Keajaiban Ajax Tak Terkalahkan di Liga dan UCL Musim 1994/95

spot_img

Orang seperti Louis Van Gaal tidak akan begitu saja meninggalkan setiap klub yang ia latih. Klub selevel AZ Alkmaar saja dibawanya juara Eredivisie. Maka tidak aneh jika Van Gaal juga melakukannya pada klub seperti Ajax Amsterdam.

Ihwal kisah invincibles, yang diingat orang tentu Arsenal pada musim 2003/04. Tim besutan Arsene Wenger itu menjadi juara Premier League dengan catatan tak terkalahkan. Kita bisa mendaftar klub-klub lain yang melakukan hal serupa.

Namun, rasa-rasanya tidak ada yang lebih hebat dari Ajax besutan Van Gaal. Ajax tak terkalahkan pada musim 1994/95. Yang membuatnya bertambah luar biasa, Ajax bukan hanya tak terkalahkan di liga tapi juga di Liga Champions. Catat itu sekali lagi, di Liga Champions!

Van Gaal yang Meragukan

Ajax kembali memastikan gelar liga pada musim 1990/91. Setelah itu, pelatih Leo Beenhakker pergi untuk melanjutkan tugas keduanya di Real Madrid. Ditunjuklah Van Gaal yang sebelumnya menjadi asisten sebagai pelatih. Tapi penunjukannya justru dianggap memecah belah Ajax.

Ia yang awalnya memaksakan filosofi sepak bolanya sendiri dikritik oleh publik Ajax. Salah satunya bahkan datang dari Johan Cruyff. Mantan pelatih Ajax itu tidak nyaman dengan penunjukkan Van Gaal.

Cruyff menjadi pengkritik keras “cara kerja militeristik” Louis Van Gaal. Memang, waktu itu banyak orang mempertanyakan kapasitas Van Gaal. Apalagi metode yang dipakainya jauh dari yang selama ini dipakai Ajax.

Di sisi lain, ada seruan agar De Godenzonen kembali dilatih Johan Cruyff. Sayangnya, Cruyff memilih membangun dinastinya di klub Spanyol, Barcelona.

Gagal di Awal

Pekerjaan awal Van Gaal di Ajax benar-benar tidak mudah. Ia dibebani tekanan yang tinggi. Terlebih banyak yang tidak suka filosofi Van Gaal yang dianggap berbeda dari pakem Ajax. Musim pertamanya melatih, De Godenzonen kehilangan gelar liga yang direbut oleh PSV Eindhoven.

Namun, penggemar sedikit terhibur karena Ajax memastikan gelar Piala UEFA (sekarang Liga Eropa) pertama berkat keunggulan gol tandang melawan Torino. Di musim keduanya melatih, Ajax bukan hanya gagal juara Eredivisie, tapi tergelincir ke posisi tiga.

Van Gaal juga kali itu gagal di Piala UEFA. Di perempat final timnya kalah dari wakil Prancis, Auxerre. Tapi untungnya, musim itu De Godenzonen masih merengkuh trofi KNVB Beker yang ke-12. Trofi yang pada akhirnya menjadi satu-satunya piala domestik yang bisa diraih Van Gaal di negara asalnya.

Kelihatan di Musim Ketiga

Selama dua musim dilatih Louis Van Gaal, gelar Eredivisie tak kunjung kembali. Hal itu mendorong Ajax untuk tampil lebih baik lagi pada musim 1993/94. Van Gaal dihadapkan dua beban: mengembalikan mahkota Eredivisie sekaligus mengembalikan muka Ajax di kompetisi Eropa.

Sudah hampir satu dekade Ajax tidak bermain di kompetisi utama di Eropa tersebut. Terakhir ketika Ajax dibekuk Porto pada September 1985.

Apa yang dirancang Van Gaal musim itu mulai tampak. Meski ditinggal pemain produktif seperti Dennis Bergkamp dan Wim Jonk, tapi pulangnya Frank Rijkaard dari AC Milan sangat menguntungkan Ajax. Van Gaal membutuhkan pengalaman Rijkaard.

Alhasil gelar Eredivisie musim 1993/94 kembali digenggam. Gelar itu selain meluruskan rekor Ajax di liga domestik juga mengembalikan tim ke lintasan yang benar. Setidaknya kepercayaan klub pada Van Gaal mulai berbuah.

Ajax kala itu menciptakan tantangan serius, tapi sebelum itu terjadi, Van Gaal perlu amunisi baru. Apalagi lini serang Ajax masih bermasalah. De Godenzonen hampir saja mendatangkan Ronaldo Nazario dari Cruzeiro. Tapi Ronaldo justru merapat ke PSV. Kelak dalam debutnya di Eropa, Ronaldo sudah mencetak 30 gol.

Mengandalkan Pemain Muda

Alih-alih merengek untuk mencari pemain baru di bursa transfer, Van Gaal justru memanggil daun muda dari akademi De Toekomst. Clarence Seedorf, Edwin van Der Sar, Edgar Davids, dan Marc Overmars diminta Van Gaal untuk masuk ke tim senior.

Van Gaal juga tak segan memaksa Patrick Kluivert yang masih jadi andalan tim muda untuk dijadikan amunisinya. Saat itu Kluivert padahal baru berusia 18 tahun, tapi kelak penampilannya di tangan Van Gaal sangat jauh dari kata mengecewakan.

Musim 1994/95 jadi pembuktian Van Gaal. Para penggemar yang ingin melihat hasil polesan akademi diwujudkan oleh putra daerah tersebut. Skuad Ajax musim itu benar-benar penuh dengan pemain muda. Bahkan rata-rata usianya 23 tahun.

Skuad Ajax kala itu perpaduan yang sempurna dari pengalaman dan kegembiraan anak muda. Van Gaal menanamkan ketangguhan dan tekad pantang menyerah ke anak asuhnya. Ia juga membangun timnya dengan prinsip kebersamaan, kekompakan, dan kerja keras.

Meski bersilangan dengan Johan Cruyff, tapi taktik yang dipakai Van Gaal sebenarnya pengembangan dari yang sudah pernah dipakai sang legenda. Van Gaal tidak menciptakan gaya baru, tapi mencoba mereparasi ulang apa yang dilakukan Cruyff.

Memenangkan Gelar Eredivisie Lagi!

Ajax lagi-lagi memenangkan gelar liga musim 1994/95. Kemenangan itu tidak dilihat orang, karena ya sudahlah ya, Ajax toh berstatus juara bertahan. Tapi Ajax bukan sekadar menang dan memastikan trofi. Musim itu, di Eredivisie, Ajax sungguh-sungguh tak terkalahkan.

De Godenzonen memenangkan 27 laga dari 34 pertandingan di Eredivisie. Ajax berakhir di puncak klasemen dengan mengungguli Roda JC tujuh poin. Inilah yang bikin Eredivisie musim itu merupakan pencapaian yang luar biasa.

Patrick Kluivert yang masih belia bahkan keluar menjadi top skor klub dengan 18 gol dalam 25 laga yang dimainkan. Kepercayaan Van Gaal untuk menempatkan Jari Litmanen di posisi nomor 10 menggantikan Bergkamp juga membuahkan hasil.

Pemain Finlandia itu sangat sensasional dengan mencetak 36 gol dari 39 penampilannya di semua kompetisi. Ajax pun di Eredivisie musim itu berhasil mengumpulkan 106 gol, yang jika dirata-rata mencetak tiga gol setiap laganya.

Hebatnya lagi, Ajax musim itu hanya kebobolan 28 gol di Eredivisie. Maka tidak berlebihan rasanya mantan pelatih Real Madrid, Jorge Valdano menyebut tim itu sebagai “Beauty and The Beast”.

Tak Terkalahkan di UCL

Ajax asuhan Van Gaal juga tak terbendung di Liga Champions. Banyak yang mengira Ajax tidak akan berbicara banyak di ajang itu. Apalagi Ajax satu grup dengan juara Liga Champions, AC Milan. Namun, anggapan itu salah besar.

Rossoneri yang dianggap lawan sulit justru dikalahkan Ajax dua kali di fase grup. Ajax memastikan tempat di perempat final dengan hasil tanpa kalah di fase grup. Di perempat final, Ajax bertemu lawan yang mudah. Hajduk Split dari Kroasia dikalahkan di leg kedua dengan 3-0.

Van Gaal memastikan Ajax ke semifinal, menghadapi musuh sesulit Bayern Munchen. Tatkala bermain di Munchen, Ajax hanya bermain imbang. Namun ketika bermain di Amsterdam, Die Roten dihajar dengan skor 5-2. Ajax melangkah ke final untuk pertama kalinya sejak 1973.

Mengejutkannya, Ajax mesti menghadapi AC Milan lagi. Tim yang mencapai final untuk kelima kalinya dalam tujuh musim. Klub yang pernah mengalahkan Ajax di final saat diasuh Johan Cruyff.

Bagi Van Gaal, final melawan AC Milan menjadi istimewa. Sebab ia tahu, Milan punya permainan yang ternyata mirip dengan yang dimanifestasikannya di Ajax.

Van Gaal sedikit jumawa menghadapi Rossoneri di final. Ia mengatakan, PSG yang dikalahkan Milan di semifinal sengaja kalah untuk menghindari kekalahan di final menghadapi timnya.

Pertandingan final sangat ketat. Kedua tim tampil ngotot. Namun, Van Gaal jitu memasukkan Kluivert. Secara dramatis pemuda 18 tahun itu mencetak gol pada menit 85. Itu adalah gol semata wayang di laga tersebut.

Gol pemuda 18 tahun mengantarkan Ajax juara Liga Champions untuk pertama kalinya. Dan jangan lupa, tanpa kalah sekali pun. Pendukung yang memadati Stadion Ernst Happel di Wina, Austria beruntung bisa menyaksikan fenomena langka tersebut.

Sumber: PlanetFootball, 90Min, BreakingTheLines, Sportsmole, BackpageFootball, PlanetSport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru