Usia keemasan seorang pesepakbola yang terbilang cukup pendek membuat mereka mulai memutar otak ketika memasuki masa-masa akhirnyal. Beberapa dari mereka ada yang mulai mengambil kursus kepelatihan. Itu sudah dilakukan oleh Michael Carrick, Vincent Kompany, bahkan Jack Wilshere.
Ada juga yang banting setir jadi pebisnis seperti yang dilakukan oleh mantan punggawa Liverpool, Danny Agger. Pelatih dan pebisnis terlihat cukup mainstream dilakukan oleh para pesepakbola. Namun, bagaimana jika bergabung partai politik dan menjadi walikota?
Salah satu yang terkenal lantaran menjajal dunia politik setelah pensiun dari sepakbola adalah mantan pemain bertahan AC Milan, Kakhaber Kaladze. Bagaimana ceritanya, kok bisa nyasar ke politik?
Daftar Isi
Siapa Kakhaber Kaladze?
Para penggemar AC Milan awal tahun 2000-an pasti mengenal nama Kakhaber Kaladze alias Kakha Kaladze. Pria kelahiran Samtredia, Georgia ini merupakan pionir sepakbola Georgia di Eropa. Jauh sebelum terkenalnya nama-nama macam Khvicha Kvaratskhelia di Napoli dan Giorgi Mamardashvili di Valencia, Kaladze sudah lebih dulu tenar di sepakbola Eropa.
Kaladze lahir dari keluarga sepakbola. Ayahnya, Karlo Kaladze sempat menjadi presiden klub lokal, Lokomotiv Samtredia. Saat ini klub tersebut sudah berganti nama FC Samtredia dan masih berlaga di kasta tertinggi sepakbola Georgia.
Di usia muda, bek Timnas Georgia itu sudah diajak oleh mantan pemain dan pelatih Timnas Georgia, David Kipiani untuk bergabung ke tim Dinamo Tbilisi. Tahun 1993, Kakha resmi mengikat kontrak profesionalnya dengan juara Crystalbet Erovnuli Liga tersebut.
Pada awal tahun 1998 barulah Kaladze memutuskan untuk mencari pengalaman baru dengan bergabung ke salah satu klub Ukraina, yakni Dynamo Kiev. Bersama klub tersebut, pemain Georgia ini mendapat pengalaman berharga karena mendapat banyak kesempatan bermain di Liga Champions. Berkat performa apiknya di Liga Champions, klub sebesar AC Milan pun akhirnya melirik Kaladze.
Berprestasi Bersama AC Milan
Pada awal tahun 2001, Kaladze memutuskan menerima tawaran AC Milan setelah ditebus dengan harga cukup mahal. Penandatanganan Kaladze sempat dirasa terlalu mahal karena saat itu, Milan harus merogoh kocek 16 juta euro atau sekitar Rp259 miliar hanya untuk pemain yang datang dari negara antah berantah.
Negara Georgia memang tidak dikenal sebagai negara penghasil talenta sepakbola macam Brazil atau Spanyol. Tapi menurut manajemen Rossoneri saat itu, Kaladze merupakan pemain bertahan yang bisa menawarkan kualitas permainan yang tak kalah apik dengan pemain-pemain top Eropa.
Kabarnya, selain peningkatan karir, salah satu alasan Kaladze menerima pinangan AC Milan disebabkan oleh keinginannya untuk bermain di stadion yang memiliki rumput lebih baik. Dorongan itu muncul setelah rekan setimnya di Dynamo Kiev harus pensiun karena cedera yang diakibatkan dari buruknya kualitas lapangan di Ukraina saat itu.
Menariknya, Kaladze langsung jadi pilihan utama di Milan. Namun, pada awal kedatangannya, ia tak dimainkan di sektor pertahanan, melainkan sebagai gelandang kiri dalam skema formasi 4-4-2. Maklum saja, saat itu dua bek tengah Milan masih diisi oleh preman-preman Serie A, Paolo Maldini dan Alessandro Nesta.
Meski demikian, Kaladze tetap profesional. Ia siap dimainkan pada posisi apa pun. Kaladze bahkan sempat dipasang sebagai bek kiri dan gelandang bertahan di era kepemimpinan Carlo Ancelotti. Dengan fleksibilitasnya di lini bertahan, Kaladze jadi pemain yang sangat berguna saat itu.
Baru dua musim berseragam Milan, pemain berkebangsaan Georgia ini berhasil memenangkan dua gelar sekaligus yakni Scudetto dan Liga Champions. Pencapaian ini menjadikannya pemain Georgia pertama yang sukses memenangkan Liga Champions.
Itu jadi momen suka sekaligus duka bagi Kaladze. Pasalnya beberapa minggu sebelum final, ia mendapat kabar kalau adiknya yang tinggal di Georgia diculik oleh orang tak dikenal yang menyamar sebagai aparat penegak hukum.
Kaladze sempat kecewa dan mengancam ingin pindah kewarganegaraan ke Ukraina. Pemerintah Georgia pun sempat berjanji untuk mengurus kasus ini, tapi kenyataannya mereka tak bisa berbuat banyak. Adiknya ditemukan tewas beberapa tahun kemudian.
Berpisah dengan Milan
Meski bermain dalam kesedihan, Kaladze terus berkontribusi dan berusaha terlibat di setiap pencapaian Milan. Total, pria berusia 45 tahun tersebut telah mengantongi 284 penampilan dan mempersembahkan tujuh gelar bergengsi termasuk satu lagi trofi Liga Champions tahun 2007 untuk Rossoneri.
Setelah membalaskan dendam pada Liverpool di final Liga Champions 2007, performa Kaladze kian menurun. Ancelotti pun mulai jarang memainkannya. Sadar bahwa dirinya sudah tak jadi pilihan utama lagi, Kaladze akhirnya memutuskan untuk hengkang dari San Siro dua tahun kemudian.
Kaladze akhirnya bergabung dengan klub Italia lainnya yakni Genoa dengan status bebas transfer pada tahun 2010. Di Genoa dirinya tak meraih gelar apa pun. Namun Kaladze mendapat menit bermain yang cukup. Setelah mencatatkan 57 penampilan selama dua musim, sang pemain pun memutuskan untuk gantung sepatu pada tahun 2012.
Banting Setir!
Setelah pensiun, Kaladze langsung pulang kampung ke Georgia. Kaladze sendiri dianggap sebagai salah satu orang paling berpengaruh di Georgia. Apalagi di bidang sosial dan mempromosikan negaranya di bidang sepakbola. Jadi, tak heran apabila kepulangannya ke tanah air disambut meriah oleh masyarakat lokal.
Sejak berseragam Milan, Kaladze sudah aktif dalam kegiatan sosial di negaranya. Pada tahun 2008, Kaladze sudah mendirikan Kala Foundation, yang bertujuan untuk menghasilkan investasi amal bagi warga negara Georgia yang terkena dampak invasi Rusia, terutama mereka yang berada di wilayah Ossetia Selatan, daerah pro-Rusia.
Bersamaan dengan upaya kemanusiaannya dengan Kala Foundation, Kaladze juga terjun ke dunia bisnis mendirikan perusahaan sumber daya energi Kala Capital, yang pada saat itu memiliki 45% saham di perusahaan pembangkit listrik tenaga air utama Georgia, Sakhidroenergomsheni.
Itu juga yang mengantarkan Kaladze terpilih sebagai Menteri Energi Georgia pada Oktober 2012. Ia menjabat sebagai menteri hanya berselang beberapa bulan setelah pensiun dari sepakbola. Mulai dari sini, karirnya sebagai politikus terus mengalami perkembangan. Setelah menjadi menteri, namanya semakin didewa-dewakan oleh masyarakat Georgia.
Jadi Walikota
Kaladze mengemban jabatan menteri selama lima tahun. Setelah itu mantan punggawa AC Milan makin melebarkan sayapnya di dunia politik. Pada tahun 2017, Kaladze disokong oleh pengusaha lokal, Bidzina Ivanishvili untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Tbilisi, kota kelahiran Kaladze.
Sama halnya dengan karir sepakbolanya, karir politik Kaladze juga kian meroket. Pada Oktober 2017 Kaladze akhirnya terpilih sebagai Walikota Tbilisi setelah memenangkan pemilihan dengan perolehan 51% suara atas dua pesaingnya, Aleko Elisashvili (17,48%) dan Aula Udumashvili (16,59%). Jabatannya berakhir hingga 2021 kemarin dan kembali terpilih untuk periode keduanya. Kini ia masih berstatus sebagai Walikota Tbilisi.
Meski Kaladze bukanlah satu-satunya pesepakbola yang beralih profesi menjadi politikus setelah pensiun, kemampuan dan instingnya dalam menggabungkan kekuatan bisnis dan politik mungkin bisa menginspirasi para pesepakbola di belahan dunia lain. Kalau di Indonesia, siapa yang pantas jadi politikus setelah pensiun dari sepakbola?
Sumber: These Football Times, ESPN, The Guardian, Georgia Journal, Football Tribe


