu kepanikan bagi pemain Liverpool. Panik yang bikin akhirnya bikin pemain kacau dalam melakukan gerakan mendasar. Ini bukan kali ini saja terjadi.

Brentford memang jadi salah satu klub Liga Inggris yang cakap dalam eksekusi bola mati. Musim lalu, eksekusi bola mati Brentford berhasil mengacaukan pertahanan Liverpool dalam hasil imbang 3-3. Pada laga kemarin, Liverpool beruntung ditolong oleh VAR.

Salah satu upaya Brentford melalui tendangan pojok pada menit ke-40 bisa merobek jala Alisson. Tapi gol ini dianulir VAR karena offside. Liverpool memang berantakan dalam mengantisipasi bola mati. Gol pertama Brentford bahkan berasal dari sana. Sepak pojok Bryan Mbuemo gagal diantisipasi Ibrahima Konate yang justru mencetak gol bunuh diri.

Mengutip Sky Sports, Jurgen Klopp juga tidak senang dengan pertahanan bola mati Liverpool. Ia marah pada pemain Liverpool. Di sisi lain, Thomas Frank tidak menyangka timnya bisa mengalahkan Liverpool. Meski ia mengakui, anak asuhnya cakap dalam melakukan set piece.

Lini Depan yang Tumpul, Gakpo Solusi?

Masalah berikutnya yang terus menghantui Liverpool adalah lini depan yang tumpul. Belakangan ini, Liverpool kehabisan opsi di lini depan, setelah beberapa pilarnya ludes dilalap cedera. Tidak ada Sadio Mane yang sudah dijual. Diogo Jota dan Luis Diaz yang tengah cedera memaksa Jurgen Klopp memutar otak.

Chamberlain pun beberapa kali dipasang. Untung ia memberikan jawaban atas kepercayaan Klopp. Namun, masih ada problem lagi. Selain Mohamed Salah yang masih seret mencetak gol, masalah lain ada pada diri Darwin Nunez.

Pemain Uruguay itu kerap dipasang sebagai striker tengah. Tapi ia belum bisa membayar lunas kepercayaan Klopp. Bahkan Nunez menjadi pemain yang paling sering membuang peluang di Liga Inggris, total per 5 Januari 2023, ada 15 peluang besar yang dibuang Nunez.

Ironisnya, bukan cuma Nunez yang kerap buang peluang. Salah juga sama. Pemain Mesir itu menempati urutan kedua sebagai pemain yang paling sering buang peluang di Liga Inggris, yaitu 12 kali. Barangkali karena inilah Liverpool mendatangkan Cody Gakpo.

Gakpo bisa jadi alternatif lain di tengah tandusnya penyerang depan Liverpool. Ia bisa menjadi sosok yang tepat yang memberi variasi progresif untuk mengeksploitasi kerentanan pertahanan lawan. Gakpo juga bisa mengubah permainan. Singkatnya, dengan Gakpo ancaman Liverpool bisa makin komprehensif.

Sumber: LiverpoolFC, Goal, Telegraph, IrishMirror, TheGuardian, TheAthletic, 90Min, Liverpoolcom, SkySports, LiverpoolEcho, Sofascore

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru