Begini Cara Klub Sepak Bola Hasilkan Uang dari Stadion

  • Whatsapp
Begini Cara Klub Sepak Bola Hasilkan Uang dari Stadion
Begini Cara Klub Sepak Bola Hasilkan Uang dari Stadion

Sepak bola telah bertransformasi menjadi industri yang menggiurkan. Di era sepak bola modern, klub dituntut untuk mandiri, khususnya menghasilkan pemasukan yang tak hanya mampu menghidupi klub, tapi juga menghasilkan keuntungan.

Salah satu sumber pemasukan klub sepak bola adalah dari stadion. Bagi klub sepak bola modern, stadion tak cuma aset atau fasilitas biasa, tapi juga potensi yang bisa mereka maksimalkan sebagai penghasil pundi-pundi uang.

Bacaan Lainnya

Lalu, bagaimana cara klub sepak bola mengasilkan uang dari stadionnya? Berikut ulasannya.

 

1. Tiket pertandingan

Tiket jadi salah satu sumber pemasukan utama dari stadion. Klub modern lazimnya menyediakan tiket pertandingan yang dijual harian dan musiman.

Namun, di klub besar khususnya yang berasal dari Eropa, mereka tak hanya menjual tiket tribun atau VIP saja. Ada satu jenis tiket yang dijual sangat eksklusif hingga melebihi kelas VVIP. Tiket tersebut adalah hospitality tickets.

Sesuai namanya, hospitality tickets adalah tiket termewah yang ditawarkan klub kepada penonton. Pemegang tiket ini akan ditempatkan di ruang khusus ber-AC dengan pelayanan sekelas hotel dan restoran berbintang.

Beberapa keuntungan yang didapat pemegang tiket ini antara lain, diijinkan turun langsung ke lapangan baik sebelum dan sesudah pertandingan, mendapat layanan makanan dan minuman ala restoran mewah, hingga mendapat suvenir eksklusif. Beberapa bahkan menyediakan paket berfoto bersama pemain atau legenda.

Namun, hanya klub dengan stadion dan fasilitas megah saja yang punya pelayanan ini. Liverpool contohnya. Harga paket hospitality di Anfield dimulai di angka 2.900 poundsterling (sekitar Rp. 58 juta)* per pertandingan. Itu adalah harga di musim 2016/2017, tentu sekarang harganya jauh lebih mahal.

2. Persewaan Stadion

Di luar jadwal pertandingan, khususnya di jeda musim, klub bisa mendapat pemasukan dari berbagai fasilitas stadion yang mereka sewakan dengan berbagai penawaran paket. Banyak klub sepak bola menghasilkan uang dengan menyewakan stadion mereka untuk berbagai acara, seperti pesta, kegiatan amal, konferensi, bahkan pernikahan.

Kandang Manchester City misalnya. Etihad Stadium mengenakan biaya 100 poundsterling (sekitar Rp. 2 juta)* per orang yang ingin menikmati paket sarapan dan makan malam di sana. Sementara itu, Carrow Road, markas Norwich City mengenakan biaya sekitar 1.500 poundsterling (sekitar Rp. 30 juta)* kepada pengunjung yang ingin merasakan bertanding di dalam stadion.

Contoh stadion paling modern yang punya fasilitas terlengkap adalah Veltins Arena. Stadion berkapasitas 62,271 kursi milik Schalke itu punya lapangan yang bisa digeser keluar-masuk stadion. Dengan teknologi itu, Veltins Arena dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Tercatat, kandang dari Schalke itu pernah dipakai untuk berbagai ajang olahraga lain, seperti tinju, Speedway Grand Prix (2007, 2008), Ice Hockey World Championship (2010), dan juga disewa untuk mengadakan konser musisi ternama. Bon Jovi, Metallica, hingga Coldplay pernah manggung di dalam Veltins Arena.

 

3. Penjualan Makanan dan Merchandise Resmi

Sebagian besar klub mendirikan official store mereka di kompleks stadionnya. Berbagai merchandise resmi, mulai dari jersey, bola, atau syal dan beragam memorabilia dijual di sini.

Selain itu, klub biasanya juga menyediakan toko makanan dan minuman ringan di sekitar stadion. Makanan dan minuman yang dijual oleh gerai resmi klub adalah sumber penghasilan kecil bagi klub sepak bola di hari pertandingan atau acara lainnya.

 

4. Museum dan Tur Stadion

Klub papan atas biasanya menyediakan paket tur stadion kepada para pengunjungnya sepanjang tahun. Klub yang punya reputasi bagus, deretan trofi mentereng, atau sejarah panjang juga mendirikan museum di sekitar stadion mereka. Museum tersebut jelas jadi daya tarik fans yang ingin melihat atau berfoto dengan memorabilia klub yang terkenal.

Salah satu klub Liga Primer Inggris, Aston Villa mengenakan biaya 15 poundsterling (sekitar Rp. 300 ribu)* untuk orang dewasa dan 10 poundsterling (sekitar Rp. 200 ribu)* untuk anak di bawah 18 tahun yang hendak menikmati tur stadion Villa Park. Aston Villa juga menawarkan tur lengkap dengan makan siang, khusus untuk hari Minggu, dengan biaya 30 poundsterling (sekitar Rp. 600 ribu)* untuk dewasa dan 20 poundsterling (sekitar Rp. 400 ribu)* untuk anak di bawah 18 tahun.

5. Sponshorsip dan Naming Rights

Namun, penghasilan terbesar klub dari stadion berasal dari kesepakatan mereka dengan berbagai sponsor, termasuk sponsor yang berminat membeli naming rights atau hak penamaan stadion. Menurut KPMG Football Benchmark, kesepakatan naming rights jadi sumber pemasukan terbesar ketiga di sektor komersial setelah kesepakatan dengan pemasok jersey dan sponsor utama di jersey.

Penjualan hak penamaan stadion sangat akrab di Amerika yang juga menjadi pelopornya. Di Eropa sendiri, naming rights sangat akrab dengan klub-klub Jerman. Berdasarkan survei KPMG, 78% klub Bundesliga menyematkan nama sponsor di stadionnya.

Musim ini, sebanyak 14 klub Bundesliga telah menjual naming rights stadion mereka. Borussia Dortmund misalnya. Hak penamaan Westfalenstadion dijual ke perusahaan asuransi, Signal Iduna sejak tahun 2005 lalu hingga 2021.

Di Italia, hanya 4 klub yang menjual hak penamaan stadionnya, salah satunya Juventus. Juve sukses menjual naming rights J Stadium kepada perusahaan asuransi ternama, Allianz terhitung sejak 1 Juli 2017 hingga Juni 2030.

Menurut catatan KPMG, nilai kontrak terbesar penjualan naming rights masih dipegang oleh Manchester City. The Citizen mendapat pemasukan dari maskapai penerbangan Uni Emirat Arab, Etihad Airways sebesar 17,1 juta euro pertahun (sekitar Rp. 301 miliar)*, terhitung sejak 2011 lalu hingga akhir musim 2021 ini.

Di bawah City ada Atletico Madrid dengan stadion barunya, Wanda Metropolitano. Setelah membeli kepemilikan Estadio Metropolitano dari pemerintah kota Madrid, Atletico lalu merenovasi stadion tersebut lalu menjual hak penamaan stadionnya kepada Wanda Group. Diketahui, Atletico menerima pemasukan 9,6 juta euro pertahun (sekitar Rp. 169 miliar)* dari perusahaan IT asal China itu hingga 2022 nanti.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa klub sepak bola baru bisa memaksimalkan potensi pendapatannya apabila stadion yang mereka pakai berstatus milik sendiri. Sebab, apabila stadion tersebut masih bersifat sewa, maka klub masih wajib membayar biaya sewa dan perawatan kepada sang pemilik asli.

Di Liga Italia ketimpangan itu begitu terlihat. Stadion Juventus yang cuma punya kapasitas 41.507 kursi punya pemasukan yang jauh lebih tinggi dibanding Giuseppe Meazza yang punya kapasitas 75.923 kursi. Jumlah kehadiran fans di stadion Juve juga masih kalah dibanding AC Milan dan Inter Milan.

Namun, fakta berkata lain. Pada tahun 2019 saja, penghasilan Juventus di sektor matchday revenue yang sangat ditunjung oleh fasiltas stadion, seperti penjualan makanan dan minuman serta khususnya tiket pertandingan mencapai 208,5 juta euro (sekitar Rp. 3,7 triliun)*. Angka tersebut jauh meninggalkan penghasilan Inter Milan yang hanya mendapat pemasukan sebesar 159,2 juta euro (sekitar Rp. 2,8 triliun)*.

Inilah salah satu sebab semakin banyaknya klub besar Eropa yang tengah berencana membangun stadionnya sendiri. Beberapa klub juga sedang merenovasi stadionnya agar semakin megah. Dengan punya stadion sendiri, klub dapat memaksimalkan segala potensi pendapatannya.

Semakin klub tersebut berprestasi, punya basis fans yang besar, dan punya stadion yang megah, stadion mereka bisa jadi destinasi wisata yang menarik, baik bagi wisatawan domestik maupun internasional.

Itulah beberapa cara klub sepak bola mengasilkan uang dari stadionnya. Dengan makin berkembangnya sepak bola ke arah industri, bukan tak mungkin bakal makin banyak inovasi yang dilakukan klub sepak bola untuk menghasilkan uang dari stadionnya di masa depan.

*Asumsi kurs 1 Poundsterling = Rp. 20.000 & asumsi kurs 1 Euro = Rp. 17.000

 

***
Sumber Referensi: Football Stadium, KPMG, 90min, Football Iconic, El Arte del Futbol

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *