Timnas Jerman tampil sangat mengecewakan. Dalam empat laga terakhir saja, mereka hanya mampu memenangkan satu laga, yakni saat menghadapi Amerika Serikat. Sisanya Jerman terpuruk. Kalah dari Turki dan Austria, serta hanya bisa meraih hasil imbang saat menghadapi Timnas Meksiko.
Para pengamat sepak bola telah banyak yang menganalisis keterpurukan Timnas Jerman. Starting Eleven Story juga sebelumnya pernah membahas keterlambatan Timnas Jerman memecat Hansi Flick. Tapi ada satu lagi kisah yang berhubungan dengan mundurnya Timnas Jerman.
Kisah itu adalah kedatangan Josep Guardiola ke Jerman. Lalu, apa hubungannya kedatangan Josep Guardiola dengan mundurnya sepak bola Jerman, wabil khusus tim nasionalnya?
Daftar Isi
Datang ke Bayern Munchen
Sepanjang karier kepelatihannya, Josep Guardiola pernah mampir ke Jerman. Ia tidak sekadar mampir minum atau berbicara dengan legenda Jerman seperti Franz Beckenbauer, melainkan untuk melatih tim terbesar di Jerman. Benar sekali, tim itu adalah Bayern Munchen. Guardiola datang ke Allianz Arena pada 2013, menggantikan Jupp Heynckes.
Heynckes yang bersikeras tidak akan lanjut lagi melatih membuat petinggi Die Roten waktu itu, Uli Hoeness dan Karl-Heinz Rummenigge memutuskan segera mencari suksesor. Setelah melewati pembicaraan rahasia, akhirnya diumumkanlah Josep Guardiola sebagai pelatih anyar Die Roten pada Januari 2013.
Kata Uli Hoeness hanya Guardiola yang bisa melanjutkan kiprah Jupp Heynckes. Guardiola waktu itu juga sedang nganggur setelah meninggalkan jabatannya di Barcelona. Saat mendapat tawaran dari Bayern Munchen, Guardiola mengiyakan karena baginya, tim itu bisa memberinya tantangan baru.
Pep Guardiola: "When I signed the contract with Bayern Munich, I started to learn German. It was so complicated. I learnt the grammar three or four hours every morning." [BBC] pic.twitter.com/F2d6cLNE2E
— Bayern & Germany (@iMiaSanMia) October 25, 2018
Langsung Berdampak
Setibanya di Munich, Guardiola bersikeras untuk membawa mantan anak asuhnya, Thiago Alcantara. Hal itu, menurutnya demi menopang kekayaan tim yang sudah memiliki Toni Kroos, Franck Ribery, Mario Gotze, Thomas Muller, hingga Arjen Robben.
Namun, ketika melakoni pertandingan resminya bersama Die Roten, Guardiola harus menelan pil pahit. Bayern asuhannya dikalahkan oleh Borussia Dortmund asuhan Jurgen Klopp di Piala Super Jerman. Skornya 4-2.
Kendati demikian, di Bundesliga laju Bayern Munchen asuhan Guardiola tak terbendung. Dengan formasi 4-2-3-1 dan/atau 4-1-4-1, Guardiola membuat permainan Bayern Munchen sangat cair. Memainkan umpan-umpan pendek dan meningkatkan penguasaan bola.
On this day, 8 years ago, Robert Lewandowski signed an agreement to join Bayern Munich on a free transfer the following summer:
— Football Tweet ⚽ (@Football__Tweet) January 3, 2022
👕 354 games
⚽ 324 goals
🅰️ 68 assists
🏆 18 trophies
Best free signing of all time? 🤔 pic.twitter.com/4hreUTifo3
Kehadiran Guardiola juga sekaligus menandai era baru Bayern Munchen. Ya, era baru itu adalah era Robert Lewandowski. Guardiola memboyongnya dari Dortmund tahun 2014. Guardiola pun sanggup mengantarkan Bayern Munchen juara Bundesliga dalam tiga musim beruntun, dari musim 2013/14 hingga 2015/16.
Tidak hanya itu, pada musim pertamanya melatih The Bavarians, Pep Guardiola sudah mempersembahkan trofi Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan DFB Pokal. Nah, pada akhir musim pertama Guardiola di Bayern Munchen kebetulan bertepatan dengan gelaran Piala Dunia 2014.
It's a Bayern Munich party! Pep Guardiola showers his players with beer after winning, 2-0, and receiving trophy. pic.twitter.com/59qoAYLwj9
— SportsCenter (@SportsCenter) May 23, 2015
Timnas Jerman Juara Piala Dunia 2014
Setelah musim 2013/14 selesai, anak asuh Guardiola di Bayern Munchen bergabung ke Timnas Jerman. Nama-nama seperti Bastian Schweinsteiger, Toni Kroos, Philipp Lahm, sampai Manuel Neuer dan Mario Gotze ikut di dalamnya. Saat itu Jerman masih dilatih oleh Joachim Loew.
Dengan skuad yang dipenuhi pemain Bayern Munchen, yang mana mereka sedang dalam kepercayaan diri yang luar biasa, Die Mannschaft tampil gahar di Piala Dunia 2014. Jerman asuhan Loew melaju mulus. Menjuarai Grup G, Jerman yang melaju ke 16 besar menaklukkan Algeria.
Di babak perempat final, Prancis menjadi korban Jerman berikutnya. Lalu di semifinal, Brazil, si tuan rumah justru dikalahkan dengan mudah. Skor 7-1 membuat David Luiz dkk menangis di akhir laga. Di babak puncak, giliran Lionel Messi yang dibikin tersedu-sedu oleh gol Mario Gotze.
Die Mannschaft pun akhirnya menjuarai Piala Dunia 2014. Usai berpesta, para punggawa Der Panzer pulang ke timnya masing-masing. Bagi pemain Bayern Munchen, mereka akan bertemu Pep Guardiola lagi. Nah, di saat inilah, perubahan itu mulai muncul.
On this day in 2014, Germany beat Argentina 1-0 after extra-time to win the World Cup in Brazil. 🇩🇪🏆 pic.twitter.com/L5Ax44cW3g
— BayernTimes (@BayernTimes) July 12, 2023
Sepak bola Guardiola Mempengaruhi Jerman
Setelah Timnas Jerman menyelesaikan misinya di Brazil, di Munich, Guardiola benar-benar telah berhasil mempengaruhi sepak bola di Negeri Hitler tersebut. Guardiola membawa prinsipnya ke Jerman. Pelatih asal Spanyol itu membuat Bayern Munchen fokus pada penguasaan bola.
Tak ayal jika saat ditangani Guardiola, Bayern Munchen selalu memiliki angka penguasaan bola di atas 60%. Hal itu pun sukses mempengaruhi sepak bola Jerman. Oleh Guardiola, para pemain Bayern Munchen dipaksa untuk tetap menjaga bola. Membangun serangan dari bawah adalah inti dari permainan Guardiola saat itu.
Ini sangat berbeda sekali dengan Jerman pada umumnya. Di Jerman, hasil lebih diutamakan ketimbang penguasaan bola. Legenda sepak bola Jerman, Hans-Peter Briegel yang pernah merasakan gelar Piala Eropa 1980 seperti dikutip Goal, mengatakan bahwa sebuah tim tidak membutuhkan 75% penguasaan bola untuk memenangkan pertandingan.
Mempengaruhi Timnas Jerman
Filosofi yang diterapkan Guardiola ini pada gilirannya berpengaruh pada Timnas Jerman itu sendiri. Hal ini lantaran Timnas Jerman baik sebelum Piala Dunia 2014 maupun sesudahnya sebagian besar pemainnya berasal dari Bayern Munchen. Lihatlah di Piala Dunia 2014, Jerman menekankan penguasaan bola. Di final misalnya, penguasaan bola mereka menyentuh 64%.
Pada 2014 mereka berhasil juara. Barangkali karena merasa gaya sepak bola Guardiola cocok, Timnas Jerman pun mulai mengikutinya. Namun, hasilnya malah berbeda. Jerman yang kembali menerapkan sepak bola dengan penguasaan bola di EURO 2016 mengalami kesulitan.
A sweet finish from Payet #OTD at EURO 2016! 🎯
— UEFA EURO 2024 (@EURO2024) June 15, 2021
Will #FRA beat Germany this evening? 🤔#EURO2020 pic.twitter.com/VXo6bzusf8
Hal itu makin terlihat saat menghadapi tim yang bermain lebih reaktif. Misalnya, Timnas Prancis. Di ajang itu Jerman ditaklukkan oleh Prancis 2-0 di semifinal. Padahal Prancis hanya memiliki 32% penguasaan bola. Hasil yang sama buruknya juga diulangi Jerman di Piala Dunia 2018.
Korea Selatan yang diasuh Shin Tae-yong sukses mengalahkan Jerman 2-0 hanya dengan 26% penguasaan bola. Hal itulah yang dikritik oleh Briegel. “Tentu saja, sejak Guardiola tiba di Bayern Munchen, ada sesuatu yang berubah,” katanya.
Kritik Schweinsteiger
Hal yang sama juga dirasakan oleh mantan punggawa Timnas Jerman, Bastian Schweinsteiger. Dikutip ESPN, Bastian menilai ada andil Guardiola di balik kemunduran Timnas Jerman. Ia mengatakan, bahwa negara lain memandang Jerman adalah pejuang dan punya kekuatan luar biasa untuk memenangkan laga.
Namun, menurutnya dalam tujuh atau delapan tahun belakangan, kekuatan Timnas Jerman mulai terkikis dan lenyap seiring berjalannya waktu. “Kami melupakan hal itu (kemenangan) dan lebih fokus memainkan sepak bola dengan baik satu sama lain,” kata Bastian Schweinsteiger mengomentari kemunduran Timnas Jerman sejak 2016.
Akan tetapi, menjadikan Guardiola satu-satunya kambing hitam atas kemunduran Timnas Jerman adalah omong kosong. Demikian kata Briegel. Toh, sebetulnya ada sentuhan Guardiola di balik juaranya Jerman di Piala Dunia 2014. Jerman-nya Loew saat itu bermain lebih sabar, tidak seperti sebelumnya, di mana Jerman kerap mengandalkan fisik dan serangan balik.
🚨🗣️ Bastian Schweinsteiger : "When Pep Guardiola joined Bayern Munich, when he came to the country, everyone believed we have to play this kind of football, like short passes and everything. We were kind of losing our values."
— Scarlett Audrey (@scarletAudrey10) November 21, 2023
"I think most of the other countries were looking… pic.twitter.com/Lr38eO5tp3
Tidak ada faktor tunggal di balik kemunduran Timnas Jerman. Perdebatan di internal Asosiasi Sepak bola Jerman (DFB) yang berujung pada mundurnya Mesut Ozil bisa menjadi salah satunya. Lalu, ada juga kemungkinan bahwa federasi terlalu memaksakan kehadiran pemain senior karena reputasinya daripada kegunaannya.
Meski begitu, mengatakan bahwa kemunduran Timnas Jerman karena aksi tutup mulut mereka di Piala Dunia 2022 sama sekali nonsense. Ada banyak masalah lain yang lebih kompleks di tubuh Timnas Jerman. Dan itu menjadi misi yang sulit bagi pelatih baru Julian Nagelsmann.
Sumber: ESPN, Goal, BR, Bundesliga, BFW, CanoFootball


