Ada yang ingat dan kangen kapan Juventus terakhir kali juara Liga Champions? Masuk final saja mereka juga sudah terlalu lama. Akan tetapi, La Vecchia Signora pernah punya harapan besar beberapa kali di Liga Champions. Termasuk saat pelatih yang dianggap “miskin taktik” Max Allegri menangani klub asal Kota Turin tersebut.
Daftar Isi
Penunjukan Allegri Sebagai Suksesor Conte
Max Allegri tak ujug-ujug datang ke Juve. Ia datang sebagai pengganti Allenatore yang telah membangkitkan Juve dari keterpurukan, yakni Antonio Conte. Pasalnya, pelatih yang sudah mengembalikan hegemoni Juve di Serie A pasca Calciopoli itu disuruh mengabdi sebagai nahkoda Gli Azzuri untuk persiapan menuju Piala Dunia 2014.
On this day in 2014, Max Allegri was appointed Juventus manager.
— Khaled Al Nouss (@khaledalnouss1) July 15, 2018
4 years & 9 trophies later 🏆 pic.twitter.com/W1Zupk7RMu
Nama Allegri ditunjuk menggantikannya karena terbukti membawa AC Milan tampil apik. Awalnya harapan fans pun biasa-biasa saja terhadap mantan pelatih Cagliari dan Milan itu.
Pasalnya, kalau target jadi juara Serie A saja, dengan skuad sebaik itu siapa pun pelatihnya juga bisa. Permasalahannya justru pelatih-pelatih terdahulu belum mampu mengantarkan Juventus namanya kembali berkibar di kompetisi Eropa. Dan itu adalah PR besar Max Allegri.
Sebagian besar skuadnya masih peninggalan Conte. Namun dengan beberapa penambahan pemain sesuai seleranya macam Morata, Evra maupun Coman, ia berusaha mengubah cara bermain Juventus.
Conte”Yes,allegri has better group&more experienced”Coman+Evra+pereyra+Morata+Romulo 》quag+vuci+isla+peluso@infoJUVE pic.twitter.com/TfAu0u13KL
— JUVE 4LIFE (@TharaAzzam1) September 24, 2014
Ia tak lagi sering memakai pakem tiga bek milik Conte. Allegri berjudi dengan mengubahnya dengan format empat bek andalannya ketika di Milan. Nah, apakah dengan perjudiannya tersebut ia bisa berbuat banyak?
Pencapaian Final Allegri 2015
Tak disangka di musim debutnya dengan penambahan dan perubahan gaya bermain, Allegri mampu menyulap Juventus lebih menyeramkan dan konsisten hingga akhir musim.
Mereka selain merebut gelar Juara Serie A dengan selisih 17 poin, di Liga Champions juga menyeramkan. Menjadi runner up grup di bawah Atletico Madrid, mereka kemudian di babak knockout mampu menggilas lawan-lawannya seperti Dortmund, AS Monaco, hingga Real Madrid.
Pencapaian final Juventus di Liga Champions akhirnya terwujud. Hal itu seakan mengobati kerinduan para fans Bianconeri. Maklum terakhir kali mereka tampil di final yakni di musim 2002/03.
Di final 2015, Barcelona telah menunggu di Berlin. Inilah pertama kali dalam karirnya, seorang Allegri tampil di final sebesar ini. Harapan juara pun seketika menyeruak di seluruh penjuru Kota Turin. Namun sayang, perjuangan Pirlo dan kawan-kawan harus dihentikan oleh ganasnya trio MSN Barcelona 3-1.
4. Where are they now? The Juventus side defeated by Barcelona in the 2015 Champions League final – https://t.co/wPISM4aHb3
— Squawka (@Squawka) February 26, 2018
They were so close. 😔 pic.twitter.com/hrPQAOvAOO
Publik turin pun kecewa, namun apresiasi setinggi-tingginya bagi pelatih sekaliber Allegri tetap dilakukan. Karena kekangenan publik Turin akan sebuah pencapaian final Liga Champions paling tidak telah terobati. Selain itu, nama La Vecchia Signora kembali mulai harum dan diperhitungkan di kancah Eropa setelah tertidur 12 tahun lamanya.
Pencapaian Final Allegri 2017
Sebagai ganjarannya, Allegri tetap dipertahankan Presiden Agnelli selama beberapa musim di kursi kepelatihan. Skuad Juventus pun semakin dievaluasi terus-menerus oleh Allegri dengan gaya dan seleranya.
Max Allegri at Juventus:
— Football Tweet ⚽ (@Football__Tweet) May 13, 2018
2014/15 🏆🏆
2015/16 🏆🏆
2016/17 🏆🏆
2017/18 🏆🏆
👏 pic.twitter.com/akK9Pc2K9Z
Nah, di musim ketiganya 2016/17, skuad Allegri semakin matang dan komplit. Dengan datangnya Dani Alves, Benatia, Cuadrado, Pjanic, maupun Higuain. Sebelumnya skuad Juve juga sudah dihuni pemain macam Khedira, Mandzukic maupun Dybala.
Ramuan andalan Allegri 4-2-3-1 dengan para pemain baru tersebut terbukti mampu kembali membuahkan hasil positif. Di Serie A, meskipun ada persaingan ketat dari Roma dan Napoli, Allegri mampu kembali menyabet hattrick gelar juara sejak ia datang.
Di Liga Champions, Allegri pun tentu tak mau gagal lagi dong. Mereka berada di grup yang tergolong lemah, seperti Lyon, Sevilla dan Zagreb. Hasilnya, Juve mampu mendominasi dengan tak pernah kalah dan jadi juara grup.
Di babak knockout tim kuat macam Porto, Barcelona, maupun AS Monaco, mampu dilewatinya. Kembali, Allegri akhirnya membawa Si Nyonya Tua mengais harapan untuk kedua kalinya di Final Liga Champions. La Vecchia Signora kembali ditantang raksasa Spanyol Real Madrid di Cardiff.
📅 #OnThisDay in 2017, @realmadrid won their 12th #ChampionsLeague with a 4-1 win in the final against Juventus 🏆
— The MVP Podcast (@The_MVPPodcast) June 3, 2020
They became the first team to ever win back-to-back Champions Leagues 🔥⚪️#RealMadrid #HalaMadrid #UCL
pic.twitter.com/9rthNsOGPn
Publik Turin pun berharap, inilah saatnya yang tepat trofi “Si Kuping Besar” itu mampir ke Turin. Menggempur sejak awal laga, Juve terbukti berhasil menahan keperkasaan Los Blancos di babak pertama.
Akan tetapi blunder Allegri di babak kedua dengan lebih memilih bermain bertahan berakibat fatal. Mereka dihukum Madrid dengan comeback sensasionalnya dengan skor 4-1. Semua publik Turin pun menangis. Dua kali mereka dipecundangi di final. Ibarat kata, Si Nyonya Tua ini selalu terkena PHP.
Tujuh Kali Gagal di Final Liga Champions
DNA kena PHP di Final Liga Champions itu nampaknya terus menjadi catatan sejarah yang tertulis rapi di kubu Bianconeri. Bagaimana tidak, dengan kegagalan dua final bersama Allegri tersebut, tercatat sudah tujuh kali Juve gagal di Final Liga Champions.
Yang pertama yakni ketika mereka masuk Final Liga Champions pertama kali di tahun 1973. Kala itu Dino Zoff dan kawan-kawan harus mengakui kehebatan Total Football Ajax dengan Johan Cruyff-nya.
#ChampionsLeague 🏆 | #LaChaaampions 🎼#Ajax 🔴 0-0 #Juventus ⚫⚪
— Nación Deportes (@naciondeportes_) April 10, 2019
¡La superioridad es brutal! 😵
Ambos se han enfrentado 8⃣ veces en Champions League y el Ajax sólo ha ganado una vez.
Fue en la Final de la temporada 1972-1973 y se coronaron en aquella edición. pic.twitter.com/yCjXXTpeD8
Yang kedua di tahun 1983, ketika kalah oleh wakil Jerman Hamburg SV asuhan Ernst Happel. Sedangkan kegagalan yang ketiga dan keempat, diterima Juve di dua musim berturut-turut oleh Dortmund dan Madrid. Masing-masing di tahun 1997 dan 1998.
#OnThisDay in 1998: #RealMadrid beat #Juventus 1-0 in the #UEFAChampionsLeague final, with #Zidane playing against his future club.
— The Goalpost (@TGoalpost) May 20, 2020
Check us out on: https://t.co/6xDsqBBq6k#OnThisDayInFootball #football #soccer #UCL #UEFA #ChampionsLeague #Matijovic #RealFootball #Juve #trend pic.twitter.com/2JfES2pZBN
Kegagalan Juve yang kelima yakni di tahun 2003. All Italian Final yang tersaji di Old Trafford ketika itu berakhir untuk kemenangan AC Milan lewat adu penalti.
Juventus and Milan will face each other on the 28th of May 2023; exactly 20 years after the 2003 Champions League final ⚔️ pic.twitter.com/ZxC0aCll55
— Italian Football TV (@IFTVofficial) June 24, 2022
Terakhir Kali Juventus Meraih Juara Liga Champions
Tapi apakah semua final Juve berbuah kegagalan? Tentu tidak. Dari total sembilan kali mereka mentas di Final Liga Champions, mereka sudah pernah dua kali mencatatkan kesuksesan sebagai juara.
Namun kalau mengingatnya, mamang sudah terlalu lama. Itu terjadi di musim 1984/85 dan 1995/96. Yang pertama terjadi di zaman pelatih Giovanni Trapattoni. Ketika itu “MR Trapp” masuk final dengan materi pemain macam Platini maupun Paolo Rossi.
Liverpool 1985 European Cup Final Match Worn Shirt Number 6 Alan Hansen, Liverpool vs Juventus, 29 May 1985, Heysel Stadium, Brussels. #MatchWorn @LFC @LivShirtsMuseum @ChampionsLeague pic.twitter.com/thrcPA2UTC
— The Liverpool Shirts Museum (@LivShirtsMuseum) July 16, 2022
Menantang Liverpool, Bianconeri berhasil meraih kemenangan. Namun sayang, pesta kemenangan Juve ketika itu diwarnai dengan tragedi mengenaskan tewasnya beberapa suporter yang kini dikenal “Tragedi Heysel”.
Kemudian yang terakhir terjadi di zaman Marcelo Lippi. Pelatih baru Juve yang ditunjuk pada 1994 menggantikan Trapattoni itu, mampu membawa Juve berjaya di Eropa dengan masuk final tiga kali beruntun dari tahun 1996 hingga 1998.
Namun keberhasilan Lippi menjadi juara hanya terwujud di musim 1996. Ketika mereka mampu membalaskan dendam kekalahan finalnya atas Ajax dengan adu penalti. Bersama pemain Ravanelli, Vialli, maupun Deschamps, La Vecchia Signora berpesta di Olimpico Roma merayakan gelar kedua Liga Champions sepanjang sejarah.
#OnThisDay photo from 1996.
— The Culture of Football Classics (@CFclassics) May 22, 2021
Fabrizio Ravanelli, Didier Deschamps & Michelangelo Rampulla celebrating after Juventus beat Ajax on penalties in the Champions League final. pic.twitter.com/CeDgsUsUZo
Dari catatan sejarah tersebut, dua kegagalan terakhir Juve di final Liga Champions bersama Allegri mau tidak mau sudah tercatat rapi dalam buku sejarah Juventus. Namun pencapaian terbaik Juve di Liga Champions tak dipungkiri terakhir kali hanya bisa ditorehkan oleh Allegri.
Karena hingga sekarang belum ada lagi yang mampu menyamai pencapaian itu. Sekalipun mendatangkan CR7 maupun mendatangkan kembali Allegri untuk kedua kalinya. Hasilnya, Juve masih saja puasa gelar dan tertidur pulas di kancah Eropa.
Sumber Referensi : bleacherreport, bbc, eurosport, bleacherreport, thetriangle, 90min


