Beranda blog Halaman 597

PSG vs Real Madrid: Big Match Rasa Reunian

Paris Saint-Germain dan Real Madrid sama-sama ingin meraih kemenangan pada laga 16 besar Liga Champions. Leg pertama akan digelar di Parc des Princes, Rabu (16/2) dini hari WIB. Keduanya telah bertemu sebanyak 10 kali. Real Madrid mengantongi empat kemenangan dan tiga untuk PSG, sisanya hasil imbang.

Dua pertemuan terakhir antara kedua belah pihak terjadi pada babak penyisihan grup Liga Champions 2019/20. Le Parisien mencatat kemenangan 3-0 di Paris, sebelum hasil imbang 2-2 di Bernabeu dua bulan kemudian.

Pertemuan dua klub raksasa ini juga dibumbui reuni mantan pelatih dan pemain yang pernah bermarkas di PSG maupun Real Madrid. Startingeleven.id akan mengupas nama-nama pemain dan pelatih yang bakal reuni di partai nanti.

Carlo Ancelotti

PSG vs Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions bagi entrenador Carlo Ancelotti merupakan temu kangen dengan mantan klub yang pernah dilatih. Pelatih kelahiran Reggiolo Italia pernah menghuni bangku pelatih Les Parisiens sejak Januari hingga Juni 2013.

Enam bulan pertama di Paris, ia harus puas hanya menjadi runner up PSG up di Ligue 1. Pada perebutan Piala Coupe de France, Les Parisiens hanya melaju hingga perempat final usai ditaklukkan 1-3 oleh Lyon.

Pelatih tersebut pada musim berikutnya berhasil membantu tim memperoleh gelar Ligue 1 musim 2012/2013, dan mengantarkan Thiago Silva dkk dua kali ke perempat final Liga Champions.

Uniknya, skuad yang dipimpin olehnya selama 18 bulan kini hanya tersisa Marco Verratti. Pemain Italia itu direkrut dari Pescara pada musim kedua Ancelotti di PSG.

Komentarnya jelang bertandang Parc des Princes kali ini hanya mengkonfirmasi tentang jadwal istirahat pemain-pemain Real Madrid yang cukup untuk menghadapi PSG.  

“Saya tidak terlalu memperhatikan istirahat satu hari, sebab itu bisa terjadi kepada satu tim atau tim lainnya. Kami punya waktu tiga ekstra setengah hari untuk memulihkan diri untuk bersiap menghadapi pertandingan Liga Champions,” ucap Don Carlo.

Kesan “reuni” kali ini berbeda saat ia menukangi Bayern Munchen. Ancelotti dulu, amat antusias bertemu dengan mantan klubnya sembari melempar pujian kepada PSG yang kian berkembang.

“PSG banyak berubah sejak saya pergi. Klub sudah banyak berkembang dan lebih berpengalaman dalam mengelola investasi,” katanya sebelum pertandingan PSG vs Bayern Munich di Grup B pada September 2017.

Kedatangan Carlo Ancelotti sebagai tamu, mengusung misi untuk lolos ke fase 8 besar Liga Champions bersama Real Madrid.

Sergio Ramos

Pertemuan pertama dengan Real Madrid sebagai lawan di babak 16 besar menjadi laga emosional bagi Sergio Ramos. Pasalnya, ia telah 15 tahun mengenakan seragam Los Blancos.

Bek tengah kelahiran Camas, Spanyol itu merupakan salah satu legenda Real Madrid yang telah memenangkan banyak gelar. Ia telah membantu El Real memboyong 22 trofi antara lain 5 trofi La Liga, 2 Copa Del Rey, 4 Piala Super Spanyol, 4 Liga Champions, 3 Piala Super UEFA, dan 4 Piala Dunia Antarklub.

Keputusannya untuk hengkang dari klub ibu kota Spanyol ke PSG pada transfer musim panas 2021 membuat Si Putih harus kehilangan bek terbaiknya.  

Meski El Capitan masih menyimpan kenangan dan pencapaian buat Real Madrid, Sergio Ramos akan berusaha profesional di lapangan. Caranya dengan membantu pertahanan PSG pada duel dua leg nanti.

“Anda tahu kasih sayang dan cinta yang saya miliki buat Real Madrid. Sekarang adalah giliran saya untuk mempertahankan PSG dan melakukan segalanya. Ini adalah tim yang bertaruh kepada saya. Saya siap mati demi PSG,” ujarnya.

Ia menyatakan antusias saat babak 16 besar leg kedua yang akan dihelat di Santiago Bernabeu sebagai “laga perpisahan” yang tertunda bagi dirinya.

“Tentu saja saya tidak suka berkonfrontasi [dengan Real Madrid], tapi kembali ke Santiago Bernabeu adalah sebab dari kegembiraan ini karena saya tidak bisa melakukan perpisahan yang sesungguhnya akibat larangan Covid,” lanjutnya.

Reuni ini akan terjadi dengan syarat, keadaan El Capitan membaik sejak diterpa cedera otot setelah kepindahannya dari Madrid. Wajar bila Sergio Ramos baru terlibat dalam lima pertandingan kompetitif sepanjang musim ini. Baru dua kali Sergio Ramos tampil selama 90 menit dan membukukan satu gol.

So, semoga bisa sembuh dan diturunkan di salah satu laga untuk pesta perpisahan yang tertunda.

Keylor Navas

Penjaga gawang PSG Keylor Navas merupakan mantan pemain Real Madrid. Ia pernah menjadi pilihan utama mengamankan mistar gawang sejak 2014-2019.

Lima musim bersama Los Blancos, pria asal Kosta Rika telah memenangi gelar 12 gelar, antara lain 1 trofi La Liga Spanyol, 3 Liga Champions, 3 Piala UEFA Super Cup, dan 4 Piala Dunia Antar Klub.

Kegemilangan eks punggawa Levante selama menghuni Santiago Bernabeu telah bermain sebanyak 162 dan berhasil mencatatkan 52 clean sheet.

Kemesraan setengah dekade di ibu kota Madrid mulai retak, kala Real Madrid mendatangkan Thibaut Courtois. Navas akhirnya memilih meninggalkan Santiago Bernabeu. Dia melanjutkan kariernya di Prancis bersama PSG untuk mendapatkan menit bermain.

Mr. Save untuk ketiga kalinya akan bersua mantan klubnya di Liga Champions. Di dua edisi sebelumnya, PSG berhasil memenangkan sekali dan imbang di babak grup Liga Champions 2019/2020.

Angel Di Maria

Pemain asal Argentina itu pernah mengenakan seragam Los Merengues selama empat musim lamanya. Didatangkan dari Benfica pada transfer musim panas 2010, permainannya langsung nyetel dengan klub asal ibu kota Spanyol.

Di Maria telah menyumbangkan 94 gol dan 115 assist. Torehan ciamiknya dibarengi pencapaian bersama klub berupa 1 trofi La Liga, 2 Piala Copa del Rey,  Piala Super Cup Spanyol, 1 Piala Liga Champions, dan Piala UEFA Super Cup.

Usai empat tahun bersama Real Madrid, keputusan Di Maria pindah ke Manchester United. Petualangannya di Negeri Ratu Elizabeth hanya bertahan satu musim. Performanya pun yang tak kunjung meningkat sehingga mengambil keputusan hengkang ke PSG.   

Di PSG, Fideo telah menjadi andalan di posisi winger kanan selama enam musim dengan mengoleksi 91 gol dan 115 asis.

Pundi-pundi gol dan asis DI Maria dibutuhkan PSG untuk lolos ke babak 8 besar Liga Champions. Pertemuan pada Rabu mendatang merupakan kali ketujuh Di Maria bersua mantan klubnya. Mampukan Di Maria melakukannya?

Achraf Hakimi

Jebolan akademi Real Madrid ini rela berganti klub untuk mendapatkan menit bermain. Nasib Achraf Hakimi harus dipinjamkan ke Borussia Dortmund selama dua musim lalu di jual ke Inter Milan pada 2020.

Selama berseragam Los Blancos, pria asal Maroko hanya mendapatkan 17 kali kesempatan bermain. Jumlahnya tidak lebih banyak saat ia masih bermain untuk Real Madrid Castilla.  

Wajar bila ia lebih betah saat dipinjamkan ke Dortmund selama dua musim. Pasalnya di jerman, ia mendapat kepercayaan menjaga pos bek kanan sebanyak 73 kali dengan menorehkan 12 gol 17 assist. Usai masa peminjaman habis ia dijual ke Italia untuk membantu Inter meraih gelar Serie A, Hakimi pindah ke PSG pada bursa transfer musim panas lalu.

Dia sekarang menjadi andalan di sektor bek kanan yang akan membantu PSG untuk lolos dari 16 besar melawan mantan klubnya.

Referensi : transfermarkt, bola, goal.com, viva, bolasport,

 

9 Comeback Paling Dramatis di Fase 16 Besar Liga Champions Eropa

Fase Champions League musim 2021/2022 ini memasuki fase 16 Besar. Tim-tim mulai berjuang hidup dan mati di fase gugur. Gelaran fase gugur UCL selalu menyuguhkan aksi-aksi yang menarik, termasuk Comeback.

Aksi Comeback atau membalikan keadaan sering mewarnai pertandingan dengan sistem agregat dua Leg ini. Ketika mengalami ketinggalan di Leg pertama biasanya menjadi motivasi tersendiri bagi tim tersebut di Leg kedua dan tak jarang aksi Comeback terjadi.

Apa saja momen Comeback yang terjadi di fase 16 besar Champions League selama ini? Berikut ini ulasan selengkapnya.

Inter Milan vs Bayern Munchen 16 Besar Musim 2010/2011

Aroma dendam kental mewarnai laga babak 16 besar Liga Champions musim 2010-2011. Sebab inilah pertemuan kembali antara dua finalis musim 2009/2010 lalu yang bersua di Santiago Bernabeu.

Inter dengan pelatih yang berbeda, Leonardo, tapi Munchen masih dilatih oleh Van Gaal. Leg pertama berlangsung di kandang Inter. Main di kandang sendiri tak terduga Inter justru kalah 0-1 akibat gol Mario Gomez di menit akhir.

Hal ini menjadikan Munchen sudah berada satu kaki di babak perempat final mengingat Leg kedua akan berlangsung di rumah sendiri.

Namun situasi ternyata berbalik, Inter mampu mengimbangi permainan Bayern di Allianz Arena. Gol demi gol terjadi di pertandingan itu. Kedudukan sama kuat pun terjadi sampai menit ke 88 sebelum gol Goran Pandev menghujam gawang Bayern.

Inter pun mampu menang 3-2 atas Bayern di Allianz. Dengan agregat sama 3-3, Inter berhak lolos ke perempat final karena unggul agresivitas 3 gol tandang mereka.

Napoli vs Chelsea 16 Besar musim 2011/2012

Pada Leg pertama antara Napoli vs Chelsea musim 2011/2012, Napoli sukses menghajar The Blues di San Paolo dengan skor 3-1. Dua gol dari Ezequiel Lavezzi dan satu gol dari Cavani hanya dapat dibalas satu gol dari Juan Mata.

Menghadapi Leg kedua, Chelsea sedang dalam keadaan yang sangat buruk. Pelatih Andre Villas Boas baru saja dipecat dan Chelsea dipegang oleh sang caretaker, Roberto Di Matteo. Namun, disisi lain Chelsea memiliki keunggulan karena akan bermain di Stamford Bridge dengan mengantongi satu gol tandang.

Tak disangka, gol dari para bintang senior seperti Didier Drogba, John Terry, dan Frank Lampard yang hanya mampu dibalas satu gol dari Gokhan Inler dapat memperpanjang permainan hingga extra time.

Akhirnya, Comeback terjadi pada menit ke-105 ketika Branislav Ivanovic berhasil membuat skor menjadi 4-1 dan Chelsea akhirnya lolos ke babak selanjutnya dengan agregat 5-4. Pada musim itulah Chelsea menjadi juara Champions League.

Manchester United vs Olympiakos 16 Besar Musim 2013/2014

Saat bertandang ke markas Olympiakos di leg pertama, tak ada yang menyangka jika Manchester United harus pulang dengan tertunduk lesu karena kalah dengan skor 2-0 tanpa balas. Gol dari Olympiakos dicetak oleh Alejandro Dominguez dan Joel Campbell.

Padahal ketika itu United masih diperkuat para bintangnya seperti Ferdinand, Rooney, sampai Van Persie. Manchester United ketika itu dilatih David Moyes sepeninggal Sir Alex Ferguson. Inilah pengalaman berharga bagi David Moyes di Champions League.

Namun, kekhawatiran akan ketertinggalan dua gol dari klub Yunani itu berbalik. Pada Leg kedua, Old Trafford masih menunjukkan taringnya sebagai tempat yang angker bagi tim tamu.

Robin van Persie bersinar di laga tersebut dengan mencetak hattrick ke gawang Olympiakos dengan kemenangan Comeback yang meyakinkan setelah ketinggalan dua gol. Alhasil, Manchester United menang 3-0 tanpa balas dan berhak lolos ke perempat final dengan agregat 3-2.

AS Monaco vs Manchester City 16 Besar Musim 2016/2017

Pada Leg pertama antara Manchester City vs Monaco yang berlangsung di Etihad Stadium pada 16 besar musim 2016/2017, terjadi pesta gol yang dimenangkan oleh tim tuan rumah dengan skor 5-3. Brace dari Sergio Aguero serta tambahan gol dari Leroy Sane, Raheem Sterling, dan John Stones dibalas dengan brace pemain Monaco, Radamel Falcao dan satu gol wonderkid asal Prancis ketika itu, Kylian Mbappe.

Di Leg kedua, Monaco memiliki keunggulan dua gol tandang, hasil yang lumayan bagi pasukan Leonardo Jardim ketika menggelar partai kedua di Prancis.

Tak disangka skuad asuhan Pep Guardiola harus takluk dengan skor 3-1 di Prancis. Gol dari Mbappe, Tiemoue Bakayoko, dan Fabinho hanya mampu dibalas satu gol dari Leroy Sane.

Atas hasil tersebut, agregat menjadi imbang 6-6. Namun, Monaco berhak lolos ke babak perempat final berkat agresivitas gol tandang yang dimilikinya.

PSG vs Barcelona 16 Besar Musim 2016/2017

Pada tahun 2017, Barcelona berada di ambang kehilangan tempat di perempat final Champions League untuk pertama kalinya dalam satu dekade setelah kekalahan telak 4-0 yang tak terduga di Paris lewat brace Di Maria, dan gol dari Draxler dan Cavani.

Barcelona ketika itu masih menjadi unggulan ketika pasukan Luis Enrique masih berisikan bintang seperti trio MSN: Messi, Suarez, dan Neymar. PSG sendiri ketika itu dipegang pelatih Unai Emery.

Comeback dari ketertinggalan 4-0 belum pernah terlihat di kompetisi ini. Akan tetapi, gol pembuka cepat dari Luis Suarez di menit ketiga membuat publik Camp Nou seakan percaya bahwa defisit 4 gol itu akan dibalas.

Gol bunuh diri Layvin Kurzawa dan penalti Lionel Messi membawa Barca kembali mantap melakukan aksi Comeback, sebelum Edinson Cavani mencetak gol tandang yang mengejutkan dan membuat kubu tuan rumah terdiam, dan kembali harus kerja keras memburu tiga gol tambahan.

Sampai pada tendangan bebas yang menakjubkan di menit ke-88 oleh Neymar, dan insiden penalti di menit ke-91 yang mampu diselesaikan juga oleh Neymar. Keajaiban itu datang di menit-menit akhir tambahan waktu. Gol Sergi Roberto menjadi saksi sejarah Comeback fenomenal yang akan dicatat. Skor akhir 6-1 membuat Barcelona melangkah ke perempat final dengan agregat 6-5.

Atletico Madrid vs Juventus 16 Besar Musim 2018/2019

Pertandingan seru terjadi di Wanda Metropolitano kandang Atletico Madrid ketika bersua Juventus di 16 besar Champions League 2018/2019. Atletico dibawah Simeone bertarung taktik dengan Allegri yang mempunyai pemain seperti Cristiano Ronaldo ketika itu.

Juventus dengan Ronaldo-nya ternyata tidak mampu berbuat banyak pada Leg pertama di Madrid. Juventus takluk oleh Atletico dengan skor 2-0 lewat dua gol bek Atletico, Jose Gimenez dan Diego Godin.

Atletico makin jumawa setelah mereka unggul dua gol tanpa kebobolan di kandang. Sebaliknya Juventus menggebu-nggebu ketika bermain di Leg kedua di kandang sendiri demi menuntaskan dendam kekalahannya di Madrid.

Benar saja, Juve tampil trengginas. Ya, siapa lagi tokohnya kalau bukan sang mega bintang Cristiano Ronaldo. Ronaldo mencetak hattrick sensasional di kandang yang mengantarkan Juve mampu Comeback dengan skor 3-0 tanpa balas dan menjadikan Juve lolos ke perempat final dengan agregat 3-2.

Manchester United vs PSG 16 Besar Musim 2018/2019

Berselang dua musim, setelah PSG ketika itu menjadi korban Comeback Barcelona. Kali ini PSG juga terkena Comeback saat bertemu dengan Manchester United di 16 besar Champions League musim 2018/2019.

Pada awalnya di Leg pertama, PSG berhasil mencuri kemenangan di Old Trafford dengan skor 2-0 tanpa balas lewat gol Presnel Kimpembe dan Kylian Mbappe. Modal yang cukup meyakinkan untuk lolos dengan mudah ke perempat final.

Seharusnya, laga yang berjalan di Parc des Princes akan menjadi milik PSG karena keunggulan yang dimilikinya. Namun, Manchester United ternyata dapat membalikkan keadaan.

Brace dari Lukaku serta penalti Marcus Rashford di penghujung dan PSG dengan satu gol oleh Juan bernat. Alhasil United mampu unggul 3-1 di Paris, dan menjadikan agregat 3-3. United berhak lolos ke babak perempat final dengan unggul agresivitas gol tandang mereka.

Ajax vs Real Madrid 16 Besar Musim 2018/2019

Sebuah misi Comeback berhasil dituntaskan Ajax Amsterdam kala melawat ke markas Real Madrid pada Leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2018-2019.

Ajax Amsterdam sukses menggebuk Real Madrid 4-1 dalam duel di Estadio Santiago Bernabeu. Hasil ini sudah lebih dari cukup bagi Ajax untuk memulihkan keadaan pasca kalah 1-2 dalam duel pertama di markas mereka Johan Cruijff Arena.

Empat gol Ajax kala itu dicetak Hakim Ziyech, David Neres, Dusan Tadic, dan Lasse Schoene. El Real cuma bisa membalas satu kali via Marco Asensio. Hasil ini mampu mengantarkan Ajax melaju ke babak perempat final dengan agregat 5-3.

Dortmund vs PSG 16 Besar Musim 2019/2020

Sering terkena Comeback baik itu oleh United maupun Barcelona. PSG akhirnya mampu tampil Comeback dengan sukses ketika bertemu Dortmund di fase 16 besar Champions League 2019/2020.

Leg pertama dilangsungkan di markas Dortmund. Ketika itu di Signal Iduna Park, Dortmund mampu unggul dengan skor 2-1 berkat dua gol dari bintang Dortmund, Erling Haaland. Satu gol PSG tercipta lewat Neymar.

Berbekal satu gol tandang PSG berniat melakukan Comeback di Paris. Hal itu akhirnya mampu terwujud setelah mereka mampu menuntaskan pertandingan dengan skor 2-0 lewat gol dari Juan Bernat dan Neymar. PSG pun sukses merasakan kemenangan Comeback-nya. Dengan hasil ini agregat menjadi 3-2 untuk keunggulan PSG dan berhak maju ke babak perempat final.

Sumber Referensi : uefa.com, goal.com, givemesport, bbc

Derby Rotterdam: Adu Kuat Demi Kuasai Rotterdam

0

Derby satu kota menjadi menyajikan pertandingan dengan tensi tinggi. Ada harga diri klub dan pendukung dipertaruhkan selama 90 menit di lapangan, salah satunya pertandingan Feyenoord Rotterdam vs Sparta Rotterdam.

Keduanya merupakan klub yang bermukim di Kota Rotterdam Belanda. Kota ini dihuni tiga klub yang mengikuti gelaran Eredivisie pada masanya. Wajar bila klaim Kota Bola (Voetbal District) sering disematkan kepada kota yang memiliki luas wilayah 324,1 km².

“Derby Rotterdam” disematkan saat Sparta Rotterdam, Excelsior, dan Feyenoord Rotterdam bersua pada sebuah pertandingan. Ketiga klub ini sama-sama ngotot untuk menjadi penguasa di Kota Gerbang ke Eropa.

Kisah perseteruan dimulai sejak Belanda masih “sibuk menjajah” Indonesia. Pada 1888 klub kriket yang diinisiasi oleh sekelompok mahasiswa elit dari Spangen Rotterdam Barat bernama Rotterdamsche Cricket and Football Club Sparta.

Setahun setelah pendirian, cabang sepak bola resmi menjadi bagian dari klub dan diberi nama Sparta Rotterdam. Klub ini menjadi tertua di Kota Rotterdam dan Belanda. De Rood-Witte Gladiatoren menjadi wakil Rotterdam saat berlaga di Liga Belanda.

Hingga muncul klub bernama Feyenoord Rotterdam yang diinisiasi oleh sekelompok kelas pekerja pelabuhan di distrik Feijenoord, Rotterdam Selatan pada 1906. Klub ini kelak akan mengambil alih penguasa dari saudara tuanya.

Sparta Rotterdam yang dibangun oleh sekelompok intelektual, sedangkan Feyenoord Rotterdam diinisiasi pekerja menjadi bumbu saat keduanya bersua di lapangan.

Kelas kedua pendukung memberikan jurang perbedaan besar dalam budaya dan pendidikan. Lewat inilah adu gengsi di lapangan berbuah persaingan sengit sehingga tercipta gesekan antara kedua belah pihak yang terpecah.

Sentimen kedua klub pernah mencapai titik pengharaman masuk Stadion De Kuip pada 1971. De Sparta Suporter menyerukan agar tak datang datang ke sana meski Derby Rotterdam tersaji pada final Piala KNVB edisi 1970/1971.

Alasannya gengsi dan sentimen suporter Sparta Rotterdam yang mengaku bahwa tim berjuluk De Rood-Witte Gladiatoren adalah pemegang tradisi sepak bola di Kota Rotterdam. Dasar ini memang tidak bisa terbantahkan karena usianya telah mencapai satu abad lebih.

Singkat kata, Sparta Rotterdam adalah tim tua dan disokong kaum elit yang terpenuhi segala sesuatunya, lawannya Feyenoord Rotterdam yang lahir dari keinginan untuk memperjuangkan kelas pekerja lewat sepak bola.

Rekor Pertemuan

Per 11 Februari 2022 sejak Derby Rotterdam pertama kali digelar pada 22 Mei 1921 di Stadion Het Kasteel, kedua klub tersebut telah bertemu 128 kali di liga maupun Piala KNVB.

Akumulasi kemenangan terbanyak diperoleh De Club van Het Volk dengan 77 kemenangan dan membobol gawang De Rood-Witte Gladiatoren 297 kali. Sementara, Sparta Rotterdam baru memenangkan 25 kali dengan menceploskan 154 gol. Sedangkan 26 pertandingan lainnya berakhir imbang.

Sejak pertemuan pertama, Feyenoord mampu mempermalukan saudara tuanya Sparta Rotterdam di kandang dengan skor 4-2. Capaian itu ditambah rekor pertemuan mencerminkan superioritas klub kelas pekerja ketimbang tim yang didirikan oleh sekelompok elit.

Adu Pencapaian

Urusan trofi jadi garis antar kedua klub itu. Feyenoord Rotterdam boleh bangga dengan capaian 15 gelar liga, 13 Piala KNVB, 4 Piala Super Cup Belanda 2 Piala UEFA, 1 Piala Liga Champions dan 1 Piala Dunia Antar Klub.

Seterusnya, Sparta Rotterdam hanya mengoleksi beberapa prestasi besar seperti, enam gelar nasional  dan tiga Piala KNVB. 

De Club van Het Volk unggul jauh dari De Rood-Witte Gladiatoren.Wajar bila laga keduanya akan selalu sengit karena ada yang merasa “tua” tertinggal untuk urusan prestasi dari yang “muda” sehingga “memupuk” semangat agar bisa menyalip.

Feyenoord yang bermarkas di Stadion De Kuip juga unggul dalam urusan menciptakan pemain-pemain berlabel Timnas. Tengok saja nama-nama seperti Daryl Janmaat, Giovanni van Bronckhorst, Robin van Persie pun beberapa nama-nama legendaris sekaliber Ronald Koeman dan Ruud Gullit pernah berseragam De Club van Het Volk, sementara seterunya nama yang masyhur hingga kini Louis van Gaal. 

Markas Feyenoord lebih sering dijadikan klub tempat berlaga Timnas Belanda saat FIFA Matchday karena memiliki daya tampung 51.000 orang. Kapasitasnya terbesar kedua usai kandang Ajax Amsterdam, Stadion Johan Cruyff Arena dengan daya tampung 54.000 orang.

Nilai Suporter

Julukan De Club van Het Volk berarti klub untuk semua orang. Nilai klub berbasis penggemar dipegang betul oleh tim yang bermarkas di Stadion Kuip. Wajar bila hal ini terjadi di kesebelasan yang didirikan oleh sekelompok pekerja dari distrik pelabuhan itu. 

Perjuangan kelas pekerja ini juga yang sering kali digaungkan oleh suporter saat bersua klub ibu kota Ajax Amsterdam dengan nada sinis “uang dihasilkan di Rotterdam, disimpan di Den Haag dan dihabiskan di Amsterdam”

Sindiran kepada klub se-kota pun sering diutarakan, karena berstatus klub tua tapi tak kunjung memperbaiki prestasinya. 

“Span Haagen berisi kaum terdidik dan kaya, tapi urusan sepak bola mereka tak mau berubah,” ungkap suporter Feyenoord. 

Sementara klub lawan dengan basis suporter yang telah mapan dan tidak mau berubah. Mereka telah terjebak dengan nilai-nilai dan tradisi orang-orang kaya. Mereka mengklaim sebagai klub pemegang tradisi di Kota Rotterdam dan keberhasil Sparta bertahan dengan anggaran yang minimalis ketimbang seterunya yang jor-joran mendatangkan Ronald Koeman dan Ruud Gullit. 

“Mereka mengaku sebagai kelas pekerja, tapi mengelola klub melebihi kemampuannya,” sindir salah satu ultras Sparta Rotterdam

Kasus Tinus Bosselaar

Raihan trofi dan skuad membuat Feyenoord Rotterdam lebih mentereng ketimbang musuhnya Sparta Rotterdam. Wajar bila nama sekaliber Tinus Bosselaar menerima pinangan De Club van Het Volk pada 1954 dari De Rood-Witte Gladiatoren. Bosselaar hanya bertahan dua musim di Feyenoord dan pindah ke klub lamanya. 

Kepindahan kembali Bosselaar ke Sparta Rotterdam menjadi drama karena manajemen Feyenoord tidak mau melepaskannya. Walhasil, De Club van Het Volk membawa perkara ini ke meja sidang. Namun, hasil berpihak kepada Sparta dengan amar putusan mengizinkan Bosselaar membela De Rood-Witte Gladiatoren dan bermain hingga gantung sepatu. 

“Bosselaar Fair” menjadi minyak pembakar pada persaingan dua klub itu. Kepindahan pemain ke tim musuh menjadi sesuatu yang amat menyakiti perasaan. Kemarahan pendukung Sparta Rotterdam didasarkan pada klubnya tidak ingin menjadi tempat penggodokan pemain lalu saat permainannya bagus dicomot klub lawan. Nilai-nilai anti feeder club-lah yang diperjuangkan oleh De Sparta Suporter.

Pasalnya klub Rotterdam lainnya, Excelsior telah bersepakat mendirikan Akademi Feyenoord pada 1996 untuk memfasilitasi pemuda regional lalu menggabungkan tim cadangan kedua klub. Selama bertahun-tahun, para pemain akademi muda memperoleh pelatihan dan pengalaman sebagai hasilnya dapat berkiprah di klub utama.

Percikan peristiwa transfer pemain, pencapaian klub dan rekor kemenangan bakal membuat Derby Rotterdam di Eredivisie maupun Piala KNVB bakal berlangsung sengit.

Referensi : Panditfootball, Total Dutch, Holigan FC, Finest, Feyenoord

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontroversi Bola Adidas Jabulani Piala Dunia 2010

0

Gelaran Piala Dunia 2010 menjadi yang pertama digelar di Benua Afrika, tepatnya di Afrika Selatan. Kala itu, banyak momen-momen yang menarik dan tercatat sejarah sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2010.

Pada perhelatan itu pula banyak hal-hal unik yang membumbui kemegahan pelaksanaan Piala Dunia Afrika Selatan. Seperti Paul si gurita peramal dan Vuvuzela, alat musik tiup khas Afrika Selatan berjenis terompet yang menggema di setiap laga Piala Dunia.

Namun, ada satu yang cukup kontroversial dan mungkin saja paling diingat. Yup, penggunaan bola Adidas Jabulani. Di mana saat itu, bola ini begitu dibenci oleh para penjaga gawang.

Adidas Jabulani

Nah, sebelum kita membahas kontroversi Adidas Jabulani, kita akan mengenal lebih jauh mengenai bola Adidas Jabulani ini. Bola yang secara resmi diperkenalkan Adidas pada 4 Desember 2009.

Sebagai bola resmi selama turnamen, Jabulani dirancang oleh brand olahraga yang khas dengan tiga garis tersebut, memang dibuat khusus untuk gelaran Piala Dunia 2010.

Nama Jabulani itu sendiri berasal dari bahasa bantu isiZulu. Bahasa isiZulu merupakan salah satu dari sebelas bahasa resmi di Afrika Selatan. Bahasa ini dipakai oleh hampir 25 persen penduduk Afrika Selatan. Secara harfiah, Jabulani mempunyai makna “merayakan”.

Adidas Jabulani hanya terdiri dari delapan panel 3D yang dijahit secara rapi. Jabulani diklaim sebagai bola yang paling bundar yang pernah ada. Ia berbentuk bulat sempurna dan bahkan lebih akurat daripada bola-bola sebelumnya.

Teknologi “Grip’n’Groove” yang baru dikembangkan oleh Adidas memberikan sensasi yang memungkinkan bola dapat melayang lebih stabil dan memiliki grip yang sempurna dalam segala kondisi.

Jabulani pun memiliki desain yang unik, ia identik dengan angka sebelas. Dalam pewarnaan Jabulani, Adidas memakai sebelas warna berbeda yang mana itu mewakili dari bola Adidas kesebelas yang digunakan pada Piala Dunia.

Sebelas warna yang berbeda itu mencerminkan sebelas pemain dalam setiap tim, sebelas bahasa resmi Afrika Selatan, dan sebelas suku yang ada di Afrika Selatan. Yang mana menjadikan negara tersebut sebagai salah satu negara paling beragam secara etnologis di Benua Afrika. 

Keluhan Dari Pemain

Meski Jabulani memiliki makna “merayakan”, nyatanya yang dirasakan oleh beberapa pemain di Piala Dunia 2010 tidak demikian. Pasalnya, sejumlah pemain, terutama penjaga gawang, acap kali mengeluhkan bola Jabulani yang dirasa terlalu ringan dan cenderung bergerak liar.

Dalam pembuatannya, Adidas melibatkan beberapa pemain kelas dunia dalam proses pengembangan dan pengujian bola Jabulani. Iker Casillas, sebagai kiper sekaligus kapten Timnas Spanyol kala itu menyebut bahwa bola Jabulani layaknya bola voli pantai. Sedangkan Gianluigi Buffon dan Julio Cesar pun mengaku sedikit kecewa dengan bola resmi Piala Dunia 2010 ini. Mereka tampak kesulitan untuk menebak arah perputaran bola.

Sementara, Fabio Capello yang masih menjadi pelatih Timnas Inggris saat itu menilai bahwa Jabulani merupakan bola terburuk yang pernah dipakai di ajang bergengsi empat tahunan tersebut. Penilaian Fabio Capello itu muncul setelah melihat anak asuhnya, Robert Green yang menjadi kiper Timnas Inggris saat itu melakukan blunder dalam laga melawan Amerika Serikat.

Dengan adanya keluhan-keluhan dari para pemain terutama penjaga gawang, mengakibatkan fitur Grip’n’Groove pada Adidas Jabulani yang katanya akan meningkatkan akurasi pada bola masih perlu dipertanyakan.

Hingga Memunculkan Penelitian Lebih Lanjut Pada Jabulani

Menyusul segala keluhan tersebut, beberapa ilmuwan dari Perancis pun bertanya-tanya sebenarnya apa yang salah dari Jabulani. Mereka melakukan penelitian guna menemukan akar permasalahan Jabulani. Para ahli dari Institute of the Science of Movement di Marseille pun mengeluarkan kesimpulan.

Jahitan milik Jabulani yang berada di bagian dalam sehingga membuat bola terlihat bulat sempurna malah menjadi akar permasalahan ini. Karena bentuknya yang terlalu bulat ini menciptakan kontak bola dengan kaki berkurang, sehingga tidak bisa melayang lurus dengan baik.

Tak pernah terpikirkan bahwa permasalahan Jabulani yang penuh kecacatan itu bisa ditanggapi seserius ini. Bahkan Badan Antariksa Amerika Serikat atau yang sering kita kenal dengan NASA juga memberikan pendapatnya tentang Adidas jabulani.

Sejumlah pakar NASA Ames Investigation Center memaparkan analisa aerodinamika mereka terhadap Jabulani. Hasilnya, arah Jabulani akan sulit diprediksi ketika ia bergerak dengan kecepatan 44 mil per jam. Para ilmuwan NASA menuding, penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah bobot bola yang terlalu ringan. Tercatat Jabulani memiliki berat hanya 440 gram.

Akibatnya, praktis bola Jabulani tidak berputar dengan baik. Bola akan bergerak sedikit lebih jauh dari perkiraan, dan akan memiliki pergerakan yang seolah-olah bola itu mengambang dan arahnya tak terduga. Ini akan sulit bagi penjaga gawang maupun striker.

Well, terlepas dari kontroversialnya, bola Jabulani, penonton juga menyukai Jabulani. Mereka menikmati intrik drama Jabulani yang tersaji di Piala Dunia 2010 silam. Sampai saat ini Jabulani tetap menjadi perbincangan ketika bola-bola Piala Dunia berikutnya kembali diperkenalkan kepada publik.

Sumber: Adidas, Phys.org, Planetfootball

Kisah Timnas Belanda yang Mengubah Total Football di Piala Dunia 2014

Kiprah timnas Belanda ketika Piala Dunia 2014 menjadi sisi lain bagi kehidupan sepakbola negeri kincir angin tersebut. Timnas Belanda menjadi sorotan ketika itu setelah ia mampu menjadi finalis edisi Piala Dunia sebelumnya 2010.

Belanda kala itu bertransformasi bak kehilangan jati diri filosofi bermainnya. Belanda yang sering kita kenal dengan total football, ternyata pada edisi Piala Dunia 2014 tidak lagi melakukannya sebagai prioritas. Lantas apa yang sebenarnya terjadi di timnas Belanda di Piala Dunia 2014 Brazil?

Berbenturan Dengan Filosofi Total Football

Timnas Belanda pada Piala Dunia 2014 bermain sangat bertentangan secara filosofi permainan khas-nya yakni total football. Konsep permainan inilah yang sebenarnya membawa sepak bola Belanda meraih beberapa pengakuan dunia.

Taktik ini pertama dipopulerkan oleh klub Ajax Amsterdam 1969 kemudian diadopsi oleh Timnas Belanda sejak Piala Dunia 1974. Taktik total football pertama kali dikenalkan oleh mantan pelatih Ajax Amsterdam di era 1920-an, Jack Reynolds.

Jack Reynolds membuat suatu kesebelasan yang agresif dan dominan dalam hal penguasaan bola. Setelah itu, taktik total football dari Jack Reynolds dikembangkan lagi oleh Rinus Michels. Rinus Michels mengembangkan total football dan menjadi pikiran utama baginya ketika berperan sebagai nakhoda untuk sebuah tim.

Sederhananya total football merupakan permainan ofensif yang bertumpu pada pergerakan atau formasi yang fleksibel. Dalam menjalani taktik ini, setiap pemain dominan dalam hal menyerang sehingga sebuah tim memiliki penguasaan bola lebih banyak ketimbang lawannya.

Makin banyak menguasai bola, makin banyak menciptakan peluang, dan makin banyak pula kesempatan untuk mencetak gol. Begitu juga penempatan posisi pemain tidak hanya stay pada posisinya, tetapi dinamis untuk memanfaatkan ruang dan celah lawan. Misal, bek yang bisa maju ke depan atau kiper yang bisa menjadi bek.

Pola permainan inilah yang mengakar di kehidupan sepak bola Belanda. Nah hal inilah yang kemudian tiba-tiba tidak terlihat di Piala Dunia 2014 dari Timnas Belanda yang dilatih pelatih veteran, Louis Van Gaal.

Faktor Van Gaal

Van Gaal ditunjuk oleh federasi sepak bola Belanda untuk menangani Timnas Belanda setelah pelatih sebelumnya Bert Van Marwijk gagal di EURO 2012.

Jelang bergulirnya Piala Dunia 2014, Van Gaal dihadapkan berbagai masalah sulit yang menimpa skuad Belanda, seperti cederanya gelandang kunci mereka Kevin Strootman.

Kemudian lemahnya lini belakang Belanda yang diisi pemain-pemain kurang populer waktu itu seperti Janmaat, Martins Indi, De Vrij, maupun Ron Vlaar. Masalah itulah yang harus segera dipecahkan oleh Van Gaal sebelum kompetisi bergulir.

Mengingat peta kekuatan lawan di Piala Dunia 2014 variatif, terlebih sang juara bertahan Spanyol ketika itu baru saja mempoligami dua gelar juara eropa dan satu gelar Piala Dunia dengan dominasi pola tiki-taka-nya.

Van Gaal akhirnya menemukan formula khusus tatkala ia meniru apa yang diterapkan rekan sejawatnya Koeman di Feyenoord. Skema bertahan efektif 5-3-2 atau bisa berubah 3-5-2 menjadi opsi bagi Van Gaal. Dengan pakem ini menurut Van Gaal, Timnas Belanda mampu paling tidak mengurangi risiko masalah yang menimpa skuadnya di lini pertahanan.

Berangkat ke Brazil dengan status runner up Piala Dunia 2010 dan dengan skuad yang bertransformasi tidak lagi 4-3-3 dengan total football-nya, tidak mau disia-siakan Timnas Belanda untuk paling tidak mampu mencapai final kembali.

Belanda Juara Ketiga Piala Dunia 2014

Di Grup Stage Belanda tergabung di Grup B dengan sang juara bertahan Spanyol, Chile, dan Australia. Pertandingan melawan Spanyol dengan pola menyerang tiki-taka-nya akan sangat dinantikan publik dunia ketika Belanda-nya Van Gaal menerapkan antitesanya dengan pola 5-3-2.

Benar saja, ketika itu Belanda dengan pola bertahan Van Gaal mampu menaklukan dominasi tiki-taka Spanyol. Hasilnya Belanda membantai juara bertahan Spanyol dengan skor mengejutkan 5-1 dalam laga pembuka Grup B.

Banyak yang jengkel termasuk penggila total football Belanda karena kemenangan Van Gaal menggunakan pola bertahan usang sepak bola, 5-3-2.

Pola 5-3-2 Van Gaal menggunakan tiga bek tengah dengan dua bek sayap yang bertugas dalam bertahan sekaligus ikut menyerang. Konsekuensi penggunaan skema ini, Van Gaal harus menempatkan dua bek sayap dengan kemampuan bertahan dan menyerangnya setara. Pada Piala Dunia 2014, salah satu pemain yang tepat untuk kondisi ini adalah bek kiri Ajax, Daley Blind.

Peran full back Blind di kiri dan Janmaat di kanan yang selalu siap untuk sering naik turun lapangan, bertahan, dan sesekali menyerang meringankan tugas para veteran, seperti Robben, Sneijder, ataupun Van Persie, yang pastinya sangat terkuras staminanya jika Belanda menggunakan pola 4-3-3 atau 4-2-3-1.

Awalnya, formasi 5-3-2 ini hanya disiapkan Van Gaal khusus untuk meredam tiki-taka Spanyol. Namun, Van Gaal tetap mempertahankan skema itu hingga laga pamungkas grup saat membungkam Chile dua gol tanpa balas dan sebelumnya menang melawan Australia 3-2. Bahkan, skema ini mampu dipakai Van Gaal samapi berakhirnya Piala Dunia 2014.

Banyak pengamat yang ragu akan keberhasilan Van Gaal yang tidak lagi menggunakan taktik total football di Piala Dunia 2014, walau dalam 3 pertandingan di babak penyisihan Grup, Belanda sukses melumat lawan-lawannya dan menjadi juara grup. Taktik ini akan diuji sesungguhnya dalam laga fase knockout 16 besar kontra Meksiko.

Kembali menggunakan format 5-3-2 yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi 3-4-1-2 maupun 3-5-2, ujian ini pun dilalui. Kedalaman pertahanan Belanda terjaga. Keseimbangan dalam menyerang pun terjaga. Belanda akhirnya kembali menang 2-1 atas Meksiko dan berhak maju ke babak perempat final.

Di perempat final Belanda bertemu Kosta Rika. Permainan dengan pola bertahan Van Gaal tetap menjadi andalan. Pertandingan berakhir 0-0 dan dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Pasukan Van Gaal pun beruntung pada adu tos-tosan tersebut dan mampu menang 4-3 untuk melaju ke semifinal.

Transformasi taktik Van Gaal kembali diuji. Kala kembali bertemu klub yang notabene menggunakan strategi menyerang yakni Argentina di semifinal. Skor kacamata pun mewarnai 2 kali 90 menit.

Kembali pasukan Van Gaal teruji akan transformasi taktik yang dilakukan dengan mampu menahan serangan Argentina paling tidak sampai perpanjangan waktu. Pertandingan pun kembali diselesaikan dengan adu tendangan penalti. Akhirnya, langkah Timnas Belanda pun terhenti setelah kalah adu penalti 4-2 atas Argentina.

Kali ini pasukan Van Gaal kurang beruntung dan tidak bisa mengulangi capaian Timnas Belanda di 2010. Langkah Belanda era Van Gaal terhenti di semifinal, tetapi mereka berjuang untuk mendapatkan paling tidak tempat ketiga dengan melawan tuan rumah, Brazil.

Ya, benar saja luapan emosi para pemain Belanda yang gagal menuju final seketika meledak, ketika mereka tanpa segan membantai sang tuan rumah dengan skor 3-0.

Dengan hasil ini semakin membuktikan bahwa transformasi taktik Van Gaal yang awalnya diragukan dan mengkhianati mazhab negaranya, bisa dikatakan berhasil. Hanya kurang beruntung ketika kalah adu penalti dengan Argentina.

Kendati memang transformasi ini punya kelemahan. Taktik Van Gaal ini hanya bermain menunggu, dan mengandalkan skema counter attack tampak mudah ditebak. Hal itu seiring dengan lini pertahanan yang sudah menemukan obatnya.

Van Gaal yang dikenal keras kepala, tetapi pada Piala Dunia 2014 ia mampu melunak lantaran tuntutan kondisi skuad dan juga demi prestasi. Cerita transformasi taktik Timnas Belanda ini bukan tidak mungkin akan membuat salah satu catatan tersendiri dalam sejarah persepakbolaan Belanda yang akan dikenang dunia.

 

Sumber Referensi : bbc, theguardian, outsideoftheboot

5 Pemain Muda yang Gagal Bersinar di Juventus

0

Rumput tetangga memang lebih indah. Begitulah adagium yang pas buat Juventus. Si Nyonya Tua adalah klub yang selalu ngiler dengan pemain-pemain dari klub lain, padahal ia punya pemain yang tak kalah potensial, dan masih muda.

Kemarin saja, Juventus mendatangkan Dusan Vlahovic dari Fiorentina. Tak tanggung-tanggung, pemain Serbia itu didatangkan Juve dengan status saga transfer. Bukan hanya Vlahovic, Juve juga mendatangkan gelandang bertahan, Denis Zakaria dari Monchengladbach.

Pemain Swiss itu juga tak kalah mahal. Bahkan Bianconeri setidaknya harus mengeluarkan 4,5 juta euro atau sekitar Rp 74 miliar untuk menebus Zakaria. Manajemen Juventus dan Allegri menaruh kepercayaan tinggi pada pemain-pemain tadi sehingga memilih merekrutnya.

Namun, jauh sebelum itu Juventus juga sebenarnya sudah mendatangkan pemain-pemain muda. Ironisnya, pemain-pemain muda ini justru lebih sering bermain di klub lain, alih-alih di Juventus. Nah, berikut ini lima pemain muda yang gagal bersinar di Juventus.

Marko Pjaca

Merasa tidak mengenal Marko Pjaca? Tentu wajar saja, sebab kabar Pjaca memang seolah lenyap. Pemain yang kini berseragam Torino itu adalah pemain muda yang didatangkan Juventus pada musim 2016/17 lalu.

Bianconeri membeli Pjaca yang kala itu berusia 21 tahun dari Dinamo Zagreb. Meski masih muda, Juve harus mengeluarkan uang sebesar 23 juta euro atau Rp 375,9 miliar kurs sekarang untuk membawa Pjaca ke Turin.

Sejak kedatangannya ke Juventus, Pjaca selalu menarik perhatian Allegri. Pelatih Juventus itu mengatakan kalau Pjaca adalah pemain yang luar biasa. Ia sempat menginginkan Pjaca sebagai proyek jangka panjangnya di Juventus.

Namun, Pjaca justru hanya bermain semusim bersama Bianconeri. Semusim bersama Juventus turut membuatnya merasakan kebahagiaan meraih dua gelar domestik, dan menginjakkan kaki ke final UEFA Champions League.

Malangnya, Pjaca diterpa cedera ligamen pada 2017. Hal itu membuatnya kerepotan bersaing di skuad Juventus, sedangkan ia membutuhkan menit bermain untuk menembus skuad Kroasia di Piala Dunia 2018.

Juventus ingin menahannya, tapi kebutuhan Pjaca akan menit bermain membuat dirinya harus dipinjamkan ke FC Schalke. Itu adalah titik awal, di mana Pjaga merintis kariernya sebagai pesepakbola pinjaman.

Usai dari Schalke, Juventus meminjamkan Pjaca ke Fiorentina. Setelah itu ke Anderlecht, Genoa, dan yang terakhir di Torino. Saat dipinjam Fiorentina, Pjaca sebisa mungkin mengusahakan agar La Viola sudi mempermanenkan dirinya.

Sungguh apes, cedera ligamen di kaki kanannya beberapa kali jadi penghambat. Ia pn tak jarang absen membela Fiorentina. Nah, sekarang Pjaca bermain untuk Torino. Pjaca mendapat tempat di Il Toro dan itu membuka peluang Torino membelinya.

Rolando Mandragora

Penampilan cantik Mandragora di Serie B musim 2015/16 membuat Juventus belingsatan. Bianconeri bergerak cepat untuk merampok Mandragora dari Pescara, setelah peminjaman pemain itu dari Genoa rampung.

Gelandang kelahiran Naples itu tampil sangat baik di Serie B bersama Pescara dengan 18 kali caps. Performa yang konsisten itu membuat Mandragora menjadi andalan Timnas Italia U-17, U-18, dan U-19. Maka, wajar-wajar saja kalau Juventus akhirnya berminat dengan Mandragora.

Saking minatnya, Juventus bahkan membeli pemain 18 tahun itu sebelum musim 2015/16 selesai. Mandragora dibeli Juventus dengan mahar 6 juta euro atau 98 miliar. Namun, dari klausul yang dibuat, Mandragora masih harus menuntaskan musim 2015/16 di Pescara sebagai pemain pinjaman.

Sayangnya, harapan menjadi bintang di Juventus utopis belaka. Mandragora gagal menembus skuad utama Juventus. Ia yang usianya masih terbilang muda, justru hanya bermain untuk Juventus B. Itu pun tampil cuma dua kali.

Sementara, di skuad utama, Mandragora hanya diberi kesempatan bermain sekali. Itu pun hanya empat menit sebagai pemain pengganti. Mandragora kalah saing dengan nama-nama lain kaliber Sami Khedira, Claudio Marchisio, sampai Miralem Pjanic.

Itu artinya kekuatan fisik dan fleksibilitas yang dimiliki Mandragora tak terpakai sama sekali di Juventus. Sampai akhirnya, Juventus pun memilih meminjamkannya ke Crotone. Di Crotone, Mandragora justru menjadi pemain andalan dengan 37 caps.

Masa peminjaman di Crotone habis pada musim 2017/18. Namun, saat itu lini tengah Juventus sudah mulai diperkuat Blaise Matuidi dan Rodrigo Bentancur. Mandragora pun akhirnya malah dilego ke tim Serie A lainnya, Udinese.

Waktu itu biaya transfer yang harus dikeluarkan Udinese cukup fantastis. Mandragora dilepas Juve dengan banderol 20 juta euro atau Rp 347,63 miliar saat itu. Lucunya, Juve sempat membelinya lagi di tahun 2020 seharga Rp 260,72 miliar hanya untuk dipinjamkan lagi.

Tercatat di Transfermarkt, setelah menuntaskan musim 2020/21 sebagai pemain pinjaman di Udinese, giliran Torino yang diberi kesempatan untuk memakai jasa Mandragora. Saat ini Mandragora dipinjamkan ke Torino dan terbuka untuk menjadi permanen, jika Il Toro mau membayar 14 juta euro atau Rp 228 miliar pada Juventus.

Riccardo Orsolini

Ricardo Orsolini pernah diproyeksikan sebagai penyerang masa depan Juventus. Betapa tidak? Ia tampil sangat impresif bersama Ascoli Primavera. Dari 26 pertandingan bersama Ascoli Primavera, ia sudah mencatatkan 22 gol.

Sementara, di skuad Ascoli senior ia sudah mengemas 51 caps dengan 8 gol. Orsolini juga turut berkontribusi di Timnas Italia U-20 dan U-21. Kemampuannya yang paling mencolok adalah finishing dan set piece. Ia begitu piawai ketika diberi kepercayaan menendang bola mati, entah itu langsung ke gawang maupun memberi umpan.

Akan tetapi, Juventus nyatanya cuma mau membeli tapi tidak mau memakai jasa Orsolini. Praktis setelah dibeli dari Ascoli tahun 2017 dengan banderol Rp 104,29 miliar kala itu, ia langsung dipinjam Atalanta.

Musim berikutnya, Orsolini dipinjam Bologna. Alih-alih mengambil kembali, Juventus malah sekalian melepas Orsolini ke Bologna pada tahun 2019. Il Rossoblu akhirnya menebus Orsolini dengan harga Rp 260,72 miliar.

Hebatnya, pemain yang kini berusia 25 tahun itu justru menjadi andalan pelatih Sinisa Mihajlovic. Ia paling tidak sudah memainkan 138 caps bersama Bologna, dan mencetak 33 gol dan 20 assist.

Emil Audero

Seluruh rakyat Indonesia tentu bangga dengan Emil Audero Mulyadi. Minimal walau ia tak pernah masuk skuad Timnas Indonesia, ia adalah orang kelahiran Indonesia yang berlatih sepak bola di Juventus.

Audero juga pernah membela Timnas Italia Junior dan Juventus Youth. Sekali waktu Emil pernah diisukan jadi penerus Buffon di Juventus. Namun, ia tak mendapat cukup banyak menit bermain.

Di Juventus, Emil Audero hanya bermain sekali. Namanya kemudian tersingkir otomatis dari skuad Juventus seiring kedatangan Wojciech Szczesny. Ia pun lantas dipinjamkan ke Venezia pada 2017.

Lalu pada tahun 2018, Sampdoria meminjam jasanya dengan biaya peminjaman Rp 17,38 miliar. Tak disangka performa Emil Audero terus melesat. Sampdoria pun membelinya dari Juventus seharga sekitar Rp 348 miliar pada 2019.

Bersama Sampdoria, kiper 22 tahun itu makin digdaya sebagai kiper utama. Persentase penyelamatannya di Sampdoria juga sangat tinggi, yaitu 72,5% dari tembakan yang dihadapi pada musim 2020/21. Angka itu bahkan membuat Emil hanya terpaut 0,1% di bawah Szczesny.

Leonardo Spinazzola

Salah satu pahlawan Italia di EURO 2020 ini adalah didikan Siena FC, namun dibeli Juventus saat usianya baru 19 tahun pada 2012 silam. Juve kala itu membeli Spinazzola dengan banderol Rp 6,95 miliar.

Akan tetapi, Juventus tetaplah Juventus. Bianconeri membeli Spinazzola hanya untuk meminjamkannya ke klub lain. Spinazzola banyak menghabiskan menit bermain justru bersama klub-klub di divisi bawah.

Ia dipinjamkan Juventus ke Empoli, Virtus Lanciano, Vicenza, Perugia, sampai Atalanta. Total Spinazzola sudah tujuh kali dipinjamkan ke klub lain. Tapi di Atalanta lah, Spinazzola sampai ke performa terbaiknya.

Karena itu, Atalanta meminjam Spinazzola di dua musim: 2014/15 dan 2016/17. Ia mengemas 62 caps yang luar biasa bersama Atalanta.

Penampilannya yang melesat drastis di posisi full back kiri saat dipinjam Atalanta nyatanya belum cukup menjanjikan bagi Juventus. Alih-alih tak meminjamkannya lagi, Juve justru menukarnya dengan Luca Pellegrini dari AS Roma.

Hal itu disinyalir karena Juventus akan mendapat keuntungan dari pertukaran ini. Sebab Roma bersedia membayar 29,5 juta euro (Rp 482 miliar) untuk Spinazzola, sedangkan Juventus hanya perlu membayar 22 juta euro (Rp 359 miliar) untuk Pellegrini.

Spinazzola pun diangkut Roma sesuai kesepakatan itu pada 2019. Nah, di Serigala Ibukota penampilan Spinazzola meningkat cukup signifikan. Ia yang membutuhkan menit bermain agar bisa masuk skuad Italia di EURO 2020, menjadi andalan Roma di full back kiri.

Ia pun masuk skuad Italia yang menjuarai EURO 2020. Well, kalau saja Spinazzola masih bertahan di Juventus, ia bisa jadi tak mendapat menit bermain dan mustahil dipanggil Timnas. Apalagi di Juventus ia harus bersaing dengan Alex Sandro dan Frabotta.

https://youtu.be/FmsgotsQzRU

Sumber referensi: juvefc.com, besoccer.com, 90min.com, oldjuve.com, juventus.com, onefootball.com, transfermarkt.co.id, bolasport.com

6 Pemain Yang Menyesali Kepindahannya Ke Klub Baru

Bergabung dengan klub baru tentu memberi harapan besar bagi seorang pemain. Mereka tentu berharap bisa memiliki karir yang lebih baik dan cemerlang dari sebelumnya. Apalagi ketika mereka tengah berada dalam masa produktif.
Namun ternyata, layaknya kehidupan, para pemain yang sama halnya kita sebagai manusia biasa hanya bisa berencana. Banyak dari mereka yang justru mengalami penurunan performa hingga membuat mereka menyesal karena telah memilih klub yang telah ditentukan.
Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan pemain yang menyesali kepindahannya ke klub baru.

Fernando Torres

Nama Fernando Torres mampu mengguncang kompetisi Premier League dengan kemampuan mencetak golnya. Kombinasinya dengan kapten Liverpool Steven Gerrard saat itu sangat ditakuti lawan-lawannya.

Ketika Torres memutuskan untuk pindah dan bergabung dengan Chelsea pada 2011, banyak yang terkejut dengan hal itu. Torres memang memenangkan Liga Champions bersama The Blues, tetapi secara pribadi, karier El Nino di sana meredup.
Torres hanya mencetak 45 gol dalam 173 pertandingan untuk Chelsea, statistiknya tidak terlalu impresif seperti saat di Liverpool. Setelah menempati posisi ketiga dalam perebutan Ballon d’Or pada tahun 2008, pesona Torres meredup bahkan saat bermain di AC Milan dan Atletico Madrid.

Neymar Jr

Neymar angkat kaki dari Camp Nou pada 2017 dan kompatriotnya sesama pemain Brasil, Adriano, menilai ada penyesalan dalam diri bintang PSG itu.

Di musim panas 2017, Neymar memutuskan itu saat yang tepat mengambil tantangan baru. Raksasa Ligue 1 Paris Saint-Germain sepakat mengaktifkan klausul pembelian Neymar dari Barcelona dengan uang tebusan 222 juta euro, yang menjadikannya pemain termahal dunia.
Banyak anggapan kepindahan tersebut dilakukan Neymar demi hilang dari bayang-bayang Lionel Messi di Barcelona, dengan eks pemain Santos itu ingin menjadi bintang utama di tim.
Ia berhasil melakukan itu di PSG, dengan melesakkan 48 gol hanya dalam 53 penampilan dan membantu tim mengunci treble domestik dalam musim debut yang berakhir dini karena cedera. Meski demikian, spekulasi transfer tetap mengiringi perjalanan karier pemain Amerika Selatan ini di Parc des Princes, dengan kembali ke Spanyol disebut-sebut menjadi tujuan berikutnya.
Apalagi, Neymar belum juga berhasil membawa Paris Saint-Germain meraih trofi di level Eropa.

Philippe Coutinho

Philippe Coutinho merasakan penyesalan setelah meninggalkan Liverpool. Dalam hal ini, Coutinho telah membuang peluang untuk meraih kesuksesan bersama Liverpool.
Coutinho meninggalkan Liverpool dan bergabung ke Barcelona pada Januari 2018. Saat itu, Coutinho mengatakan ingin memperbesar peluang untuk meraih gelar Liga Champions. Namun, sejak kepergian Coutinho, Liverpool sudah dua kali menembus final Liga Champions. Hal itu jelas memberi tamparan keras bagi pemain asal Brasil tersebut.
Seperti diketahui, Philippe Coutinho sempat menjadi pemain pujaan di Liverpool. Ia menjadi harapan suporter setelah bergabung dari Inter Milan pada Januari 2013.
Setelah melewati 201 penampilan untuk Liverpool, Coutinho memutuskan untuk hijrah ke Barcelona dengan nilai transfer mencapai 142 juta pound. Namun, sejak bergabung dengan Barcelona, Coutinho tak menunjukkan performa yang konsisten sehingga namanya kerap diisukan hengkang.

Sampai kini, setelah bergabung dengan FC Bayern, Coutinho juga belum terlalu menunjukkan kualitasnya di Camp Nou.

Paul Pogba

Menyusul performa yang tak terlalu mentereng bersama Manchester United, Paul Pogba diyakini menyesali keputusannya untuk meninggalkan Juve demi kembali memperkuat Setan Merah.
Sebagaimana diketahui, Pogba resmi kembali bergabung dengan Man United pada bursa transfer musim panas 2016. Manajemen Man United bahkan harus rela mengeluarkan uang sebesar 105 juta euro untuk merekrut kembali Pogba. Pogba pun sempat digadang-gadang bakal menjadi pemain paling krusial dalam permainan Manchester United. Akan tetapi kenyataannya, pemain asal Prancis tersebut justru gagal mengemban ekspektasi tinggi dari para pendukung United.

Situasi Pogba di Man United pun semakin diperkeruh dengan sejumlah kontroversi yang dibuatnya. Sampai detik ini pun, kabar kepergian Pogba dari Old Trafford masih terus berhembus.

Cesc Fabregas

Cesc Fabregas mengaku menyesali keputusannya meninggalkan Arsenal pada 2011. Dia merasa seharusnya bertahan dua tahun lagi sebelum mencari petualangan baru. Cesc Fabregas menghabiskan delapan tahun merumput bersama The Gunners setelah didatangkan dari Barcelona pada 2003. Saat itu, Fabregas masih berusia 16 tahun.

Pemain asal Spanyol itu dengan cepat menjelma menjadi tulang punggung tim dan idola fans Arsenal. Total, ia mencatatkan 304 penampilan di tim berjuluk Meriam London itu. Bahkan, Arsenal didaulat menjadi kapten pada 2008.
Petualangannya di London Utara berakhir pada 2011. Ia memutuskan kembali ke klub lamanya, Barcelona, untuk mengejar impiannya meraih gelar demi gelar. Pada 2014, Fabregas kembali ke Inggris namun kini ia menerima pinangan Chelsea.
Meski berhasil merebut trofi Liga Primer bersama Chelsea, tetap saja, Fabregas menganggap masanya di Arsenal sebagai yang paling indah. Dia menyesal karena telah pergi dengan cara yang tidak mengenakkan.

Antoine Griezmann

Performa Antoine Griezmann di Barcelona masih belum juga mencapai puncaknya. Dia masih tampil kurang konsisten dan terus dituntut untuk tampil maksimal.
Griezmann dianggap memiliki sejumlah masalah. Seperti awalnya kurang dipercaya Lionel Messi hingga menemukan ketidakbahagiaan di ruang ganti el Barca. Hal itu membuat Griezmann tak mampu mengulangi penampilan apik seperti saat berseragam Atletico Madrid.

Dia mengalami penurunan performa, baik secara keseluruhan, maupun jumlah gol yang diciptakan.
Sampai saat ini pun, Griezmann diisukan bakal hengkang dari Barca. Sudah banyak tim yang memantaunya. Namun masih belum tahu apakah dia akan benar-benar hengkang atau masih mau memperjuangkan nasibnya di Camp Nou.
https://www.youtube.com/watch?v=T9srFqnYNyI

Masih ‘Bapuk’ Bersama Ralf Rangnick, Benarkah Manchester United Terkena Kutukan?

Akhir-akhir ini, permainan Manchester United makin lama makin menghibur. Sayangnya, permainan Harry Maguire dkk tidak memberi hiburan kepada para fansnya sendiri. Gaya main Manchester United musim ini justru begitu menghibur bagi para pendukung tim lain, khususnya bagi mereka yang gemar menertawakan MU.

Maklum, di awal bulan Februari 2022 ini, klub yang menjuluki dirinya The Red Devils itu terus gagal meraih hasil positif. Kalau tidak kalah ya seri. Setidaknya, itulah yang diraih klub yang bermarkas di Old Trafford itu dalam 3 pertandingan terakhirnya.

Februari Kelabu Manchester United

Bulan Februari seharusnya menjadi bulan penuh cinta. Namun, bagi Manchester United, Februari tahun ini adalah bulan kelabu yang membuat mereka dihujani bullyan. Penyebabnya, banyak dari pendukung Setan Merah yang sepertinya sudah jengah melihat penampilan Cristiano Ronaldo dkk di atas lapangan.

Manchester United langsung membuka bulan Februari dengan menelan kekalahan memalukan dari klub divisi Championship, Middlesbrough di babak keempat Piala FA. Tampil di Old Trafford, MU ditahan imbang 1-1 oleh Middlesbrough hingga 2 kali babak tambahan waktu sebelum kalah di babak adu penalti.

Di laga tersebut CR7 gagal mengeksekusi penalti. Selain itu, Bruno Fernandes juga gagal mengkonversi sebuah peluang emas di depan gawang yang lowong. Andai eksekusi penalti Ronaldo dan sepakan Bruno menemui sasaran, mungkin hasil laga tersebut akan sedikit berbeda.

Usai tersingkir dari Piala FA, Manchester United mendapat jadwal mudah kala bertandang ke markas tim juru kunci Premier League musim ini, Burnley. Namun, bukannya tampil menawan, permainan MU di laga tersebut justru terlihat loyo.

Gol Paul Pogba di menit ke-18 sukses membawa Setan Merah unggul di babak pertama. Lucunya, di babak kedua, permainan Manchester United justru kendor. Intensitas mereka turun drastis dan akibatnya mereka kebobolan di menit ke-47.

Ditahan imbang oleh Burnley tentu merupakan sebuah hasil yang sangat mengecewakan. Menyusul hasil tersebut, David De Gea mengeluarkan sebuah pernyataan lucu. Ia menduga performa buruk timnya adalah imbas dari kutukan.

“Saya pikir seseorang telah mengutuk kami atau semacamnya. Yang benar adalah saya tidak tahu apa yang terjadi, saya benar-benar tidak tahu. Kami seharusnya bersaing untuk lebih banyak trofi, gelar yang lebih besar, tetapi saya tidak tahu mengapa tim ini tidak berfungsi.” tutur De Gea kepada El Pais, dikutip dari Goal.

Namun, sabar dulu. Ini bukan puncak dari performa bapuk Manchester United di bulan Februari yang kelabu. Terbaru, The Red Devils kembali gagal memetik poin kala menjamu Southampton di kandangnya sendiri. Unggul terlebih dahulu lewat gol Jadon Sancho di menit ke-21, Manchester United kembali gagal memetik poin penuh usai gawang De Gea dibobol Che Adams di menit ke-48.

Sebab-Sebab MU Tampil Bapuk

Jika dianalisis, ada 3 kesamaan yang terjadi di 3 laga terakhir Manchester United. Pertama, MU selalu unggul penguasaan bola. Kedua, MU juga lebih banyak menghasilkan peluang, tetapi hanya sedikit yang mengancam dan berbuah gol. Dalam 3 pertandingan terakhirnya, Setan Merah hanya mampu mencetak 3 gol.

Ketiga, MU selalu mampu unggul terlebih dahulu di babak pertama. Namun, mereka selalu kebobolan di babak kedua. Penyakitnya masih sama, intensitas pressing pemain MU menurun drastis selepas turun minum. Selain itu, di babak kedua, pemain MU makin malas turun membantu pertahanan sehingga pertahanan mereka mudah ditembus.

Kini, posisi Manchester United di papan klasemen Premier League kembali turun ke peringkat 5 dengan koleksi 40 poin dari 24 pertandingan. Meski masih menyimpan satu laga sisa, tetapi posisi Setan Merah masih sangat rawan digusur.

Secara teori, peluang MU untuk memperebutkan gelar juara Premier League musim ini sangat sulit dan sangat tidak realistis. Usai tersingkir dari Piala FA, satu-satunya peluang yang masih terbuka bagi MU untuk meraih trofi berasal dari Liga Champions, itu pun peluang mereka juga setipis sutra.

Hasil yang dituai Manchester United sejauh ini tentu di luar ekspektasi mengingat mereka juga telah berganti pelatih dari Ole Gunnar Solskjaer ke Ralf Rangnick. Rangnick yang dikenal sebagai gurunya ‘gegenpressing’ nyatanya belum mampu mengubah nasib Setan Merah.

Lalu, apakah ini salah Ralf Rangnick sehingga sudah waktunya meneriakkan #RangnickOut?

Sebelum hasil buruk di bulan Februari ini, ada rumor yang menyebut bahwa para penggawa Manchester United tak senang dengan metode latihan Ralf Rangnick yang dianggapnya kuno.

Ini bukan kali pertama pemain MU dirumorkan frustrasi dengan metode latihan yang mereka dapat. Sejak era Sir Alex Ferguson berakhir, rumor serupa sudah berkali-kali mencuat. Dari David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, hingga Ole Gunnar Solskjaer pernah mendapat keluhan serupa. Ini jadi indikasi bahwa para penggawa MU memang bermasalah.

Fakta di atas lapangan juga berbicara demikian. Performa Manchester United bersama Ralf Rangnick sebetulnya menunjukkan perbaikan. Analisis dari FotMob juga menunjukkan bahwa tak ada yang salah dengan taktik Rangnick.

Rangnick berhasil memperbaiki keroposnya lini belakang Setan Merah yang begitu rapuh di masa Ole Gunnar Solskjaer. Di bawah asuhan Ole, gawang MU kebobolan 30 gol musim ini. Sementara di tangan pelatih asal Jerman itu, gawang De Gea hanya bobol 10 gol dalam 13 pertandingan.

Statistik juga menunjukkan bahwa lini depan Setan Merah jadi lebih agresif. Di 3 pertandingan terakhirnya, MU mampu melepas 30 tembakan saat melawan Middlesbrough, 22 tembakan saat melawan Burnley, dan 12 tembakan saat melawan Southampton.

Sejak ditangani Rangnick, Manchester United telah mencatat nilai Expected Goals (xG) atau angka harapan gol sebesar 23,3. Di periode tersebut, hanya Tottenham Hotspur (24,7), Manchester City (25,9), Liverpool (28,7) dan Chelsea (31,4) yang punya nilai xG lebih besar.

Sayangnya, seperti yang juga diakui Rangnick, konversi peluang para penyerang MU rendah. Dengan peluang yang begitu banyak dan angka harapan gol yang tinggi, Manchester United hanya mampu menghasilkan 17 gol sejak Rangnick menjabat sebagai pelatih.

Hasilnya, meski MU hanya kalah sekali di waktu normal dalam 13 pertandingan terakhirnya, mereka hanya sanggup menang 6 kali. Sementara itu, 6 laga lainnya selalu berakhir imbang dengan 5 di antaranya didapat setelah mereka mampu unggul terlebih dahulu.

Atas performa buruk yang ditampilkan, para pemain MU menuai banyak kritikan. Salah satu kritik tajam dilontarkan Paul Scholes yang justru merasa kasihan kepada Rangnick dan menilai pemain MU tidak bekerja keras di atas lapangan.

“Dari apa yang saya lihat, para pemain tidak cukup bekerja keras. Banyak sekali talenta di tim ini, banyak sekali pemain bagus di dalam tim dan Anda pasti bisa menyebutkannya satu persatu. Tapi, tentu bekerja keras juga harus! Saya merasa kasihan pada manajer. Dia pastinya mencoba yang terbaik untuk menyusun tim ini sesuai dengan tipe lawan yang dihadapi, dan entah apa mereka tidak mendengarkan, tidak bisa melakukannya, atau bahkan tidak mau melakukannya,” ujar Scholes, dikutip dari Goal.

Memang, jika dianalisis lebih lanjut, hanya ada beberapa pemain MU yang tampil menonjol. Salah satunya David De Gea yang sudah membuat 89 saves musim ini, terbanyak di antara kiper Premier League lainnya. Sayangnya, di depan dia berdiri Harry Maguire, sang kapten yang makin hari makin lucu performanya dan makin mudah dilewati.

Di lini depan, performa Bruno Fernandes dan Cristiano Ronaldo juga tengah menurun. Ronaldo misalnya, ia sudah mandul sejak terakhir kali mencetak gol pada 30 Desember tahun lalu. Sementara Bruno kini lebih banyak merengek di atas lapangan hingga disebut sebagai pemain manja oleh Gary Neville.

Karma Manchester United

Jadi, pernyataan De Gea yang menyebut penyebab bapuknya performa Manchester United adalah karena terkena kutukan rasanya berlebihan. Lebih tepatnya, perfoma bapuk yang sekarang dituai MU adalah karena sikap manja para penggawa Setan Merah itu sendiri.

Bukannya menjalankan instruksi pelatih dengan baik, penggawa Setan Merah justru terlalu banyak merengek dan kurang bekerja keras. Lebih jauh lagi, nasib buruk yang sekarang dirasakan Setan Merah adalah buah dari kejumawaan dan sikap takabur yang terus mereka pelihara.

Dulu, para pendukung MU mengkritik Chelsea yang hobi belanja pemain. Kini, dalam sedekade terakhir, jumlah trofi UCL The Blues lebih banyak dari The Red Devils. Dulu, pendukung MU juga nyinyir dengan apa yang dilakukan sang tetangga, Manchester City. Kini, dalam sedekade terakhir, The Citizens lebih banyak mengoleksi trofi Premier League ketimbang MU.

Akhir-akhir ini, pendukung Setan Merah juga kerap mengejek penampilan Arsenal. Kini, semua yang dulu dirasakan Arsenal ada pada tubuh MU.

Mungkin, ada baiknya mulai sekarang MU fokus dulu untuk jadi tim penghibur saja. Sepertinya, itu juga sudah jadi bakat mereka. Lagipula, Setan Merah jadi tidak terbebani target yang nyatanya terus gagal diraih.

Toh dengan menjadi tim hiburan seperti saat ini, nama Manchester United sebagai sebuah brands tetap laku. Bahkan tiap akhir pekan, nama mereka dan para penggawanya dijamin masuk trending topic. Sebuah hal yang xsangat positif bagi engangement Setan Merah di mata sponsor bukan?

Yang pasti, musim ini The Red Devils dapat dipastikan akan segera kembali puasa gelar. Jadi, bagaimana pendukung Manchester United? Siap kan untuk kembali puasa gelar dan melihat tim kesayangannya jadi bahan lawakan?


***
Sumber Referensi: Goal, Goal, FotMob, Bola, DailyMail.