Derby satu kota menjadi menyajikan pertandingan dengan tensi tinggi. Ada harga diri klub dan pendukung dipertaruhkan selama 90 menit di lapangan, salah satunya pertandingan Feyenoord Rotterdam vs Sparta Rotterdam.
Keduanya merupakan klub yang bermukim di Kota Rotterdam Belanda. Kota ini dihuni tiga klub yang mengikuti gelaran Eredivisie pada masanya. Wajar bila klaim Kota Bola (Voetbal District) sering disematkan kepada kota yang memiliki luas wilayah 324,1 km².
“Derby Rotterdam” disematkan saat Sparta Rotterdam, Excelsior, dan Feyenoord Rotterdam bersua pada sebuah pertandingan. Ketiga klub ini sama-sama ngotot untuk menjadi penguasa di Kota Gerbang ke Eropa.
Kisah perseteruan dimulai sejak Belanda masih “sibuk menjajah” Indonesia. Pada 1888 klub kriket yang diinisiasi oleh sekelompok mahasiswa elit dari Spangen Rotterdam Barat bernama Rotterdamsche Cricket and Football Club Sparta.
Setahun setelah pendirian, cabang sepak bola resmi menjadi bagian dari klub dan diberi nama Sparta Rotterdam. Klub ini menjadi tertua di Kota Rotterdam dan Belanda. De Rood-Witte Gladiatoren menjadi wakil Rotterdam saat berlaga di Liga Belanda.
Hingga muncul klub bernama Feyenoord Rotterdam yang diinisiasi oleh sekelompok kelas pekerja pelabuhan di distrik Feijenoord, Rotterdam Selatan pada 1906. Klub ini kelak akan mengambil alih penguasa dari saudara tuanya.
Sparta Rotterdam yang dibangun oleh sekelompok intelektual, sedangkan Feyenoord Rotterdam diinisiasi pekerja menjadi bumbu saat keduanya bersua di lapangan.
Kelas kedua pendukung memberikan jurang perbedaan besar dalam budaya dan pendidikan. Lewat inilah adu gengsi di lapangan berbuah persaingan sengit sehingga tercipta gesekan antara kedua belah pihak yang terpecah.
A lovely illustration of a Rotterdam derby from January 1933 – Xerxes v Sparta. pic.twitter.com/rcVeMdcSuj
— Beyond The Last Man (@BeyondTLM) February 15, 2018
Sentimen kedua klub pernah mencapai titik pengharaman masuk Stadion De Kuip pada 1971. De Sparta Suporter menyerukan agar tak datang datang ke sana meski Derby Rotterdam tersaji pada final Piala KNVB edisi 1970/1971.
Alasannya gengsi dan sentimen suporter Sparta Rotterdam yang mengaku bahwa tim berjuluk De Rood-Witte Gladiatoren adalah pemegang tradisi sepak bola di Kota Rotterdam. Dasar ini memang tidak bisa terbantahkan karena usianya telah mencapai satu abad lebih.
Singkat kata, Sparta Rotterdam adalah tim tua dan disokong kaum elit yang terpenuhi segala sesuatunya, lawannya Feyenoord Rotterdam yang lahir dari keinginan untuk memperjuangkan kelas pekerja lewat sepak bola.
Rekor Pertemuan
Per 11 Februari 2022 sejak Derby Rotterdam pertama kali digelar pada 22 Mei 1921 di Stadion Het Kasteel, kedua klub tersebut telah bertemu 128 kali di liga maupun Piala KNVB.
Feyenoord's last 2 Eredivisie games:
6-1 win vs. Sparta Rotterdam
4-0 win vs. AZ AlkmaarThey stay top of the league. pic.twitter.com/Q8O4cRaUh4
— Squawka News (@SquawkaNews) December 11, 2016
Akumulasi kemenangan terbanyak diperoleh De Club van Het Volk dengan 77 kemenangan dan membobol gawang De Rood-Witte Gladiatoren 297 kali. Sementara, Sparta Rotterdam baru memenangkan 25 kali dengan menceploskan 154 gol. Sedangkan 26 pertandingan lainnya berakhir imbang.
Sejak pertemuan pertama, Feyenoord mampu mempermalukan saudara tuanya Sparta Rotterdam di kandang dengan skor 4-2. Capaian itu ditambah rekor pertemuan mencerminkan superioritas klub kelas pekerja ketimbang tim yang didirikan oleh sekelompok elit.
Adu Pencapaian
Urusan trofi jadi garis antar kedua klub itu. Feyenoord Rotterdam boleh bangga dengan capaian 15 gelar liga, 13 Piala KNVB, 4 Piala Super Cup Belanda 2 Piala UEFA, 1 Piala Liga Champions dan 1 Piala Dunia Antar Klub.
Seterusnya, Sparta Rotterdam hanya mengoleksi beberapa prestasi besar seperti, enam gelar nasional dan tiga Piala KNVB.
De Club van Het Volk unggul jauh dari De Rood-Witte Gladiatoren.Wajar bila laga keduanya akan selalu sengit karena ada yang merasa “tua” tertinggal untuk urusan prestasi dari yang “muda” sehingga “memupuk” semangat agar bisa menyalip.
Feyenoord yang bermarkas di Stadion De Kuip juga unggul dalam urusan menciptakan pemain-pemain berlabel Timnas. Tengok saja nama-nama seperti Daryl Janmaat, Giovanni van Bronckhorst, Robin van Persie pun beberapa nama-nama legendaris sekaliber Ronald Koeman dan Ruud Gullit pernah berseragam De Club van Het Volk, sementara seterunya nama yang masyhur hingga kini Louis van Gaal.
Louis van Gaal e Johan Cruyff durante il derby di Rotterdam… pic.twitter.com/xXIL3fATKM
— Andrea P. 🚬 (@andpom147) September 1, 2016
Markas Feyenoord lebih sering dijadikan klub tempat berlaga Timnas Belanda saat FIFA Matchday karena memiliki daya tampung 51.000 orang. Kapasitasnya terbesar kedua usai kandang Ajax Amsterdam, Stadion Johan Cruyff Arena dengan daya tampung 54.000 orang.
Nilai Suporter
Julukan De Club van Het Volk berarti klub untuk semua orang. Nilai klub berbasis penggemar dipegang betul oleh tim yang bermarkas di Stadion Kuip. Wajar bila hal ini terjadi di kesebelasan yang didirikan oleh sekelompok pekerja dari distrik pelabuhan itu.
Perjuangan kelas pekerja ini juga yang sering kali digaungkan oleh suporter saat bersua klub ibu kota Ajax Amsterdam dengan nada sinis “uang dihasilkan di Rotterdam, disimpan di Den Haag dan dihabiskan di Amsterdam”
Sindiran kepada klub se-kota pun sering diutarakan, karena berstatus klub tua tapi tak kunjung memperbaiki prestasinya.
“Span Haagen berisi kaum terdidik dan kaya, tapi urusan sepak bola mereka tak mau berubah,” ungkap suporter Feyenoord.
Sementara klub lawan dengan basis suporter yang telah mapan dan tidak mau berubah. Mereka telah terjebak dengan nilai-nilai dan tradisi orang-orang kaya. Mereka mengklaim sebagai klub pemegang tradisi di Kota Rotterdam dan keberhasil Sparta bertahan dengan anggaran yang minimalis ketimbang seterunya yang jor-joran mendatangkan Ronald Koeman dan Ruud Gullit.
“Mereka mengaku sebagai kelas pekerja, tapi mengelola klub melebihi kemampuannya,” sindir salah satu ultras Sparta Rotterdam
Kasus Tinus Bosselaar
Raihan trofi dan skuad membuat Feyenoord Rotterdam lebih mentereng ketimbang musuhnya Sparta Rotterdam. Wajar bila nama sekaliber Tinus Bosselaar menerima pinangan De Club van Het Volk pada 1954 dari De Rood-Witte Gladiatoren. Bosselaar hanya bertahan dua musim di Feyenoord dan pindah ke klub lamanya.
Oer-Spartaan Tinus Bosselaar, van harte gefeliciteerd met uw 80ste verjaardag. pic.twitter.com/axlyKMGX9R
— Rijnmond Sport (@RijnmondSport) January 16, 2016
Kepindahan kembali Bosselaar ke Sparta Rotterdam menjadi drama karena manajemen Feyenoord tidak mau melepaskannya. Walhasil, De Club van Het Volk membawa perkara ini ke meja sidang. Namun, hasil berpihak kepada Sparta dengan amar putusan mengizinkan Bosselaar membela De Rood-Witte Gladiatoren dan bermain hingga gantung sepatu.
“Bosselaar Fair” menjadi minyak pembakar pada persaingan dua klub itu. Kepindahan pemain ke tim musuh menjadi sesuatu yang amat menyakiti perasaan. Kemarahan pendukung Sparta Rotterdam didasarkan pada klubnya tidak ingin menjadi tempat penggodokan pemain lalu saat permainannya bagus dicomot klub lawan. Nilai-nilai anti feeder club-lah yang diperjuangkan oleh De Sparta Suporter.
Pasalnya klub Rotterdam lainnya, Excelsior telah bersepakat mendirikan Akademi Feyenoord pada 1996 untuk memfasilitasi pemuda regional lalu menggabungkan tim cadangan kedua klub. Selama bertahun-tahun, para pemain akademi muda memperoleh pelatihan dan pengalaman sebagai hasilnya dapat berkiprah di klub utama.
Percikan peristiwa transfer pemain, pencapaian klub dan rekor kemenangan bakal membuat Derby Rotterdam di Eredivisie maupun Piala KNVB bakal berlangsung sengit.
Referensi : Panditfootball, Total Dutch, Holigan FC, Finest, Feyenoord,


